Bab 8. Bucin level berbahaya

1071 Kata
Alatas langsung jatuh terduduk. Wajahnya pias, kaki serta tangannya bergetar. Pupil matanya melebar takut saat melihat seringaian Dio. Bukankah dengan melihat ekspresi wajah Dio saja, seharusnya dari awal Dio memang sudah merencanakan ini semua. Semua orang yang mendengar suara seseorang terjatuh serentak menoleh, mendapati Alatas jatuh terduduk di atas ubin yang dingin. Fernando yang pertama kali menghampiri dan membantunya untuk berdiri kembali. Bagaimanapun, Alatas adalah mitra bisnisnya, walau putrinya sudah mencoreng citra anaknya, tapi dia tetap harus memperlakukan Alatas dengan baik. "Apa Pak Alatas tidak apa-apa?" Fernando memindai tubuh Alatas dari atas ke bawah, balik lagi ke atas untuk mastikan tidak ada yang terluka. Alatas menggeleng kecil, memaksakan tersenyum walau bibirnya terasa kaku. "Anada sangat perhatian, tapi saya tidak apa-apa Pak Fernando." Vira dan mamahnya mendekati Alatas, "kenapa Papa bisa jatuh," sang istri bertanya penasaran. Alatas menatap tajam Vira, "Vira, sebaiknya cepat mengaku kalau bayi yang ada dalam kandungan kamu itu bukan anaknya Nak Dio, kalau tidak akan Papa coret kamu dari daftar ahli waris!" Vira merengut marah, tapi tidak bisa berkata apa-apa karena takut ia benerena dicoret dari daftar ahli waris. Sekarang dia tengah hamil, bagaimana caranya membesarkan bayi ini kalau tidak mempunyai harta sama sekali. Lagi pula, kenapa bisa Rindi mengusulkan untuk melakukan tes DNA sekarang-sekarang? Jelas anak dalam perutnya bukan anak Dio, kalau sampai melakukan tes DNA itu, otomatis kebohongannya akan langsing terbongkar. Sialan. Dio berdiri, menyeringai pada Vira dan menghampirinya yang kini tengah ketakutan saat melihatnya. Setelah dia berada di depan Vira dan kedua orang tuanya, Dio melemparkan hendphon puluhan juta miliknya dan langsung ditangkap oleh Vira. Begitu Vira membalik handphon milik Dio, matanya melebar terkejut. Bagaimana bisa Dio mempunyai foto ini? Perlahan wajah Vira terangkat menatap balik Dio yang tengah menyeringai dingin padanya. Ia menelan ludah gugup, kemudian menatap ayah serta ibunya secara bergantian. Alatas serta ibunya Vira yang penasaran karena melihat ekspredi terkejut dari sang putri segera ikut melihat handphon yabg tadi dilemparkan Dio. Ekspresinya tidak jauh beda dengan Vira saat meliha foto apa itu. Dengan tangan gemetar, Alatas menjatuhkan handphon milik Dio ke lantai. Tak kuat menanggung malu, dengan kasar Alatas menyeret Vira diikuti sang istri tanpa pamit pada tuan rumah. Cukup sampai di sini harga dirinya di depan keluarga Fernando, Alatas sudah tidak punya muka lagi. Dari awal Dio sudah punya bukti atas kebohongan anaknya, tapi sengaja dia simpan hingga menunggu waktu yang tepat untuk mempermalukannya habis-habisan. Jelas orang seperti Dio tidak boleh dia singgung, tapi kebodohan anaknya malah mencoreng kotoran di wajahnya. "Wow," Mutia menatap takjub foto di handphon Dio yang baru saja dia ambil dari lantai. Mendongak, menatap sang kakak dengan pandangan menyipit. Satu tangannya mengacungkan handphon ke atas hingga sejajar dengan kepalanya, "Kak Dio pintar juga ya." Dengan santai Dio mengambil handphon dari tangan Mutia, lalu menyimpannya ke dala saku. Berbalik dan melangkah untuk duduk kembali di sofa yang tadi dia duduki. Rindi yang penasaran dengan apa yang dilihat Vira beserta keluarganya hingga langsung pulang begitu saja tanpa pamit pun menoleh ke arah Dio yang baru saja menduduka tubuhnya. Mata bulat Rindi menyipit saat menatap Dio, "apa yang ada di handphon Mas Dio?" Dio kembali mengeluarkan handphon miliknya, lalu menyimpan itu di atas meja yang berdekatan dengan Rindi. "Lihat saja!" Rindi mengambil handphon itu. Begitu layar handphon terbuka, mulutnya otomatis ikut terbuka. Ia menatap Dio dengan pandangan kesal, merasa dipermainkan olehnya. Jadi Dio sengaja dari tadi diam saja karena ingin membuanya turun tangan, padahal dia sendiri sudah punya bukti yang cukup untuk membungkam mulut terompet dan penuh dusta Vira. Mutia tertawa kencang, mengabaikan pelototan sang mamah yang menatapnya galak. "Mas Dio modus. Dilarang nemuin Rindi sampai tiga bulan kedepan, eh malah bikin Rindinya sendiri yang adatang ke sini. Kalau masalah otak licik, Kak Dio emang the best." Rindi memghembuskan napas kasar, menatap Mutia dengan cemberut. Hal itu malah membuat Mutia semakin mengeraskan tawanya, merasa puas dengan tingkah laku menyebalkan Dio. Fernando dan sang istri saling pandang, lalu serempak mendekati Dio. Lidia mengambil handphon dari tangan Rindi, matanya langsung melebar dan menggeleng tak percaya. Melihat ekspresi sang istri yang seperti itu, Fernando meminta handphon dari tangan Lidia. "Sini handphon-nya mah! Papa juga mau lihat." Lidia memberikan handphon Dio di tangannya pada sang suami yang langsung disambut oleh si empunya. Begitu Fernando melihat apa yang ada di handphon Dio sehingga membuat orang tercengang, saat itu juga Fernando mengucapkan istigfar, "astagfirullah, foto apa ini? Bagaimana bisa Vira melakuan semua ini?" "Namanya juga cinta gila, ya bisa bikin orang gak waras. Vira sudah gila karena terlalu mencintai Kak Dio, hingga nekat melakukan hal tak senonoh seperti itu," Mutia menimpali. Dia sebenarnya cukup puas karena Vira mendapat balasan dari apa yang dia perbua. Hamail anak orang lain, eh minta pertanggungan jawaban pada kakaknya, gak waras emang. "Hus, bicaramu Mutia," Lidia menatap tajam sang putri yang kalau bicara tidak pernah disaring dulu. Dia mempunyai dua anak, yang laki-laki acuh dan dinginnya gak ketulungan, lalu yang perempuan malah bersipat kebalikan. Pusing Lidia memikirkan kedua anaknya itu. "Kamu dapat foto itu dari mana?" Fernando menatap anaknya dengan pandangan curiga sekaligus ingin tahu. Anaknya ini selalu pintar menyimpan rencana, bahkan dalam beberapa jam dia sudah mendapatkan foto panas Vira dan seorang laki-laki di sebuah kamar. "Dari orang-orangku," Dio menjawab santai, sama sekali tidak terpengaruh dengan mata-mata yang saat ini memelototinya. Mata Dio hanya tertuju pada Rindi, tidak berniat mengalihkannya ke arah lain lagi. Rindi tahu Dio tengah menatapnya, tapi membiarkan Dio berbuat semaunya. Dia sudah tetbiasa, tidak lagi merasa risih saat Dio menatapnya begitu lama. Fernando yang merasa jengah dengan sang putra yang dari tadi melototi Rindi angkat tangan. Ia berdiri, meninggalkan para anak muda karena sang istri juga memilih mengikutinya. Kini dalam ruangan itu hanya tersisa tiga orang. Mutia menatap sang kakak yang tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Rindi, sedangka Rindi yang ditatap tak acuh-acuh saja. Mutia mendesah lelah, merasa tingkat kebucinan sang kakak sudah di level berbahaya. Jangan sampai setelah ini kakaknya tidak tahan untuk membawa Rindi naik ke atas kasur dan bobo berdua. Mutia bergidig, buru-buru dia berlari mengejar sang ayah dan ibu yang sudah berlalu sebelum matanya ternoda. Rindi menoleh, menatap Dio dengan pandangan penghakiman. "Mas Dio sengaja mengundur masalah kebohongan Vira agar saya datang ke sini bukan?" "Ya," Dio menjawab jujur, tidak berusaha menyangkal sama sekali. Tujuannya dari awal memang begitu, dia tidak perlu repot-repot menyembunyikannya dari Rindi. Rindi berdiri, menatap marah Dio. "Mas Dio ngajakin saya bertengkar?" Dio menggeleng, "justru saya mau ngajakin kamu nikah." Asem, bikin baper saja laki-laki satu ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN