Baru saja selesai subuh dan membantu bu Siti memasak sarapan harus membuat Riana melengos mendengar keributan yang terjadi di seberang jalan depan rumah pak Slamet.
"Kalo kau masih menginginkan dia, lebih baik ceraikan anakku. Dasar tak tahu diri kau Azka."
Suara pak Darman yang menggelegar sampai terdengar di dalam ruangan dapur rumah bu Siti. Siapa saja yang melihat kekacauan di pagi hari yang nampak remang-remang karena masih diselimuti embun itu pun mendekat dan mencoba melerai mereka.
"Pak. Sudah ayo pulang, Ana malu pak." ujar Ana, istri dari Azka.
"Kalo bapak menyalahkan saya terserah, perlu bapak tahu saya menikahi putri bapak karena paksaan kalian." teriak Azka yang bisa didengar jelas oleh Riana yang baru saja keluar dari dalam rumah pak Slamet.
Azka yang melihatnya pun langsung berlari dan merengkuh tubuh Riana memeluknya sangat erat.
"Sayang, maafkan mas ya. Mas benar-benar bodoh ninggalin kamu."
Pundak Azka bergetar, menandakan si empunya sedang menangis.
"Lepaskan saya!" cicit Riana.
"Mas nggak akan nglepasin kamu lagi. Nggak akan." Azka menggeleng cepat di pundak Riana.
"Mas-" mendengar kalimat itu membuat Riana menangis tergugu, bahkan dia tidak sanggup meneruskan kalimatnya.
Riana tahu dia sangat menyayangi dan mencintai Azka, dia pun juga bisa merasakan ketulusan dari Azka.
Tapi, Azka sekarang sudah memiliki istri, dan Riana tidak mau merusak hubungan orang lain. Bahkan dia berniat meninggalkan negaranya sendiri untuk meminimalir bertemunya dia dengan pujaan hatinya.
Kalau sampai kapapun Azka masih saja seperti ini, bisa dipastikan membuat Riana takut dan akan menjadi ragu dengan keputusannya itu.
Tidak, tidak, itu tidak boleh terjadi. Dia harus bisa meninggalkan tanah kelahirannya, supaya masing-masing dari mereka, dia dan Azka bisa saling melupakan.
Dia tidak mau di sebut perebut suami orang, dia tidak mau keluarganya malu hanya karena hubungan rumitnya dengan Azka.
Lihat saja disaat seperti ini, saat tubuhnya berada dalam pelukan Azka. Riana masih bisa mendengar jelas cemoohan para tetangga yang mengatainya perebut suami orang.
Dia harus mengakhirinya, HARUS!
Dan akhirnya Riana mengurai paksa pelukan Azka, dia berlari meninggalkan Azka yang sudah babak belur karena dipukuli oleh anak buah pak Darman. Mengambil sepedanya yang disimpan disamping rumah pak Slamet, Riana yang sudah berpamitan dengan bu Siti serta Ninik pun segera meninggalkan kekacauan yang bahkan membuatnya hilang muka.
Bimo yang baru selesai membersihkan diri serta berpakaian rapi terheran saat dia melihat kerumunan warga juga terdapat perkelahian. Dilihatnya Lika yang nampak panik berlari kecil masuk rumah membuat Bimo langsung mencegahnya.
"Ada apa disana Lik?"
"Nah itu mas, ini Lika mau bangunin mas David buat melerai mereka yang berkelahi."
Bimo menggeleng. "Jangan. Kasihan David, biarkan dia istirahat."
Bimo berlalu keluar rumah. "Biar saya yang atasi." lanjut Bimo.
"Tapi-" Bimo mengangkat satu tangan.
"Percayakan pada saya." Lika yang masih ragu, tak urun mengikuti langkah Bimo di seberang jalan depan rumah.
"Mohon maaf ini ada apa ya?"
Dia mencoba menarik atensi para warga dan juga anak buah pak Darman.
Dan benar saja mereka terdiam bahkan mengamati Bimo penuh selidik.
"Apa kalian tidak kasihan dengan saudara itu, udah bonyok loh itu?"
Bimo membantu Azka bangkit, lelaki yang terduduk di lantai mengangguk terima kasih menyambut tangan Bimo lantas berdiri sambil menepuk-nepuk bajunya yang kotor karena debu, tulang hidungnya serasa patah rahangnya geser. Wajahnya yang penuh lebam tak mengurangi kadar ketampanannya.
"Saya tidak tahu apa inti masalah kalian, tapi ini bisa dibicarakan baik-baik."
"Maaf anda siapa?"
Bimo menoleh ke arah sumber suara itu. Ia tersenyum ramah dan mengulurkan tangan untuk menjabatnya. "Perkenalkan, saya Bimo, Bimo Aji Prasodjo."
Mendengar nama itu disebut membuat mereka semua sontak menunduk, karena keluarga Prasodjo adalah orang yang berpengaruh dan menjadi sumber mata pencaharian mereka di kawasan itu.
"Saya Azka, Azka Putra Adipati." sahutnya sambil menyambut jabatan tangan Bimo.
"Oh iya saya Darma Wicaksana, saya mertua dia." saat menyebut kata 'dia' pak Darman melotot sinis.
"Dan ini putri saya, istri dari pria tak bertanggung jawab ini."
Ana mengangguk sopan lalu menjabat tangan Bimo.
"Jadi apa masih akan dilanjut dengan kekerasan, saya lihat mas Azka bukan orang yang tak bertanggung jawab."
Bimo tersenyum ramah lalu memberi wejangan untuk mereka supaya menyelesaikan di rumah secara kekeluargaan.
Dia bergegas menuju lokasi sesuai yang dijanjikan untuk menemui orang suruhannya, yang bertugas memantau gudang setelah terjadi pencurian.
"Pagi bos." Bimo mengangguk.
"Untuk dua hari ini aman, dan orang yang berjaga di malam itu dinyatakan bersih." jelasnya ke Bimo.
"Terima kasih, dan tarik semua anak buahmu. Beristirahatlah, untuk hari ini biar saya yang terjun secara langsung."
"Baik bos!"
"Kerja bagus untuk kalian."
Setelah mengatakan itu, Bimo berlalu meninggalkan mereka dan ia sendiri yang akan memantau gudang penyimpanan rempah.
Tetapi karena hari itu masih terlalu pagi, membuat mereka yang melihat Bimo turun dari mobil serta penampilanya yang berpakaian serba hitam pun langsung berwaspada.
Bimo tak peduli karena dirinya terbiasa dengan pandangan tak biasa seperti itu, ia hanya diam saja seolah merasa tak terganggu.
Apalagi melihat seseorang yang menanyakan siapa dia dan apa tujuannya dengan nada bicara terbata-bata membuat Bimo semakin bungkam, karena menurutnya itu sangatlah tak penting.
Ayolah dia adalah orang besar yang memimpin perusahan besar, dia bahkah memiliki segalahal yang bahkan itu sudah tersebar luas di jagat raya ini.
Hal naas menimpanya, kebiasaan yang irit bicara dan jarang ramah dengan orang baru. Membuat para warga yang melihat gerak geriknya itupun semakin curiga ke padanya.
Yang pada akhirnya Bimo di kepung tanpa pikir panjang dan di ikat dengan dadung lalu berbondong-bondong menyeretnya layaknya sapi, dan meneriakan hal apapun supaya si empunya ketakutan dan mengaku.
Bimo meronta pelan mencoba melepaskan ikatan itu, yang sebenarnya ikatannya tidaklah kuat. Hanya saja ia sedang malas berurusan tikus tikus kecil yang sekarang mengepungnya.
"Siapa anda sebenarnya?"
"Hayo jawab siapa kau!"
"Apa kau berniat mencuri rempah yang disimpan di gudang ini?"
"Apa jangan-jangan kau ya, yang selama ini mencuri?"
"Hayo ngaku kau?"
Mendengar rentetan pertanyaan yang menurut Bimo itu sangat konyol pun membuatnya memutar bola mata jengah. Tapi tak ada niatan sedikitpun untuk menjelaskan kepada mereka siapa dia sebenarnya.
Tubuhnya terhuyung kesana kemari karena dorongan dari orang-orang yang menurut Bimo kacangan. Sampai kata-kata mereka kembali terdengar.
"Iya awas aja sampai terbukti kalo kau yang mencuri, tak potong itumu sampai habis."
"Muka ganteng kayak kau itu harusnya jadi mantuku, bukan ngutil begini."
"Badanmu tegap gagah gini tuh ya bisa jadi model iklan sabun colek loh, memalukan."
Bimo menghela nafas panjang, memejamkan mata dan tangannya mengepal untuk meredam emosinya.
"Saya tidak bersalah, bahkan saya tidak mengerti apa yang sedang anda semua bicarakan. Saya bisa menuntut hal ini atas tindakan asusila anda semua yang kurang ajar terhadap saya." ujar Bimo dingin.
Tapi entah apa yang salah dengan perkataan Bimo, bukan membuat mereka takut malah membabi buta memukuli Bimo yang tak sampai ke wajahnya karena ukuran tubuh mereka sangat pendek dibanding Bimo. Dan dengan kurang ajarnya salah satu mereka menarik-narik lengan baju Bimo hingga menyebabkan sobek.
Srreekk...
Bimo masih anteng karena masih di mode malas, dibiarkannya mereka memukul Bimo dengan tangan kosong.
Toh menurutnya terasa seperti sedang dipijat, mengingat dia baru saja dari perjalanan jauh.
Tapi saat dia berlagak pasrah dengan amukan warga itu, teriakan kencang memeka telinga itu mampu menghentikan aksi mereka.
Siapa dia gumam Bimo.
Setelah gadis yang berteriak tadi mendekat, Bimo pun mengangguk kecil paham.
Oh ternyata kamu gadis kecil .
Melihat keberanian sang gadis di hadapan para warga, membuat Bimo terpana olehnya.
Cantik dan unik, gue suka.
Bimo tersenyum kecil saat gadis itu membantu melepaskan ikatannya, gadis itu tak menyadari kalau Bimo bisa mencium aroma tubuhnya.
Seketika membuat darah di dalam diri Bimo mendesir.
Ini yang gue mau, cantik dan menggairahkan. Gue musti mendapatkan dia.
Berkali-kali Bimo menggumam dalam hati, tanpa menyadari kalau mobilnya pun di jadikan amukan warga. Bimo geleng-geleng tersenyum dalam hati melihat gadis kecil yang lancang tak kenal takut itu.
Nakal juga ni bocah.
Setelah memastikan para warga pergi meninggalkan mereka berdua Bimo mengucapkan terima kasih, dan dengan kurang ajarnya mulut nya nyeplos mengajaknya menikah.
Apa apaan ini Bimo, lo tu musti sabar biar dia nggak lepas, haish. Tapi tunggu, lalu apa maksud tu bocah kok gue kudu nunggu dua tahun.
Arrrrggghhh...
Bimo mengacak acak rambutnya, lalu ponsel dari saku celana.
"Halo David, tolong jemput saya di depan gudang rempah. Saya habis di keroyok hahaha." ujarnya lalu memutus panggilan sepihak, lantas dirinya mencari tempat duduk menunggu kedatangan David menjemputnya.
"Mas Bimo nggak papa."
Suara David yang terdengar bergetar ketakutan setelah mereka masuk ke dalam mobil milik David, membuat Bimo menepuk-nepuk pundak dia guna menenangkannya.
"Saya nggak papa, suruh orang untuk menderek mobil saya ke bengkel Vid dan antar saya pulang ke rumahmu untuk mengganti baju. Setelah ini saya mau ke gudang padi."
David mengangguk paham dan mulai melajukan mobilnya.