Mengayuh sepeda sendirian dan menikmati angin di pagi yang masih berselimut embun sebenarnya ini merupakan hal yang paling Riana sukai.
Terpaan hawa dingin yang sejuk menenangkan, tapi entah kenapa tak mampu membuatnya melupakan kejadian yang baru saja dia lalui.
Dia hanyalah seorang gadis yang mencintai dan dicintai kekasihnya, dan bila karena sang kekasih menikah dengan seorang pilihan orangtuanya. Lantas apakah dia harus merasa terhempas dan tidak bisa bangkit lagi, dan apakah dia harus tenggelam dalam lautan duka ini.
Kayak lirik sebuah lagu..
Ck, yang benar saja...
Riana bahkan ingin menertawakan nasib buruk yang menimpanya saat ini.
Bukan rahasia apabila dia merasa tersakiti karena dikhianati dan ditinggalkan oleh kekasih pujaan hatinya.
Tapi apa pantas oranglain mencibirnya sebagai perebut laki orang, hanya karena Azka tidak bisa melepaskannya.
Ohmegot... Bisa-bisa Riana gila memikirkan semua ini.
Riana menghela nafas panjang,kejadian silir berganti membuatnya tertekan, hal itu menjadikannya semakin yakin memantapkan hati untuk bekerja ke negara tetangga.
Mungkin setelah pulang dari sana dia bisa bertemu lelaki baik hati atau mungkin bahkan bisa menuju ke jenjang pernikahan.
Hmmm, Riana tersenyum konyol membayangkan hal itu. uh dasar haha.
Ngomong-ngomong soal menikah. Ia tiba-tiba mengingat seseorang yang baru saja dia tolong di sekitar gudang rempah.
Perlu diketahui saat dia melihat seorang yang menjadi amukan warga, jiwa wonder womennya yang lama terpendam pun bangkit dan menjadikannya bak peri penolong.
Kamu tau nggak, itu keren buanget... Riana takjub dengan aksinya sendiri, memang sulit di percaya.
Tapi dia harus menelan pil pahit lagi, bukannya mendapat penghargaan oscar dan lain-lain, eh, dia malah menolong lelaki sintingg yang tanpa pikir panjang mengajaknya menikah.
Mungkinkah otaknya bergeser karena pukulan tadi?
Kejadian tadi pagi dengan Azka belum bisa ia lupakan, bahkan belum ada dua puluh empat jam, dia harus dihadapkan lagi dengan lelaki aneh yang tak tahu datangnya dari mana.
Sepertinya benar deh, karena habis kena pukul membuat kedua lelaki itu menjadi sintingg. Hiii... Riana bergidik ngeri lalu menyandarkan sepedanya di teras depan rumah.
"Assalamualaikum."
Salam Riana setelah dia masuk ke dalam rumah.
Wa'alaikumsalam
Mendengar sahutan seseorang dari dalam dapur, dia pun segera menghampiri emak dan adiknya.
Dicium punggung tangan emaknya, lalu tangan satunya yang bebas dia gunakan untuk memukul pelan belakang kepala adiknya yang sedang membantu emaknya menumbuk bumbu sambal kacang.
"Emak tolong bilangin ke anak gadis emak yang kalo ngomong kayak toa masjid itu, untuk jangan mengganggu perjaka ini yang sedang berjuang menghancur leburkan kacang tanah dan kawan-kawannya."
Riana terkekeh mendengar gerutuan adiknya itu, membuatnya semakin gemas lalu memeluknya dari belakang dan mencium pipinya sampai bibir si empunya monyong karena ditekan keras olehnya.
"Emmmbaaakkk, Rendi udah gede jangan main cium gitu donk, ish." keluh adik lelakinya nampak mengusap-usap pipi menggunakan ujung kaos yang dipakainya guna menghilangkan bekas air liur Riana yang menempel di pipinya.
"Lagian orang kalo numbuk tu sambil senyum, biar tu sambal kacang rasanya sedap mantap." ujar Riana yang terkikik geli melihat adiknya yang manyun karena kejahilannya.
"Sudah, jangan ribut. Kamu Ri kenapa wajahnya muram begitu?" tanya emak yang bisa merasakan kegundahan sang anak gadis.
"Nggak papa mak." ujar Riana sambil tersenyum karena tak ingin emaknya khawatir.
"Oh ya bapak mana?" mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Bapak berangkat pagi-pagi sekali ke gudang, katanya nanti mandornya yang dari kota datang."
Emak menghela nafas sejenak. "Nanti kamu anter makan siang buat bapak ya." ujar emak sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Riana menepuk pelan pundak adiknya dan berbisik. "Emak kenapa dek?"
Rendi yang menoleh kearah kakaknya langsung menghentikan kegiatannya, kemudian menyeret Riana masuk ke dalam kamar mereka.
"Mbak tau nggak, pas mbak Riri ke tempat mbak Lika. Malemnya bapak dapat giliran jaga dan hal buruk menimpa bapak." Rendi menghela nafas panjang, menyusupkan jari disela-sela rambutnya.
Emosinya kembali mencuat bila mengingatkan musibah yang menimpa bapak mereka.
"Gudang mengalami kemalingan mbak. Bapak di buat pingsan oleh seseorang yang tidak dikenal. Jadi tadi pagi sepulang dari masjid, bapak dapat kabar dari pak Damar katanya mandor mereka datang."Jelas sang adik.
"Terus-terus?" tanya Riana panik.
"Tapi kemarin kata mbak Lika. Mas David dan bos nya sudah mengutus seseorang untuk menggali kasus ini."
Rendi lalu meraih tangan Riana.
"Mbak nggak usah khawatir, Rendi yakin pasti bapak nggak kenapa-napa, hmm?" Riana yang sedikit ragu dengan ucapan adiknya pun mengangguk dua kali dan segera memeluknya.
Untuk hari ini ia terlalu banyak dikejutkan berbagai macam cerita, dari Azka, orang aneh, sekarang bapak.
Tapi tunggu, ada yang mengganjal di hati Riana.
Kok Riana nggak berjumpa dengan anak majikannya pak David ya, terus kenapa Lika alias Ninik panggilan khusus Riana untuknya juga tidak menceritakan hal ini pas bapak kena musibah.
Kenapa mereka main rahasia, apa mereka begitu khawatir kepadanya sampai tak satupun dari Budhe serta Ninik menyampaikan itu.
Riana menghela nafas panjang, dan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang adik kesayangannya itu.
"Mbak yakin bapak baik-baik saja."
*****
Saat berjalan menuju gudang untuk membawakan bekal buat bapak makan siang pun harus berlanjut dramatis, Riana dipertemukan dengan ibu dari mantan kekasihnya Azka.
Bu Lina memanggil Riana dari dalam mobil saat tidak sengaja berpapasan dengannya.
"Ri, piye kabare nduk?"
"Sae tante, tante gimana kabarnya?" ujar Riana dengan ramah saat meladeni wanita paruh baya itu.
"Tante buruk nduk, karena anak sulung tante berulah di luar kendali tante. Maafkan tante ya Ri, yang sempat berfikir kalo kamu bukan gadis baik-baik. Maafin tante ya."
Beliau yang menangis tiba-tiba memeluk tubuh Riana.
"Nggak papa tante, Riri maklum kok."
"Kalo begitu Riri pamit dulu tante, mau bawain bekal buat bapak makan siang."
Saat Riana mengurai pelukan dari bu Lina, bu Lina dengan cepat mencekal lengan Riana.
"Ri, tolong jauhi anak tante.Tante tau kamu gadis baik nduk, jadi tante mohon jauhin Azka Ri. Dia sudah memiliki keluarga sendiri, istrinya sedang hamil, tapi Azka malah menggila ingin menceraikannya." ujar bu Lina.
Bagai tersambar petir di siang bolong, tubuh Riana mendadak kaku.
Mas Azka, benarkah ini? Apa kamu benar-benar meninggalkanku, bahkan kamu begitu cepatnya akan memiliki anak dari istrimu itu.
Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa aku benar-benar harus menjauh darinya dan meninggalkan tanah kelahiranku demi kebaikan kita. Apa tak ada satupun yang mengerti perasaanku, kenapa harus aku kenapa?
Sakit Tuhan sakit....
Tak terasa ujung mata Riana terasa panas, pandangannya kabur dan mengembun. Riana mendongakan kepala demi menghalau air mata yang akan keluar.
Dua pun mencoba tersenyum dan menggenggam jemari bu Lina.
"Tenang saja tante, Riana janji akan menjauhi mas Azka."
Setelah mengatakan itu, dia bergegas meninggalkan bu Lina. Dia tidak boleh terlihat rapuh, harus.
"Lho kamu nduk yang anter makan buat bapak, adikmu mana?" tanya bapak
Riana yang berjalan menghampiri beliau, diraihnya punggung tangan bapak lalu menciumnya.
"Iya pak. Riri kangen bapak, sudah dua hari nggak ketemu jadi Riri yang kesini."
Riana pun meletakan bekal makan siang bapak di gubuk yang mereka berdua duduki. Dengan cekatan menuangkan nasi dan lauk untuk beliau.
"Makan sekarang ya pak, Riri siapin." dianggukan oleh bapak, yang sedang mengipasi tubuhnya dengan caping.
"Bapak apa kabar?" mengulurkan piring yang sudah terisi nasi dan lauknya.
"Bapak baik, kamu kenapa kok tiba-tiba perhatian sama bapak. Bapak ndak punya uang lebih buat sakumu." ujar bapak sinis karena biasanya itu perangai dari anaknya bila minta uang jajan lebih.
"HAHAHA."
tuk...tuk..
"Aoutch, apaan sih pak. Sakit nih." gerutu Riana yang tiba tiba mendapat serangan gaib dari bapaknya, menggunakan tongkat entah darimana didapatnya untuk menggetok jidat Riana.
"Cah wedok nek ngguyu sing sopan, heran bapak."
"Emang ketawa sopan itu gimana pak?"
"Alah mboh nduk."
Riana semakin terkekeh yang bisa melihat wajah kecut bapaknya saat digoda olehnya.
"Pak.... Riana mau menyampaikan sesuatu pada bapak."
Bapak menoleh sebentar dan mengangguk sambil meneruskan makan siangnya.
"Riana pengen ke luar negeri pak."
Uhuk.. uhukkk, bapak tersedak mendengar perkataan Riana.
Dengan sigap Riri menyodorkan air minum untuk bapak dan menepuk pelan punggung beliau.
"Tadi ngomong apa?" Tanya bapak yang sudah reda dari batuknya, mencoba memastikan pendengarannya.
"Riri pengen jadi TKW pak, bapak jangan marah."
Meraih jemari tangan kiri bapak yang bebas dan mengusap pungung tangannya.
"Riri tau bapak sayang dan cinta pada keluarganya. Riri cuma kerja dua tahun kok pak, setelah itu Riri ingin melanjutkan kuliah Riri yang tertunda sesuai impian bapak. Riri pengen mencari uang yang banyak untuk biaya kuliah Riri pak, karena Riri nggak mau membebani bapak apalagi menjadi mahasiswa biayanya tidak sedikit. Bapak harus ingat kalo Rendi sudah masuk SMA, bapak pasti akan kerepotan mencari dana buat kita berdua. Jadi bapak ijinin saya kerja ya pak, Riri janji hanya dua tahun kok."
Bapak memaku menatap mata anak gadis kesayangannya, mencoba mencari kebohongan dari sana. Bapak tak bisa menemukan itu, ia pun tersenyum dan mengangguk lemas.
"Bapak setuju?"
Ia memastikan bahwa anggukan bapak karena mengijinkannya.
"Makasih bapak makasih."
Senang karena mendapat dukungan dari sang bapak, Riana mengecup punggung tangan beliau berkali-kali dengan senyum bahagia di wajahnya.
"Bapak nambah lagi ya, biar Riri ambilkan." beliau mengangguk.
Saat menuangkan sayur asem di piring bapak, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu dari samping yang mendorong tubuhnya pelan,
Riana pun menoleh, tubuhnya menegang, matanya seketika melotot.
"Kamu?" ujarnya lirih saat mengetahui siapa yang berdiri di sebelahnya.
Dilihatnya seseorang itu yang nampak tersenyum dengan bapak lantas mengulurkan tangan untuk menyambut jabatan tangan dari bapak.
Siapa dia?