Flashback
"Ngaku kau!"
"Iya awas aja sampai terbukti kalo kau yang mencuri, tak potong itumu sampai habis."
"Muka ganteng kayak kau itu harusnya jadi mantuku, bukan ngutil begini."
"Badanmu tegap gagah gini tuh ya bisa jadi model iklan sabun colek loh, memalukan." ucap dari para warga yang kebetulan Riana melewati jalan itu pun terhenti setelah mendengar keributan yang bisa dipastikan kalau ada pencuri yang kepergok.
"Saya tidak bersalah, bahkan saya tidak mengerti apa yang sedang anda semua bicarakan. Saya bisa menuntut hal ini atas tindakan asusila anda semua yang kurang ajar terhadap saya."
Jawaban penuh tenang dari seseorang yang tanpa Riana melihat wajahnya, sudah pasti tahu kalau orang itu sedang bersungguh-sungguh akan ucapannya. Kalimat yang penuh dengan tekanan dan perintah.
Riana penasaran dibuatnya, hanya karena mendengar suara berat yang seksi menurutnya. Sampai-sampai kepalanya melongok menyela membelah kerumunan warga demi melihat seperti apa sosok itu.
Tampan, satu kata yang langsung terpikir oleh Riana setelah dia berdiri tak jauh dari seseorang itu.
Matanya terpaku oleh lelaki bertubuh tinggi atletis, dadanya yang bidang serta otot tangannya yang menonjol dengan jari bertautan karena terikat.
Melihat semua itu membuat wajah terasa memanas dan pipi Riana jadi memerah, mata mereka tak sengaja saling bersibobrok beberapa detik membuat darah Riana mendesir, jantungnya yang tidak sopan pun ikut beraksi berdetak kencang.
Riri meraba dadanya merasakan detakan itu yang tak wajar menurutnya.
Duh kenapa ini, apa aku punya penyakit jantung? oh tidak-tidak kayaknya besok mesti periksa deh.
Sebuah dorongan dari belakang tubuhnya membuat ia tersadar dari lamunan. Riana pun menyaksikan kembali aksi para warga yang terlihat semakin brutal menghakimi sosok yang berdiri tegap itu.
Meskipun wajahnya sangat tenang dan tak meronta untuk membalas perlakuan warga.
Matanya yang tajam mengerikan membuat Riana bergidik takut.
Tiba-tiba...
Srreekkkk,
Mata Riana melotot, kedua tangannya menutup mulutnya yang melongo karena terkejut.
Warga mengamuk dan menarik paksa lengan bajunya hingga robek.
Bahkan ada yang sampai memukul meskipun Riana yakin, lelaki itu mampu membalas pukulan para warga karena tubuhnya yang berotot dan tingginya melebihi mereka yang mengeroyoknya.
Entah kenapa dia hanya diam saja saat warga mengikatnya dengan tali dadung. hmmm.. aneh. Tapi dalam hati Riana menatapnya iba, entah apa yang ada di dalam pikirannya.
Merasa itu sudah sangat kelewatan membuat Riana memiliki keberanian dengan kekuatan tenaga dalam extra maksimal auto full pun berteriak. "Beeerrrr....Heeeennnn....Tiiiiiiii....... Apa-apaan kalian ini, bertanya tu yang baik bukan main hakim sendiri kaya gitu. Kalian idup di hutan ya. Iya? "
Warga yang mendengar teriakan Riana pun menghentikan aksinya, bahkan mereka saling berbisik dan melirik Riana sangat sinis.
Ck, Riana berdecak lantas matanya melotot berdiri tegap merentangkan kedua tangan bersiap menghadang siapa saja yang hendak meraih paksa lelaki yang sekarang di belakangnya.
"Dia itu mencurigakan Ri, dari tadi mondar mandir di sekitar gudang. Karena merasa asing belum pernah melihat dia sebelumnya ya udah bareng-bareng kita samperin. Giliran tadi ditanyain sama pak Narto, dia malah diem aja kaya ngremehin gitu. Ya akhirnya sama kita-kita langsung iket aja. Kelamaan nanti kabur." ucap protes salah satu warga.
"Iya tapi jangan diperkosa seperti itu donk, liatin tuh anak orang udah mirip gelandangan tampan sekarang hahahaha." ujar Riana dengan nada ketus dicampur candaan.
"Permisi maaf pak biar saya bantu lepasin tali bapak."
"Kalian bahkan tidak punya bukti yang kongkrit, semua hanya kira dan mengira. Terus ini nih." kedua ibu jari dan telunjuk menjinjing sedikit baju yang dikenakannya itu.
"Apa mata kalian tertutup sampai nggak bisa lihat, pakaian dia jelas-jelas orang kaya."
Memberi jeda bicaranya menunggu reaksi para warga. "Yaaahhh... Meskipun Riri tahu kalian pasti tidak tahu benar berapa harganya. Ya kan? Bahkan Riri sempat dengar ada yang memuji wajahnya tampan, kalo nggak salah dengar sih."
Ia merapikan pakaian sang lelaki yang berantakan dan menyisir rambutnya menggunakan jari tangannya.
Itu gerakan tindakan spontan karena dia terbiasa melakukan itu kepada adik laki-lakinya dan juga Azka saat mereka masih bersama dulu.
Riana berbalik lagi, dipandangi warga satu persatu yang mulai menyadari kecerobohan mereka.
"Terus liat tu!" jari telunjuknya menunjuk mobil alphard hitam keluaran terbaru, yang kebetulan terparkir di dekat kejadian tersebut.
Membuat Riana yakin kalau itu mobil orang yang sedang ditolongnya.
Semua menengok ke arah tempat mobil itu terparkir.
Warga yang tadinya sudah siap melanjutkan aksinya pun bingung serta malu akan salah sasaran yang ditujukan pada sosok lelaki asing itu. Tak ada satupun yang bersuara.
Hening.
Sampe akhirnya Riana menyeringai licik memikirkan ide aksi gila untuk gerombolan tadi yang merusak baju lelaki tadi.
"Pak anda tadi yang merusak baju bapak ini, sekarang anda maju dan ini ada kayu tolong pukul mobil itu, sekarang!"
Seseorang paruh baya itu melotot mendengar ucapan Riana, bahkan badannya gemetar tak urun pun mengambil batang balok yang ditunjuk Riana.
"Riri pengen kalian tau, bahwa mobil itu pasti sedih menyaksikan aksi para kawanan gila main hakim sendiri terhadap tuannya. Bahkan kalo pun kalian semua nggak percaya mobil itu bisa menangis pak buk."
"Mana ada mobil nangis, ngaco kamu." sergah salah satu dari mereka.
"Nggak percaya, ohmegot. Silakan buktikan sendiri." Riana mengulurkan tangannya sambil mengendikan dagu memberi arah para warga, dan itu pun di ikuti oleh mereka.
Dan, piew piew piew piew piew alarm mobil berbunyi nyaring setelah ada yang merusak kaca spion mobil. Mereka lari terbirit b***t karena ketakutan. Huahahahaha hal itu membuat Riana tertawa terpingkal-pingkal. Dasar manusia bodoh sok hakimin anak orang ck ck ck.
Sosok yang sedari tadi hanya diam menyaksikan aksi heroik Riana, berjalan menghampiri gadis itu. Bahkan wajahnya tak ada kesan tertarik dan marah setelah mobilnya juga di jadikan korban amukan warga.
Ia berhenti berdiri tepat menghadap Riana yang membuat gadis itu gelagapan salah tingkah setelah menyadari kehadirannya.
"Makasih sudah mau nolong saya. Maukah kamu menikah dengan saya?"
Riana yang tadinya cengengesan menutupi rasa canggung pun dibuatnya melongo.
Mengerjapkan mata saat wajahnya yang medongak untuk menatap lelaki itu.
Bertatapan secara intens seperti ini membuat pipinya kembali memerah. Tanpa disadari olehnya, sikapnya yang polos unik dan serta konyol membuat seseorang asing itu semakin tertarik untuk segera memilikinya.
Riana berdehem lalu menjawab perkatan lelaki asing yang menurutnya aneh.
"Sama-sama pak. Boleh saja, asal bapak nunggu saya dua tahun."
"Ma-maksudnya?"
Gadis itu beranjak meninggalkan Bimo yang bertanya tanya.
*****
Riana memandangi seseorang yang tadi pagi dia tolong dari aksi amukan warga. Yang sekarang sedang berbincang-bincang dengan bapak sesekali tersenyum manis, bahkan sangat manis kepada bapak.
Uhhh meleleh tampan sekali dia.
"Selamat siang pak Bimo, mari makan pak. Maaf saya punya riwayat sakit magh, jadi anak saya mengantarkan bekal untuk saya." sapa bapak lalu diletakannya piring plastik yang tadi disangga oleh bapak guna mengulurkan tangan untuk menjabat tangan lelaki itu dan dia menyambutnya dengan sopan.
"Silakan pak, saya hanya ingin menyampaikan supaya bapak tidak perlu khawatir tentang insiden dua hari lalu karena orang kami sudah melaporkan ke pihak yang berwenang." ucapnya ramah kepada bapak.
Eits tunggu dulu, kok bapak bisa kenal dengan dia. Siapa dia sebenarnya, dan bajunya sudah rapi memakai setelan jas layaknya orang kalangan kelas atas dan pasti tidak compang camping seperti tadi pagi terakhir yang aku lihat. Apa jangan-jangan dia mau mengincar gudang tempat bapak bekerja untuk sasaran curiannya lagi. Nggak boleh dibiarin nih.
Riana mengerjapkan mata gelagapan tersadar dari lamunan saat bapak melambaikan tangan tepat di depan wajahnya.
"Eh pak, ya pak ada apa?"
"Kamu itu yang ada apa, dipanggil bapak diem aja dari tadi."
Bukannya menjawab pertanyaan bapak, Riana malah menoleh menengok kanan kiri sibuk mencari pria itu.
"Cari apa nduk?"
"Itu yang tadi ngobrol sama bapak, kemana dia?"
"Oh pak Bimo, udah pergi beliau tadi." jawab bapak.
"Bapak ati-ati sama dia loh pak."
"Maksudnya? Bapak ndak paham." tanya bapak bingung sambil melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda.
"Ya pokoknya ati-ati kalo ketemu orang baru kayak dia."
"Emang kenapa kok kamu bilang begitu, beliau itu baik kok nduk, jadi ya ndak usah khawatir." Mengambil botol air untuk di minum sambil menunggu jawaban anak gadisnya.
"Bisa aja dia itu menyamar jadi orang baik, yang mau ngutil padi hasil panen di gudang tempat bapak bekerja, kalau bapak ndak percaya."
byuuurrrr... bapak yang sedang minum pun menyembur, dan tuk.tuk. "aaoouutchh, ih bapak... Ini sakit pak, kenapa di getok lagi sih."
"Sembarangan kalo omong, beliau itu kepala mandor disini alias bos bapak."
"HAH, kok bisa. eeiitss jangan di getok lagi ini kepala pak. Benjol. " Riana manyun yang masih mengusapi kepalanya karena serangan gaib sendok bapak.
"Kamu tuh di bilangin bapak berapa kali sih, anak gadis kalo ngomong yang kalem alus. Bukan teriak teriak kayak tarzan. Udah ni bapak selesai makannya, abis ini bapak mau ke masjid berjama'ah."
"Injih pak." merapikan kembali bekal yang tadi dibawanya, meraih punggung tangan bapak untuk dicium.
"Riri pamit pak." setelah diangguki oleh bapak, Riana beranjak berjalan kembali pulang ke rumah.
Bimo yang sedang mengikuti langkah pengarahan tentang segala hal mengenai gudang pun tak sedikitpun mengalihkan pandangan dari punggung Riana yang perlahan menjauh.
Wajahnya menyeringai, lantas diraihnya ponsel dari saku celana kainnya
"Cari tahu semua tentang keluarga dari bapak Suprapto, segera kirim laporannya ke saya."
Bimo .enutup sepihak telepon tersebut, dan mendengarkan kembali apa yang disampaikan setiap penjelasan dari kepala bagian gudang.