Mendapat info menarik

1293 Kata
Bimo keluar dari dalam kamar menuju ke depan rumah karena mendadak ponselnya tidak mendapat sinyal. Dia duduk bersila di gazebo yang terletak di pekarangan depan rumah pak Slamet membawa serta laptop untuk membaca laporan email yang masuk dari asisten pribadinya. Lo udah baca email dari gue bro? tanya Irfan yang segera menelepon sahabatnya, setelah mengetahui aplikasi chating milik Bimo telah online. "Sudah." Bimo geram bukan main, tak sedikit orang yang berniat mengacaukan perusahan milik ayahnya yang di rintis beliau dengan susah payah. Apalagi mengetahui salah satu informasi mengatakan bahwa seseorang yang pernah singgah dihatinya pun ikut andil dalam masalah ini. "Ck... sial. Jadi lo ternyata b*tch." gumam Bimo dalam hati. Terdengar suara dari seberang memanggil Bimo, memaksa Bimo untuk bersikap tenang. Lo tenang aja, di sini sudah tujuh puluh persen masalah terkendali, jadi lo urus aja urusan lo di gudang Wonogiri. Dan mengenai dia- Irfan menjeda perkataannya sejenak untuk menunggu reaksi Bimo. Kita semua, Leo gue dan Wiliam punya rencana buat lo. Tapi gue mohon tutup mata dan hati lo buat dia, mengingat lo pernah cinta mati ke dia. Bimo terkekeh mendengar kekhawatiran sahabatnya mengenai masa lalunya. "Tenang aja, gue udah nggak ada rasa sama sekali buat wanita sampah seperti dia." Oke kalo gitu gue tutup dulu, gue musti ke tempat Leo untuk menyerahkan bukti lain yang baru aja gue kirim ke lo. Bimo mengangguk dan menutup sambungan teleponnya. tuk, tuk... "Dingin mas, ngopi dulu." Tampak dua cangkir kopi panas yang masih mengepul di letakan di dekat dia duduk. Bimo pun menutup laptopnya dan meletakan ponsel diatasnya, lalu menggeser tubuh demi memberi ruang duduk untuk bu Siti dan David yang nampak menyusul keluar dari rumah menuju ke gazebo. "Makasih bik siti, oh iya bik Siti nggak kangen sama pak Slamet apa beliau nggak pernah nelpon bibik?" tanya Bimo sambil bergurau karena pak Slamet adalah sopir favorit Bimo yang selalu bisa membuatnya ketawa dengan tingkah konyolnya. "Ah mas Bimo bisa aja, bapak lho tiap hari nelpon bibik. Ngapain dikangenin." "Oh iyo, tadi katanya nak David. Mas Bimo benar di keroyok warga?" tanya bu Siti Bimo tergelak mendengar pertanyaan dari istri sopir keluarganya, mengingatkan dia dengan aksi sang pemberani Riana. "Wah bibik juga denger ya. Mereka hanya salah mengira kok bik, karena melihat Bimo yang berkeliaran di sekitar gudang rempah apalagi tadi pagi tu masih dini banget buat Bimo memantau lokasi. Yaaa jadi gitu deh, hehe." "Owalah, pancen wong-wong iku gendeng. Masak orang tampan gini dibilang maling." keluh bu Siti. "Nggak papa bik, lagian Bimo nggak terluka sama sekali kok. Soalnya tadi ada pahlawan yang nolongin Bimo, jadi Bimo aman." Bimo yang sedang tersenyum konyol membuat bu Siti dan David heran. "Siapa yang nolongin mas Bimo?" sahut David. Bimo gelagapan, mengibas-ngibas tangan di udara. "Oh itu, bukan siapa-siapa hehe." "Ya sudah bibik masuk dulu mas Bimo. Jangan lama-lama ngobrolnya diluar, dingin udaranya." pamit bu Siti lantas berlalu masuk ke dalam rumah. "Mas Bimo sudah mendengar kabar dari kantor pusat?" Bimo yang sedang menyeruput kopi hitam panas itu lantas menoleh ke arah David, dia mengangguk lalu meletakan cangkirnya kembali. "Kemungkinan minggu depan saya akan mulai masuk ke kantor cabang Semarang Vid, dan tinggal di Villa saya yang dekat dari kantor." Menyampaikan maksud Bimo karena dia harus bergerak cepat supaya kondisi perusahaan stabil kembali. Kondisi perusahaan sudah mulai membaik jadi dia tidak boleh berleha-leha. "Saya mengerti mas. Oh ya tadi Bu Mira menelepon saya menanyakan kabar mas Bimo."ujar David. Aahhh iya my love pasti cemasin gue. Bimo pun meraih ponsel yang tadi diletakan di atas laptop lalu menelepon sang mama. "Saya sampe lupa kalo mama belum saya kabari dari tadi pagi. Makasih Vid." Dia baru saja berbincang sebentar, tapi nampak wajah Bimo mulai jengah ke mama nya karena akan menjodohkan lagi dengan gadis yang entah anaknya siapa lagi. "Bimo aja nggak di sana, masa iya mama mau rencanain perjodohan lagi sih. Yang benar saja maaaa..." Tampak Bimo yang mencoba mengendalikan emosinya dengan berbicara lembut ke mama nya. "Udah deh ah, jangan rewel. Kalo mama masih aja begini Bimo males balik lagi ke Jakarta." Bimo dengan suara pura-pura merajuk pun sepertinya berhasil membuat mamanya menyerah. Karena dilihat dari wajah Bimo sudah mulai tenang dan bisa tersenyum lepas. "Ya sudah, Bimo mau istirahat dulu. Mama jangan malem-malem tidurnya. Assalamualaikum ma." Bimo menoleh ke arah David yang nampak sedang tersenyum melihatnya kacau karena mamanya yang selalu berjuang untuk menjodohkannya. "Bu Mira benar-benar menggemaskan." David terkekeh geli bila mengingat semua aksi majikannya. "Haha, saya hampir saja menyerah kalo nggak ingat nasi itu enak Vid." gurau Bimo yang menanggapi perkataan David. Setelah beberapa detik menjadi hening karena pikiran masing-masing, Bimo menghela nafas panjang dan itu menarik atensi David. "Kenapa mas?" Bimo hanya menggelengkan kepala. "Gimana rasanya punya istri dan anak Vid? Mengingat kamu dulu seperti anti dengan yang namanya wanita." ujar Bimo yang langsung di tanggapi kekehan oleh David. "Seneng mas yang pasti, memiliki istri dan anak cantik itu buat saya bahagia. Melihat mereka tertawa bisa membuat hati saya tenang." David menjeda sejenak untuk menikmati kopinya. "Tapi jangan lupa kalo saya juga korban dari bu Mira yang tak pernah berhenti menjodohkan saya ke gadis-gadis pilihannya dulu. Apalagi setahun yang lalu mas Bimo pasti masih ingat saat bu Mira mau jodohin saya sama kolega pak Ibnu yang katanya perawan tua, sampe akhirnya Lika dengan tekadnya yang berani mengungkapkan niatnya untuk meminta saya jadi suaminya." Bimo tergelak mengingat Lika yang mengutarakan hatinya didepan keluarga besar Prasodjo. "Saya langsung menyetujui, selain supaya bu Mira berhenti menjodohkan saya, saya juga tertarik dengan wanita yang sekarang menjadi istri saya. Apalagi ada niat hati untuk melindunginya dari orang-orang yang akan menyelakainya hanya karena dia cantik dan tinggal di rumah pak Ibnu." Perkataan David membuat suasana menjadi canggung, pasalnya orang yang berniat menyelakai Lika adalah seseorang yang dulu sempat singgah di hatinya. Karena hal itulah Bimo meninggalkan wanita itu, selain membenci perilaku kasar dia, Bimo juga sudah bosan dengan dia. Hanya saja dia selalu merasa tidak tega kalau melihat wanita menangis, hal itu menyebabkan Bimo terasa sulit melepaskan wanita itu bukan karena cinta. "Maafkan saya tentang hal itu, semua gara-gara ketidak pekaan saya karena mudah tidak tega dengan nya, sampai dia hampir menyelakai Lika." ujar Bimo menyesal. "Ah itu bukan salah mas Bimo, jadi jangan minta maaf. Itu salah dia yang terlalu terobsesi dengan mas Bimo. Jadi saya harap mas Bimo tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kembali ke dia, apalagi saya dengar dari orang suruhan saya kalo dia sudah kembali dari Kanada dua minggu yang lalu." ujar David tersenyum kepada Bimo. "Saya mengerti Vid, makasih sudah mengingatkan." ujar Bimo tulus, David pun mengangguk kecil. "Sudah larut malam, kalo mas Bimo sudah selesai dengan pekerjaan mas, buruan masuk mas. Saya nggak mau bu Mira mengomel pada saya kalo mendengar anak sulungnya masuk angin karena begadang di luar rumah haha." gurau David mencoba mencairkan suasana. Dia pun beranjak masuk ke dalam rumah. Tak lama setelah David memasuki rumah, ponsel Bimo berdering terdapat email masuk dari orang suruhannya. Satu alis Bimo terangkat setelah mengetahui isi pesan dari email, dibacanya dengan teliti hingga dia menemukan informasi yang sangat ingin dia ketahui. Mengunduh file foto yang terdapat di isi email tersebut, senyumnya berkembang setelah dia melihat gambar seseorang yang memakai dress berwarna hijau tosca yang nampak tertawa lebar bahagia, duduk di sebuah bangku hitam dengan suasana lokasi seperti cafe tongkrongan anak muda. Dia tak sendiri karena terdapat orang yang disebelahnya duduk membelakangi kamera. "Riana Kusumaningati." Bimo mengangguk kecil lalu menyeringai. "Menarik sekali, gue suka." Lantas dia bangkit menyusul David masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, karena hari ini cukup menguras tenaga dan otaknya. Setelah masuk ke dalam kamar yang disiapkan olehnya dia pun langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Malam yang menakjubkan, dari mendapat info yang menyebalkan dan terakhir gue mendapat info yang menyenangkan, benar-benar menarik. Tak lama Bimo pun memejamkan mata terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN