Ini adalah hari kedua untuk terjun langsung ke lapangan memeriksa gudang penyimpanan yang sebelumnya tidak pernah Bimo lakukan, dan bahkan tak pernah terpikirkan olehnya.
Semuanya sudah diserahkan penuh oleh salah satu orang kepercayaannya yaitu pamannya sendiri Bani Prasodjo.
Namun. Adanya hal yang mengganjal, mengingat semakin menipisnya sisa barang di gudang penyimpanan, tidak sesuai dengan masa prediksi. Hal itu memaksa Bimo untuk mengorek secara langsung cara kerja para buruh sesuai saran dari sahabatnya.
Dan hari ini adalah kali pertama Bimo menyapa rata para buruh tani dari gudang rempah, padi, kedelai dan lainnya.
Sekaligus meninjau hasil panen yang akan dikirim ke pabrik pangan dalam perusahaan Prasodjo Joyo Boyo di bawah kepemimpinannya.
"Jadi tahun ini apakah bisa mengirim beras kualitas nomor 1 dari hasil panen persawahan kita Pak Damar?" tanya Bimo kepada kepala bagian gudang padi tersebut.
Mereka sudah duduk berdua di sebuah ruangan kepala bagian gudang yang berada di lantai dua dalam gudang tersebut.
"Seharusnya bisa......"
Pak Damar menghela nafas sebentar.
"Bahkan ini sangat membingungkan saya. Selama ini para buruh konsisten atas pekerjaannya. Dan musim di tahun ini sangatlah menjanjikan untuk hasil panen kita."
Lelaki paruh baya itu memejamkan mata lalu menatap mata tajam milik Bimo.
"Saya mohon anda segera menangkap si pelaku, karena saya tidak mengerti segala macam hal tentang pencurian ini. Ini baru pertama kali selama saya mengabdi dua puluh empat tahun di perusahaan ini. Bahkan dulu selama Bapak Ibnu yaitu ayah anda yang memimpin, kejadian ini tidak pernah terjadi. Saya.... saya... saya hanya kasian melihat nasib para buruh yang kebetulan jaga pada malam hari itu pak Bimo." ujar pak Damar dengan mata berkaca-kaca.
Bimo terkekeh sambil tersenyum ramah dengan menghembuskan asap rokok.
"Saya mengerti pak Damar, terima kasih atas kerja sama serta pengabdian anda di perusahaan kami selama ini. Anda adalah sahabat papa saya, jadi saya mempercayakan sepenuhnya kepada anda."
Badannya yang tegap menyandar di sofa tunggal, kaki menyilang elegan dengan siku tangan menyangga di setiap sisi sofa sambil menikmati aroma tembakau yang dibakarnya.
"Kedepannya saya akan membutuhkan bantuan dari pak Damar, meskipun ini terdengar sedikit menyulitkan anda."
Bimo menekan ujung rokok ke dalam asbak badannya menyondong kedepan, memberi isyarat pak Damar mendekat.
"Asal bapak merahasiakan segala rencana yang akan saya buat."
Sorot mata tajam yang seakan menusuk dan membelah lawan itu membuat pak Damar bingung serta ketakutan.
"A-apa yang harus saya lakukan pak Bimo? Apapun itu, saya akan mengikuti semua rencana bapak."
Bimo menyeringai.
"Semoga bisa terealisasi pak, saya permisi sekarang. Selamat siang."
Bimo beranjak meninggalkan ruang itu, untuk kembali meninjau dan menyapa ramah para tani.
Dikiranya cukup untuk berkeliling lantas meraih ponsel, karena tadi sempat mengabaikan beberapa panggilan telepon.
Ya bos, ada apa?
"Gue sementara akan menetap disini selama cabang Semarang mengalami pemulihan, tolong lo bantu papa untuk meng-handle kantor pusat perusahaan." ujar Bimo setelah tersambung teleponnya.
Oke, gue disini bersama Leo juga sedang menyelidiki paman lo yang ternyata ikut andil dalam korupsi perusahaan, parahnya lagi pak Ibnu, papa lo mengetahuinya sejak awal. Dan beliau meminta kita untuk berhenti sejenak sebelum beliau memerintahkan kita untuk bergerak.
Bimo nampak terkejut mendengar informasi yang baru saja di dengar dari Irfan.
"Berengsekkk ternyata benar lelaki itu yang mengacaukan sistem perusahaan keluarganya sendiri."
Lo nggak usah khawatir, kita sudah mengirim seseorang untuk mengikutinya dan mengumpulkan bukti supaya kita bisa menyingkirkan mereka. Kita harus main cantik supaya pihak lawan mudah untuk dihancurkan.
"Thanks fan, lo semua sudah sangat membantu gue."
*****
Duk, duk, duk, duk... fyuuhhhh... gerah.
Menumbuk sambal kacang untuk bahan utama pecel dagangan emak membutuhkan tenaga extra.
"Heran deh sama emak, bikin sambal jaman sekarang masih aja manual." gerutu Riana.
"Ri, tadi pas ketemu bapak, apa mandor bapak beneran datang Ri? Apa bapak beneran disuruh bayar kerugiannya Ri?"
Tanya emak cemas engabaikan Riana yang cemberut kecapekan karena menumbuk sambal kacang, emak yang dari tadi gelisah pun memberondong pertanyaan itu pada anak gadisnya.
"Ummm." duk duk duk
Riana yang menggumam tak jelas sambil melanjutkan perjuangannya bersama lumpang dan alu untuk menghancur leburkan sambal kacang.
"Jawab Ri, emak kepikiran bapak dari tadi." ujar emak dengan nada bergetar, Riana meringis merasa bersalah karena mengabaikan kekhawatiran emak.
"Emak tenang aja, bapak baik-baik aja." jawab Riana mantap,
"Kamu yakin nduk?"
"Yakin seyakin yakinnya mak."
duk duk duk duk.
"Kamu ndak lagi berbohong kan?"
"Riri nggak bohong mak, soalnya kemarin Riri sempat dengar kalo mandor bapak udah lapor polisi. Emak tenang aja, oke?" Jawab Riana setenang mungkin, karena sebenarnya dia pun meragukan keadaan bapak.
duk duk duk
"Gimana mau tenang wong bapakmu ae mingkem ae yen ditanya."
"Mak, bapak cuma nggak pengen mak khawatir, lagian Riri dengar kok pas mandornya bapak ngomong kalo bapak nggak bersalah. Masak iya Riri sama mak musti berbohong, apalagi ini mengenai bapak. Riri serius bapak aman kok. Ok?"
"Iya iya emak percaya. Yowes lanjut lagi numbuknya, tapi kalo lagi numbuk gitu mulutnya jangan nerocos terus. Muncrat kabeh ilermu Ri, jorok!"
"Hah...." mata Riana berkedut, tak habis pikir dengan jawaban emak.
"Jadi bapak pasti aman kan, syukurlah." ucap emak senang.
duk duk duk
"Emang bapak ngobrolin apa Ri dengan mandornya, bukan hal buruk kan?"
duk duk duk
"Emak harap bapak nggak akan nemuin hal ini lagi kedepannya ya Ri.
duk duk duk
"Bapak itu orang baik, nggak mungkin ngelakuin hal yang merugikan orang lain."
duk duk duk
"Bahkan bapak suka rela bantu pak Mamat tugas jaga pas malam itu."
duk duk duk
"Kamu tau kan Ri kalau anak pak Mamat masuk rumah sakit karena tipes."
duk duk duk
"Itu yang langsung disetujui oleh bapak, pas bapak diminta gantiin dia."
duk duk duk
"Tapi kemarin pagi pas emak jualan, malam sebelum bapak jaga. Ada yang bilang truk plat Kota sebelah banyak yang parkir di sekitar gudang, tapi kok nggak ada yang tahu ya para buruh tani."
duk duk duk
"Kamu dengerin emak nggak sih Ri?"
duk duk duk
plak plak plak, bukan. Itu bukan suara tumbukan Riana lagi.
Tapi emak menyabet betis Riana menggunakan sandal karetnya.
"EMAAAKKKKK.... Sakit mak."
Gadis itu merengut sambil mengusap kakinya yang perih panas, karena dia tak sempat menghindar pukulan emak.
"Lagian kamu juga, orangtua lagi ngomong didengerin. Bukan mingkeemmm aja." emak berlalu meninggalkan Riana yang melongo dibuatnya.
Malam harinya disaat mereka makan bersama, Riana mempersiapkan diri untuk memberitahu ke emak serta adiknya perihal dirinya akan menjadi TKW.
"Udah pamit mak mu nduk." bapak berbisik untuk mengingatkan Riana akan perkataannya kemarin siang.
"Ono opo to, kok bisik-bisik gitu. Mau bicara apa kalian itu?" tanya emak yang penasaran dengan tingkah kedua manusia beda generasi itu.
"Ini mak, anu."
Riana gugup, ia memijat lengannya sendiri karena linu habis menumbuk sambal kacang.
"Hehehe. se-sebenarnya. Ya sebenarnya Riri pe-pengen, pengen ngomong se-sesuatu ke emak." Riana mendadak gagap setelah emak menatap matanya intens.
"Apa yang mau kamu sampein? Soal kamu mau jadi TKW? Kalo itu mak sudah tau, jadi nggak perlu gagap begitu."
Mak pun makan dengan santainya tanpa menghiraukan reaksi suami dan anaknya.
"Mbak memutuskan jadi TKW bukan karena b*jingan itu kan?"
plak.... tuk.... prrakkk.
"Aaaaahhh apaan sih, aaooutchh sakit, aoutch...." Rendi mengaduh kesakitan saat Riana, bapak dan emak memukul nya menggunakan tangan kosong, sendok, dan nampan stainless.
"Mulutmu belum pernah dikruwes sama emak hah?" emak menodongkan nanpannya pas di depan wajah Rendi.
"Hehehe maaf pemirsaaahh, Rendi khilaf. Habis sebel sama mbak Riri yang harus pergi kerja sedangkan baj- maksudnya bajaj bajuri itu anteng anteng aja di kampung."
Rendi salah tingkah dan ketakutan saat hampir keceplosan mengatakan kata kotor di depan keluarganya.
"Emak setuju kok, lagian mak sudah muak dengan omongan orang pasar yang ngatain mbakmu pelakor." ujar emak santai, kelewat santai malah. bahkan itu bukan emak yang biasanya mudah khawatir kalo anak dan suaminya kenapa-napa.
"Emak yakin bolehi Riri kerja jadi TKW?" tanya Riana sekali lagi, karena dia takut emaknya hanya sandiwara.
"Iya. Tadi siang mbokdhe mu kesini, dia bilang sama emak kalo kamu mutusin untuk begini demi kebaikan kita. Jadi emak nggak papa kalo kamu benar-benar harus merantau." beber emak menjelaskan isi hatinya.
Riri pun bangkit dari duduknya lalu merangkul tubuh emak dari samping.
"Makasih mak, makasih banyak sudah mau ngertiin Riri."
Mendadak malam hari itu menjadi malam yang sedih dan mengharukan. Semoga keputusannya untuk pergi dari kampung dan merantau ke negara tetangga bisa membungkam mulut pedas para tetangganya yang kurang kerjaan.