Terik matahari di siang hari membuat kulit legam para buruh yang bertelanjang d**a nampak mengkilap karena peluh yang mengalir di punggung mereka. Seperti halnya pak Suprapto, beliau nampak mengusap wajahnya berkali-kali dengan punggung tangannya.
Membuat Bimo yang sedari tadi hanya memperhatikan dari jauh lantas menghampirinya untuk menyapa, karena ini hari ke-tiga dia tidak melihat Riana mengantarkan bekal makan siang untuk pak Suprapto. "Siang pak To..." sapanya.
"Panas ya pak?!"
"Eh pak Bimo. Saya kira siapa tadi, ndak kok pak. Ini sudah biasa" ujar pak To yang masih memanggul karung padi.
Beliau membanting pelan karung padi ke tumpukan yang mulai menggunung itu, lantas menggangguk menghadap Bimo.
"Gimana pak bekerja memanggul setiap hari seperti itu apa berat?"
Pak To yang kembali memanggul karung padi dari dalam gudang, sontak menoleh ke arah Bimo.
"Nggak berat pak, yang berat itu kalo istri minta jatah uang belanja tapi hari gajian masih lama." kekeh pak To.
Bimo masih saja membuntuti pak To yang sedang memanggul, membuat lelaki paruh baya itu mulai heran serta penasaran.
"Sebenarnya pak Bimo, apa ada sesuatu yang ingin disampaikan ke saya pak?" tanya pak To canggung, takut kalau ada sesuatu terjadi lagi dengan gudang padi.
Anehnya, hal itu malah membuat Bimo gemas sontak terkekeh geli melihat wajah cemas pak To.
"Ah nggak papa, hanya lihat-lihat saja." sahut Bimo mengibaskan tangan ke arah pak To.
"Oh iya tumben saya nggak lihat putri bapak kirim bekal makan siangnya pak?" nada bicaranya dibuat seolah sekedar tanya padahal dalam hati Bimo merindukan wajah gadis nakalnya.
"Oh Riana tidak di rumah pak, sudah empat hari yang lalu dia berada di Semarang."
Bimo menaikan satu alisnya mendengar informasi ini, lelaki itu mengulum bibirnya sendiri lantas berdeham.
Haha gue kecolongan, ternyata cepat juga gadis itu. gumam Bimo dalam hati terkekeh.
"Sekolah di sana pak?" tanya Bimo lagi.
Pak To menggeleng, "Bukan pak, anak saya mendaftar jadi TKW jadi dia harus di yayasan penyalur tenaga kerja untuk mengurus keperluannya." jelasnya terhadap lelaki tampan yang di sebut mandor tersebut,
Bimo mengangguk-angguk seolah dirinya paham dengan apa yang di sampaikan oleh pak To.
Padahal dia sudah mengetahui semua itu dari orang suruhannya.
"Bapak kok bolehin dia jadi TKW, nggak takut kalo putri bapak diculik tuh." gurau Bimo saat dia dapat melihat kesedihan dari raut wajah pak To.
"Maksudnya pak?"
"Ah itu maksud saya, putri pak To kan cantik tuh. Apa nggak takut nanti di culik orang jahat, karena saking cantiknya."
pak To pun tergelak mendengar perkataan Bimo.
"Emang cantik sih pak, banyak pemuda desa yang naksir sama dia. Tapi karena mereka ndak tau saja, kalo ketawa dan cara bicaranya putri saya tu kayak toa masjid pak, kuenceng buanget."
Mereka pun tertawa bersama masih dengan topik Riana.
"Ngomong-ngomong kenapa dia pengen jadi TKW pak?"
"Katanya sih pengen cari modal, tapi saya tau alasan sebenarnya kalo dia sedang menghindari seseorang yang sudah menjadi suami orang. Mungkin putri saya capek mendengar cemoohan dari para tetangga yang mengatakan dia merebut suami orang, padahal kenyataannya lelaki itu yang tidak bisa melepaskan putri saya. Dan sampe sekarang masih mengejar putri saya."
Tunggu...
Pak To merasa dirinya terlalu jauh menceritakan nasib putrinya kepada orang asing. Bagaimana pun juga, beliau tidak akrab dengan Bimo.
Ia lantas melirik lirik canggung dan sedikit takut, menyadari kalau perkataannya sudah kelewat batas, membuatnya salah tingkah dan mengusap tekuknya yang tak gatal.
"Hehehe kok malah curhat ya pak. Kalo begitu saya lanjutin manggul lagi ya pak.... Mari."
Bimo mengangguk setelah pak To berlalu melanjutkan pekerjaannya.
Entah kenapa rasanya darah seketika mendidih. Ia pun berlalu dan masuk ke dalam ruangan yang di sediakan untuknya selama meninjau kegiatan dalam gudang. Membanting keras pintu kayu itu dan dia berdiri sambil berjalan mondar mandir dengan kedua tangan bersarang di pinggang.
Dia mencari-cari ponsel dan menemukannya di saku, menelepon seseorang dengan perasaan gelisah.
"Cari tahu semua tentang Azka Putra Adipati SEKARANG!" di lemparnya ponsel entah kemana, melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Bimo menggeram rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal, nafasnya memburu. Rasanya sekarang dia ingin membunuh siapa saja yang berani membuatnya kacau seperti ini.
Iya. Emosinya mencuat setelah mendengar semua cerita dari pak Suprapto, apalagi mendengar banyaknya lelaki yang berani tertarik pada gadisnya.
Gila memang!
Karena Bimo dengan tak tahu dirinya meng-klaim Riana adalah miliknya, padahal gadis itu tak mengenal baik, bahkan dia tidak mengetahui siapa Bimo sebenarnya. Bimo tak peduli, biarkan siapa saja yang akan mengatakan kalau dia konyol karena seperti terobsesi akan Riana. Tapi yang jelas, dia belum pernah merasakan emosi cemburu buta berlebihan hanya karena makhluk yang disebut 'wanita'.
Apalagi sekarang masih ada seseorang yang berpotensi besar menjadi rivalnya, tak akan dia membiarkan itu, tidak!
Hatinya benar-benar sangat kacau sekarang.
"Aarrrrggggghhhhh, siaaalll...siiiaaalll....."
Berkali-kali Bimo mengumpat, mengepalkan tangan dan meninju udara seolah di depannya terdapat samsak.
Oh jadi begini yang namanya cemburu, tak lama kemudian Bimo tersadar dengan tingkahnya yang berlebihan itu, ia terkekeh melihat dirinya sekarang yang nampak tak karuan.
Lihat saja gadis kecil, sekali lo masuk ke dunia gue. Tak akan pernah gue lepasin. Tunggu saja itu.
Dia menyeringai, matanya tajamnya nampak semakin menyeramkan.
Suara ketukan pintu menarik atensinya, mengatur nafas sesaat lantas dia berdeham.
"Masuk!" perintah Bimo setelah merasa sudah tenang.
"Selamat siang pak, ada seseorang yang ingin menemui bapak." ujar salah satu buruh tani. Bimo tersenyum ramah lantas mengangguk.
"Terima kasih pak, tolong suruh dia tunggu sebentar. Lima menit saya turun." Bimo pun ke kamar mandi untuk mencuci muka dan membenahi penampilannya. Walau bagaimanapun dia tidak boleh terlihat buruk dihadapan para buruh tani.
Setelah keluar dan berniat menemui seseorang yang di maksud salah satu buruh tadi, matanya tak sengaja melirik ke sebuah mobil yang nampak tak asing baginya. Dia lalu mempercepat langkahnya untuk memastikan siapa yang datang ingin menemuinya.
"Lumayan besar juga bro tempatnya." ujar Leo yang kini telah berdiri dihadapannya.
"Kok bisa lo di sini bro, urusan lo dengan perusahaan gue udah kelar?" Leo bukannya menjawab malah beranjak menuju ke mobilnya dan Bimo yang melihat itu gegas menyusulnya masuk ke mobil
"Ada hal yang ingin lo sampaikan?" Bimo masih penasaran dengan keberadaan sahabatnya yang mendadak di Wonogiri.
"Anak buah gue menghabisi satu keluarga yang telah berniat menculik adik lo, mereka tadinya kabur ke daerah Semarang."
"WHAT?"
Bimo sungguh terkejut dibuatnya.
"Terus adik gue, nyokap, bokap sekarang aman kan?" Leo mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya.
"Sekarang lo ikut gue ke kota Semarang. Tugas lo menyamar jadi seorang ayah yang akan menjadi pembeli peralatan anak sekolah, dan itu baju lo musti diganti seperti orang biasa umumnya."
Bimo mengerutkan dahi mendengar perkataan Leo. "Maksudnya apa nih?"
Leo memberi isyarat Bimo untuk mendengarkan dulu kalimat Leo.
"Gue udah nemuin istri kecil gue, dia di sana ternyata." ujar Leo sambil menyeringai, membuat Bimo paham.
"Kalo gitu antar gue pamitan dulu, sekalian gue persiapkan barang gue buat pindah ke Semarang." Leo mengangguk dan melajukan mobil ke arah rumah pak Slamet.
Kehadiran Leo yang mendadak tentu juga mengejutkan David.
"Mas Leo kapan sampai?"
"Baru aja Vid, ini mau jemput Bimo buat ikut saya ke Semarang."
David mengangguk paham mulai membantu Bimo menyiapkan semua yang akan dibawa oleh Bimo.
"Lho mas Leo apa kabar?" seru bu Siti yang terkejut menjadi heboh melihat kehadiran Leo, dan jangan heran. Bu siti sangat mengenal Leo karena dia sempat membantu anak lelakinya Lingga di Jakarta saat menjadi korban tabrak lari.
"Baik bik, bibik sendiri apa kabar." Leo tersenyum ramah menatap bu Siti.
"Bibik selalu baik mas, asal setiap hari bertemu orang baik seperti kalian." mereka tersenyum mendengar perkataan bu Siti.
"Jaga kesehatan bik, dan makan yang banyak. Karena merindukan suami juga membutuhkan tenaga ekstra." gurau Leo yang juga sangat menyukai pak Slamet saat beliau melontarkan kata-kata konyolnya.
"Haha mas Leo bisa aja. Yowes kalian hati-hati, bibik mau antar cucu bibik ke posyandu. Assalamualaikum." pamit bu Siti kepada ketiga lelaki tampan yang sekarang berkumpul di rumahnya.
"Kantor pusat sudah stabil, apa kamu nggak pengen balik ke Jakarta Vid."
David lantas menoleh ke pintu kamar yang terdapat Bimo di dalamnya.
"Setelah mas Bimo beres di sini saya akan kembali ke sana, itu perintah bapak."
"Saya juga sedang ikut membereskan kekacauan disini dengan anak buah saya, selama mas Bimo di cabang Semarang nantinya." Leo mengangguk paham.
Pintu kamar terbuka, nampak Bimo menarik dua kopernya.
"Beres semua?" Bimo menelengkan kepala menjawab pertanyaan sahabatnya. Leopun ikut membantu David menarik koper Bimo dan ikut membantu memasukannya ke dalam bagasi.
Mobil Bently Bentayga milik Leo pun melaju meninggalkan pekarangan rumah pak Slamet. "OKE! Sekarang saatnya mengambil kembali sesuatu yang memang menjadi hak milik kita." Teriak Bimo semangat, yang hanya di tanggapi Leo senyum tipis dengan alis satu terangkat.
Mari berjuang...