Tentang Sarah

1493 Kata
Bimo menoleh menatap Leo saat mereka sampai di tempat tujuan. "Kenapa mereka juga ada disini?" Leo hanya mengendikan kedua bahunya. Melihat kedua sahabatnya terduduk di teras villa miliknya, lantas ia berjalan cepat menghampiri mereka. "Lo berdua lama amat sih bro." seru Wiliam sambil mengambil alih koper kecil milik Bimo. "Kenapa lo bisa disini Will?" "Gue besok siang ada pembukaan rumah sakit cabang disini." lantas melirik Irfan. "Gue kan asisten lo bro." sahutnya. "Kalian seperti anak gue yang baru dua minggu tak melihat gue, terus nyusulin." Bimo terkekeh melewati ketiga sahabatnya untuk menyuruh asisten rumah tangganya menyiapkan kamar buat mereka. "Sebenarnya gue nyampe sini semalem bro." ujar Wiliam setelah mendaratkan tubuhnya di kursi bar ruang dapur. "Terus kenapa jadi ke villa gue." Bimo menuang satu persatu minuman buat sahabatnya, dan mengulurkannya untuk Wiliam yang duduk dihadapannya. "Thanks, gue pengen rehat aja di villa lo yang megah ini." Bimo memutar bola malas, dia yakin itu bukan alasannya. "Sorry ,gue nggak ada bantu waktu perusahaan elo bermasalah. Gue lagi di sibukin proyek besar pembukaan rumah sakit di setiap kota kecil." Bimo tersenyum mengangguk, dia tidak permasalahkan karena kedua sahabat lainnya sudah cukup bisa diandalkan. "Lanjutin cerita lo yang tadi bro." Irfan ikut bergabung mencari tempat duduk. "Oh pasien anak kecil yang gue tangani semalem?" Irfan mengangguk, entah kenapa dia penasaran bukan main. "Umurnya baru enam bulan, tapi sialnya rumah sakit itu tak memiliki golongan darah yang cocok untuknya. Padahal tu bayi butuh banyak transfusi darah." gerutu Wiliam. "Kenapa tu bayi?" tanya Bimo yang hanya memperhatikan mereka berdua pun ikut penasaran. "Kayaknya korban siksaan deh, terdapat banyak lebam di tubuhnya, terus ada luka sayatan di tangan yang menyebabkan tu anak kehilangan banyak darah." jelas Wiliam panjang lebar membuat mereka semua sontak terkejut kecuali Leo. "Wah gilak, tega bener tu orang sampe nyiksa bocah yang masih ileran." seru Irfan yang nampak semakin emosi. Wiliam meraih tangan Irfan untuk mendengarkan cerita lanjutannya. "Dengerin dulu. Yang bikin gue heran tu ya, gue liat Sarah nangis di ruang tunggu sambil manggil nama 'Rafa Rafa ' gitu bro." "Maksud lo, tu bayi milik Sarah gitu bro?" tanya Bimo semakin penasaran, Irfan yang melipat tangan di atas meja semakin mencondongkan tubuh lalu mengangguk karena ikut penasaran. "Em gimana ya." pandangannya melirik keatas seolah sedang berfikir. "Gue nggak tau juga sih bro, soalnya pas gue mau hampiri dia, ada perawat yang udah duluan menggiringnya masuk ruang perawatan untuk merawat luka dia." meringis saat melihat kedua sahabatnya yang nampak kecewa. "Sialan lo." Bimo pun beranjak masuk ke kamarnya. "Gue juga mau tidur dulu, besok pagi gue caw." Wiliam pun berlalu dan masuk ke kamar yang disediakan untuknya. Villa Bimo tergolong luas, karena terdapat banyak kamar, ruang bermain seperti billiard, game zone, ada juga ruang olahraga buat gym, muaythai, lapangan basket yang terdapat di halaman depan. Jangan lupa padang rumput di halaman belakang villa, tempat itu dibuat khusus oleh Bimo untuk bermain olahraga favoritnya golf. "Jadi lo kemarin cuma nangkep keluarga angkat Sarah bro?" setelah kedua sahabatnya terlelap, Leo dan Irfan berpindah duduk di teras kolam renang sambil menikmati minuman yang disediakan asisten rumah tangga di villa Bimo. "Iya." jawabnya singkat. "Kenapa, bukannya lo bilang dia juga ikut terlibat?" "Itu bukan pure keinginan dia." "Tapi lo sampe abisin keluarga angkatnya, kenapa lo sisain dia doank?" "Karena gue tak sekejam itu memisahkan bayi dengan ibunya." "Maksud lo?" dahinya merengit, tapi tak lama matanya membulat, mulutnya melongo dan ditutup satu tangannya."Jangan bilang kalo Sarah dan bayi yang di tangani Wiliam-?" perkataannya menggantung, dan diangguki Leo. "Kok bisa? Apa dia hamil dengan bule, kan dia baru pulang dari Kanada." Leo bukannya menjawab malah menikmati aroma tembakau yang di bakarnya, Irfan yang mengerti perangai Leo pun tak menanyakan lagi hal yang mengenai Sarah. Ke esokan harinya akan seperti biasa, apabila mereka berempat berkumpul maka bagian memasak adalah Irfan. Sang koki andalan mereka. "Lo tu ya, masak oke, punya restoran bejibun, sampai go international, saham di kita-kita banyak. Dari perusahaan tambang Leo ada dua puluh sembilan persen pure punya lo, perusahaan rumah sakit gue tiga puluh tiga itu juga pure punya lo, dan yang terakhir bisnis hotel lo dengan Bimo itu lima puluh persen sendiri." Irfan mendelik tak suka dengan cuitan pagi Wiliam. "Makan lo, nggak usah ngoceh." menyodorkan satu porsi nasi goreng. "Nah ini ni, yang bikin gue sebel ke elo, harusnya lo tu jadi Bos kita, secara kekayaan milik lo sendiri lebih gede ketimbang kita. Tapi lo masih aja jadi asisten Bimo." menggerutu sambil menyuap nasi goreng pemberian Irfan. "Thanks." ujar mereka setelah selesai sarapan, dan langsung menikmati kopi panas buatan Leo, karena Leo paling hobi buat kopi. "Jadi gue ntar ke yayasan itu?" Irfan menatap Bimo yang sedang mengangguk sambil menujuk kedua sahabatnya. "Pokoknya lo berdua harus bisa ambil alih yayasan itu." semalam sebelum mereka tidur, Bimo entah kenapa keluar dari kamar menemui kedua temannya yang sedang asik mengobrol di teras tepi kolam renang. Dia menyampaikan pesan kepada Leo selaku kuasa hukumnya dan Irfan asisten pribadinya, untuk mengambil alih yayasan yang alamatnya sudah dicatat di secarik kertas yang sekarang di simpan oleh Leo. "Terus gue ngapain?" Wiliam yang dari tadi seperti anak bawang pun pengen ikut misi juga, karena dia yang paling telat mengetahui tentang hal yang menimpa mereka, mengingat dirinya seorang dokter ahli bedah yang menuntutnya untuk sigap menangani pasien. "Sebenernya ada yang musti gue sampein ke lo Bim." Mendadak suasana menjadi serius setelah melihat sorot mata Leo yang seakan ingin membunuh lawan. "Orang yang menculik adik lo adalah suruhan orang tua angkat Sarah. prruuutttt. "Shiiittt, what you doing?" seru Irfan karena wajahnya menjadi sasaran semprotan kopi panas dari mulut Wiliam. "Maaf bro, gue kaget denger cerita Leo." mengatupkan kedua tangan sambil meringis lalu mengambil tissue untuk mengelap wajah kotor Irfan tapi malah di tepis dan berlalu meninggalkan meja makan. "Jadi yang kalian maksud tu wanita sialaann ikutan mengacau perusahaan bokap gue karena itu?" Dadanya naik turun nafas nya menggebu menandakan si empunya sedang meredam marah. "Tenang, dia hanya dijadikan alat oleh keluarga angkatnya." ujar Leo santai bahkan tak terprovokasi sama sekali dengan reaksi Bimo. "Maksud lo?" Leo pun menceritakan semua hal dari awal kenapa Sarah mendekati Bimo, semua itu adalah rencana dari keluarganya dan paman Bimo. Padahal kalo boleh jujur Sarah tidak mencintai Bimo, semua hanyalah strategi untuk Paman Bimo supaya bisa mengambil alih perusahaan milik kakaknya, yaitu ayah Bimo. Sarah mencintai seseorang yang tak seorang pun tahu termasuk keluarga angkatnya. Dia bahkan diam saja saat semua orang mengatainya wanita kasar dan gila karena mencintai Bimo seperti tak wajar. Semua itu ia lakukan karena takut kalau Bimo berpaling darinya, dan hal fatal yang akan terjadi adalah neneknya yang di Kanada dijadikan ancaman. Sarah juga pernah mengalami pelecehan berkali-kali dari kakak angkatnya, tetapi asisten rumah tangga mereka selalu menolongnya jadi dia selamat dari tindakan tercela itu. Sampai akhirnya neneknya meninggal yang membuat Sarah berfikiran akan bisa kabur dari rumah keluarganya karena nenek yang selalu dijadikan alasan pun tiada. "Jadi waktu setelah putus dari lo, malemnya dia hampir diperkosa Bradon. Karena Sarah meminum sesuatu yang sudah dicampur afrodisiak tapi-" Cerita Leo terputus karena dia memandang Irfan yang sudah bergabung menarik kursi tempat duduk di meja makan. "Terus bro?" wajah Wiliam tegang mendengar cerita Leo sampe tak sadar dia menggeser kursinya mendekati Leo. Irfan menyulut ujung rokok, sekalian untuk Leo. melihat itu Bimo dan Wiliam pun ikut menikmati aroma tembakau itu. "Tapi dia diselamatkan oleh seseorang." "Berarti nggak jadi di perkosa kan?" Wiliam menghembuskan nafas lega lalu melemaskan kedua pundaknya. "Gue kira beneran kalo Sarah adalah ibu tu bocah." "Itu memang anaknya." "WHAT?" mereka terkejut mendengar info dari Leo. "Berarti dia udah nikah donk?" Bimo semakin penasaran, walau bagaimanapun wanita itu pernah singgah di hatinya. "Belum. Dan anak itu adalah anak dari lelaki yang malam itu menyelamatkan Sarah dari Bradon." Leo menyeringai, dia beranjak meninggalkan ketiga temennya yang bertanya-tanya. "Bukan anak lo kan Bim?" "Gini ya Wil. Gue emang suka jajan yang emang di jual, dan gue mau nglakuin itu kalo kita sama-sama mau. Dan tu cewek nggak pernah mau gue sentuh, tapi kalo liat gue ma cewek lain dia jadi kayak nenek lampir." raut wajahnya tiba-tiba mendung. "Gue kira dia cinta mati ma gue, tapi nggak taunya cuma dijadiin bahan. Sialnya itu gue nggak nyadar, haishh.." gerutu Bimo yang nampaknya semakin membenci Sarah. "Terus siapa donk ayah tu bayi?" "Kenapa jadi lo yang ribet bro, emang lo pernah havingfuck sama dia?" sahut Irfan karena mulai jengah dengan sifat Wiliam yang selalu pengen tahu dan tidak sabaran. "Sembarangan! Kagak lah.... Emang sih gue sempet suka, tapi dia milihnya Bimo, ya udah gue relain aja." "Fan...!" seru Leo sambil menelengkan kepala untuk segera berangkat ke yayasan, dan diangguki nya lalu mengikuti langkah Leo keluar rumah. "Gue ikut lo ke rumah sakit." "Ngapain, lo sakit bro?" Bimo langsung menendang tulang kering Wiliam, memang menguras tenaga bila dihadapkan Wiliam seorang diri. "Gue mau ketemu Sarah begok." Dia pun berlalu mengganti pakaian santai karena dia hari ini tidak masuk ke kantor. Mereka berdua pun pergi ke rumah sakit tempat dimana anak Sarah dirawat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN