“Aldi dan Prana, kau lebih menyukai siapa dari dua lelaki itu?”
Pertanyaan Jesi membuat Sindy yang sedang menikmati makanan yang ada diatas meja itupun terhenti. Gadis manis itu terkejut dengan pertanyaan yang meluncur keluar dari mulut gadis cantik yang ada didepannya itu. Jujur saja Sindy tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Jesi padanya barusan. Toh ia tidak memiliki perasaan apapun kepada Aldi maupun Prana. Oh berbicara soal Prana, terkadang Sindy merasa nyaman sih berada didekat lelaki tampan itu dan terkadang juga dengan tidak sengaja memikirkan lelaki tampan itu atau menyebut namanya dalam diam. Entah itu bisa disebut perasaan suka atau tidak yang jelas Sindy tidak tahu perasaannya kepada dua lelaki itu.
“katakan saja padaku jika kau bingung” kata Jesi ketika melihat ekspresi Sindy yang tampak terkejut dan bingung secara bersamaan. Ia mengerti bahwa gadis manis didepannya ini tidak tahu apa yang ia rasakan kepada dua lelaki yang mendekatinya itu. Sindy yang mendengar perkataan Jesi itupun melihat kearah gadis cantik itu dengan ragu, apa ia harus mengatakan semuanya kepada Jesi.
“katakan saja tidak apa-apa, aku akan mendengarkan” kata Jesi lagi, meyakinkan Sindy agar mau menceritakan sesuatu padanya. Mendengar hal itu membuat Sindy menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum memilih untuk mulai menceritakan semuanya kepada Jesi. Dimulai dari Aldi dan ditambah lagi Prana yang datang tiba-tiba. Tapi, gadis manis itu tidak menceritakan bagian dimana Aldi menciumnya diruang uks saat dia mengalami shock setelah dikurung oleh Lisa dan teman-temannya didalam gudang. Ia juga tidak menceritakan tentang pembullyan yang ia alami di sekolah karena itu tidak ada hubungannya dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jesi tadi. Gadis cantik yang ada didepan Sindy sambil mendengar cerita gadis manis itu dibuat tersenyum dan tertawa oleh cerita tersebut. Sindy yang melihat Jesi tertawa itupun mengerutkan alisnya karena tidak tahu kenapa gadis cantik itu tertawa.
“ah maaf maaf, kau terlalu lucu” kata Jesi ketika melihat Jesi melihatnya dnegan mengerutkan alisnya.
“begitulah ceritanya” Sindy yang agak kesal dengan Jesi itupun menghentikan ceritanya dengan cepat dan membuat Jesi heran dengan hal itu.
“baiklah” kata Jesi sambil tersenyum.
“intinya kau menyukai Prana” lanjut Jesi lagi yang membuat Sindy melebarkan matanya dan hampir tersedak makanan yang ia makan. Jesi tertawa ketika melihat ekspresi Sindy barusan.
“itu terlihat jelas, ketika kau merasa nyaman berada disamping Prana dari pada dengan Aldi” jelas Jesi kemudian ketika Sindy masih belum bereaksi sama sekali tentang apa yang ia katakan barusan itu.
“begitu ya” setelah lama diam akhirnya Sindy menanggapi ucapan Jesi. Gadis cantik yang ada didepan Sindy itupun merasa heran ketika melihat ekspresi Sindy yang terlihat tidak senang dengan apa yang ia katakan tadi. Seperti ada kesedihan diekspresi tersebut, tapi Jesi tidak ingin mengetahui lebih jauh tentang Sindy karena takut jika gadis manis itu akan marah padanya nanti. Setelah pembicaraan itu selesai tidak ada dari mereka yang mengeluarkan percakapan sedikitpun dan memilih untuk diam sambil menghabiskan makanan yang ada diatas meja yang tadi dipesan oleh Jesi untuk menemani mereka berdua.
Satu jam lebih telah berlalu, Jesi dan Sindy memutuskan untuk pulang kerumah karena hari sudah mulai sore dan gelap. Kedua gadis itu berjalan kembali kearah perpustakaan untuk mengambil motor Jesi yang tadi ditinggal diparkiran perpustakaan begitu saja. Mereka berjalan dengan sedikit obrolan ringan yang dimulai dari Jesi yang bertanya kepada Sindy. Pasalnya setelah obrolan mengenai Aldi dan Prana, Sindy lebih banyak diam dan Jesi berfikir jika Sindy memikirkan apa yang ia katakan tadi. Gadis cantik itu sedikit menghela nafas pelan ketika Sindy hanya menanggapinya sedikit.
“aku antar pulang Sin?!” kata Jesi ketika mereka sampai diparkiran perpustakaan.
“tidak usah kak, aku jalan kaki saja” jawab Sindy dengan senyum yang terkembangan diwajahnya.
“beneran, tidak apa-apa kok”
“enggak kak, aku jalan kaki saja”
“baiklah, hati-hati dan soal perkataanku tadi jangan terlalu difikirkan” kata Jesi sebelum menaiki motornya. Sindy menganggukkan kepalanya dan menyuruh Jesi untuk cepat pulang. Setelah kepergian Jesi, Sindy berjalan berlawan arah dengan Jesi dengan diam. Meskipun tadi gadis cantik itu mengatakan ‘tidak usah difikirkan terlalu keras’, tapi tetap saja Sindy masih memikirkannya.
“hah” gadis manis itu menghela nafasnya sambil terus berjalan menuju rumah pamannya. Dihari minggu seperti ini, gadis manis itu tidak pergi bekerja karena terkadang pamannya berada dirumah dan berkeliaran disekitar rumah hanya untuk menyapa tetangga yang ia kenal.
“oh Sindy” sapa seseorang yang membuat Sindy menoleh dan melebarkan matanya ketika melihat siapa seseorang yang menyapanya itu.
“Aldi!” kata Sindy dengan nada terkejutnya. Ia tidak tahu kenapa dari semua orang yang harus ia temui hari ini adalah Aldi. Seseorang yang tadi ia bicarakan dengan Jesi.
“dari mana?” tanya lelaki mancung itu.
“perpustakaan” jawab Sindy apa adanya.
“oh” Aldi hanya beroh ria.
“pulang?” tanyanya lagi yang diangguki oleh Sindy.
“aku antar, ya” tawar Aldi.
“ah tidak usa-“
“tidak apa, lagipula aku ingin pergi kearah yang sama denganmu” kata Aldi yang langsung menarik tangan Sindy dengan lembut.
“mobilmu?” tanya Sindy yang melihat mobil Aldi akan ditinggal begitu saja.
“tidak apa, tidak akan hilang kok” jawab Aldi enteng. Ya namanya juga orang kaya jadi mereka bisa melakukan apa saja meskipun mobil itu hilang atau rusak tinggal beli lagi. Mereka berdua berjalan kearah rumah paman Sindy berada dengan obrolan kecil yang dikatakan oleh Aldi sedangkan Sindy hanya menanggapi sesekali saja. Sebenarnya Sindy merasa agak sedikit tidak nyaman dengan Aldi. Entah sejak kejadian waktu diuks itu atau memang Sindy sudah merasa tidak nyaman sejak awal. Ia tidak tahu.
Setengah jam berlalu dan mereka sudah sampai dikawasan gang rumah paman Sindy. Meskipun harus masuk gang lagi, tapi Sindy berhenti disana dan menatap Aldi.
“terima kasih sudah menemaniku berjalan sampai sini” kata Sindy yang membuat Aldi agak terkejut.
“oh, rumahmu disini?” tanya Aldi, ingin tahu meskipun sebenarnya lelaki mancung itu sudah tahu rumah Sindy dimana.
“masih agak kedalam, tapi tidak apa-apa sampai sini saja” kata Sindy.
“tidak apa, aku antar sampai sana” Aldi masih berusaha untuk membujuk Sindy agar mau ia antar sampai rumah.
“aku tidak apa, kau harus kembali untuk mengambil mobilmu”
“tidak usah dipikirkan”
“tapi-“
“ayolah” Aldi bersikeras dengan menarik tangan Sindy lagi dan masuk kedalam gang tersebut tanpa membiarkan Sindy melanjutkan kalimatnya. Sindy yang ditarik oleh Aldi itupun merasa was-was dan takut. Takut jika pamannya ada disekitar gang tersebut dan melihatnya bersama Aldi. Gadis manis itu sedikit menghela nafas pelan dan berharap jika pamannya tidak ada digang tersebut.
“aku bisa jalan sendiri” kata Sindy yang membuat Aldi menoleh kearahnya dan menatap tangannya yang masih memegang tangan gadis manis itu.
“apa tidak boleh aku melakukannya?” tanya Aldi.
“bukan begitu”
“lalu kenapa aku tidak boleh memegangmu”
“sudahlah, lebih baik kau pergi lagipula rumahku sudah dekat” usir Sindy secara halus. Aldi yang mendengar hal itupun menghela nafasnya pelan dan hal itu dilihat oleh Sindy dan entah kenapa Sindy memiliki firasat buruk tentang hal itu. Yang benar saja Aldi malah berjalan mendekat kearah Sindy yang membuat gadis manis itu berjalan mundur secara otomatis sampai punggungnya membentur tembok dengan pelan. Aldi langsung mengunci Sindy dengan kedua tangan yang ada disisi bahu Sindy.
“ah baiklah aku akan pergi” kata Aldi sambil menjauh dari Sindy. Gadis manis itu bernafas lega ketika Aldi menjauh darinya. Jujur ia benar-benar takut.
“sampai jumpa di sekolah besok” Aldi benar-benar pergi dari hadapan Sindy.
Tanpa ia tahu ada seorang lelaki paruh baya yang melihatnya disebuah rumah dikawasan gang tersebut.