16

1186 Kata
Alan sedang berada disalah satu rumah temannya yang tak jauh dari rumahnya. Hanya perlu keluar dari gang dan berjalan sekitar tiga rumah dari gang tersebut hingga sampai dirumah temannya itu. Ketika ia bangun tadi, Alan tidak melihat Sindy dimanapun dan ia berfikir bahwa gadis manis itu sedang berada diperpustakaan karena biasanya gadis itu memang pergi kesana untuk belajar dihari minggu seperti ini. Lama lelaki paruh baya itu berada dirumah temanny dan banyak hal yang mereka bicarakan sampai membicarakan club malam yang biasa mereka kunjungi. Mereka memang sering megunjungi club yang biasa Alan datangi dan lelaki itu juga tahu tentang kebusukan Alan yang ia lakukan pada keponakannya. Awalnya lelaki itu tidak percaya jika Alan melakukan itu kepada keponakannya, tapi ketika ia melihatnya sendiri, barulah lelaki paruh baya itu percaya dengan apa yang Alan lakukan dengan keponakan manisnya itu. Dan ia tidak bisa berbuat apa-apa karena berkali-kali ia menasehati Alan, tapi lelaki itu masih melakukan hal yang sama kepada Sindy dan itu membuatnya lelah menasehati dan tidak pernah lagi menasehati Alan sampai sekarang. Ia membiarkan lelaki itu melakukan apa saja kepada keponakannya asal tidak berlebihan.   “oh bukankah itu Sindy” katanya ketika melihat kearah jalan depan rumahnya. Ia melihat bahwa Sindy bersama dengan seorang lelaki dan hal itu membuatnya merasa tidak enak dan melihat Alan yang menatap kedua remaja itu yang berhenti disekitar rumahnya. Dalam hati ia berkata, jangan sampai mereka melakukan hal yang tidak-tidak didepan sana karena ia tahu Alan akan naik darah melihatnya. Ia memang tahu jika Alan tidak mengizinkan Sindy dekat dengan seorang lelaki sedikitpun. Alan yang masih fokus menatap kedua remaja didepan itu memancarkan ketidaksukaan dengan apa yang ia lihat. Temannya yang masih melihat Alan menatap mereka dengan pandangan yang tidak biasa itupun merasa sedikit bersalah karena mengatakan bahwa Sindy sedang lewat didepan rumahnya. “jangan melakukan hal yang aneh-aneh” katanya yang membuat Alan menoleh kearahnya dengan tatapan tidak suka. “terserah, tapi kau jangan melukai keponakanmu dengan berlebihan” Alan hanya mendengarkan perkataan tersebut tanpa berniat untuk menjawab. Ia malah mengambil cangkir kopinya dan meminumnya sambil melihat apa yang dua remaja itu lakukan didepan sana sampai siremaja lelaki pergi dari hadapan Sindy.   ♣   Setelah kepergian Aldi dari hadapannya, Sindy bernafas lega dan kembali melanjutkan jalannya menuju rumah pamannya. Sampai dirumah itu, Sindy masuk kedalam rumah dengan perlahan, takut mengganggu pamannya yang tidak ia ketahui ada dirumah atau tidak. Ia melihat rumah itu sangat sepi seperti tidak ada orang dirumah. Sindy bernafas dengan lega ketika rumah itu tampak sepi dan ia bisa masuk kedalam kamarnya dengan tenang sebelum sura pintu dibuka dan ditutup kembali terdengar oleh telinganya dan hal itu membuat Sindy menoleh kesumber suara dan betapa terkejutnya gadis manis itu ketika melihat sang paman yang baru saja masuk kedalam rumah. Sindy yang melihat sang paman seketika jantungnya berdetak dengan cepat karena takut jika sang paman melihatnya bersama Aldi disepan gang tadi karena jarak kepulangan sang paman dengan dirinya sangat sebentar. Alan tadi langsung memutuskan untuk pulang ketika Sindy sudah tidak terlihat lagi oleh penglihatannya. Ia berjalan sangat pelan sehingga Sindy tidak menyadari keberadaannya dan ia juga memilih untuk masuk beberapa saat setelah gadis manis itu masuk kedalam rumahnya. Alan berjalan mendekati Sindy dan hal itu membuat gadis manis itu merasa takut karena ekspresi sang paman membuatnya merasa tidak nyaman.   “sepertinya kau bersenang-senang hari ini!” kata Alan yang membuat Sindy melihat kearahnya dengan jantung yang berdetak dengan semakin cepat. Sindy benar-benar takut jika pamannya tahu ia pulang bersama Aldi meski tidak sampai depan rumah, tapi tetap saja itu membuatnya takut dan merasa was-was.   “iya paman” jawab Sindy gugup dengan menundukkan kepalanya.   “dengan seorang lelaki?” tanya Alan yang membuat Sindy menatapnya dengan mata yang melebar.   “oh itu, kami bertemu dijalan dan dia-“   “mengantarmu pulang!” potong Alan. Sindy sudah tidak bisa mengatakan apa-apa kepada Alan bahkan ia tidak bisa menjawab perkataan tersebut untuk membela dirinya. “sudah ku bilang untuk tidak dekat dengan lelaki bukan!” Sindy menganggukkan kepalanya.   “tapi, paman-“   “aku tidak menyukainya”   “aku juga tidak menyukainya jika paman terus melakukan sesuatu yang paman suka padaku. aku ini keponakanmu bukan seorang p*****r atau semacamnya yang bisa menghasilkan uang untukmu, aku muak dengan semua yang paman lakukan padaku. aku ingin hidup normal seperti orang lain pada umumnya, tapi paman mengancamku dan selalu bertindak seenaknya padaku tanpa tahu perasaanku hiks” entah keberanian darimana sehingga Sindy dapat mengatakan hal seperti itu kepada Alan dengan berurai air mata. Ia benar-benar sudah muak dengan perilaku sang paman.   Plak. “kau berani padaku” Alan menampar Sindy dengan keras dan hal itu membuat pipi Sindy langsung memerah dan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Alan tak melakukannya sampai disitu, ia menarik Sindy dengan sedikit agak kasar menuju kamarnya. Lelaki paruh baya itu melakukan apa saja yang ia mau kepada Sindy.   ♣   Pagi menjelang dan Sindy tidak bisa beranjak dari atas kasurnya karena kejadian tadi malam. Pamannya benar-benar melakukan apa yang ia inginkan sampai Sindy mendapatkan luka dibeberapa bagian tubuhnya sampai ada yang mengeluarkan darah. Sindy meringkuk diatas ranjang sambil sesenggukan sesekali. Ia benar-benar sudah tidak sanggup dengan apa yang terjadi dirumah ini. Jika diingat lagi, kemarin ia sempat mengatakan ketidaksukaannya kepada sang paman dan hal itu membuat sang paman tidak menyukainya dan berakhir seperti ini. Sindy menghembuskan nafasnya sekilas sebelum bangun dari tidurnya dan mengusap matanya yang masih sedikit basah oleh air mata. Kemudian gadis manis itu melihat tubuhnya yang terluka. Sepertinya Sindy tidak akan masuk sekolah selama beberapa hari karena luka yang ia dapat akan lama sembuhnya. Setelah itu, Sindy memilih pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri sambil menahan perih pada beberapa luka yang terkena air. Tak lama gadis manis itu keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai baju santai. Lalu ia mencarik kotak P3K yang ia simpan didalam kamarnya. Setelah menemukan apa yang ia cari, gadis manis itu langsung mengobati lukanya sendiri. Lima belas menit berlalu dan Sindy selesai mengobati lukanya yang lumayan banyak. Sungguh pamannya sangat tega kepadanya dan beruntung dia tidak sampai mendapat luka yang parah dan fatal. Lalu gadis manis itu menyimpan kembali kotak P3K sebelum keluar dari dalam kamarnya karena ia merasa lapar dan belum makan sama sekali sejak terakhir kali ia makan dengan Jesi dicafe. Ia berjalan menuju dapur rumah yang tampak sepi itu. Ia tidak peduli dengan keadaan rumah tersebut dan keberadaan pamannya yang entah kemana setelah keluar dari kamarnya pukul 1 malam tadi. Sindy yang merasa bebas itupun mulai memasak untuk dirinya sendiri. Lama ia berkutat dengan alat dapur, masakan yang ia buatpun akhirnya selesai juga. Sindy langsung menyantap masakan tersebut dengan duduk didapur. Belum selesai ia menghabiskan makanannya, suara bel rumah itu berbunyi dan membuat Sindy menghentikan acara makannya. Dengan merasa heran, gadis manis itu beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar untuk melihat siapa yang datang kerumah pamannya itu. Pasalnya tidak ada yang pernah datang kerumah pamannya sejak bibinya meninggal, bahkan teman pamannya pun tidak pernah datang lagi jadi ketika bel rumah itu berbunyi membuatnya merasa heran. Dengan pelan Sindy membuka pintu rumah tersebut.   “kau!” kejut Sindy ketika melihat siapa sanng penamu dirumah itu.   “hai nona Sindy” TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN