17

1772 Kata
“hai nona Sindy” sapa seseorang yang ada didepan pintu sambil tersenyum kearah Sindy yang memasang wajah terkejut ketika melihat orang yang datang kerumahnya. Sindy tidak tahu kenapa lelaki ini datang kerumahnya, padahal itu bisa sangat berbahaya jika pamannya tahu lelaki ini datang kerumahnya tanpa izin. “kenapa kau kemari, tn. Martin?” tanya Sindy kepada orang tersebut yang ternyata adalah Martin.  “aku hanya ingin melihat keadaanmu” jawab Martin apa adanya yang berhasil membuat Sindy mengerutkan alisnya karena tidak tahu maksud dari perkataan Martin barusan. “ah aku tahu apa yang terjadi padamu, jadi aku kemari dan bolehkah aku masuk?” kata dan tanya Martin lagi sambil meminta izin untuk masuk kedalam rumah paman Sindy itu. Gadis manis yang masih bingung dengan ucapan Martin itupun menghela nafasnya dan mempersilahkan lelaki yang ada didepannya itu masuk kedalam rumah. Martin tersenyum dan masuk kedalam sambil melihat-lihat isi rumah Alan seperti apa. “aku sedang makan jadi masuk saja kedalam” kata Sindy sambil berjalan keruang makan setelah menutup pintu rumah tersebut. “aku juga membawa sesuatu untukmu” kata Martin dengan mengikuti Sindy dibelakang gadis manis itu. Sampai diruang makan, mereka duduk berhadapan dan mulai menyantap makanan mereka bersama tanpa ada yang mengeluarkan percakapan sedikitpun. Sindy yang awalnya tidak mau memakan makanan yang Martin bawa itupun memilih untuk memakannya karena ia jijik melihat tatapan imut dari seorang Martin. “aku masih tidak mengerti apa maksud dari perkataanmu tadi” kata Sindy ketika ia sudah menghabiskan makanannya. “oh kau tidak mengerti!” kata Martin sambil melihat Sindy membereskan meja makan. Sindy yang mendengarkan hal itu hanya menganggukkan kepalanya. “aku tahu dari anak buahku tentang apa yang terjadi kemarin dengan dirimu dan pamanmu” perkataan Martin sukses membuat Sindy menghentikan langkahnya menuju dapur dan menoleh kearah lelaki itu dengan terkejut. Ia kembali ketempat duduknya sambil membawa peralatan akan yang kotor. “kau menyuruh anak buahmu memata-matai rumah ini?” tanya Sindy dengan wajah yang serius. Martin hanya tersenyum mendengar pertanyaan Sindy barusan. Ya memang benar, ia yang menyuruh anak buahnya untuk mengawasi rumah Alan dan ketika terjadi sesuatu kepada Sindy, anak buahnya itu harus cepat memberitahunya. Begitulah singkatnya Martin bisa ada didepan pintu rumah tersebut pagi ini. Ia datang kesitu juga tidak diketahui oleh Alan dan lelaki paruh baya itu pergi dari rumahnya. Ia juga menyuruh seorang anak buahnya untuk mengikuti Alan agar Martin tahu kapan lelaki paruh baya itu akan pulang dan Martin bisa pergi dari rumah itu sebelum Alan datang. “kau membuatku jadi tidak nyaman” kata Sindy yang kembali membawa peralatan kotor kedapur untuk ia cuci. “hahaha, bukankah kau sudah tidak nyaman denganku sejak awal?!” tanya dan tebak Martin. Sindy tidak merespon apa yang dikatakan oleh Martin barusan. “kau tidak apa-apa, kan?” tanya Martin sambil melihat punggung Sindy yang sedang mencuci peralatan kotor. Ia sempat melihat beberapa luka ditubuh Sindy dan sepertinya gadis manis itu sudah mengobatinya, terbukti dari beberapa luka yang tertutup oleh handsoplas. “seperti yang kau lihat” jawab Sindy “kenapa kau tidak pergi saja dari sini?” “aku tidak bisa karena paman akan tetap mencariku dan melakukan apa yang ia inginkan padaku”  “kalau begitu pergilah denganku” jeda Martin sambil berdiri dari duduknya “aku akan memberikan pamanmu uang dan memintanya membebaskanmu” tambahnya yang membuat Sindy menoleh sekilas. “itu sama saja kau membeli harga diriku” katanya yang membuat Martin tersenyum dalam langkahnya menuju dapur. Ia berniat menghampiri Sindy yang sedang mencuci. “hah kau benar, tapi bukankah kau sudah menyerahkan dirimu kepada beberapa pria yang membayar pamanmu!” ucapan Martin membuat Sindy tersadar dan terasa tertampar oleh kenyataan yang ada hingga ia menghentikan mencuci peralatannya. Memang benar apa yang dikatakan Martin barusan itu tentangnya dan ia tidak bisa menghilangkan fakta tersebut pada dirinya yang sudah ternodai. Martin sampai dibelakang tubuh Sindy dan dengan perlahan dia memeluk Sindy dari belakang hingga membuat gadis manis itu tersentak dibuatnya. “apa yang kau lakukan?” tanya Sindy sambil menoleh kearah Martin. “pergiah denganku” bukannya menjawab malah Martin masih berusaha membuat Sindy pergi dengannya. “maaf aku tidak bisa meskipun kau bersifat baik pada awalnya, tapi tidak ada yang tahu bahwa kau memiliki niat yang berbeda didalam dirimu. aku tidak ingin keluar dari sini dan masuk kekandang singa” jelas Sindy, yang membuat Martin tersenyum. Lelaki tampan itu menjadi terkesan kepada Sindy yang begitu pandai menurutnya. “kalau begitu aku ingin sesuatu darimu sekarang” bisik Martin ditelinga Sindy dan membuat gadis manis itu merinding dibuatnya. ♣ Di sekolah. Aldi yang sengaja berangkat pagi itupun merasa aneh ketika melihat bangku Sindy kosong. Tidak biasanya gadis manis itu kesiangan. Lelaki berhidung mancung itu memilih untuk berjalan kebangkunya dan menunggu kedatangan Sindy dibangkunya saja. Dengan rajin ia melihat jam tangan yang bertenger dipergelangan tangannya sambil menatap bangku Sindy dan pintu kelas secara bergantian. ❇ Pagi ini Aldi berangkat sekolah dengan menaiki motornya. Setelah memarkirkan motornya diparkiran, lelaki tampan itu bergegas pergi kekelas Sindy berada karena ia ingin bertanya tentang apa yang ia lihat kemarin pagi. Sampai didepan kelas Sindy, Prana melihat kearah bangku gadis manis itu yang kosong dan tidak seperti biasanya. Ia melihat jam tangan yang bertengger manis dipergelangan tangannya. “tidak biasanya dia berangkat siang” gumam Prana yang memutuskan untu menunggu Sindy didepan kelas gadis manis itu sampai ia datang. ❇ Lisa dan ketiga temannya yang baru datang itu merasa heran ketika melihat Prana ada didepan kelas mereka sambil bersandar pada tembok. Keempat gadis itu saling tatap satu sama lain sebelum memilih untuk menghampiri Prana. “sedang apa kau disini?” tanya Sela ketika mereka sudah berada disepan Prana. “aku sedang menunggu kak Sindy” kata Prana santai karena ia tahu keempat gadis inilah yang selalu mengganggu Sindy. “apa dia belum berangkat?” tanya Ana yang mendapat gelengan dari Prana. “bangkunya juga masih kosong” kata Mia yang melihat kedalam kelas. “mungkin dia sedang bersenang-senang disuatu tempat dengan seorang pria” kata Lisa sambil tersenyum dan berlalu dari hadapan Prana. Ketiga temannya juga ikut tersenyum kepada Prana dan meninggalkan lelaki tampan itu masuk kedalam kelas mereka. Keempat gadis itu tidak peduli dengan Prana yang menatap mereka dengan penuh tanda tanya. Ia tidak tahu apa maksud dari perkataan Lisa barusan. “bersenang-senang dengan seorang pria, apa maksudnya?” gumam Prana sambil memiirkan perkataan tersebut. ❇ Didalam kelas, Lisa tersenyum lebar ketika melihat Aldi yang menatap kearah pintu. Hal itu membuat Lisa dengan percaya diri berfikir bahwa Aldi menatap kearah pintu karena menunggunya, terbukti dari lelaki berhidung mancung itu beranja dari duduknya dan menghampirinya. Aldi langsung meraih tangan Lisa dan membawa gadis itu keluar dari dalam kelas. Ia tidak peduli dengan tatapan teman-teman Lisa dan teman sekelasnya yang lain. Ia sedikit melirik kearah Prana yang masih menunggu kedatangan Sindy didepan kelas tersebut. Ia menatap heran Aldi yang membawa gadis yang tadi bicara padanya. “apa aku harus mengikutinya?” tanya Prana pada dirinya sendiri. Kemudian lelaki tampan itu menghela nafas sebentar dan mengikuti keduanya dari belakang. Tentu saja dengan jarak yang lumayan jauh karena ia tidak mau Aldi mengetahui bahwa ia mengikuti mereka. Tak lama Aldi dan Lisa sampai ditaman belakang. Aldi langsung melepas tangan Lisa dengan agak kasar sampai gadis itu mengaduh dan memegangi tangannya yang tadi dipegang oleh Aldi. Agak sedikit memerah memang. “dimana Sindy?” tanya Aldi tanpa basa basi. Lisa yang mendangar pertanyaan dari Aldi itupun menatap lelaki berhidung mancung itu dengan heran. Ia tidak tahu Sindy ada dimana sekarang. “aku tidak tahu dia ada dimana, mungkin dengan lelaki hidung belang” “jaga ucapanmu itu, kau sembunyikan dia dimana lagi sekarang?” “aku tidak berbohong, aku baru saja datang dengan yang lain dan belum melihatnya juga” kata Lisa dengan suara yang agak keras. Ia muak sekarang karena Aldi selalu saja mencari Sindy. “dengar! jika kau melukai Sindy sekali lagi, aku akan-“ “kenapa kau selalu peduli padanya?” teriak Lisa lagi. “dia lebih baik daripada kau” jawab Aldi apa adanya. “kalian sama saja! gadis itu seorang p’elacur” Plak. Aldi dengan reflek menampar Lisa dan hal itu membuat gadis itu terkejut begitu juga dengan Prana yang melihatnya dari balik pohon. Ia tidak menyangka jika Aldi begitu kasar dengan seorang gadis. “aku tidak mau melihatmu lagi menyakiti atau bicara seenaknya tentang Sindy” setelah mengatakan itu Aldi pergi dari hadapan Lisa karena bel sudah berbunyi. Ia harus kembali kedalam kelasnya dan mengikuti pelajaran. Sedangkan Lisa, jatuh terduduk sambil menangis dan memegangi pipinya yang merah. Prana yang melihat kepergian Aldi dan Lisa seperti itupun bingung sendiri dibuatnya. Bel sudah berbunyi dan ia harus masuk kedalam kelas, tapi ia tidak tega melihat Lisa seperti itu ditaman sendirian. Ia memutuskan untuk menghampiri gadis itu. “apa kau baik-baik saja?” tanya Prana yang membuat Lisa mendongak dan terkejut melihatnya. “kenapa kau disini?” tanya Lisa yang tidak mengerti kenapa adik kelasnya ini malah berada disini dan tidak masuk kedalam kelas. “aku hanya tidak tega melihat kakak seperti ini sendirian” Prana duduk didepan Lisa. “masuk kelas sana, aku tidak butuh kau temani” kata Lisa. “kakak tahu, jangan terlalu dingin dan kasar kepada orang lain jika kakak menyukai Aldi seharusnya kakak bersifat baik kepada siapa saja, tidak hanya pada sibajingan itu” jelas Prana yang membuat Lisa menoleh kepadanya. “kenapa kau bilang begitu?” “aku tahu kakak menyukai Aldi, tapi lelaki itu tidak menyukai kakak dan menyukai kak Sindy sama sepertiku jadi mungkin kakak harus merubah sifat kakak” “bagaimana kalau dia tetap mengabaikanku?” “bukan hanya dia saja lelaki didunia ini, masih banyak lelaki yang lebih baik daripada dia untuk kakak” Sepertinya apa yang dikatakan oleh adik kelas didepannya ini ada benarnya. Ia terlalu dibutakan oleh Aldi dan seakan tidak ada lelaki lain didunia ini selain Aldi. “lalu, ketika kakak menyakiti atau membully kak Sindy tanpa alasan yang tidak jelas itu juga tidak baik, hanya karena Aldi menyukai kak Sindy, kakak membully-nya agar mendapat perhatian dari Aldi yang malah melakukan sebaliknya. bukannya aku membela kak Sindy atau aku menyukai kak Sindy juga, tapi aku tidak suka melihat kakak seperti itu kepada kak Sindy, aku yakin sebenarnya kakak itu baik, hanya saja kakak dibutakan oleh rasa suka jadi seperti itu” ucapan panjang lebar Prana membuat Lisa diam dan hanya mendengarkannya. “ayo, kuantar keuks” Prana berdiri dari duduknya sambil mengulurkan tangan kearah Lisa dan diterima oleh gadis itu setelah diam beberapa saat. Mereka berjalan menuju uks bersama. “oh ya soal ucapanmu tadi pagi-“ “jangan difikirkan” potong Lisa dan keduanya kembali diam. Tbc..........
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN