18

1303 Kata
Tiga hari sudah berlalu dan Sindy sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Apa lagi waktu itu, Martin juga melakukan apa yang seharusnya lelaki tampan itu lakukan sejak awal. Apa yang Sindy duga memang benar. Martin memiliki niat lain dari semua yang ia lakukan pada hari pertama mereka bertemu dan berbicara. Beruntung saat itu Alan pulang larut dan tidak tahu tentang kejadian tersebut. Sindy tidak bisa membayangkan jika lelaki paruh baya itu tahu apa yang ia lakukan dengan Martin. Luka gadis manis itu juga sudah sangat membaik dan beberapa sudah menutup. Karena dirasa ia sudah lebih baik, Sindy memilih untuk pergi ke sekolah. Ia tidak mau tertinggal pelajaran. Ia pergi ke sekolah dengan menggunakan bus seperti biasa. Gadis manis itu juga berangkat ke sekolah dijam yang sama seperti biasanya. Ia duduk didalam bus sambil melihat ponselnya yang sudah tiga hari tidak ia lihat. Banyak pesan yang dikirimkan oleh Prana, Jesi dan juga Aldi, oh ditambah lagi nomer yang tidak ia kenal. Sindy memilih untuk membaca pesan tanpa nama tersebut dan ia beroh ria ketika melihat nama yang sengaja orang itu tulis dibawah kalimatnya. Orang tanpa nama itu adalah Jonatan, teman Prana. Sindy tidak tahu dari mana lelaki aneh itu bisa mendapat nomernya. Ah ngomong-ngomomg, Sindy juga menganggap Jonatan itu lelaki aneh karena tingkahnya yang terkadang tidak jelas dan suka mengganggu Jesi. Sindy memilih tidak membalas pesan tersebut dan beralih kepesan lainnya yang begitu banyak. Ia membaca satu-persatu pesan itu sampai bus berhenti dihalte dekat sekolahnya. Gadis manis itu menyimpan ponselnya didalam tas dan turun dari bus tersebut. Sindy sampai dikelasnya yang masih sepi. Tidak ada yang aneh ketika gadis manis itu berjalan kebangkunya dan ketika sampai dibangkunya, Sindy juga tidak melihat hal yang aneh. Ia merasa heran dengan hal itu, biasanya bangku, loker milik Sindy akan penuh dengan coretan dan sampah ketika ia tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Ia tidak ambil pusing dan mulai duduk dibangkunya. Setelah ia duduk selama sepuluh menit, satu-persatu teman sekelasnya mulai muncul dan mereka melihat Sindy dengan tatapan terkejut. Sindy yang tidak tahu tatapan teman sekelasnya itupun hanya mengabaikannya. Setelah kelas agak penuh, gadis manis itu tidak pergi dari dalam kelas. Biasanya Sindy akan pergi dari dalam kelas ketika kelas ramai. Bahkan saat Lisa dan teman-temannya datangpun, tak membuat Sindy tetap diam dikelas sambil melihat gadis itu masuk. Tatapan keduanya sempat bertemu, tapi dengan ekspresi yang berbeda. Lisa melihat Sindy dengan terkejut sedangkan Sindy dengan tatapan melas. Karena tidak mau menatap Lisa dengan lama, Sindy pun mengalihkan tatapannya dari Lisa dan kembali melihat buku yang ia ambil darti dalam tasnya. "tumben gadis culun itu tidak seculun biasanya" kata Mia dengan suara keras yang bisa didengar oleh Sindy. Gadis manis itu tidak tahu apa yang Mia maksud. "mungkin dia suda membuang kacamata bulatnya itu" tambah Ana. "atau dia sengaja meninggalkannya agar terlihat baik dimata kita" tambah  Sindy yang mendengar perkataan ketiga teman itupun merasa heran dan mulai meraba matanya. Kemudian ia melebarkan matanya ketika tidak menemukan benda bulat yang ia pakai biasanya. Segera setelah itu ia mencarinya didalam tas. Hal itu tidak luput dari tatapan Lisa yang sejak tadi hanya diam saja tanpa mengatakan apapun atau menanggapi ucapan temannya. Ia juga mendengar bisikan-bisikan dari teman-teman yang lain. Gadis itu berdiri dari duduknya dan menghampiri Lisa. Semua teman sekelasnya melihatnya. Kemudian Lisa menarik Sindy keluar dari dalam kelas. "jangan ada yang mengikutiku" katanya kepada teman-temannya sebelum keluar dari kelas dan membawa Sindy. Gadis manis yang ditarik keluar oleh Sindy itupun merasa takut dan was-was terhadap gadis itu. Tak lama mereka berdua sampai ditaman belakang. Lisa melepas genggamannya dari tangan Sindy. "katakan padaku kau suka Aldi atau Prana?" tanya Lisa tanpa bertele-tele. Sindy yang mendegar pertanyaan itu terkejut seketika. "kenapa gadis ini bertanya begitu padanya" pikir gadis manis itu. Ia merasa dejavu dengan pertanyaan tersebut dan ia harus menjawab dengan hati-hati kali ini karena Lisa berbeda dengan Jesi. "aku menyukai Prana" jawab Sindy dengan sedikit pelan, tapi masih didengar oleh Lisa. Sindy merasa harus menjawab seperti itu karena sesuai dengan apa yang ia bicarakan dengan Jesi empat hari lalu. "hah! lalu kenapa Aldi selalu mendekatimu setiap saat" gumam Lisa sambil duduk diatas rumput. "dia menyukaiku, tapi aku sudah menolaknya berkali-kali" kata Sindy yang juga ikut duduk disamping Lisa. Ia terkejut ketika gadis yang ada disampingnya itu tidak melakukan pembully-an padanya. "lalu kenapa dia terus mengejarmu?" "aku tidak tahu pasti kenapa dia melakukannya" Lisa yang mendengar hal itu hanya menghela nafas. ♣ Selain itu dikelas, semua siswa merasa heran ketika Lisa menarik Sindy seperti itu. Apalagi beberapa hari ini gadis itu agak aneh, seperti ada yang berubah dari Lisa. Ketiga temannya sampai membicarakannya ketika nongkrong tanpa Lisa. Mereka tidak tahu apa yang terjadi ketika Aldi dan Lisa pergi bersama. Bicara soal Aldi, lelaki berhidung mancung itu berjalan dengan santai masuk kedalam kelas. Ia melihat bangku Sindy dan berbinar ketika melihat tas gadis manis itu ada dibangkunya. Aldi memilih untuk tidak berjalan menuju bangkunya dan ia berbalik untuk pergi dari dalam kelas untuk mencari Sindy, tapi hal itu tidak terjadi ketika ketiga teman Lisa menghadangnya. Dengan malas Aldi melihat mereka bertiga. "apa yang kau bicarakan dengan Lisa tiga hari lalu sampi dia terlihat berbeda?" tanya Mia. "kenapa kalian tidak bertanya padanya daripada mengganggugu seperti ini" kata Aldi. Ketiga gadis yang ada didepan Aldi ternganga dengan ucapan lelaki berhidung mancung itu. Mereka melihat Aldi pergi dari dalam kelas dan saling tatap satu sama lain. Percuma saja bertanya kepada Aldi yang seperti itu. Apalagi ketika mereka harus bertanya kepada Lisa sendiri. Jelas gadi itu tidak akan memberitahu mereka apa yang terjadi dihari itu. Terbukti dari sampai sekarang Lisa tidak mengatakan apapun kepada mereka. ♣ 14.00 wib. Sudah waktunya jam pulang sekolah dan semua murid keluar dari dalam kelas untuk pulang begitu juga dengan Sindy yang bergegas merapikan peralatan belajarnya sebelum pergi dari dalam kelas. Hari ini ia berencana untuk pergi ke toserba dan meminta maaf kepada sang pemilik toserba karena tidak bisa bekerja selama beberapa hari ini. Aldi yang melihat Sindy berjalan keluar dari dalam kelas itupun menghampiri gadis manis itu sambil sedikit berlari. "pulang?" tanya Aldi sambil melihat wajah Sindy sambil tersenyum. Jujur saja hari ini ia merasa tidak nyaman karena melupakan kacamatanya. Ia menjadi bahan perhatian setiap kali keluar dari dalam kelas. Bahkan lelaki yang ada disampingnya ini malah menatapnya terus-menerus tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun. Sindy sangat risih dengan hal itu, lain kali ia tidak akan meninggalkan kacamatanya lagi. "iya" jawab Sindy apa adanya. "aku antar!" tawar Aldi. "tidak! terima kasih, aku akan pulang sendiri" "ke-" "Sindy, bisa aku pulang bersammu..aku hari ini tidak membawa mobil" kata Lisa yang memotong ucapan Aldi dan membuat heran ketiga temannya. Sindy yang terkejut itupun hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian kedua gadis itu pergi bersama. ♣ Hari ini sangat melelahkan untuk Sindy. Apalagi perilaku Lisa yang membuatnya merasa aneh dan tidak mengerti apa yang sudah terjadi dengan gadis itu selama ia tidak masuk sekolah. Dan beruntung pemilik toserba sangat pengertian dan membolehkannya kembali bekerja dengan pemotongan gaji pada akhirnya. Gadis manis itu bersiap-siap untuk pulang kerumah pamannya. Ia keluar dari dalam toserba setelah berpamitan kepada sang pemilik dan berjalan pulang. “YAK!” teriak Sindy ketika sebuah tangan menariknya dan membawanya pergi entah kemana. Ia melihat orang yang menariknya itu, tapi orang itu menggunakan hoodie jadi Sindy tidak tahu siapa orang itu. Gadis manis itu berusaha melepaskan genggaman dengan memberontak beberapa kali, tapi itu tidak ada hasilnya dan membuat orang itu mencengkram tangannya dengan kencang. Tak lama mereka sampai disebuah tempat kosong yang minim pencahayaan, mungkin hanya ada bohlam lampu berwarna kuning yang menerangi tempat tersebut. Orang yang tadi mencengkram Sindy itupun menarik Sindy dan memojokkannya kesebuah dinding sambil melepas cengkramannya yang membuat Sindy mengaduh dan memegangi tangannya yang memerah. Orang itu melepas kupluk hoodie yang ia pakai dan hal itu membuat mata Sindy membola karena terkejut melihat wajah orang yang membawanya ketempat tersebut. “Aldi!” Tbc.......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN