Sindy sangat terkejut ketika mengetahui orang yang menariknya ketempat seperti itu adalah Aldi dan ia juga tidak tahu kenapa lelaki berhidung mancung itu mengajaknya ketempat seperti itu. Sindy menjadi takut dengan Aldi sekarang karena ia merasa bahwa lelaki itu akan melakukan hal buruk padanya.
"aku sudah menahannya sejak tadi untuk tidak melakukan apapun padamu" kata Aldi yang membuat Sindy sedikit bingung dengan perkataan tersebut.
"kenapa kau sangat cantik tanpa kacamata?" tanya Aldi sambil mengelus wajah Sindy dengan lembut dan hal itu membuat Sindy merinding seketika.
"apa yang akan kau lakukan?" tanya Sindy dengan takut-takut. Aldi tidak menjawab pertanyaan Sindy dan lelaki berhidung mancung itu malah mendekat kearah Sindy dan mendekatkan wajahnya kewajah gadis manis itu sambil mengelus pipi Sindy.
♣
Prana yang sedang ada dikamarnya itupun mulai beranjak dari kasur dan pergi ke kamar mandi. Malam ini, ia ingin menjemput Sindy ditoserba tempat gadis manis itu bekerja. Seharian ini, Prana tidak sempat berbicara dengan gadis manis itu. Ia hanya melihat Sindy sekilas dan sedikit merasa heran ketika gadis manis itu tidak menggunakan kacamatanya. Prana awalnya bertanya-tanya dimana letak kacamata milik gadis manis itu sehingga ia tidak memakainya dan membuat semua penghuni sekolah melihatnya dengan heran.
Setelah selesai, Prana langsung keluar dari kamarnya dengan jaket yang sudah terpasang rapi ditubuhnya. Ia juga membawa kunci motornya.
"mau kemana sayang?" tanya ny. Kim yang melihat anaknya turun dari lantai atas dengan pakaian seperti itu.
"keluar sebentar ma" jawab Prana singkat sambil terus berjalan keluar dari rumah, sedangkan ny. Kim hanya menggelengkan kepalanya, tidak tahu anaknya itu akan pergi kemana malam-malam begini.
♣
Prana melajukan motornya dengan kecepatan tinggi memecah jalanan dengan cepat. Tak lama ia sudah sampai didepan toserba tempat Sindy bekerja. Ia melihat toserba tersebut dan sudah tidak melihat Sindy didalam sana. Kemudian Prana melohat jam tangan yang bertengger manis dipegelangan tangannya.
"pantas saja, sudah telat" gumam Prana sambil melihat kesekitar toserba sebelum matanya melihat punggung yang ia kenal sedang bersama seorang lelaki atau lebih tepatnya ditarik oleh lelaki tersebut. Prana yang penasaran itupun turun dari motornya dan mengikuti kearah kemana kedua orang itu pergi. Lelaki tampan itu memang sengaja meninggalkan motornya didepan toseba karena tidak mau membuat kedua orang itu tersadar dan mengacaukan segalanya.
Prana mengikuti keduanya sampai ketempat yang gelap dan dengan sembunyi-sembunyi, ia menguping pembicaraan keduanya dan melihat apa yang akan mereka lakukan. Prana sudah tahu jika gadis itu adalah Sindy dan ia terkejut ketika lelaki yang membawa Sindy adalah Aldi. Prana mengepalkan tangannya dan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sejak awal, yaitu menyelamatkan Sindy.
Bugh.
Ia memukul Aldi sampai lelaki behidung mancung itu tersungkur.
"b******k! kenapa kau selalu mengganggu" kesal Aldi ketika tahu siapa orang yang menganggu kesenangannya. Lelaki berhidung mancung itu berdiri dan menyerang Prana kembali. Ia tidak terima dengan apa yang dilakukan Prana. Keduanya terlibat perkelahian selama beberapa menit sebelum Prana kembali menjatuhkan Aldi dan membuat lelaki itu tak berdaya lagi.
"kakak tidak apa-apa kan?" tanya Prana sambil berjongkok didepan Sindy.
"hah" lelaki tampan itu menghela nafasnya ketika Sindy tidak menjawab pertanyaannya tersebut. Kemudian ia melepas jaketnya dan memasangkannya kepada Sindy. Tanpa sadar juga, Prana memeluk gadis manis itu sambil menepuk punggung Sindy pelan, berusaha untuk menenangkan Sindy.
Tak lama setelah gadis manis itu tenang, Prana mengajak gadis manis itu untuk pulang kerumah. Ia tidak peduli jika nanti Sindy marah padanya soal ia mengantar gadis manis itu kerumahnya yang jelas Prana ingin memastikan bahwa Sindy sampai dirumah dengan selamat tanpa gangguan lagi.
Mereka keluar dari tempat itu dan tidak ada dari mereka yang mengeluarkan percakapan sama sekali. Prana hanya mampu mengepalkan tangannya karena ia sangat kesal dengan apa yang dilakukan Aldi pada Sindy. Lelaki berhidung mancung itu hanya menginginkan sesuatu dari Sindy dan tidak tulus kepada gadis manis itu.
Setelah lima belas menit berjalan mereka sampai didepan rumah Sindy. Hal itu membuat Sindy terkejut dan melihat Prana. Ia merutuki kebodohannya ketika baru sadar jika Prana mengantarnya pulang. Saat ini ia hanya bisa berharap bahwa pamannya tidak akan ada dirumah agar ia tidak tahu jika ia diantar pulang oleh seseorang, tapi hal itu tidak berjalan dengan mulus ketika matanya melihat siluet sang pamannya yang berjalan mendekati mereka. Dengan susah payah, Sindy menelan ludahnya dan tidak tahu harus berbuat apa.
"siapa dia?" tanya lelaki paruh baya itu ketika sudah sampai didepan rumahnya dan ingin masuk kedalam. Sindy dapat melihat tatapan tidak suka sang paman kepada Prana.
"selamat malam om, saya temannya kak Sindy di sekolah" jawab Prana dengan sopan dan ia sedikit heran ketika paman Sindy melihatnya dengan tatapan tidak suka.
"oh aku tidak tahu keponakan cantikku ini banyak memikat banyak lelaki" kata Alan sambil merangkul Sindy dan hal itu membuahkan tatapan heran Prana ketika melihatnya. Sedangkan Sindy yang dirangkul Alan berusaha untuk melepasnya, namun tidak bisa karena kalah kuat.
"maaf paman, sepertinya kak Sindy tidak nyaman dengan hal itu" kata Prana yang melihat ketidaknyamanan Sindy didepannya.
"diamlah dan pulang saja, aku tidak suka melihatmu" ucapan sarkas dari Alan membuat Prana terkejut.
"paman sudahlah ia hanya mengantarku pulang, tak lebih dari itu" kata Sindy yang berusaha membuat pamannya tidak marah.
"kau membelanya? sudah ku bilangkan jika kau berdekatan dengan lelaki lain maka-"
"paman dia hanya teman sekolahku tak lebih" jelas Sindy yang masih berusaha menenangkan Alan. Prana yang melihat interaksi keduanya itupun mulai paham dengan sifat paman Sindu yang sebenarnya.
"maaf paman jangan membentak kak Sindy seperti itu karena dia tadi eemzz.....tak jadi paman...pokoknya paman jangan membentak kak Sindy lagi" kata Prana yang menghentikan keduanya. Sebenarnya Prana ingin memberitahu Alan jika Sindy hampir dilecehkan oleh Aldi, tapi ia urungkan karena melihat Sindy yang menggelengkan kepalanya seperti meminta padanya untuk tidak mengatakan kejadian beberapa waktu yang lalu.
"terserah aku mau berbuat apa pada keponakanku itu bukan urusanmu!" Alan menjadi marah kepada Prana setelah lelaki tampan itu seperti melarangnya.
"karena dia keponakan paman, maka dari itu paman tidak berhak berbuat macam-macam padanya" kesal Prana yang terus diuji kesabarannya oleh Alan.
"kenapa aku tak berhak berbuat sesukaku padanya?"
"karena aku menyu-ah tidak aku mencintainya" ucap Prana dengan begitu lantang hingga kedua orang yang ada didepannya terkejut dan melebarkan mata, tapi satu diantara mereka menggeram marah.
"dasar anak kurang ajar"
Plak!
Alan menampar Prana dan membuat pipi kiri lelaki tampan itu sedikit memerah dan ada jejak tangan disana.
"paman apa yang kau lakukan?" tanya Sindy yang terkejut dengan apa yang dilakukan pamannya.
"Prana, kau pulang saja ya" suruh Sindy, tapi hanya siabaikan oleh Prana.
"Kau harus membayar semua ini, Sindy" kata Alan sambil berlalu pergi dari hadapan Sindy dan Prana. Sindy yang mendengar perkataan pamannya itupun merosot duduk dilantai. Prana yang melihatnya itupun berjongkok didepan Sindy dan memeluk gadis manis itu. Awalnya ada pemberontakan dari Sindy, tapi lama-kelamaan gadis manis itu menerima pelukan dari Prana dengan menggenggam jaket bagian depan yang lelaki tampan itu pakai.
Tbc......