04.30 wib.
Dengan perlahan Sindy membuka matanya. Lalu ia bangun dari tidurnya dan melihat sekeliling, oh dia masih berada dikamar yang sama seperti kemarin. Kemudian gadis manis itu melihat dirinya yang tidur sendiri diatas ranjang dengan pakaian yang masih sama dan penampilan yang tidak berantakan. Ia merasa heran dan melihat sekeliling kamar untuk mencari seseorang. Ketika pandangannya mengarah kesofa, gadis itu melihat seorang lelaki yang sedang tidur disana. Sindy yakin jika lelaki itu adalah Martin. Dengan pelan ia beranjak dari kasur dan melihat lelaki tampan itu. Ketika sampai disofa, Sindy melihat bahwa lelaki itu tampak tidak nyaman tidur disofa. Hal itu membuatnya mengingat apa yang terjadi tadi malam sebelum mereka tidur. Dimana Sindy dan Martin saling mendebatkan tentang ranjang yang ada dikamar tersebut. Martin ingin Sindy tidur diranjang sedangkan Sindy menyarankan dirinya untuk tidur disofa dan membiarkan Martin tidur diranjang, tapi hal itu tidak terjadi ketika Martin melihatnya dengan tatapan tajam dan mengancamnya akan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sejak awal pada Sindy. Hal itu sukses membuat Sindy menuruti kemauan Martin dan tidur diranjang. Sindy berfikir bahwa Martin benar-benar tidak melakukan apapun tadi malam dan mereka hanya tidur disatu ruangan yang sama dan tempat yang berbeda.
Sindy yang masih berdiri disamping sofa itupun mengedikkan bahunya dan berjalan kearah kamar mandi sambil bernafas lega ketika tahu jika Martin tidak melakukan apapun saat mereka tidur.
Ketika Sindy sudah berada didalam kamar mandi, ia melepas pakaiannya dan menyalakan shower. Kemudian ia melakukan ritual mandinya. Baru beberapa menit ia mandi, tiba-tiba ia mengingat apa yang dikatakan Martin tadi malam. Tentang pamannya yang menjadikannya sebagai bahan taruhan diperjudian. Ia tidak tahu tentang hal itu yang ia tahu hanyalah pamannya yang menjual dirinya kepara lelaki hidung belang. Ia baru tahu dari mulut Martin yang mengatakan itu.
“aku tidak menyangka paman menjadikanku bahan taruha” gumam Sindy sambil membersihkan tubuhnya. Sindy tidak tahu kenapa pamannya sampai melakukan hal seperti itu padanya.
“apa karena paman kehilangan bibi dan dipecat dari perusahannya?” tanya Sindy pada dirinya sendiri tentang pamannya itu karena semenjak kepergian sang bibi perilaku sang paman kepadanya menjadi berubah drastis. Apalagi ketika sang paman dipecat dari perusahaan seminggu setelah bibinya tiada. Sekarang ia benar-benar berpikir tentang permasalahan dari panannya yang berubah itu karena bibinya yang sudah tiada. Sepertinya pamannya itu menyalahkannya atas meninggalnya sang istri tercintanya itu. Sindy jadi sedikit mengerti tentang pamannya yang melakukan hal seperti itu padanya selama ini.
♣
Martin yang tidur disofa itupun mulai membuka matanya dengan perlahan sambil bangun dari tidurnya dan mengucek matanya. Ia menoleh kearah ranjang untuk melihat Sindy yang tidur ditempat itu, tapi gadis manis itu tidak ada disana. Kemudian lelaki tampan itu akan menghubungi anak buahnya sebelum suara gemericik dan nyanyian terdengar ditelinganya.
“hah! dia sedang mandi” kata Martin sambil duduk kembali disofa yang tadi ia buat untuk tidur. Kemudian ia mengetikkan sesuatu diponselnya sebelum meletakkan benda persegi panjang itu diatas meja. Lelaki tampan itu bersandar pada sandaran sofa dan menunggu Sindy keluar dari dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian gadis manis itu keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai gaun yang kemarin ia pakai. Martin menoleh kearah Sindy dan tersenyum begitu juga Sindy yang melihat Martin yang duduk disofa sambil menatapnya. Kemudian ia menghampiri lelaki itu dan duduk disingle sofa, agak jauh dari Martin. Lelaki tampan yang melihat itupun tersenyum dibuatnya.
“sudah ku bilang aku tidak akan melakukan apapun padamu, jadi tidak usah menjauh dariku seperti itu” kata Martin masih dengan senyumnya yang tampan.
“aku tahu! tapi tadi malam kau juga mengatakan ‘saat ini’ jadi aku fikir kau akan melakukan sesuatu padaku dilain waktu” jawab Sindy.
“kau sangat pintar” puji Martin.
“terima kasih”
“aku sudah membaca semua biodatamu, jadi kenapa kau tidak keluar dan menjauh dari pamanmu yang seperti itu?” tanya Martin agak serius yang membuat Sindy terkejut dan menatapnya dengan tidak percaya. Bisa-bisanya lelaki didepannya ini mengatakan hal seperti itu setelah ia memujinya. Ditambah lagi dari mana lelaki tampan itu tahu semua biodatanya yang jelas-jelas sudah ia sembunyikan dengan baik.
“tidak sulit untuk mendapatkan apa yang aku inginkan” kata Martin lagi ketika melihat ekspresi Sindy yang terlihat terkejut.
“oh ya, anda benar…anda memiliki anak buah yang banyak dan pintar” kata Sindy.
“kau benar, tapi-“
Tok tok tok.
Ucapan Martin terpotong oleh bunyi pintu yang diketuk dari luar kamar tersebut.
“tuan makanan anda!” ucap seorang lelaki diluar kamar itu.
“hah! MASUK!” teriak Martin setelah menghela nafasnya sekilas. Lelaki yang membawa makanan untuk Martin dan juga Sindy itupun masuk kedalam dan menundukkan kepalanya kepada Martin sebelum meletakkan sarapan untuk keduanya sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Martin melalui pesan singkat.
“saya permisi!” katanya sambil membungkuk kepada Martin dan Sindy setelah meletakkan semua kudapan untuk keduanya.
“terima kasih” kata Sindy ketika lelaki itu berjalan kearah pintu keluar.
Setelah kepergian lelaki itu, Martin dan Sindy diam tanpa berniat untuk menyantap makanan yang sudah tersaji diatas meja. Mereka saling mencuri pandang satu sama lain.
“makanlah dulu, aku ingin mandi” kata Martin sambil beranjak dari sofa dan pergi ke kamar mandi, meninggalkan Sindy sendirian yang bimbang harus memakan sarapan yang sudah tersaji diatas meja atau tidak.
“hah ini membingungkan” gumam Sindy sambil menjambak rambutnya sendiri. Ia memutuskan untuk menunggu Martin selesai mandi dan makan bersama. Lima belas menit berlalu dan perut Sindy sudah mulai keroncongan.
“kenapa kau tidak makan?” tanya Martin yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai celana sedangkan ia membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos dengan baik. Sindy menoleh kearah lelaki itu dan kembali memalingkan wajah ketika melihat tubuh bagian atas Martin yang tidak tertutup.
“aku menunggumu karena ini makananmu” jawab Sindy tanpa melihat Martin dan wajah yang sedikit memerah karena melihat tubuh atas Martin. Lelaki itu hanya menghela nafas dan duduk kembali disofa.
“ayo sarapan” kata Martin sambil mengambil hidangan yang tersedia diatas meja.
“kau tidak mau memakai pakaian dulu?” tanya Sindy tanpa melihat Martin.
“kenapa? aku biasa dengan seperti ini” jawab Martin.
“aish lupakan” Sindy mulai mengambil hidangan tanpa melihat Martin. Lelaki itu hanya tersenyum melihat tingkah Sindy, ia tidak bodoh untuk membaca situasinya saat ini.
♣
Setelah keduanya menyelesaikan sarapan, Sindy dan Martin masih terlibat obrolan kecil tentang paman Sindy yang bersifat tidak selayaknya kepada keponakannya itu. Meskipun Martin tidak memungkiri jika dirinya juga tergoda oleh Sindy, tapi ia tidak mau melakukan sesuatu yang seperti orang lain biasa lakukan pada gadis manis yang masih SMA itu. Martin hanya akan menunggu waktu yang tepat saja untuk melakukan hal itu. Saat ini cukup bicara seperti ini saja sudah cukup.
“sepertinya kita harus keluar sekarang” kata Martin ketika melihat jam tangan yang bertengger manis dipergelangan tangannya. Oh dia sudah memakai pakaiannya karena Sindy tidak mau melihatnya. Sindy hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kemudian keduanya bersiap-siap untuk keluar dari kamar tersebut dan memastikan barang mereka tidak ada yang tertinggal. Setelah keluar dari dalam kamar, Sindy berjalan dibelakang Martin dan dua bodyguard lelaki itu mengikuti mereka dari belakang. Sindy berjalan sambil melihat kesekeliling club tersebut yang masih tampak ramai meskipun matahari akan menampakkan wujudnya dibumi. Ia juga melihat pamannya yang duduk didepan meja bar dengan kepala yang berada diatas meja sambil tangannya memegang gelas minuman. Sindy tebak jika lelaki tua jelek itu sedang mabuk. Ia menghela nafasnya sebelum menghampiri sang paman yang diikuti oleh Martin dan kedua bodyguard-nya.
“paman ayo pulang” kata Sindy sambil berusaha membangunkan pamannya.
“oh kau…bagaimana tadi malam? apa menyenangkan?” tanya Alan sambil berusaha menegakkan tubuhnya.
“tadi malam sangat menyenangkan, dia pintar menyenangkan seseorang” kata Martin, berbohong. Sindy hanya melihatnya dengan tatapan terkejut.
“anak pintar, kau melakukan tugasmu dengan baik” Alan berdiri dari duduknya dan berjalan sambil menepuk bahu Sindy sekilas sebelum berjalan kearah pintu keluar club. Sindy dan Martin mengikuti lelaki tua yang terhuyung-huyung itu keluar.
“kenapa kau bilang seperti itu?” kata Sindy pelan agar hanya Martin yang mendengarnya.
“kau tidak mau, aku mengatakan yang sebenarnya dan berujung kau dimarahi olehnya bukan?!” jawab Martin yang membuat Sindy diam. Apa yang dikatakan Martin memang benar.
♣
Pagi ini, Prana bangun lebih awal dari biasanya. Itu membuatnya tidak tahu harus melakukan apa karena ini masih sangat pagi. Karena Prana bingung dengan apa yang harus ia lakukan, lelaki tampan itu memilih untuk bersepeda. Lelaki tampan itu bersepeda sangat jauh sampai-sampai ia melewati toko toserba yang menjadi tempat kerja paruh waktu Sindy biasanya. Ia tidak berhenti dan terus melajukan sepedanya kearah rumah Sindy karena udara disana sangat sejuk, menurutnya. Tapi, ketika Prana akan masuk kedalam gang, ada sebuah mobil yang mendahuluinya dan hal itu membuatnya berhenti ditempat. Ia melihat mobil yang tadi mendahuluinya. Kemudian ia mengangkat salah satu alisnya ketika melihat mobil itu berhenti didepan rumah Sindy.
“siapa dia?”