12

1161 Kata
"hah" Sindy menghela nafasnya ketika mengingat hari ini adalah hari sabtu. Ia benar-benar lupa tentang hari ini dimana hari sabtu biasanya pamannya akan mengajaknya ke club yang biasa lelaki paruh baya itu kunjungi. Dengan pasrah gadis manis itu berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum memakai pakaian yang sudah disiapkan sang paman. Setengah jam ia berkutat di kamar mandi, akhirnya gadis manis itu keluar dari dalam kamar mandi dengan gaun yang dibelikan oleh Alan tadi. Sebenarnya Sindy sedikit heran ketika melihat gaun yang dipilih Alan terlihat normal meskipun pendek, tapi masih menutupi tubuhnya dengan baik. Apalagi gaun tersebut tidak ketat dan membentuk tubuhnya dengan jelas. Tidak seperti biasanya yang hampir disetiap bagian terbuka dan tubuhnya tercetak jelas dengan gaun ketat. Sindy berdiri didepan kaca lemarinya dan melihat pantulannya sendiri dicermin. Tampak cantik dan cocok dengannya. Tak mau menyia-nyiakan waktu, Sindy duduk dimeja rias untuk merias dirinya dengan make up tipis. Setelah selesai dengan make up-nya, Sindy keluar dari kamarnya tanpa menggunakan kacamatanya. Alan yang berada diruang tamu itupun berdiri dan tersenyum ketika melihat Sindy turun dari lantai atas. Ia merasa senang ketika melihat betapa cantiknya keponakannya itu dengan gaun pilihannya tadi. Ia benar-benar tidak salah pilih gaun itu. Apalagi gadis manis itu tidak menggunakan kacamata bulatnya. Sangat cantik, menurut Alan. Suara mobil yang berhenti didepan rumah tersebut itupun membuat Alan langsung mengajak Sindy keluar dan masuk kedalam mobil yang merupakan suruhan dari Martin untuk menjemput kedua orang itu. Setelah keduanya naik, supir yang berada dibalik kemudi mulai menjalankan mobilnya. Sindy yang merasa heran itupun tidak berani bertanya dan hanya tetap diam dan mengikuti kemauan pamannya. Beberapa saat kemudian mobil itu berhenti disebuah club yang biasa Alan kunjungi. Setelah mobil itu terparkir dengan baik, ketiga orang yang ada didalam mobil itupun keluar. Lalu mereka berjalan masuk keclub dengan mengikuti orang yang menjemput mereka tadi. Ketika mereka masuk kedalam club, tak sedikit lelaki yang melihat kearah Sindy. Bahkan ada yang mendekat kegadis manis itu, tapi Alan menyuruhnya pergi karena malam ini Sindy bukan untuk mereka. Tak lama mereka sampai didepan sebuah pintu yang diyakini oleh Sindy adalah sebuah kamar. Ya dia tahulah kalau tempat ini juga menyediakan kamar untuk pengunungnya yang ingin menghabiskan malam ditempat tersebut dengan seorang wanita sewaan atau yang lainnya. Orang yang menjemputnya tadi itupun mengetuk pintu dan masuk sebentar kedalam sebelum keluar kembali dan menyuruh Sindy masuk. Alan yang melihat itupun menepuk pundah Sindy.   “lakukan yang terbaik dan pakai ini jika dia minta” katanya dengan sedikit pelan dan memberikan paperback kepada Sindy. Gadis manis itu menerimanya dan masuk kedalam kamar tersebut tanpa mengatakan apapun.   Didalam kamar, Sindy dapat melihat seorang laki-laki yang memakai jas rapi duduk didepan jendela sambil menyeruput minumannya yang terlihat seperti secangkir kopi.   "kau sudah datang" kata lelaki itu menoleh kearah Sindy yang masih diam didepan pintu masuk yang sudah tertutup. "kemarilah" kata lelaki itu menyuruh Sindy menghampirinya. Sindy yang mendengarnya itupun berjalan menghampiri lelaki yang masih duduk didepan jendela itu dengan perlahan. Ia akui jika ia terkejut ketika melihat lelaki itu yang masih terlihat muda dan tampan tidak seperti lelaki yang pamannya biasa dapat. "letakkan itu disini" kata Martin sambil meletakkan paperback yang dibawa Sindy dilantai samping sofa. Ia tahu apa yang ada didalam tas tersebut karena Alan mengirimkan foto kepadanya tadi. Setelah itu Martin menarik Sindy untuk duduk dipangkuannya. Hal itu membuat Sindy gugup seketika dan memegang bahu Martin dengan sedikit gemetaran. "santai saja" kata lelaki itu ketika melihat Sindy yang gugup sampai gemetaran dipangkuannya. Sindy hanya diam dan mendengar perkataan Martin. Jujur saja, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Martin karena ini baru pertama kalinya ia bersama dengan seorang lelaki yang masih terlihat muda dari lelaki lainnya. "namaku Martin" kata lelaki itu memperkenalkan dirinya. Sindy agak terkejut ketika lelaki itu menyebutkan namanya.   "eem aku Sindy" kata Sindy dengan kegugupan dan hal itu membuat Martin tersenyum mendengarnya dan hal itu membuat Sindy merasa heran.   "kalau kau gugup itu sangat lucu" katanya yang membuat wajah Sindy terkejut dengan melebarkan matanya. "ugh gemasnya" Martin mencubit pipi Sindy ketika melihat ekpresi gadis manis itu yang menggemaskan baginya.   "bisakah aku turun dari atasmu?" tanya Sindy dengan pelan.   "tidak...sudah kubilang kan, jangan gugup" tolak Martin sambil memeluk pinggang Sindy.   "itu karena ini pertama kalinya aku bersama dengan-"   "lelaki muda sepertiku!" tebak Martin yang membuat Sindy menganggukkan kepalanya. "kalau begitu santai saja"   "baiklah" Kemudian keduanya berbicara dengan santai satu sama lain. Sindy merasa bahwa ia nyaman bersama dengan Martin dan ini adalah pertama kalinya ia berbicara dengan orang lain yang umurnya lebih tua beberapa tahun darinya. Sindy merasa memiliki seorang kakak sekarang.   Waktu sudah menunjukkan jam 10 malam dan mereka sudah berbicara selama dua jam lamanya sambil menikmati makanan dan minuman yang diantar oleh anak buah Martin kedalam kamar tersebut. Sindy merasa heran dengan Martin karena sampai sekarang lelaki itu tidak melakukan apapun padanya dan hal itu membuat Sindy merasa tidak enak. Ia jadi berfikir jika Martin tidak tertarik dengannya dan hal itu membuatnya takut karena jika pamannya tahu, ia akan kena marah karena tidak melakukan yang terbaik. Martin yang merasa ada yang aneh dengan Sindy itupun melihat ekspresi gadis manis itu yang tampak gelisah.   "ada apa?" tanya Martin yang membuat Sindy melihatnya. Gadis manis itu hanya menggelengkan kepalanya. Hal itu makin membuat Martin ingin tahu. "katakan saja" paksa Martin.   "eeemmm, kenapa kita hanya makan dan berbicara seperti ini, apa kau-"   "aaa soal itu, aku hanya ingin berbicara denganmu saja tanpa melakukan apapun seperti yang kau lakukan biasanya" potong Martin ketika tahu maksud dari perkataan Sindy. Sindy hanya menatapnya sambil mengedipkan matanya berkali-kali. "aku sudah melihatmu berkali-kali di club ini jadi aku tahu apa yang kau lakukan dengan pamanmu disini"   "kau mencari tahunya?"   "bisa dibilang begitu karena aku bertanya kepada para bartender dan wanita yang melayaniku" Sindy hanya beroh ria mendengar penjelasan Martin. "aku juga bermain judi disini dengan pamanmu-"   "apa?" tanya Sindy dengan sedikit terkejut dengan hal itu.   "aku bermain judi dengan pamanmu beberapa hari lalu dan dia kalah"   "jangan bilang dia mempertaruhkanku?!"   "kau benar, dia mempertaruhkanmu untuk lelaki yang menang diantara kita dan aku yang menang" Sindy sudah menduga hal itu, awalnya ia pikir jika pamannya menawarkan dirinya kepada Martin dan ia tidak menyangka jika pamannya malah membuat dirinya sebagai bahan taruhan. Meskipun ini bukan pertama kalinya untuk Sindy, tapi ini pertama kalinya ada lelaki yang tidak terburu-buru untuk tidur dengannya seperti lelaki lainnya. Sindy agak berterima kasih kepada Martin, tapi ia juga sedikit waspada kepada lelaki itu karena Sindy masih belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.   "apa kau tidak akan melakukan apapun?" tanya Sindy dengan sedikit berani. Martin tersenyum miring sambil melihat Sindy.   "kau ingin aku melakukan apa?" tanya Martin.   "tidur denganku mungkin?!" pancing Sindy. Martin terkekeh mendengar kata itu keluar dari mulut gadis SMA seperti Sindy.   "aku tadi sudah bilang tidak ingin tidur denganmu malam ini-"   "jadi artinya akan ada malam lainnya begitu?" potong dan tanya Sindy pada Martin. Martin hanya tersenyum misterius kearah Sindy dan gadis manis yang melihat senyum itu terkejut dan merasa sedikit takut kepada Martin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN