Hari sabtu akhirnya tiba, Alan belum mengatakan kepada keponakannya jika malam ini gadis remaja itu memiliki pelanggan yang sangat istimewa. Lelaki paruh baya itu sengaja tidak mengatakannya kepada Sindy dan membiarkan gadis manis itu melakukan aktivitasnya seperti biasa. Toh Sindy biasanya pulang pada jam 9 malam jadi Alan tidak masalah dengan itu.
Sindy keluar dari dalam kamarnya dengan seragam yang rapi. Ia turun dari lantai atas dan melihat pamannya berada di rumah, duduk didepan televisi yang sedang menyala. Sindy yang merasa tidak ada yang aneh dari pamannya itupun membuat sarapan didapur. Menurutnya tidak ada salahnya sarapan bersama sang paman pagi ini. Setelah beberapa saat berkutat dengan alat masak didapur, Sindy menyelesaikan nasi goreng yang sederhana untuk mereka berdua. Kemudian ia mengajak pamannya sarapan bersama yang langsung diiyakan oleh lelaki paruh baya itu.
Beberapa saat kemudian, Sindy menghabiskan nasi gorengnya dan langsung berpamitan kepada sang paman untuk pergi ke sekolah sekarang. Sindy berjalan keluar dari rumah tersebut dan berjalan menuju jalan besar untuk menunggu bus yang akan mengantarnya ke sekolah seperti biasa. Sebenarnya tadi pagi Sindy mendapat pesan dari Prana jika lelaki tampan itu ingin menjemputnya, tapi Sindy menolak hal tersebut dan memilih untuk menaiki bus.
♣
Sampai di sekolah, gadis manis itu berjalan dikoridor yang mulai sedikit ramai itu. Sindy yang merasa ditatap dan mendengar bisikan-bisikan mereka itupun mengabaikannya. Ia tetap berjalan santai menuju kelasnya. Toh ia ke sekolah untuk mencari ilmu dan tidak untuk mengurusi orang-orang yang tidak suka padanya. Sindy sudah terbiasa dengan hal seperti itu dan ia tidak peduli.
Sampai dikelas, gadis manis mencium bau yang tidak sedap dan perasaannya menjadi tidak enak seketika. Sindy langsung berjalan menuju bangkunya dan benar dugaannya jika mejanya hampir penuh dengan sampah dan ada tulisan yang membuatnya terkejut. Bagaimana tidak terkejut jika diatas mejamu tertulis ‘gadis jalang’, ‘enyahlah’, ‘jalang tidak pantas berada di sekolah kami’ dan masih banyak lagi yang tertulis disana. Kelas yang memang sejak tadi sudah ramai itupun makin ramai dan mencibir Sindy yang meletakkan tasnya dikursi dan mulai mengambil sapu dan lap untuk membersihkan mejanya.
"bau apa ini?" tanya Lisa yang baru saja datang dan langsung disambut oleh bau yang tidak sedap.
"uh apa ini? bau sekali" Sela yang baru saja datang bersama Ana itupun langsung menutup hidung masing-masing sambil menghampiri Lisa dan bertanya pada gadis itu. Mereka juga banyak mendengar gumaman dari siswa/i lain.
"oh sial! ternyata kau" kata Ana yang melihat Sindy yang sedang membersihkan mejanya.
"cepat bersihkan, kami tidak tahan baunya" kata Sela.
"benar! setelah ini bel masuk akan berbunyi" kata siswi lainnya yang juga tidak tahan dengan bau yang berasal dari meja Sindy. Gadis berkacamata bulat itu hanya bisa menghela nafasnya dan terus membersihkan sampah yang ada dimejanya. Ia tidak tahu siapa yang meletakkan sampah dan mencoret mejanya seperti itu.
"oh, ada apa ini? kenapa kelas sangat bau?" tanya Mia yang baru saja datang dan menghampiri teman-temannya yang lain.
"tanya saja padanya" kata Lisa sambil menunjuk Sindy dengan dagunya.
"oh..." kata Mia melihat Sindy sambil tersenyum miring. Ia merasa puas telah melakukan hal itu tadi pagi.
"bukankah itu membutuhkan waktu lama untuk membersihkannya sampai tak berbau lagi sedangkan setelah ini bel akan berbunyi dan pelajaran akan dimulai" lanjut Mia yang dibenarkan oleh semua teman sekelasnya.
"bagaimana kalau kita keluarkan saja mejanya!?"
"ide bagus"
Dua siswa laki-laki mulai menghampiri meja Sindy yang masih dibersihkan oleh sang empunya meja.
"hentikan! jika kalian mengeluarkannya aku akan menghajar kalian!" ancam seorang lelaki yang baru saja datang dan milihat apa yang terjadi dikelasnya saat ini.
"tapi, itu sangat bau Al" kata Ana.
Lelaki yang dipanggil Al atau lebih tepatnya Aldi itu hanya menatap tajam teman sekelasnya yang lain. Setelah itu, ia menghampiri Sindy yang tetap membersihkan mejanya. Aldi berniat untuk membantu membersihkan meja tersebut, tapi ditolak oleh gadis manis itu.
"kenapa kau selalu menolak bantuanku?" tanya Aldi sambil menahan emosinya karena ditolak oleh Sindy.
"aku hanya tidak ingin merepotkanmu, itu saja" jawab Sindy.
"kau sama sekali tidak merepotkanku-“
“tapi aku benar-benar tidak ingin kau membantuku" potong Sindy.
"kau dengarkan apa yang dia katakan! kenapa kau selalu peduli padanya?" kali ini Lisa yang berbicara karena ia sudah tidak tahan dengan apa yang ia lihat saat ini dan muak dengan Aldi yang selalu peduli dengan Sindy yang jelas-jelas menolaknya.
"lebih baik kau pergi, aku tidak mau mereka marah padaku" kata Sindy pada Aldi yang masih berada didepannya.
"kenapa kau selalu seperti ini!?" Aldi memegang bahu Sindy dan membuat gadis manis itu menatapnya.
"apa maksudmu?"
"kenapa kau selalu menolakku dan tidak nyaman denganku, tapi kau tidak masalah dengan adik kelas k*****t itu yang mendekatimu"
"k-"
"ada apa ini? kenapa kelas ini sangat bau?" tanya seorang guru yang baru saja datang untuk mengajar kelas tersebut.
"meja Sindy bu" jawab salah satu siswa sambil menunjuk kearah Sindy. Guru itu melihat Sindy dan Aldi.
"hah” ia menghela nafas.
“bersihkan mejamu dengan cepat, Sindy!" perintahnya.
"baik bu"
"oh Aldi bantu dia"
"baik" jawab Aldi dengan cepat.
Sindy dan Aldi mulai membersihkan meja gadis manis itu dengan cepat. Hal itu membuat Lisa semakin kesal karena guru meminta Aldi untuk membantu Sindy. Sedangkan semua siswa dan guru tadi memilih untuk menunggu keduanya selesai membersihkan meja diluar kelas. Itu lebih baik bagi mereka.
Seperempat jam berlalu, Sindy dan Aldi selesai membersihkan meja milik gadis manis yang tadinya penuh dengan sampah dan bau menjadi bersih.
Setelah itu kelas mereka memulai pelajaran yang sempat tertunda itu.
♣
Pulang sekolah.
Hari ini sangat melelahkan bagi Sindy. Banyak hal yang terjadi di sekolah, mulai dari sampah yang ada dimejanya, berdebat dengan Aldi, bertemu dengan Prana dan melihat Aldi dan Prana berdebat lagi. Sungguh melelahkan melihat hal itu hampir setiap hari di sekolah.
Kali ini ia memutuskan untuk pulang sendiri naik bus dan pergi ketempat kerja paruh waktunya dengan jalan kaki. Ia lelah melihat Prana dan Aldi terus bertengkar saat pulang sekolah hanya untuk mengantarnya pulang. Lagi pula Sindy tidak semudah itu mau diantar pulang oleh mereka meskipun Prana terkadang mengantarnya pulang sih.
Sampai ditempat kerja, Sindy langsung mulai melakukan pekerjaannya seperti biasa sambil belajar jika tidak ada pengunjung yang datang kesana.
♣
Alan pergi ke mall untuk membeli sebuah gaun yang indah untuk dipakai keponakannya malam ini. Meskipun Sindy memiliki banyak gaun yang dia berikan, tapi itu terlalu biasa untuk Sindy. Dengan santainya lelaki paruh baya itu melihat-lihat gaun yang ada di mall tersebut untuk mencari gaun yang cocok dipakai Sindy nanti. Ia ingin keponakannya itu terlihat cantik didepan Martin nanti. Lama lelaki paruh baya itu memilih gaun untuk keponakannya sampai akhirnya, ia memilih gaun yang berwarna light pink dengan hiasan bunga putih dibeberapa bagian gaun tersebut dan tentu saja gaun itu sangat terbuka dan sangat pendek, mungkin dibawah p****t sekitar 20cm.
"aku ambil yang ini" kata Alan kepada seorang pelayan yang sejak tadi mengikutinya. Pelayan itu langsung mengangguk dan mulai mengambil gaun tersebut untuk ia serahkan kekasir. Alan yang sudah puas dengan pilihannya itupun mengikuti sang pelayan kekasir untuk membayar gaun tersebut. Setelah mendapatkan gaun untuk Sindy, lelaki paruh baya itu pergi kestan sepatu. Ia akan membeli hight heels yang warnanya senada dengan gaun yang ia beli tadi.
Tak lama setelah itu, Alan mendapatkan apa yang ia cari. Ketika sudah mendapatkannya, lelaki paruh baya itu memutuskan untuk pergi dari mall itu, tapi ketika ia berjalan keluar mall ada sebuah stan yang memajang pakaian terawang yang mencuri perhatiannya. Tak perlu waktu lama lelaki paruh baya itu masuk kedalam dan membungkus pakaian tersebut. Mungkin ia akan menyuruh keponakannya memakai itu nanti saat ia berdua dengan Martin. Tidak ada salahnya jika menyuruh keponakannya seperti itu yang penting hal itu membuat Martin senang dan ia juga senang.
♣
20.30 wib.
Sindy selesai lebih cepat dari biasanya. Ia langsung bergegas pulang ke rumah pamannya. Ia pulang dengan berjalan kaki karena rumah pamannya yang tidak jauh dari tempatnya bekerja.
"aku pulang" katanya sambil membuka pintu dan berjalan masuk kedalam rumah.
"oh kau sudah pulang... ganti pakaianmu dengan baju yang ada diatas ranjangmu dan segera keluar" kata Alan.
Sindy yang tidak mengerti maksud pamannya itu hanya membalasnya dengan 'baiklah'. Gadis manis itu langsung berjalan menuju kamarnya. Sampainya di kamar, ia melihat sebuah paperbag yang tergeletak diatas tempat tidurnya. Ia membuka dan melihat isi dari paperbag tersebut. Ia terkejut ketika melihat isinya adalah gaun.
"oh hari sabtu" gumam Sindy ketika menyadari hari yang saat ini ia jalani.
"hah"
Tbc