10

1530 Kata
Setelah melakukan pembully-an terhadap Sindy, Lisa dan ketiga temannya pergi ke café yang selalu mereka kunjungi ketika pulang sekolah. Mereka duduk manis sambil menikmati pesanan mereka dan melihat video yang tadi direkam oleh Mia. Lisa tersenyum ketika melihat hasil video itu sangat bagus dan sesuai harapan.   “aku tidak menyangka dia gadis yang seperti itu” kata Mia sambil meletakkan ponselnya diatas meja ketika teman-temannya sudah melihat video-nya.   “aku terkejut melihat tanda itu tadi” lanjut Sela yang tadi benar-benar terkejut. Hal itu diangguki oleh Ana.   “lalu apa yang akan kita lakukan dengan videonya?” tanya Ana.   “kita buat itu sebagai bahan untuk mengancamnya” kata Lisa sambil tersenyum miring. Mia yang mengerti maksud Lisa itupun ikut tersenyum.   ♣   Prana sampai didekat kelas 11-A. Lelaki itu melihat pintu kelas yang sudah tertutup dan ia berniat untuk kembali sebelum pintu kelas itu terbuka.   “Prana!” kejut seorang gadis yang Prana cari. Lelaki tampan yang melihat Sindy itupun langsung mendekat. Prana merasa aneh ketika Sindy mengalihkan tatapannya, seperti ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan.   “aku pikir kakak sudah pulang” kata Prana.   “emm belum, aku tadi mengerjakan tugas sedikit dikelas” kata Sindy tanpa melihat kearah Prana.   “yasudah, aku akan mengantarmu ketempat kerja”   “tidak usah, aku bisa berangkat sendiri…aku duluan Prana” tolak Sindy sambil berjalan melewati Prana. Lelaki yang dilewati itu langsung berbalik dan memegang tangan Sindy dan membalik tubuh Sindy dengan paksa. Hal itu membuat Prana melihat wajah Sindy dengan jelas. Ia melebarkan matanya ketika melihat mata Sindy yang terlihat sembab.   “apa kakak menangis?” tanya Prana sambil menangkup pipi Sindy.   “ti-tidak-“   “jangan berbohong…katakan padaku siapa yang membuatmu menangis, apa Aldi?” potong Prana.   “tidak,,bukan dia”   “lalu?”   “maaf aku tidak bisa memberitahumu” kata Sindy pelan. Entah keberanian darimana Prana memeluk Sindy ketika melihat wajah gadis manis itu kembali terlihat sedih. Sindy yang dipeluk tiba-tiba oleh Prana itu terkejut bukan main dan tidak tahu harus melakukan apa jadi ia hanya diam saja.   “tidak apa jika kakak tidak ingin cerita, aku tidak masalah dengan itu” kata Prana sambil mengelus kepala Sindy yang rambutnya dikurcir kuda.   “kenapa?” tanya Sindy pelan yang masih bisa didengar oleh Prana. Kemudian lelaki tampan itu melepas pelukannya dan memegang bahu Sindy sambil melihat wajah gadis manis itu. “kenapa kau baik padaku?” tanya Sindy tanpa melihat kewajah Prana.   “oh soal itu, aku tidak tahu. mungkin aku menyukai kakak” jawab Prana enteng sambil nyengir dan melepas bahu Sindy. Lalu ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sindy yang mendengar perkataan Prana itupun kembali terkejut dan ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa jadi ia memilih pergi dari hadapan Prana dan meninggalkan lelaki tampan itu.   “kak tunggu aku, aku akan mengantarmu” kata Prana sambil mengejar Sindy yang berjalan terlebih dahulu didepannya.   ♣   Aldi tadi langsung pergi dari kelasnya ketika bel pulang berbunyi tanpa mengajak Sindy untuk pulang bersama. Bukannya Aldi menyerah dengan hal tersebut, hanya saja lelaki mancung itu tidak ingin Sindy merasa rish dengan gangguannya tersebut. Meskipun Aldi sangat ingin mengantar gadis manis itu karena Prana selalu bisa mengantar Sindy pulang dan Aldi merasa tak suka dengan hal tersebut. Ia tidak tahu kenapa Sindy lebih memilih Prana daripada dirinya. Tak lama Aldi sampai di rumahnya. Lelaki mancung itu langsung masuk kedalam rumah setelah memasukkan motornya kegarasi. Ia langsung berjalan menuju kamarnya yang ada dilantai atas tanpa memperdulikan seorang wanita tua yang menyapanya. Wanita tua itu adalah pembantu yang sudah lama bekerja di rumah tersebut. Ia sudah biasa dengan perilaku Aldi tersebut. Jika kalian ingin tahu dimana orang tua Aldi, jawabannya mereka sedang sibuk melaukan pekerjaan mereka. Sampai didalam kamar, lelaki mancung itu langsung membanting tubuhnya diatas kasur king size miliknya yang sudah tertata dengan rapi.   Kling. Tiba-tiba ponsel Aldi yang ada disaku celana seragamnya itupun langsung ia ambil dan mengecek ponselnya. Ternyata ia mendapatkan sebuah email dari seseorang. Aldi yang tahu siapa orang itupun membuka pesan tersebut.   “biodata Sindy” gumam lelaki mancung itu ketika sudah membuka email tersebut. Ya, lelaki mancung itu telah menyuruh seseorang untuk mencari informasi tentang Sindy. Aldi membaca setiap kata yang tertera diemail tersebut dengan hati-hati karena ia tidak mau melewatkan sedikitpun informasi tentang gadis manis itu.   “tidak sia-sia aku menyuruhnya dan membayar mahal” gumam Aldi ketika sudah selesai membaca email tersebut sampai selesai. Kemudian ia bangun dari tidurnya dan pergi kearah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket dan bau.   ♣   21.00 wib. Sindy sampai di rumah pamannya setelah berjalan selama beberapa menit dari tempatnya bekerja paruh waktu. Ia masuk kedalam rumah yang masih tampak gelap dan pintu rumah itu masih dikunci. Itu artinya pamannya belum pulang. Gadis manis itu langsung masuk kedalam rumah sambil menyalakan lampu ruang tengah dengan hati-hati. Setelah selesai, ia langsung pergi menuju kamarnya berada. Sindy langsung memilih untuk membersihkan dirinya dari keringat dan bau badan yang sudah tercium sejak tadi karena berada diluar dan melakukan aktivitas seharian penuh. Lima belas menit berlalu dan Sindy keluar dari dalam kamar mandi dengan piyama tidurnya yang berwarna biru muda. Kemudian gadis manis itu memilih untuk duduk didepan meja belajarnya dan langsung mengeluarkan buku yang ada didalam tasnya dan melanjutkan belajarnya yang tertunda karena pelanggan yang sangat banyak datang ketoserba tempatnya bekerja tadi.   “oh ya aku belum makan malam” Sindy bangun dari duduknya dan keluar dari kamarnya untuk membuat sesuatu didapur. Gadis m**i itu membuat mie goreng yang ia temukan dilaci dapur. Ia membuat mie sambil melamunkan tentang ucapan Prana tadi siang. Entah kenapa gadis manis itu kemali teringat olehh ucapan lelaki tampan itu.   “kenapa dia mengatakan itu?” gumamnya. Ia tidak tahu melakukan dan mengatakan itu padanya. Ia tidak tahu apa yang lelaki tampan itu lihat dari dirinya yang tampak biasa-biasa saja. Sindy juga tidak tahu apa maksud Prana tentang perkataan ‘menyukai’-nya itu. “tidak mungkin” gumamnya lagi ketika sebuah pikiran jika Prana menyukai sebagai seorang gadi melintas dikepalanya. Ia tidak mau itu terjadi dan membuat keributan dimasa depan antara dirinya, pamannya dan Prana sendiri. Sindy tidak mau melibatkan siapapun masuk kedalam kehidupannya lebih dalam dari seorang teman biasa. Tak lama, mie yang dibuat oleh Sindy akhirnya selesai juga. Gadis itu menuangkannya kedalam mangku yang sudah ia beri bumbu dan kemudian Sindy membawanya kekamarnya. Tak lupa ia juga membawa minuman untuk ia minum setelah selesai makan. Sebelum menyantap mie-nya, gadis manis itu mengambil ponselnya yang ada diatas meja belajarnya dan melihat benda persegi panjang itu.   “Prana” gumamnya ketika melihat ada sebuah chat dari Prana. Ngomong-ngomong mereka berdua sudah bertukar nomor ponsel ketika Prana baru pertama kali mengantarnya pulang. Awalnya Sindy tidak mau memberikannya, tapi karena karena paksaan dari lelaki tampan itu mau tidak mau Sindy memberikan nomornya kepada Prana. Setelah membaca pesan yang dikirimkan Prana padanya, Sindy langsung membalasnya dengan cepat agar ia bisa menyantap mie buatannya tadi.   ♣   22.00 wib. Alan masih berada diclub yang biasa ia kunjungi setiap saat. Ia saat ini sedang melakukan perjudian dengan uang yang ia dapat dari menjual tubuh keponakannya sendiri.   “sekarang bagaimana kau bisa ikut bermain tn. Alan?” tanya seorang lelaki paruh baya yang ada didepannya. Alan hanya tersenyum mendengar perkataan lelaki tersebut.   “kenapa anda tertawa?” tanya seorang lelaki yang terlihat masih muda dari lelaki tua yang berkumpul dimeja tersebut. Mungkin usianya masih 35 tahun.   “bagaimana jika aku menawarkan keponakan manisku kepada kalian yang memenangkan ronde selanjutnya.   “kau gila ya, tn. Alan! tapi, aku tertarik dengan tawaran itu” kata lelaki yang ada disamping Alan sambil tersenyum.   “kau! anak muda bersiap-siaplah kalah dari kami” kata lelaki yang memiliki jenggot.   “semoga berhasil tuan-tuan…kita lihat saja nanti” kata lelaki itu dengan senyum yang penuh arti. Mereka mulai melakukan ronde selanjutnya dengan penuh semangat.   Lama mereka bermain, hingga akhirnya lelaki muda yang memenangkan pertarungan tersebut. Lelaki paruh baya lainnya menghela nafas sambil bergumam tidak rela dengan kemenangan lelaki itu.   “perkenalkan namaku Martin, tn. Alan” lelaki muda bernama Martin tadi memperkenalkan dirinya kepada Alan. Lelaki paruh baya itu hanya tersenyum dan menerima kartu nama dari Martin. Ia membaca kartu nama tersebut dan sedikit terkejut dengan apa yang tertera dikartu nama hitam itu.   “senang bertemu denganmu” Alan tersenyum kearah Martin”..sabtu mala disini…aku akan membawa keponakanku kehadapanmu” lanjutnya.   “baiklah…saya akan menunggu” jawab Martin dengan tersenyum “nanti saya akan memberitahu anda untuk ruangannya” lanjutnya. Alan hanya menganggukkan kepalanya. Setelah mengatakan itu, Martin pergi dari tempat tersebut sedangkan uang yang ada diatas meja ia menyuruh pengawalnya untuk membereskannya. Dan untuk semua lelaki paruh baya yang ada disana melihat kartu nama yang masih dipegang oleh Alan. Mereka penasaran dengan apa yang membuat Alan sampai terdiam dan berbicara begitu hati-hati kepada Martin.   “waah ini gila” kata mereka sambil membaca kartu nama hitam tersebut.   “kau harus membuat keponakanmu memuaskannya dengan benar, Alan” kata lelaki berjenggot.   “tentu saja” jawab Alan cepat sambil tersenyum misterius. Sedangkan lelaki paruh baya lainnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tidak mengerti dengan jalan pikiran Alan sampai tega menjual dan membuat keponakannya jadi bahan taruhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN