Istirahat berlangsung Prana dan Jonatan berjalan menuju kantin sekolah untuk mengisi perut mereka yang merasa lapar. Tapi, saat mereka lewat didepan kelas Sindy, Prana menghentikan langkahnya dan sedikit melihat kedalam kelas tersebut. Ia seperti sedang mencari sesuatu atau lebih tepatnya sedang mencari Prana. Melihat Prana yang ada didepan kelas mereka, penghuni kelas tersebut menjadi histeris dan melihat Prana juga Jonatan yang ada didepan kelas mereka. Tapi, hal itu tak bertahan lama ketika Aldi berjalan kearah pintu kelas.
"kau sedang apa?" tanya Aldi agak judes ketika sampai didepan pintu dan melihat Prana.
"sedang mencari kak Sindy" jawab Prana santai tanpa melihat Aldi. Hal itu jelas membuat Aldi merasa kesal.
"dia tak masuk hari ini....kenapa kau mencarinya?" jawab dan tanya Aldi dengan nada judes. Jonatan yang melihat ketidaksukaan Aldi itupun mengajak Prana pergi dengan menarik lengan lelaki tampan itu. Prana yang ditarik oleh Jonatan itupun pasrah dan mengikuti lelaki aneh itu pergi dari hadapan Aldi tanpa sempat menjawab pertanyaan lelaki mancung itu. Jonatan benar-benar tidak suka jika Prana bersitegang denga Aldi dan lelaki aneh itu merasa Aldi adalah lelaki yang tidak baik yang mungkin bisa membahayakan Prana.
♣
Hari ini Sindy tidak masuk sekolah. Ia masih tidur diranjangnya, karena sungguh lu`bangnya benar-benar sakit setelah dihajar oleh sang paman dengan begitu kasar tadi malam. Bahkan sampai sekarangpun Sindy belum beranjak dari ranjang untuk sekedar membersihkan diri. Jangankan untuk pergi ke kamar mandi sekedar untuk bergerak sedikitpun saja lubangnya masih terasa sakit. Jadilah ia tetap tidur diranjangnya. Asal kalian tahu Sindy masih tidak menggunakan pakaiannya alias masih naked dan hanya ditutupi oleh selimut.
♣
Setelah dua hari tidak masuk sekolah, akhirnya hari ini Sindy masuk sekolah juga. Meski masih merasa sedikit sakit dibagian bawahnya, tapi ia tetap berjalan menuju kelasnya sambil sesekali menahan nyeri yang terkadang masih terasa. Saat sampai didalam kelas, ia langsung berjalan menuju kebangkunya. Kelas sudah tampak agak ramai dan Sindy duduk dikursinya dengan diam meskipun telinganya mendengar apa yang dikatakan teman sekelasnya. Selang beberapa menit kemudian datanglah Aldi dan tampak terkejut ketika melihat Sindy. Lelaki mancung itu langsung berjalan kearah bangku Sindy berada.
"apa kau sudah sembuh, Sin?" tanyanya saat sampai dimeja Sindy.
ah iya Al, aku sudah baik-baik saja" jawab Sindy agak sedikit berbohong karena tidak mungkin kan jika ia bilang bahwa ia masih merasa sakit dibagian bawahnya.
"benarkah? Apa tak ada yang sakit?" tanya lelaki itu lagi.
"aku sudah sembuh kok" jawab Sindy meyakinkan Aldi yang masih ada didepannya. Sebenarnya gadis manis itu infin Aldi cepat pergi dari bangkunya karena ia tahu banyak pasang mata yang melihat mereka sambil berbisik-bisik.
Kriiiiingggg.
Suara bel masukpun berbunyi dan dengan tidak rela Aldi meninggalkan bangku Sindy. Jujur saja ia masih ingin memandang wajah Sindy yang selalu terlihat cupu padahal ia tahu bahwa gadis manis itu tidak sejelek itu. Aldi kemudian duduk dikursinya sambil mengedikkan bahu. Mungkin ia akan mencari tahu tentang Sindy agar ia tahu alasan kenapa gadis manis itu terlihat cupu.
♣
Istirahat dimulai.
Sindy masih berada dikelasnya. Ia tidak ada niatan untuk keluar dari dalam kelas meskipun masih ada beberapa siswa yang ada didalam kelas, tapi mereka sibuk sendiri dengan diri mereka tanpa memperdulikan Sindy yang ada disana. Aldi yang tadi keluar dari kelas itupun kembali lagi masuk kedalam kelas sambil membawa sesuatu. Lelaki mancung itu menghampiri bangku Sindy dan membuat gadis manis itu menatapnya dengan tanda tanya.
“aku membawakanmu ini” kata Aldi sambil meletakkan sebungkus roti diatas meja Sindy.
“kau tidak perlu melakukannya” kata Sindy sambil melihat roti dan Aldi bergantian.
“tidak apa, aku tidak ingin pingsan lagi seperti waktu itu”
“terima kasih” jawab Sindy sambil membuka bungkus roti tersebut. Tanpa mereka sadari ada seorang lelaki tampan yang melihat interaksi keduanya. Ia tadinya berbiat untuk memberikan sebungkus roti dan sekotak s**u kepada Sindy, tapi ia urungkan ketika melihat Aldi mengobrol dengan gadis manis itu.
“emz tunggu” kata Prana sambil menghentikan seorang lelaki yang memakai kacamata. Lelaki itu berhenti didepan Prana dan melihat lelaki tampan itu.
“tolong berikan ini kepada kak Sindy” kata Prana meminta tolong.
“baiklah” kata lelaki berkacamata itu sambil menerima bungkusan tersebut. Prana bergumam ‘terima kasih’ sambil berjalan pergi dari depan kelas tersebut. Lelaki tadi masuk kedalam kelas dan berjalan kearah bangku Sindy yang didepannya ada Aldi yang berbicara dengan gadis manis itu.
“Sin ini” katanya sambil menyodorkan bungkusan tersbut didepan Sindy.
“apa ini?” tanya Sindy.
Lelaki itu mengedikkan bahu “tadi ada yang menitipkannya padaku” katanya. Sindy menerima bungkusan tersebut dan membiarkan lelaki itu pergi dari hadapannya. Sindy langsung melihat bungkusan tersebut yang ternyata adalah roti dan s**u. Sindy sedikit tersenyum melihat isi bungkusan itu dan langsung mengambil s**u dan meminumnya. Hal itu tidak luput dari tatapan Aldi dan membuat lelaki mancung itu agak kesal ketika melihat senyum samar dari Sindy.
♣
Pulang sekolah, Sindy masih merapikan peralatan sekolahnya. Semua penghuni kelas sudah keluar satu persatu, tapi tanpa ia tahu Lisa dan teman-temannya masih berada didalam kelas sambil melihatnya dengan tatapan tak suka. Ketika Sindy sudah selesai membereskan peralatannya dan siap untuk pergi, Lisa dan teman-temannya menghalangi Sindy. Gadis manis itu menatap keempat gadis didepannya dengan terkejut. Tiba-tiba dua teman Lisa memegangnya dan Mia pergi menutup pintu kelas.
Sindy tentu saja memberontak dan berusaha melepaskan diri dari dua teman Lisa.
“diamlah” kesal Lisa sambil mencengkrap pipi Sindy.
“kau itu menjengkelkan ya! aku muak denganmu…kenapa kau tidak keluar saja dari sekolah…tampan jelekmu itu tidak pantas berada di sekolah ini” kata Lisa meluapkan emosinya kepada Sindy sambil membuat penampilan gadis manis itu berantakan.
“lepaskan aku” kata Sindy.
“diam!” bentak Lisa.
“aku ingin bersenang-senang denganmu”
Kemudian Mia mengeluarkan ponselnya dan merekam Sindy yang sedang dikerjai oleh Lisa.
“huh, kau ternyata jalang” dengan terkejut Lisa berkata ketika gadis cantik itu melihat sebuah tanda keunguan didada Sindy. Ketiga teman Lisa juga ikut terkejut dan mereka mengatakan hal yang sama seperti yang Lisa katakan sebelum membiarkan Sindy jatuh terduduk. Keempat gadis itu kemudian meninggalkan Sindy sendirian didalam kelas.
♣
Prana dan Jonatan berjalan dikoridor sekolah menuju parkiran sekolah untuk mengambil motor mereka. Ya hari ini kedua lelaki itu memakai motor masing-masing. Entahlah kenapa Prana tidak ingin membawa mobil lagi untuk pergi ke sekolah. Jonatan tersenyum ketika melihat Jesi sudah ada diparkiran. Dengan cepat lelaki aneh itu menghampiri Jesi sedangkan Prana hanya mendengus melihat tingkah Jonatan yang makin aneh ketika melihat Jesi.
“hai Pran” sapa Jesi kepada Prana.
“hai kak” balas Prana.
“kenapa kakak menyapa Prana doang sedangkan aku tidak” keluh Jonatan yang tidak disapa oleh Jesi sendiri.
“masa bodo” kata Jesi.
“kak Jesi, tidak bersama kak Sindy?” tanya Prana. Jesi hanya menggelengkan kepalanya.
“selalu saja kak Sindy” keluh Jonatan. Prana hanya menatap tajam Jonatan.
“aku pergi kekelasnya dulu, kalian duluan saja” kata Prana sambil berlari kembali kehalaman sekolah untuk melihat kelas Sindy. Dua orang yang melihatnya pergi itupun hanya mengedikkan bahu dan kemudian memilih pergi dari sekolah terlebih dahulu.
♣
Sindy pov.
Aku masih berada didalam kelas dengan posisi yang masih sama seperti tadi. Duduk dengan bersandar ditembok sambil menangis. Aku hanya bisa menangis seperti ini setelah mendapat bully-an dari mereka yang tidak suka denganku atau ketika mereka sudah keterlaluan seperti apa yang Lisa dan teman-temannya lakukan tadi. Biasanya aku akan diam dan memendamnya dalam diriku ketika aku menadapat bully-an yang hanya ditulis atau sesuatu yang lainnya. tapi ini membuatku tidak kuat dan aku menangis seperti ini sekarang. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan ketika Lisa mendapatkan video diriku yang seperti ini. Aku sudah lelah dengan semuanya yang terjadi denganku saat ini. Rasanya aku ingin pergi dari dunia ini dan hidup damai disuatu tempat yang indah. Aku menghela nafasku dan membenarkan seragamku yang acak-acakan. Aku harus pergi bekerja dan aku tidak ingin telat datang. Aku menghapus air mataku dan mulai berjalan keluar dari kelas. Aku membuka pintu kelasku.
“Prana!”