8

1303 Kata
21.23 wib. Malam ini Sindy masih sendirian di rumah pamannya karena lelaki paruh baya itu belum pulang. Ia sedikit merasa bebas tanpa adanya Alan di rumah itu. Gadis manis itu duduk disofa sambil menonton tv dan memakan cemilan yang ia ambil dari dalam kulkas. Tanpa menggunakan kacamata yang biasanya bertengger manis dihidungnya, ia seperti kembali kedirinya yang dulu yang tanpa kacamata dan tanpa beban. Ia sangat menikmati kesendiriannya saat ini tanpa memikirkan apapun meski banyak pikiran yang melintas diotaknya, tapi gadis manis itu tidak ingin memikirkannya. Tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka dan menampilkan sosok lelaki jangkung yang berjalan memasuki rumahnya. Sindy yang mendengar suara pintu terbuka itupun langsung menyambar kacamatanya yang ada diatas meja dan memakainya. Ia melihat pamannya yang berjalan dengan sempoyongan dan pakaian yang acak-acakan. Sindy tebak pamannya itu habis berjudi dan mabuk-mabukan lagi diclub yang biasa mereka kunjungi.   "menikmati waktumu, sayang" ucap Alan sambil memeluk leher Sindy dari belakang. Meskipun terhalang oleh sandaran sofa, hal itu tetap membuat Sindy merinding. Apalagi bau alkohol yang sangat pekat tercium dihidungnya. Jujur saja Sindy tidak suka bau alkohol karena ia akan merasa mual hanya dengan menciumnya.   “paman, bisakah kau menjauh?” tanya Sindy dengan menahan mual.   “kenapa?” tanya Alan sambil mencium pipi Sindy berkali-kali. Dirasa pamannya tidak akan menggubris perkataannya itupun membuatnya dengan paksa melepas tangan pamannya yang ada dilehernya dan berlari kearah kamar mandi. Alan yang melihat Sindy berlari ke kamar mandi itupun mengikuti gadis manis itu. Sampai didepan pintu kamar mandi, Alan melihat Sindy yang muntah-muntah diwastafel. Lelaki paruh baya itu menghela nafas dan masuk kedalam kamar mandi. Sebenarnya lelaki paruh baya itu hanya sedikit mabuk karena tadi ia tidak minum banyak alkohol. Dengan santai ia menyambar sikat gigi dan pasta gigi. Kemudian ia menyikat mulutnya dan setelah itu lelaki itu berkumur dengan cairan pencuci mulut yang ada disana. Setelah selesai dengan urusannya, ia mendekati Sindy yang masih berdiri didepan wastafel dengan lemas.   “sudah tidak seberapa bau alkohol, kan?” kata lelaki jangkung itu sambil mengangkat Sindy ala bridal dan membawa gadis manis itu keluar dari kamar mandi. Memang tidak sebau tadi, tapi Sindy masih bisa mencium bau itu meski sedikit. Alan membawa Sindy kekamarnya dan membanting tubuh itu diatas tempat tidur hingga Sindy mengaduh sesaat karena sedikit sakit. Lelaki paruh baya itu dengan kasar membuka pakaian Sindy. Tak lupa ia juga melepas kacamata Sindy. Setelah Sindy full naked, lelaki itu langsung meraup bibir gadis itu sambil meraba tubuh keponakannya dengan gerakan pelan atau sensual.   "kau sangat cantik tanpa kacamata" kata Alan melepaskan ciumannya sekilas sebelum kembali mencium bibir pink Sindy dengan sangat rakus dan tak sabaran.   Puas dengan bibir Sindy, Alan menjauh sebentar dari atas tubuh Sindy untuk melepaskan pakaiannya sendiri. Sindy yang melihat pamannya melepas pakaiannya itupun menelan ludah dengan susah payah. Meskipun pamannya memiliki tubuh yang agak gendut dengan perut yang sedikit buncit itu tidak membuat Sindy suka diperlakukan seperti itu oleh pamannya sendiri. Sekarang berdua orang beda usia itupu full naked. Alan mulai mengungkung Sindy lagi dengan satu tangan yang menjadi tumpuan agar tak menindih Sindy dan satu tangan lagi meremas p******a Sindy. Lelaki itu kembali melumat bibir milik Sindy dengan kasar hingga Sindy kuwalahan dibuatnya. Tangan yang masih ada dipayudara Sidny itupun tak hanya meremas melainkan memainkan putting Sindy sambil menekannya dan melintirnya hingga membuat Sindy mendesah tertahan karena ciuman Alan yang masih berlanjut. Alan yang mendengar desahan sindy itupun tersenyum disela-sela ciumannya. Sekarang ia menggunakan kakinya untuk menyangga tubuhnya, karena tangan satunya ia gunakan untuk menyentuh setiap inci tubuh Sindy dengan sensual.   "kau begitu indah, sayang" kata Alan yang membayangkan istrinya yang sedang ia cumbui saat ini.   "pa-manhhh jangaaann lakukann" desah Sindy disela ucapannya, karena Alan menyentuh lubangnya dengan jari tengah miliknya. Dengan begitu lihai ia mengusap lubang Sindy dengan pelan hingga membuat Sindy merasakan sesuatu yang aneh dan panas menjalar ditubuhnya juga desahan mengalun indah di kamar tersebut.   "jangan gigit bibirmu, sayang....aku tak mau kau terluka" kata Alan kepada Sindy yang menggigit bibirnya untuk menahan desahannya agar tidak keluar, tapi Sindy tetap tidak mau membuka mulutnya meskipun sekarang Alan sudah memposisikan miliknya yang sudah terbungkus kondom didepan lubang Sindy. Dengan sekali hentakan membuat Sindy berteriak dan meronta kesakitan ketika junior milik pamannya masuk kedalam lubangnya. Alan dengan sengaja melakukan hal itu supaya Sindy melepaskan gigitannya dan mengeluarkan desahannya.   "pamanhh keluarkanhh ituh sahhkit" tolak Sindy. Meski bukan pertama kalinya ia melakukannya dengan sang paman, tapi tetap saja itu masih terasa sakit baginya. Alan tidak menggubris sama sekali apa yang dikatakan oleh Sindy. Bahkan ia mulai memaju mundurkan pinggangnya.   "aah kauhhh sempithhhh" racau Alan yang merasakan dinding lubang Sindy menjepit miliknya. "jangan gigit bibirmu" lanjut Alan ketika melihat Sindy masih menggigit bibirnya untuk menahan desahan. Sindy tidak menanggapi perkataan Alan dan tetap menggigit bibirnya.   Plak. Satu tamparan mendarat dipipi Sindy karena Alan merasa kesal jika Sindy menahan desahannya. Alan malah makin mempercepat gerakan pinggulnya dan mencium bibir Sindy agar gadis itu tidak menggigit bibirnya. Tak lama kedua orang beda usia itu mencapai klimaks bersama. Alan langsung mengeluarkan miliknya dari dalam tubuh Sindy dan langsung berdiri meninggalkan gadis manis itu sendirian.   ♠   Pagi dikediaman keluarga Kim. Pagi ini lelaki yang memiliki wajah tampan itupun bangun dengan wajah yang sangat kusut, seperti seorang yang kurang tidur dan sedang banyak pikiran. Terbukti dengan rambut yang acak-acakan dan kantung mata yang terlihat jelas disekitar matanya. Ia berjalan memasuki kamar mandi dengan malas. Lima belas menit berlalu dan Prana keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian seragam lengkap.   "astaga sayang kenapa dengan wajahmu?" tanya ny. Kim ketika melihat anaknya yang baru saja sampai dimeja makan.   "aku tak apa, ma" jawab Prana dengan tak semangat sambil duduk didepan ny. Kim.   "kau sepertinya kurang sehat, nak" kali ini tn. Kim yang berkata.   "aku hanya tak cukup tidu..itu saja, pa"   "apa kau sedang memikirkan sesuatu sampai kau tak bisa tidur?" tanya ny. Kim dengan nada khawatir.   "aku tidak apa, ma! jangan khawatir”   "kalau ada masalah ceritalah, papa akan membantumu"   "aku ingin mengatasinya sendiri, pa"   "kau yakin?"   "iya, pa"   "baiklah! terserah kau saja, kalau kau tidak bisa mengatasinya ceritakan"   “baiklah”   "ya sudah! sekarang ayo kita sarapan dan berangkat ok!” jeda ny. Kim sambil mengambilkan nasi untuk suaminya “....dan kau, Prana rapikan rambutmu dan wajahmu sebelum berangkat" lanjut ny. Kim yang langsung mendapat anggukan dari anak tampannya itu.   Meskipun orang tua Prana sibuk, tapi mereka selalu membantu anaknya jika anaknya dalam kesulitan. Entah itu masalah kecil atau besar, mereka akan ikut andil dalam hal tersebut. Tapi, ketika anak mereka ingin menyelesaikan masalahnya sendiri mereka akan menyerahkan semuanya pada Prana sendiri, tapi jika anaknya sudah menyerah barulah tn. Kim akan ikut andil dalam hal itu.   ♠   Di sekolah. Kini Prana sudah sampai di sekolahnya. Lelaki tampan itu berjalan santai dikoridor sekolah seperti biasa. Oh ya soal tampilan Prana tadi, ia sudah merubahnya menjadi Prana yang biasa. Ia kembali terlihat seperti bintang sekolah dengan rambut yang tersisir rapi dan mata panda yang sudah tak terlihat lagi-berterimakasihlah pada ny. Kim yang memberikan lotion pada mata Prana tadi.   Seperti biasa jika Prana datang, para gadis akan berjajar dikoridor sekolah hanya untuk melihat Prana dipagi hari. Prana yang melihat hal itu yang selalu terjadi itupun membuatnya merasa tak nyaman dan berujung mengabaikan teriakan para gadis yang ada dikoridor.   "ada apa dengan wajahmu itu?" tanya Jonatan ketika Prana sudah sampai ditempat duduknya.   "bukan urusanmu” jawab Prana.   "masalah kemarin?" tanya Jo lagi.   "aish diamlah!" kesal Prana sambil menatap tajam kearah Jonatan. Lelaki aneh yang ditatap tajam itupun hanya mengedikkan bahu dan tidak melanjutkan pertanyaannya kepada Prana. Melihat sifat lelaki tampan itu saja membuatnya tahu jika Prana sedang merasa tidak baik dan ia yakin itu karena kejadian kemarin. Jonatan tidak habis pikir kenapa Prana harus bersifat seperti itu ketika tidak bisa mengantar Sindy pulang ke rumah. Sebegitu sukanyakah Prana dengan Sindy sampai tidak suka melihat Sindy pergi dengan orang lain, terutama dengan Aldi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN