7

1428 Kata
Jam pulang sekolah pun tiba, Aldi masih duduk dibangkunya dan tidak buru-buru untuk meninggalkan kelasnya ketika semua temannya sibuk membereskan barang-barang dan pergi dari kelas tersebut. Lelaki mancung itu malah duduk manis dikursinya sambil melihat kearah gadis berkacamata bulat yang sedang membereskan barang-barangnya. Lelaki mancung itu berencana untuk meminta maaf kepada gadis tersebut atas apa yang ia lakukan tadi diuks. Tak lama kelas itupun sepi dan hanya menyisakan mereka berdua didalam kelas. Aldi memasukkan buku dan bolpoinnya yang ada diatas meja kedalam tasnya. Lelaki tampan itu melihat gadis berkacamata itu berdiri dari kursinya dan Aldi langsung menyusul gadis tersebut.   “Sindy tunggu” katanya ketika melihat gadis berkacamata itu akan keluar dari kelas. Gadis berkacamata yang dipanggil Sindy itupun berhenti dari langkahnya dan menoleh kebelakang. Ia terkejut ketika melihat Aldi yang memanggilnya.   “ada apa?” tanya Sindy dengan nada sedikit takut kepada Aldi.   “emmzz, aku ingin minta maaf kepadamu atas kejadian tadi diuks” ucap Aldi ketika lelaki itu sudah berada didepan Sindy dengan sedikit gugup. “sebenarnya aku tidak bermaksdu melakukan itu padamu..itu hanya-“ jeda Aldi.   “hanya?” tanya Sindy ketika melihat Aldi tidak melanjutkan ucapannya.   “hanya tidak sengaja melakukannya, itu saja” kata Aldi kemudian, melanjutkan perkataannya tadi. Sindy yang melihat wajah Aldi melanjutkan ucapannya tadi itupun merasa heran. “aku benar-benar minta maaf, Sin” kata Aldi lagi, kali ini sambil memegang tangan Sindy dan membuat Sindy terkejut dan langsung menarik tangannya kembali. “aku serius meminta maaf padamu, Sin” kata Aldi lagi mencoba meyakinkan Sindy agar memaafkannya.   “benarkah kau serius?” tanya Sindy karena merasa sedikit ragu dengan permintaan maaf lelaki mancung itu. Sebenarnya Sindy tidak bisa marah kepada orang lain, apalagi ketika mereka meminta maaf padanya ketika melakukan sesuatu yang salah. Ia pasti memaafkannya asal orang itu serius mengatakannya.   “iya aku serius” jawab Aldi meyakinkan Sindy jika ia benar-benar serius dengan permintaan maafnya.   “jika kau serius, aku akan memaafkanmu” jawab Sindy dan hal itu membuat Aldi senang seketika. Lelaki mancung itu hampir saja memeluk Sindy sebelum gadis manis itu menjauh darinya.   “ah maaf…aku sangat senang kau memaafkanku” jawab Aldi sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sindy hanya diam melihat Aldi tersenyum. Ia jadi berfikir apakah memaafkan Aldi itu benar-benar keputusan yang tepat yang ia lakukan. “apa kau mau pulang bersamaku?” tanya Aldi setelah mereka terdiam untuk beberapa saat.   “emm..aku tidak bisa pulang bersamamu” jawab Sindy menolak ajakan Aldi dengan sopan. Ia tidak mau Aldi benar-benar mengantarnya pulang karena cukup Prana yang tahu daerah rumahnya. Lagi pula ia harus pergi bekerja hari ini.   “kalau begitu kita jalan kedepan bersama” Aldi masih berusaha mengajak Sindy untuk pergi bersama. Sindy hanya menganggukkan kepalanya singkat dan mulai berjalan meninggalkan kelas. Aldi kembali tersenyum dan mengikuti Sindy dari belakang.   ♣   Prana berjalan keluar dari dalam kelasnya setelah bel pulang berbunyi dan guru yang mengajar kelasnya juga sudah keluar. Ia berjalan santai dikoridor kelas satu dan menuju kelas Sindy berada. Lelaki tampan itu berniat untuk meminta maaf kepada Sindy tentang kejadian tadi diuks dan mengajak gadis manis itu untuk pulang bersama hari ini. Ia berharap tidak bertemu dengan Aldi karena ia sangat tidak suka dengan lelaki mancung itu. Apalagi setelah ia melihat Aldi melakukan hal itu diuks tadi. Sampai dipersimpangan koridor antara kelas satu dan dua, Prana berhenti karena melihat Sindy dan Aldi berjalan berdampingan bersama. Lelaki tampan itu menatap Aldi dengan tajam dan begitu juga dengan sebaliknya. Sedangkan Sindy menatap Prana dengan sedikit terkejut. Ia tidak menyangka akan berpapasan dengan Prana dipersimpangan koridor seperti ini. Ketika melihat ekspresi wajah lelaki tampan itu membuat Sindy berpikir bahwa saat ini Prana sedang marah atau tidak suka melihat Aldi. Gadis manis itu kemudian menoleh kepada Aldi dan melihat tatapan lelaki itu juga sama dengan Prana. Sindy jadi bingung harus melakukan apa kepada kedua lelaki yang sedang saling tatap dengan tajam satu sama lain itu. Bisa saja Sindy meninggalkan keduanya, tapi ia takut mereka akan melakukan hal yang berbahaya. Bisa saja kan, mereka berkelahi setelah Sindy meninggalkan mereka. Kemudian gadis manis itu menghela nafas ketika tidak tahu harus melakukan apa.   “ayo kita jalan lagi, Sin!” ajak Aldi, tapi masih menatap Prana dengan tajam. Sindy bingung harus menjawab apa ketika mendengar ajakan itu.   “kak, pulang denganku” kata Prana sambil memutuskan tatapan tajamnya dari Aldi dan beralih menatap lembut kearah Sindy. Hal itu makin membuat Sindy bingung. Dalam hati gadis manis itu berdoa agar ada yang menolongnya dari situasi seperti ini.   ♣   Jesi dan Jonatan yang berjalan bersama dikoridor itupun berhenti ketika melihat tiga orang dipersimpangan koridor kelad satu dan dua. Oh ya kenapa mereka berdua bisa berjalan bersama? itu karena Jonatan menjemput Jesi di kelasnya yang ada dilantai dua. Meskipun tidak kelantai atas, tapi Jonatan menunggu gadis cantik itu disamping anak tangga. Sebab itulah mereka sekarang berjalan bersama. Entah sejak kapan juga mereka berdua saling dekat satu sama lain meskipun Jesi kadang merasa jengkel dengan sifat Jonatan yang kadang tidak jelas sama sekali. Gadis cantik itu juga tidak mungkin menjauh terus dari Jonatan karena lelaki aneh itu selalu mengganggunya disetiap mereka bertemu satu sama lain. Saking sering diganggu oleh Jonatan membuat Jesi terbiasa dengan kehadiran lelaki aneh itu dan membiarkan Jonatan dekat dengannya. Asalkan lelaki itu tidak memiliki niat tersembunyi saat mendekatinya. Gadis cantik itu mengajak Jonatan menghampiri ketiganya. Ia merasa bahwa Sindy membutuhkan bantuan sekarang.   “ada apa ini?” tanya Jesi ketika ia sampai ditempat ketiga orang itu. Suara Jesi membuat ketiga orang itu menoleh kearahnya dan Jonatan. Sindy yang melihat kedatangan kedua orang itupun bernafas lega. Jonatan yang merasa ketegangan diantara ketiganya itupun menghampiri Prana dan merangkul bahu lelaki tampan itu.   “hei kawan…kau tidak pulang? ayo kita pulang bersama” ajak Jonatan kepada Prana sambil melihat kearah Jesi dengan mengedipkan sebelah matanya. Bukannya Jonatan genit hanya saja ia sedang memberikan kode kepada Jesi agar membawa Sindy pergi atau mengajak gadis berkacamata itu pulang bersama. Jesi yang mengerti maksud Jonatan itupun merangkul Sindy.   “ayo kita jalan bersama, Sin” katanya sambil tersenyum kearah Sindy. Gadis manis itu hanya milihat Jesi yang merangkulnya. “boleh aku bawa Sindy, kan?” tanya Jesi sambil melihat Aldi dan Prana bergantian.   “aku-“   “tidak” potong Aldi saat Prana akan mengatakan sesuatu.   “kenapa?” tanya Jesi pada Aldi dengan tatapan tajam.   “karena aku ingin jalan dengannya” jawab Aldi.   “aku yang akan mengantarnya pulang” kata Prana dengan suara agak tinggi dan membuat semua yang ada disana menoleh kepadanya. Sindy yang menjadi rebutan itupun menghela nafas kasar.   “aku lupa jika tadi aku sudah ada janji dengan kak Jesi jadi aku akan pergi dengannya” jawab Sindy mengambil keputusan sebelum terjadi keributan diantara Prana dan Aldi. Kemudian ia langsung menarik Jesi untuk pergi dari sana.   “ayo kita pulang, kawan” kata Jonatan mengajak Prana pergi dari sana juga. Prana hanya pasrah ketika Jonatan mengajaknya jalan kearah parkiran meninggalkan Aldi disana sendirian. Lelaki itu merasa kesal dan meninju udara untuk melampiaskan kekesalannya. Rencananya gagal untuk memaksa Sindy pulang bersama dan itu semua karena Prana. Adik kelasnya itu sungguh menyebalkan, menurutnya.   ♣   Prana yang masih dirangkul oleh Jonatan itupun melepaskan tangan lelaki aneh itu dari bahunya. Ia menampakkan wajah kesal dengan cemberut. Lelaki itu benar-benar kesal saat tidak jadi mengantar Sindy pulang ditambah lagi ia melihat Sindy berjalan bersama Aldi dikoridor tadi. Hal itu membuatnya bertanya-tanya kenapa mereka kembali bersama setelah kejadian itu. Apakah Sindy tidak marah dengan Aldi setelah diperlakukan seperti itu oleh lelaki mancung itu.   “tidak usah memasang wajah seperti itu” kata Jonatan yang melihat wajah Prana. Lelaki tampan itu tidak menanggapi perkataan tersebut. Ia malah melangkah lebih cepat dan meninggalkan Jonatan dibelakangnya. Lelaki yang ditinggal itupun hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mengikuti Prana dengan berlari kecil.   ♣   “terima kasih, kak” kata Sindy ketika mereka sudah keluar dari kawasan sekolah.   “tidak masalah” jawab Jesi sambil tersenyum kepada Sindy. Kemudian kedua gadis itu berjalan ditrotoar dengan diam. Entah kenapa Jesi menjadi memikirkan keadaan Sindy yang sering dibully oleh siswi lain dan entah kenapa juga Aldi dan Prana terlihat saling merebutkan Sindy seperti itu. Jesi jadi penasaran dengan apa yang ada didiri Sindy yang membuat kedua lelaki itu terpesona dengan gadis manis itu. Ia juga tidak mengerti kenapa Sindy tidak disukai oleh banyak siswa/i di sekolah. Padahal menurutnya gadis manis itu tidak melakukan apapun yang bisa merugikan orang lain yang ada disekitarnya.   “semoga saja ada yang melindunginya” kata Jesi dalam hati, berharap agar Sindy dilindungi oleh orang lain dari pembully-an yang ia dapat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN