Kelas 1-B.
Prana saat ini sedang duduk didalam kelas dengan diam tanpa ada niatan untuk mendengarkan penjelasan sang guru didepan kelas. Meskipun tatapan lelaki itu menuju papan tulis, tapi pikirannya tidak ada disana sama sekali. Awalnya lelaki tampan itu ingin menjaga Sindy yang ada diuks karena ia sangat khawatir dengan gadis manis itu, tapi penjaga uks menolaknya dan menyuruhnya untuk kembali kekelas dan mengikuti pelajaran. Jonatan yang melihat Prana seperti tidak fokus itupun menulis sesuatu dikertas yang ia sobek dan memberikannya kepada Prana dengan cara digeser diatas meja.
‘kau kenapa?’ tulis Jonatan dikertas itu. Prana yang melihat tulisan Jonatan itupun hanya menggelengkan kepalanya sambil melihat lelaki aneh itu.
“pak, boleh saya pergi ketoilet?” tanya Prana sambil mengangkat tangannya, meminta izin kepada guru yang sedang menerangkan didepan kelas itu.
“hmm pergilah” jawab guru itu yang memperbolehkan Prana keluar dari kelasnya. Jonatan hanya menatap kepergian Prana dengan pikiran yang masih sama, ‘ada apa dengan lelaki itu?’.
Setelah disetujui oleh sang guru, Prana keluar dari dalam kelas. Ketika ia keluar dari kelas, bukannya ia berjalan menuju ketoilet melainkan kearah uks berada. Ia benar-benar merasa khawatir dengan Sindy dan tidak bisa mengalihkan pikirannya dari gadis manis berkacamata yang saat ini sedang menenangkan diri diuks. Tak lama Prana pun sampai didepan ruang uks. Lelaki tampan itu melihat uks yang tampak sepi dan ditutup itu dengan diam didepan pintu. Pasalnya jika penjaga uks ada didalam, uks tersebut tidak pernah ditutup. Dengan penasaran Prana membuka pintu uks dengan pelan karena takut akan mengganggu Sindy yang ada didalam. Prana berjalan masuk sambil membuka pintu itu dengan lebar dan hati-hati.
Brak.
Srek.
Bugh.
Prana memanting pintu uks ketika melihat seorang lelaki yang tidak ia kenal sedang melakukan sesuatu kepada Sindy. Lelaki tampan itu juga memukul lelaki yang tidak ia kenal itu hingga tersungkur dilantai uks.
“ck, pengganggu” decak Aldi yang dipukul oleh Prana sambil berdiri dari tersungkurnya. Ia menatap tajam Prana yang juga menatapnya tajam. Mereka saling tatap satu sama lain dengan tajam. Sindy yang melihat keduanya saling tatap dengan tajam itupun menghela nafasnya.
“kalian berdua keluar” kata Sindy dengan suara agak lirih.
“tapi-“
“keluar!” potong Sindy ketika Prana akan melayangkan protes.
Dengan pasrah kedua lelaki itu keluar dari ruang uks dengan wajah yang kecewa untuk Prana dan kesal untuk Aldi karena kesenangannya diganggu oleh lelaki yang bernama Prana itu.
Baru saja mereka menginjakkan kaki diluar ruang uks, sang penjaga uks yang pergi tadi datang dan melihat kedua lelaki yang ekspresinya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia juga terkejut ketika melihat Prana yang juga ada disana.
“kenapa kau disini, Pran?” tanyanya kepada Prana.
“aku hanya lewat…aku akan kembali ke kelas sekarang” jawab Prana dengan pelan dan pergi begitu saja dari depan uks dan meninggalkan Aldi dengan sipenjaga uks.
“Sindy sudah bangun, aku akan kembali kekelas juga” baru saja sang penjaga uks akan bertanya pada Aldi, namun lelaki tampan itu sudah mengatakan sesuatu terlebih dahulu dan meninggalkan sipenjaga uks didepan ruang uks. Wanita yang memakai jaz putih khas dokter itupun hanya bisa melihat kedua lelaki itu dengan tatapan tidak mengerti. Ia kemudian menedikkan bahunya sebelum berjalan masuk kedalam uks dan melihat keadaan Sindy.
♦
Aldi masuk kedalam kelasnya tanpa permisi padahal kelas tersebut masih dalam proses pembelajaran. Guru yang melihat kedatangan Aldi itupun menghentikan lelaki yang berjalan menuju bangkunya.
“dari mana kau, Al?” tanyanya.
Aldi yang mendengar pertanyaan tersebut itupun berhenti dari langkahnya dan tanpa melihat sang guru, ia menjawab.
“aku disuruh menjaga Sindy diuks oleh penjaga uks karena dia memiliki urusan lain” jawab Aldi dan setelah itu ia kembali berjalan menuju bangkunya. Guru yang mendengar jawaban Aldi itupun hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan pelajaran yang tadi sempat tertunda karena kedatangan lelaki tampan itu.
Lisa yang mendengar jawaban Aldi tadi itupun merasa kesal dan tidak suka jika Aldi menjaga Sindy atau peduli dengan gadis cupu itu. Sudah bisa menebak bukan jika Lisa itu menyukai Aldi dan lelaki tampan itu sama sekali tidak melihat dan peduli padanya dan itu hanya karena Sindy yang menurutnya tidak ada hal yang menarik dari gadis cupu berkacamata tebal itu.
“kenapa bisa?” kata Lisa pelan sambil mengepalkan tangannya.
♣
Aldi yang sudah duduk dibangkunya itu hanya melihat keluar jendela tanpa ada niatan untuk melihat atau mendengarkan penjelasan dari sang guru. Ia tidak peduli dengan hal itu saat ini karena pikirannya penuh dnegan Sindy. Bahkan lelaki tampan itu malah memegang bibirnya yang tadi mencium bibir Sindy. Ia tidak tahu jika bibir gadis manis itu sangat lembut dan manis. Ia juga tidak berfikir jika wajah Sindy akan seputih dan selembut itu. Jujur saja Aldi sangat menyukai bibir Sindy yang lembut itu. Ia jadi ingin menciumnya lagi. Sepertinya lelaki tampan itu tidak salah pilih gadis yang ia sukai. Semua yang ada didiri Sindy itu sempurna menurutnya.
“sial, dia pasti marah padaku” gumam Aldi pelan ketika mengingat apa yang sudah ia lakukan tadi diuks ketika Sindy bangun.
“sepertinya aku harus minta maaf padanya nanti” gumam Aldi lagi. Ia harus minta maaf kepada Sindy secepatnya dan menjelaskan jika apa yang ia lakukan tadi itu hanya ketidaksengajaan. Mungkin dengan begitu, Sindy akan memaafkannya.
♣
Prana kembali kedalam kelas dan duduk dikursinya kembali dengan diam. Jonatan yang melihat wajah Prana makin buruk itupun semakin banyak pertanyaan yang muncul diotaknya tentang lelaki tampan yang ada disebelahnya itu. Jonatan tidak mengerti dengan Prana sama sekali karena lelaki itu sering berubah dengan cepat. Prana yang merasa ditatap oleh seseorang itupun menoleh kearah Jonatan sekilas sebelum memilih menatap jendela yang ada disampingnya. Ia lebih memilih untuk melihat keluar jendela daripada melihat wajah aneh Jonatan yang terkadang menyebalkan itu. Ia juga tidak peduli dengan pelajaran yang sedang berlangsung didalam kelasnya itu yang ia pikirkan adalah soal Sindy dan lelaki yang ia ketahui namanya adalah Aldi saat Prana melihat nametag yang bertengger manis didada kanan lelaki mancung itu. Ia tidak tahu siapa lelaki itu, tapi yang jelas ia tidak suka ketika melihat Aldi memperlakukan Sindy seperti itu. Ia saja belum pernah melakukan itu kepada Sindy, tapi kenapa lelaki mancung itu berani melakukannya dan memaksa Sindy ketika Prana dengan jelas melihat bahwa Sindy menolak perlakukan lelaki itu.
“hah” Prana menghela nafas dengan pelan ketika mengingat hal itu dan membuatnya sangat kesal setengah mati. Seakan ia ingin menghajar Aldi habis-habisan.
“aku sepertinya harus minta maaf” gumamnya lagi dengan pelan ketika mengingat wajah Sindy yang sulit dijelaskan tadi. Ia harus minta maaf kepada gadis manis itu agar Sindy tidak menjauh darinya dan Prana bisa mendekati Sindy lagi dengan perlahan.
♣
Sindy yang sudah merasa lebih baik itupun memilih kembali kekelasnya berada untuk mengikuti pelajaran terakhir. Meskipun ia tahu jika ia berada disatu kelas yang sama dengan Aldi, tapi mau tidak mau gadis manis itu harus menghadapinya dan harus ikut pelajaran terakhir. Dengan diantar penjaga uks, gadis itu kembali kekelasnya. Awalnya Sindy menolak keras keinginan wanita itu, tapi penjaga uks harus bilang kepada guru yang mengajar kelasnya jika Sindy benar-benar ada diruang uks.
Tok tok tok.
Ketukan itu membuat seorang lelaki dengan rambut putihnya menghentikan pelajaran yang sedang berlangsung. Lelaki berambut putih itu kemudian membuka pintu kelas tersebut.
“oh Risa…ada apa?” tanya lelaki tua itu kepada Risa sipenjaga uks.
“saya kesini untuk mengantar Sindy kembali kekelas karena tadi ia mengalami shock jadi ia istirahat diuks, Pak”
“oh begitu…apa kau sudah tidak apa-apa, Sin?” tanya lelaki tua itu sambil melihat Sindy.
“iya pak..saya sudah tidak apa-apa” jawab Sindy pelan.
“ya sudah masuklah kedalam…terima kasih sudah mengantarnya, Ris”
“sama-sama pak, saya permisi” Risa langsung pergi dari kelas tersebut dan lelaki tua itu kembali menutup pintu dan melanjutkan pelajarannya.
Aldi yang mendengar nama Sindy disebut itupun melihat kearah pintu dan melihat gadis manis itu masuk kedalam kelas dengan perlahan. Ia tersenyum melihat Sindy sudah baik-baik saja. Sindy duduk dibangkunya dengan diam dan mengeluarkan alat tulisnya. Ia mulai mendengarkan pelajaran. Aldi terus melihat Sindy yang dengan serius menyimak apa yang diterangkan lelaki tua berambut putih itu didepan sana. Ia terus memandang punggung Sindy tanpa berkedip. Gadis berkacamata yang merasa ditatap oleh seseorang itupun menoleh kebelakang dan tatapannya bertemu dengan tatapan milik Aldi. Sindy langsung mengalihkan tatapannya kembali kedepan dan mendengarkan apa yang guru tua itu terangkan.
Tak hanya itu, Lisa yang kesal dengan kembalinya Sindy dengan selamat itupun mengepalkan tangannya ketika melihat Aldi dan Sindy saling tatap untuk beberapa saat tadi.
“awas saja kau” gumam Lisa pelan.