bc

MY SOULMATE

book_age16+
848
IKUTI
4.2K
BACA
second chance
sensitive
drama
sweet
bxg
city
like
intro-logo
Uraian

Ketika Hati merasa Nyaman, maka Cinta akan datang beriringan dengan rasa Nyaman

“Ku tak pernah tahu perasaan apa yang kurasakan dihari pernikahan ku dengan mu. Yang ku tahu kaulah suamiku. My Soulmate”

Danita Fidelya

“Kebahagiaan dalam hidupku adalah melihatmu bahagia. Bisa menjadi pendengar yang baik untukmu dalam suka maupun duka”. Adelion Gibran

Sesungguhnya hati tahu dimana harus berlabuh. Seperti perahu yang tahu dimana harus menepi.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
Hari Bahagia Penuh Cinta “Ehem,,,” Janu berdeham disamping sang tunangan yang sedang asik memandang jari cantiknya, sudah tersemat cincin tunangan mereka beberapa jam lalu. “Kenapa mas? Kamu haus? Aku ambilin minum ya,” Delya menawarkan dengan senyum manis  yang tak kunjung pudar. “Enggak sayang, Mas bingung liat kamu senyum-senyum terus. Takutnya nanti ada yang liat, kamu dikira udah gak waras sayang” ucap Janu seraya menjawil hidung mancung Delya, dan dibalas dengan pukulan dipaha Janu seraya mereka tertawa bersama. *** Seulas senyum terus menghiasi wajah manis Delya, saat melewati lobby kantornya. Beberapa karyawan yang menyapa atau sekedar membungkukan badan memberi hormat, hanya dibalas dengan senyum manis yang memancarkan kebahagiaan. Hari ini Delya hanya memeriksa beberapa laporan penjualan online shopnya. Karena di jam makan siang nanti, ia akan bertemu dengan Janu untuk makan siang bersama. Selanjutnya mereka akan pergi ke tempat-tempat yang akan disurvei, untuk acara pernikahannya nanti. Waktu sudah menunjukan pukul setengah satu siang, hampir dua puluh menit Delya menunggu Janu yang tak kunjung datang ke restoran tempat mereka janji bertemu. Dua gelas milkshake strawberry telah tandas Delya minum, akhirnya yang ditunggu pun datang. Melihat Janu dari kejauhan berjalan menghampiri kearahnya, dengan cepat Delya memasang wajah cemberutnya karena kesal menunggu terlalu lama. Janu yang sudah sampai dihadapan sang pujaan hati pun, mencium kening Delya dengan penuh cinta. “Kok calon istri Mas cemberut sih? Calon suaminya udah dateng loh ini,” ucapnya seraya membelai rambut panjang Delya dan segera duduk, dikursi kosong samping Delya. “Kamu lama banget sih Mas datengnya? Habis kemana dulu? Aku nunggu kamu disini udah hampir jamuran loh,” rajuk Delya. “Mana jamurnya Sayang? Coba mas lihat,” ucap Janu sambil terkekeh “Iiiihh kamu becanda terus ah aku sebel. Ya sudah kamu mau pesan makan siang apa? Aku gak makan udah kenyang, minum milkshake dua gelas karena lama nungguin kamu,” tanya Delya. “Kamu pesenin apa aja pasti Mas makan kok, kan kamu tau apa makanan kesukaan Mas.” “Oke aku pesan, Mas yang makan ya.” ujar Delya dan Janu menganggukan kepalanya sebagai sebuah jawaban, seraya mengelus pipi Delya dengan sayang. *** Setelah selesai makan siang, Delya dan Janu mendatangi beberapa gedung pernikahan untuk survei. Tapi sudah banyak yang mereka datangi, belum ada tempat yang cocok bagi keduanya. Hari sudah sore, mereka memutuskan untuk pulang dan melakukan survei gedung pernikahan dilain hari. Janu mengantarkan Delya pulang kerumahnya, dan seperti biasa Janu akan menyempatkan diri untuk mampir walaupun hanya sebentar, sekedar bertegur sapa dengan calon Ibu mertua, dan adik iparnya. Karena, Janu sudah begitu dekat dengan dua wanita paling penting dalam hidup Delya tersebut. Sesampainya dirumah Delya, mereka berdua langsung disambut oleh Arawinda. “Assalamualaikum...” ucap Delya dan Janu bersamaan. “Waalaikumsalam anak-anak kesayangan ibu. Cuci tangan langsung ya, cicipin deh Ibu baru selesai buat brownies. Mudah-mudahan kalian suka,” ujar Arawinda pada putri dan calon menantunya. “Apapun yang Ibu buat aku pasti suka, Bu.” ujar Janu dengan rona wajah bahagia. “Kamu memang anak tampan kesayangan Ibu.” “Oh jadi calon menantunya itu anak kesayangan ya Bu?” sahut Delya dengan memasang wajah cemberut. “Ya ampun anak manjanya Ibu, cemburu sama calon suami sendiri, udah yuk ah kita cicipin brownies buatan ibu.” Mereka menghabiskan waktu bersama, bercengkrama membahas rencana acara pernikahan, seraya menikmati brownies lezat buatan Arawinda. Jam menunjukan pukul delapan malam, Delya dan Janu sedang duduk di ayunan yang ada ditaman belakang rumah. Delya bersandar di lengan kekar Janu, dan jemari yang saling bertautan. Janu mengelus puncak kepala Delya dengan penuh kasih sayang, menikmati kebersamaan mereka malam ini. Merasakan belaian lembut dikepalanya, rasa kantuk menghampiri Delya. Dalam hitungan menit pun Delya memejamkan matanya. “Sayang kok malah tidur disini sih, nanti Mas gak kuat gendong kamu loh buat bawa masuk ke kamar.” Delya yang belum sepenuhnya tertidur pun mencubit pinggang Janu. “Sakit sayang, kok malah nyubit,” ucap Janu seraya mengusap pinggangnya yang terasa panas setelah dicubit Delya. “Abisnya Mas bilang gak kuat gendong aku, emang aku gendut banget apa?” “Mau kamu gendut atau enggak, Mas akan selalu jadi pendamping kamu sayang. Lagian tadi Mas cuma bercanda. Kalau kamu ngantuk ya udah kamu tidur di kamar jangan disini. Mas pamit pulang ya.” “Kok pulang sih Mas? Aku masih pengen sama Mas.” “Tapi kamu ngantuk sayang, kamu lelah ya mengelola perusahaan kamu sendiri?” “Gak apa Mas aku lelah sekarang membangun perusahaan, nanti setelah kita punya anak aku akan minta Kimi yang mengelola perusahaan aku.” “Mas siap bantu kamu sayang kalau memang kamu membutuhkan bantuan.” “Mas fokus sama perusahaan Mas saja dulu, kita sama-sama membangun perusahaan kita masing-masing semoga bisa sukses. Lagian kan perusahaan kita bergerak dibidang yang beda Mas.” “Tapi Mas rela mempelajari apapun itu demi kamu saying.” “Makasih Mas. I love you” “I love you too, my fiance.” ucap Janu tulus seraya mengecup punggung tangan Delya. Hari semakin larut, Janu pun berpamitan untuk pulang. Setelah berpamitan pada Arawinda dan Kimi yang sedang berbincang diruang keluarga. Delya mengantar Janu sampai ke pintu rumahnya, setelah melihat sang pujaan hati pergi meninggalkan halaman rumahnya, wanita itu kembali masuk kedalam rumah. Delya memasuki kamarnya dengan badan yang terasa lelah, karena seharian berkeliling Kota Jakarta untuk survei gedung pernikahan. Setelah membersihkan badan, Delya merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur miliknya. Sebelum memejamkan mata untuk menjemput mimpinya, Delya mengambil ponsel diatas nakas samping tempat tidurnya. Lalu wanita itu mengirimkan sebuah pesan pada pria yang sangat dicintainya. Anda                      : Mas sudah sampai rumah? My Fiance             : Kamu buntutin Mas ya, kok tau Mas baru masuk rumah? Anda                      : Karena aku tahu berapa lama Mas butuh waktu untuk sampai dirumah. Ya sudah Mas langsung mandi, terus tidur. Lusa kita harus survei gedung pernikahan lagi, jadi kita harus jaga kesehatan dan istirahat yang cukup. My Fiance             : Iya Sayang, kamu juga istirahat ya. Maaf besok mas gak bisa mampir kerumah dulu. Banyak pekerjaan yang harus Mas selesaikan. Good night calon istri kesayangan Mas. Anda                      : Iya Mas gak apa-apa. Aku juga besok lumayan sibuk karena Kimi mulai belajar mengelola perusahaan untuk bantu-bantu aku. Good night calon suami kesayanganku. Setelah membalas pesan Janu, Delya mengembalikan ponselnya keatas nakas. Dengan perasaan yang begitu bahagia, karena tidak menyangka hubungannya dengan Janu yang sudah dijalin selama 3 tahun, akan melangkah kejenjang yang lebih serius. Rasa kantuk semakin menghinggapi Delya, dan dalam hitungan menit Delya sudah menyelami alam mimpinya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Bukan Calon Kakak Ipar

read
146.6K
bc

Mrs. Fashionable vs Mr. Farmer

read
440.5K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

MANTAN TERINDAH

read
10.1K
bc

Accidentally Married

read
110.2K
bc

Long Road

read
148.5K
bc

Maaf, Aku Memilih Dia!

read
230.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook