Kak Sarah terus saja menutup matanya, sampai ia tidak lagi mendengar suara ayah dan juga ibu. Ia duduk jongkok sambil menahan kedua kaki yang terus saja bergetar hebat. Ia terus menciut karena begitu terkejut dengan semua kenyataan yang tengah ia hadapi saat ini. "Sarah!" panggil ibu datang untuk mendekati. Lalu beliau menarik tangan kak Sarah. "Ayo sarah!" sambungnya seraya menahan rasa sakit dan juga tampak menangis. Aku berdiri bersama kak Sarah dan berlari mengikuti langkah keduanya. Sambil menangis, kak Sarah menuju pintu keluar. Tetapi saat ibu membuka pintu, ternyata pintunya terkunci. Saat itu, ibu memutuskan untuk menarik tangan kak Sarah ke kamar. "kita tidak bisa keluar saat ini," kata ibu. "Kamu harus tenang, Sarah! Dan kita akan menunggu waktu yang tepat." Ibu terdengar sud

