Permintaan aneh.
Happy reading.
"Kamu harus menikah Lara, Papa sudah mempersiapkan semuanya. Jadi, kamu nggak bisa menolaknya."
Ruang kerja lantai 2 terasa sesak, pendingin disudut ruangan tidak berpengaruh bagi Lara. Permintaan Sang Papa membuatnya semakin sesak.
"Tapi, Pah. Aku nggak mau menikah dengan pilihan Papa, aku masih bisa mencari pria baik-baik untuk ku sendiri."
"Kamu menolak permintaan Papa?"
Lara menghela nafas panjang, harum aroma ruangan mahal milik sang Papa yang biasanya menenangkan, kini justru terasa mencekik bagi Lara. Di atas meja jati yang dipoles mengilap, tergeletak selembar foto pria dengan senyum yang terlalu sempurna. Sejujurnya, tipe pria yang disukai Lara, tapi ia harus menolak dengan tegas karena seseorang.
"Dia lulusan terbaik, Lara. Keluarganya memegang kendali atas separuh manufaktur di Jawa Barat. Kamu akan menjadi menantu kesayangan Pak Hady jika kamu menerimanya," suara Raditya Papa dari Lara terdengar berat dan final.
Lara berdiri di hadapan meja itu, jemarinya meremas tali tas kulitnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap ayahnya, pria yang selama dua puluh lima tahun ini ia puja, namun malam ini tampak seperti orang asing yang sedang menegosiasikan kontrak barang pecah belah.
"Papa sedang bicara soal saham atau soal hidupku?" suara Lara pelan, namun ada getaran baja di dalamnya.
Raditya mendongak, matanya menyipit. "Jangan dramatis. Kamu sudah dewasa. Cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, dan Papa yakin kamu akan bahagia dengan pilihan Papa."
Lara tersenyum pahit. Sejak kecil ia selalu mendapatkan perlakuan berbeda dari Papanya, tidak hanya sekali saja. Bahkan, berkali-kali Lara selalu mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan saudara kembarnya.
"Nanti malam kita akan bertemu dengan anak teman Papa, kamu dandan yang cantik agar Andre Hadiwijaya menerima kamu."
"Aku tidak akan datang ke makan malam itu, Pa," ucap Lara tegas.
Suasana seketika membeku. Pak Raditya berdiri, posturnya mengintimidasi. "Kamu tahu apa konsekuensinya dari penolakan ini? Kamu nggak akan dapat suami yang baik, kaya raya dan juga mapan seperti anak teman Papa."
Lara menarik napas panjang kembali. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia harus menolak permintaan Papa kandungnya. Bukan, ia tidak menyukai pilihan Papanya. Hanya saja ia sudah mempunyai alasan tertentu untuk menolak calon suaminya.
"Tarik saja semuanya, Pa," ujar Lara tanpa menoleh lagi."Aku akan tetap menolaknya, lebih baik pilihan Papa buat Lavia saja bukan untukku."
Lara duduk termenung disudut kamarnya, sejak perdebatan kecil dengan Sang Papa. Lara sengaja tidak keluar kamar, bahkan untuk makan malam siang saja Lara sama sekali tidak peduli.
"Maafkan aku Pah, kali ini aku menolak permintaan Papa bukan karena aku nggak suka tapi semata-mata hanya untuk Lavia." gumam Lara.
Beberapa jam lalu.
"Lara, aku ingin sesuatu darimu."
Lara menghela nafas panjang, ia sudah tahu apa yang selanjutnya terjadi ketika saudara kembarnya yang berbeda lima menit saja meminta sesuatu kepadanya.
"Kamu mau apa lagi dariku, Via. Apa selama ini permintaan mu tidak cukup?"
"Tidak, sampai kapan pun aku akan selalu meminta apapun darimu. Karena, aku yakin kalau kamu pasti akan mengabulkan untukku."
Lara menatap wajah wanita didepannya, tidak ada yang berbeda dengan wajah Lavia. Hanya, ada satu yang membedakan diantara mereka yaitu ada bekas jahitan di sekitar dahi Lara. Lavia mempunyai wajah sempurna, sedangkan Lara ada bekas jahitan.
"Aku mau pilihan Mama menjadi milikmu dan pilihan Papa menjadi milikku."
Lara mengerutkan keningnya, masih tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan oleh Lavia saudara kembarnya. Masalah pilihan kedua orang tuanya yang harus ditukar, bukankah selama ini Lavia selalu menuruti apapun yang diberikan kepada kedua orang tuanya.
"Kamu mau apa? Coba jelaskan secara detail, kali ini aku nggak mengerti apa yang kamu mau."
"Calon suamiku untukmu, sedangkan calon suamimu untukku."
Degh.
"Maksudmu kita tukaran suami?"
***
Makan malam tiba, kedua keluarga besar sudah berada di ruang makan keluarga Hadiwijaya. Lara yang malam ini terpaksa datang karena bujuk rayu Sang Mama kepadanya.
"Sebelum makan malam dimulai, kami akan memperkenalkan putra kedua kami terlebih dahulu kepada Pak Raditya."
"Silahkan, setelah anda memperkenalkan putra kedua anda. Saya, juga akan memperkenalkan salah satu Putri kami yang akan menjadi menantu anda."
Lara mengepalkan kedua tangannya, sungguh ia ingin keluar dari ruangan yang sangat menyesakkan ini. Pergi jauh dan menyingkir dari drama memuakkan seperti sekarang, namun Sang Mama memberikan gestur tubuh yang menyuruhnya untuk tetap diam mendengarkan apa yang diucapkan oleh kedua belah pihak.
"Perkenalkan putra kedua kami, namanya Andre Hadiwijaya. Saat ini sedang mencari calon istri yang baik dan tentunya cantik, karena Andre ingin mempunyai keturunan baik seperti ayah dan ibunya."
Lara menatap wajah Andre dengan tatapan tidak suka, walaupun memiliki wajah tampan. Andre terlihat begitu berbeda dengan pria yang berada disebelah kanannya.
"Sepertinya, Andre sangat cocok buat Lara. Putri kembar saya, dan mereka akan cocok sekali."
"Pah, aku nggak mau. Aku sudah menolak perjodohan ini, kenapa masih saja menjodohkan aku dengan-"
"Stop! Lara, kamu ingin seharusnya berterima kasih sudah Papa jodohkan dengan Andre. Kenapa kamu malah menolak perjodohan ini?"
Lara diam, ia tidak melanjutkan apa yang ingin ia ucapkan. Suara Sang Papa sudah mewakilkan agar Laras diam tanpa harus berdebat.
"Pah, Lavia mau dijodohkan dengan Andre. Aku lebih pantas dengan Andre dibandingkan Lara, Papa tahu kalau aku mempunyai wajah cantik tidak seperti Lara."
Semua mata tertuju kepada Lavia, memang wajah Lavia sangat cantik tanpa ada sedikitpun bekas jahitan seperti diwajah Lara. Dan, mereka semua menyadari bahwa Lavia memang lebih cantik dari Lara walaupun mereka semua tahu Lara juga terlihat cantik seperti Lavia.
"Kamu mau menikah dengan Andre?" tanya Pak Raditya kepada Lavia.
"Ya, Pah. Aku menyukai Andre, dan aku yakin kalau Andre juga akan menyukai aku seiiring waktu berjalan."
Semua mata tertuju kepada Andre, mereka juga ingin mengetahui apakah Andre setuju dengan keputusan mendadak yang dilakukan Lavia saat ini.
"Andre, apa kamu setuju?"
Andre menatap secara bergantian Lara dan Lavia, jika boleh jujur Andre lebih menyukai Lara dibandingkan Lavia. Andre menyukai kepribadian Lara yang sangat berbeda dengan Lavia, namun Andre menyadari jika ia membutuhkan calon istri yang tidak hanya cantik saja. Andre juga membutuhkan wanita yang tegas seperti Lavia.
"Baiklah, aku setuju Pah. Aku mau menikah dengan Lavia, aku butuh wanita yang tegas seperti Lavia."
Lavia bersorak gembira, akhirnya ia bisa mendapatkan calon suami seperti Andre Hadiwijaya. Ia sudah membayangkan jika suatu saat nanti setelah menjadi istri dari Andre, dunia glamornya semakin menyala lebih dari biasanya.
"Yes, aku jadi menikah dengan Andre. Sebentar lagi aku akan menjadi istri dari pengusaha sukses," ucap Lavia dalam hatinya.
"Lalu, sekarang hanya tinggal Lara yang belum mempunyai pasangan. Bagaimana kalau kita jodohkan saja dengan putra pertama kita ini?"
Degh.
Lara menegang, ia menatap wajah pria yang tidak kalah tampan dari Andre. Anak pertama dari keluarga Hadiwijaya yang selama ini berada di Jakarta, dan terkenal dengan sikapnya yang introvert serta dingin dengan wanita manapun.
"Rasya, bagaimana pendapatmu untuk Lara? Apakah kamu setuju jika kami dijodohkan dengan Lara?"
"Kalian nggak menanyakan perihal perjodohan ini dengan Lara? Apakah setuju atau tidak jika menikah denganku?"