Lara Prameswari

1021 Kata
Happy reading Lara menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar hotel itu. Gaun kebaya berwarna putih tulang yang melekat di tubuhnya terasa jauh lebih berat daripada bobot kain aslinya. Hari ini adalah hari pernikahannya, sebuah acara yang ia setujui setengah hati hanya karena permintaan saudara kembarnya yang ingin bertukar suami. "Akhirnya, aku menikah dengan Andre. Dan, kamu menikah dengan Rasya." Begitulah kata-kata Lavia kepadanya, dan pernikahan mereka berlangsung saat ini. Lavia yang terlebih dahulu menikah, sedangkan Lara hanya menunggu kedatangan Rasya yang sebentar lagi akan sampai. Sejujurnya Lara mulai menyukai Andre calon suaminya yang ingin dijodohkan dengannya, namun permintaan Lavia membuatnya harus memilih Rasya dibandingkan Andre. "Rasya sudah berubah, Rasya sekarang begitu dingin dan introvert. Berbeda sekali dengan Rasya yang dulu, aku harus ektra sabar menghadapi suami model Rasya," gumam Lara. Suara riuh rendah terdengar dari ruang utama hotel. Lara menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak karuan, sejak pagi ia belum melihat kedua orang tuanya yang seharusnya memberikan semangat. Lara cukup sadar kalau mereka pasti memberikan semangat kepada Lavia dibandingkan dengan nya, dan ia sudah terbiasa akan hal itu. "Lara, ayo keluar. Keluarga pria sudah menunggu," bisik Mamanya, lembut namun tegas. Lara melangkah perlahan. Kepalanya menunduk, memandangi ubin marmer yang mengkilap. Ia merasakan puluhan pasang mata menatapnya dengan penuh binar kebahagiaan, kontras dengan hatinya yang terasa beku untuk momen sakral seperti ini. Saat ia sampai di depan panggung kecil, langkahnya terhenti. Ia mendengar suara dehaman yang sangat ia kenal. Suara yang biasanya tegas dan wibawa, kini berubah menjadi lembut dan halus kepada calon suaminya. "Silakan, Nak Rasya. Cara ijab kabul akan segera dimulai," ujar sang pembawa acara. "Rasya, jadi aku benar-benar menikah dengan Rasya Hadiwijaya." Ia memberanikan diri mendongak. Di depannya berdiri seorang pria dengan kemeja putih dibalut jas hitam. Pria itu terlihat kaku dan dingin, tanpa senyum sedikitpun. Sungguh sangat berbeda ketika ia bertemu terakhir kalinya. "Oh, Ya Tuhanku. Kesalahan apa yang pernah aku lakukan sehingga aku harus menikah dengan pria seperti ini?" "Kamu kira aku mau menikah denganmu? Jangan bermimpi Ra, aku terpaksa mengiyakan permintaan Bunda untuk menikah denganmu." *** Sinar matahari sore menerobos masuk melalui celah jendela kamar Lara, menerangi butiran debu yang menari di udara. Di pangkuannya, sebuah album foto tua dengan sampul beludru yang mulai menipis terbuka lebar. Jemari Lara berhenti pada sebuah lembar yang menampilkan foto dua anak kecil dengan es krim yang belepotan di wajah mereka. Lara tersenyum kecil. Ia bisa merasakan dadanya sedikit menghangat ketika melihat foto tersebut. Pikiran Lara melayang ke sepuluh tahun yang lalu. Rasya kecil adalah definisi dari keriuhan. Ia selalu menjadi yang pertama memanjat pagar dan yang terakhir turun dari pohon mangga di belakang rumah nenek. "Ayo, Lara! Kalau diam saja di sana, kamu nggak bakal tahu rasanya jadi burung!" teriak Rasya dari dahan yang cukup tinggi, membuat jantung Laras kecil berdegup kencang karena cemas. Lara akhirnya memberanikan diri memanjat, hanya karena tidak ingin ditinggalkan. Lalu dengan sekuat tenaga dan keberanian, akhirnya Lara berhasil mencapai atas. Ia dan Rasya berada diantara rimbunnya daun hijau, mereka berbagi rahasia yang terasa sangat besar bagi anak seusia mereka. "Kamu memang pemberani, dan aku sangat suka wanita seperti mu." "Kenapa, suka dengan wanita sepertiku? Bukankah semua orang menyukai wanita seperti Lavia." "Aku menyukai wanita tangguh, percaya diri dan juga cantik. Dan, semua itu ada didalam dirimu," jawab polos Rasya. Lara tersenyum kecil, apa yang baru saja diucapkan oleh sahabatnya membuat kupu-kupu di dalam hatinya menari-nari bahagia. Selama ini banyak yang menyukai Lavia, saudara kembarnya itu memang sangat cantik menurutnya. Walaupun mereka hanya berbeda lima menit saja, Lavia selalu menjadi sorotan publik dibandingkan dirinya. "Nanti, kalau aku dan kamu sudah dewasa. Aku akan datang ke rumahmu untuk menjadikan kamu sebagai istriku, dan kita akan hidup bahagia Lara." Lara mengangguk cepat, walaupun ia belum mengerti apa yang baru saja diucapkan oleh Rasya. Akan tetapi, ia akan menyetujui apapun itu. "Besok, kita akan bermain lagi di sini. Aku akan menunggumu," "Baik, kita akan bermain lagi. Sampai jumpa besok, Rasya. Keesokan harinya. "Ra, ayo bermain denganku?" "Nggak, aku nggak mau bermain lagi denganmu. Lebih baik kamu bermain saja sama Lavia, aku lebih suka bermain sendiri." "Kenapa? Apa aku membosankan?" "Ya, kamu membosankan. Kamu lebih cocok bermain dengan Lavia dibandingkan denganku, jadi lebih baik pergi dari sini." Laras menutup album itu pelan, menimbulkan suara buk yang tumpul di keheningan kamar. Foto-foto itu diam, tidak bergerak, namun ingatan di kepala Lara begitu hidup. Ia teringat bau tanah setelah hujan dan tawa cempreng Rasya yang selalu bisa mengalahkan suara guntur. Dulu, kebahagiaan sesederhana berbagi satu bungkus permen karet atau bersembunyi di bawah meja saat main petak umpet. "Waktu mungkin mengubah kamu menjadi orang asing seperti sekarang Rasya," batin Laras sambil menatap keluar jendela, "tapi anak perempuan di dalam foto itu selalu merindukan mu Rasya." Lara menghela napas panjang, menyimpan kembali album itu ke dalam laci. Ia tahu, masa lalu memang tidak bisa diulang, tapi setidaknya, ia punya bukti bahwa dulu, ia pernah memiliki dunia yang begitu ajaib bersama Rasya. Dan, sekarang dunia ajaib itu sudah berada di depan matanya. "Lara, kamu dipanggil Mama. Suamimu sudah menunggu mu sejak tadi," ucap Lavia saudara kembarnya. "Ehm, tunggu sebentar. Aku sedang mengepak barang-barang ini, lima menit lagi selesai." "Oh, iya. Selamat ya atas pernikahan mu dengan sahabat kecilmu, akhirnya kamu menjadi istri seorang pria yang selama ini ada di dalam album fotomu itu." Lara diam, apa yang Lavia katakan itu memang benar. Lara pada akhirnya menikah dengan Rasya pria yang menjadi sahabatnya dulu, namun semuanya telah berubah seratus delapan puluh derajat. Rasya tidak seperti dulu, dan Lara menyadari bahwa perubahan Rasya itu semua kesalahannya sendiri. "Kamu nggak mengucapkan selamat juga untukku, Lara. Akhirnya, aku menikah dengan Andre yang mempunyai wajah sempurna. Harta Andre begitu banyak, dan yang terpenting jabatan Andre itu lebih tinggi dari Rasya." "Ehm, selamat Lavia. Kamu telah menjadi istri Andre, dan semoga pernikahan kalian bahagia." Lavia tersenyum bangga, ia telah berada satu tingkat lagi dari Lara. Pernikahannya dengan Andre begitu mewah, dan ia begitu bahagia mendapatkan suami seperti Andre. "Kalau begitu cepatlah turun! Suamimu itu begitu dingin dan angkuh, aku tidak menyukainya." "Rasya berubah itu karena kamu, Lavia. Karena aku menuruti keinginanmu dulu," kata Lara dalam hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN