Happy reading.
Satu Minggu kemudian.
Suasana club malam itu begitu bising, cahaya neon ungu dan biru berkejaran di langit-langit, memantul pada gelas-gelas kristal di atas meja VIP.
Lavia menyesap minumannya dengan tenang, matanya yang tajam melirik ke arah Lara, saudara kembarnya yang tampak terlalu tegang malam ini.
Lara adalah definisi gadis baik-baik, sedangkan dirinya kebalikannya. Lavia menatap saudara kembarnya terus-menerus merapikan roknya, ia tahu Lara tidak menyukai suasana ramai seperti saat ini.
"Santai sedikit, Lara. Kamu seperti mau ujian skripsi, bukan mau senang-senang," goda Lavia sambil terkekeh.
"Aku cuma tidak terbiasa, Via. Bau asap dan alkohol ini menyesakkan," gumam Lara pelan.
Lavia tersenyum penuh arti. Ia meraih sebuah gelas kosong dan memanggil bartender dengan isyarat tangan yang elegan. Ia memesan sebuah racikan khusus sesuatu yang terlihat seperti jus buah segar yang tidak berdosa, namun memiliki tendangan tersembunyi di dalamnya.
"Malam ini kamu akan aku buat mabuk Lara, dan semua orang akan melihat keburukanmu."
Dengan gerakan cepat tanpa ada yang melihat, Lavia mencampurkan cairan putih dengan kadar alkohol yang cukup tinggi ke dalam gelas Lara, lalu memberikan secara langsung kepada Lara.
"Ini, cobalah. Ini hanya minuman tanpa alkohol. Aku pesankan khusus supaya kamu bisa sedikit lebih rileks," ujar Lavia dengan nada yang sangat meyakinkan.
Lara menatap gelas itu dengan ragu. "Benar tidak ada alkoholnya?" tanya Lara ragu.
"Benar? Tidak ada," bohong Lavia, menahan tawa di balik gelasnya sendiri.
Lara meminumnya. Awalnya hanya sedikit saja, lalu karena Lara merasakan ada sensasi manis dan segar, ia meminumnya hingga separuh gelas.
Lavia memperhatikan dengan saksama. Tidak butuh waktu lama sampai efeknya mulai bekerja, menit kesepuluh pipi Lara yang tadinya pucat mulai merona merah muda. Lalu tidak lama kemudian Lara mulai tertawa sendiri melihat lampu disko, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Dan tidak lama setelah itu Lara mulai berdiri dan menggoyangkan bahunya mengikuti irama musik techno yang keras.
"Lav! Kenapa kursinya jadi goyang-goyang?" teriak Lara sambil tertawa lebar, tangannya melambai-lambai di udara.
Lavia hampir tersedak minumannya sendiri melihat perubahan drastis itu. "Kursinya diam di tempat, Ra! Kamu saja yang terlalu bersemangat!"
Lara tiba-tiba menarik tangan Lavia. "Ayo dansa! Aku merasa seperti balon gas yang terbang tinggi, dan aku harus mengajakmu."
Lavia tertawa terbahak-bahak melihat saudara kembarnya yang biasanya kaku kini mencoba melakukan gerakan breakdance yang gagal total di samping sofa. Meskipun tujuannya hanya ingin mengerjai saja, namun ternyata menjadi tontonan bagus untuknya. Kapan lagi melihat Laras seperti ini pikirnya.
"Sepertinya besok pagi ada yang akan terkejut dengan kelakuan Lara malam ini, apalagi Rasya yang notabene sangat kaku dan juga dingin. Aku yakin Rasya akan memikirkan pernikahan dengan Lara kembali, dan pada akhirnya mereka cerai." bisik Lavia pada dirinya sendiri.
Malam ini, Lavia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan melihat sisi lain Lara yang liar. Tinggal selangkah lagi keinginannya akan menjadi kenyataan.
Pukul dua pagi, intensitas di klab mulai menurun, namun energi Lara justru sedang berada di puncaknya. Ia kini berdiri di atas sofa VIP, mencoba memimpin paduan suara imajiner sambil menyanyikan lagu pop tahun 2000-an dengan lirik yang sangat berantakan.
Lavia duduk di bawahnya, sibuk merekam setiap detik kejadian memalukan itu dengan ponsel. "Ini akan menjadi bahan cerita lucu untuk pernikahan mu Lara," gumam Lavia sambil menahan tawa yang membuat perutnya kaku.
Tiba-tiba, ada seseorang yang datang dari arah berlawanan. Dengan cepat pria itu mengendong Laras seperti mengangkat sekarung beras. Lavia pun mengikuti Lara dari belakang, ia ingin mencegah apa yang dilakukan oleh pria yang baru saja membawa saudara kembarnya dari tempat ini.
"Tunggu, siapa kamu? Kenapa kamu membawa saudara kembar ku dari tempat ini, turunkan Lara cepat!"
"Seharusnya, kamu sebagai saudara kembarnya berbuat baik bukan menjerumuskan hal-hal yang bodoh seperti sekarang."
"Hah, jadi itu Rasya. Bukannya, Rasya pulang Minggu depan."
Lavia menepuk dahinya, sepertinya ulah jahatnya kepada Laras saat ini akan mendapatkan masalah besar. Rasya yang ia tahu akan pulang Minggu depan, kini ada di depan matanya. Lavia menatap suami saudaranya itu dengan tatapan penuh kebencian kepadanya.
***
"Turunkan aku, kenapa kamu harus mengendong aku seperti karung beras?" teriak Lara keras kepada pria yang saat ini masih mengendongnya.
Lara lalu memukul punggung pria yang sampai sekarang ia belum ketahui adalah suaminya sendiri, bahkan Lara menambahkan gigitan kecil tepat dipunggung Rasya.
"Sejak dulu kamu nggak pernah berubah Lara, suka sekali mengigit pundakku."
"Rasya? Jadi, kamu Rasya."
"Siapa lagi? Memangnya kamu kamu memikirkan pria mana lagi selain suamimu ini," ucap Rasya kesal.
Lara berdiri sedikit tegak, ia menatap wajah pria yang baru disadarinya adalah Rasya suaminya sendiri. Entah mengapa saat ini Lara begitu ingin memeluk tubuh Rasya bahkan ingin sekali menciumnya, namun keseimbangan tubuhnya kembali goyah.
"Sejak kapan kamu peduli denganku? Bukankah kamu sangat membenci aku karena pernikahan ini," jawab Lara pelan.
"Tidur sudah malam, pekerjaan ku terhambat karena ulahmu. Jadi, tolong jangan ganggu aku malam ini."
Lara tersenyum kecil, melihat tingkah laku suami dinginnya malam ini. Bagi Lara, suaminya begitu menyebalkan dan juga memuakkan. Bayangkan saja, jika orang-orang setelah menikah melakukan honeymoon ketempat yang indah. Berbeda dengan mereka berdua, Rasya pergi melakukan perjalan keluar negeri tepat sehari setelah mereka menikah. Dan, ia benar-benar kesal dibuatnya.
"Pergi, sana! Aku nggak butuh suami seperti mu, lagi pula aku bisa jaga diri sendiri. Jadi, lebih baik kembali saja ke tempat kerjamu sekarang. Jangan memperdulikan aku," jawab Lara tegas.
Baginya, kehadiran Rasya tidak sepenuhnya menguntungkan bagi dirinya. Ia masih bisa mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan Rasya.
"Masuk ke dalam kamar Lara, atau aku gendong seperti tadi."
"Berisik, aku mau kembali ke klub tempat yang nyaman dengan Lavia. Kamu nggak perlu peduli denganku-"
Cup.
Di bawah temaram lampu ruang tamu, Rasya tidak lagi memberi ruang bagi Lara. Ia memangkas jarak yang tersisa, menangkup wajah Lara dengan kedua tangannya seolah sedang memegang sesuatu yang paling rapuh sekaligus paling berharga di dunia, kemudian bibir mereka bertemu dalam sebuah sentuhan yang penuh desakan rindu. Tidak ada jeda, tidak ada keraguan, ciuman itu mengalir begitu saja seperti air pasang yang meluap, dalam dan menuntut, mengunci segala napas dan menyatukan detak jantung yang semula berkejaran.
"Kamu terlalu banyak bicara, Lara. Aku benci perempuan cerewet," gumam Rasya.
Lara memejamkan mata, saat merasakan kehangatan Rasya yang begitu nyata, membiarkan jemarinya meremas ujung jaket lelaki itu sementara Rasya semakin memperdalam pagutannya, seakan-akan melalui sentuhan tanpa celah itu ia sedang menumpahkan seluruh janji dan rahasia yang selama ini hanya berani ia simpan dalam diam. Dunia di sekitar mereka seolah melenyap, menyisakan hanya gesekan halus napas yang tertahan dan rasa manis yang mencecap di antara bibir mereka yang saling bertaut erat, menolak untuk terlepas meski hanya untuk satu tarikan napas pendek sekalipun.