Sama-sama malu

1052 Kata
Happy reading Waktu seolah berhenti berputar di dalam ruangan itu. Rasya perlahan menarik wajahnya hanya beberapa milimeter, namun tetap membiarkan kening mereka bersentuhan dan napas mereka bercampur dalam ritme yang sama. Tangannya masih setia mendekap pipi Lara, ibu jarinya mengusap lembut sisa kelembapan di sudut bibir gadis itu. "Aku nggak akan minta maaf karena menciumu," bisik Rasya, suaranya serak dan rendah, bergetar tepat di depan bibir Lara. Lara membuka matanya perlahan, menatap iris gelap Rasya yang tampak begitu intens sekaligus rapuh. Ia mencoba mencari kembali suaranya yang sempat hilang tertelan euforia. "Kenapa kamu menciumku, Rasya? Bukankah kamu begitu membenciku?" Rasya diam beberapa saat, lalu sebuah tawa getir yang sarat dengan penyesalan. "Sejak dulu sampai sekarang, aku masih mencintaimu Lara. Aku terlalu takut untuk mengungkapkan kalau aku mencintaimu," lirih Rasya pelan. Lara menarik napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rasya, membiarkan aroma parfum maskulin yang bercampur sisa hujan menyelimuti indranya. "Maaf, aku membuat kamu membenciku dengan perbuatan ku dulu." Mendengar itu, Rasya mempererat pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Lara. "Kalau begitu, jangan suruh aku pergi malam ini. Sedikit pun jangan." "Aku nggak berencana melakukannya, aku hanya mengira kalau kamu membenciku." jawab Lara lirih sambil membalas dekapan itu, menyadari bahwa mulai detik ini, tidak akan ada lagi jalan kembali bagi mereka berdua. Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini bukan lagi keheningan yang canggung, melainkan suasana yang sarat akan ketegangan yang manis. Rasya menjauhkan wajahnya sedikit, hanya untuk menatap mata Lara, mencari kepastian di sana. Tangannya turun, menyusup ke sela-sela jemari Lara dan menggenggamnya erat, seolah takut gadis itu akan menguap jika ia melepaskannya. "Ra," panggil Rasya pelan, suaranya kini lebih tenang namun tetap dalam. "Ya?" "Kamu tahu kan, setelah ini segalanya bakal beda?" Rasya menatap jemari mereka yang bertaut. "Aku akan menunjukkan kepadamu kalau aku benar-benar cinta denganmu, selama ini akan aku berikan waktu yang terbuang sia-sia tanpa dirimu." Lara tersenyum tipis, sebuah lengkungan tulus yang jarang ia tunjukkan. Ia membawa tangan Rasya yang menggenggamnya ke arah pipinya sendiri, menikmat kehangatan kulit pria itu. "Siapa juga yang mau kamu pergi? Aku sudah cukup lelah dengan kelakuan mu yang menghindariku seperti dulu, aku hanya ingin kamu menjadi Rasya ku." Rasya membelalakkan mata sedikit, terkejut. "Jadi kamu setuju?" "Ya, aku mau kamu seperti Rasya yang dulu. Rasya yang begitu manis dan tampan, tidak seperti kemarin." Mendengar pengakuan itu, sorot mata Rasya berubah menjadi lebih gelap dan penuh tekad. Ia menarik tubuh Lara hingga tak ada lagi jarak di antara mereka, membuat punggung Lara bersandar pada dinding yang dingin, namun kontras dengan suhu tubuh Rasya yang kian memanas. "Kalau itu yang kamu mau," gumam Rasya tepat di telinga Lara, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Maka bersiaplah sekarang, karena aku nggak punya rencana untuk melepaskanmu sampai kapan pun. Mungkin malah nggak akan pernah." Sebelum Lara sempat membalas, Rasya kembali menunduk, kali ini mencium keningnya dengan penuh khidmat, lalu turun ke hidung, dan berakhir kembali di bibir yang sama. Kali ini dengan tempo yang lebih lambat, seolah ia ingin menyesap setiap detik kebersamaan mereka yang baru saja dimulai. Malam itu berakhir dengan percakapan panjang yang dibisikkan di bawah selimut, di mana rahasia-rahasia kecil yang selama bertahun-tahun mereka simpan akhirnya terurai satu per satu. Rasya tidak membiarkan Lara menjauh; lengannya menjadi bantal bagi kepala Lara, sementara jemarinya terus memainkan helai rambut gadis itu sampai kantuk perlahan membawa mereka ke alam bawah sadar dalam posisi yang saling mengunci. *** Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, melukis garis-garis emas di atas sprei yang berantakan. Lara adalah yang pertama terbangun. Ia merasakan beban hangat di pinggangnya, lengan Rasya yang masih memeluknya posesif bahkan dalam tidur. Lara terdiam sejenak, memandangi wajah Rasya yang tampak begitu tenang tanpa beban. Tidak ada lagi topeng yang kaku. Ia memberanikan diri menyentuh rahang tegas pria itu dengan ujung jarinya. "Pagi," suara serak khas bangun tidur tiba-tiba terdengar. Rasya tidak membuka mata, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Ia justru menarik Lara semakin mendekat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Lara. "Emm, pagi," jawab Lara sedikit gugup. "Sudah bangun?" "Belum mau bangun," gumam Rasya, suaranya teredam. "Aku takut kalau aku bangun dan buka mata, ini semua cuma sisa mimpi dari semalam." Lara terkekeh, tangannya beralih mengusap tengkuk Rasya. "Ini nyata, Sya. Aku di sini, dan kepalaku sakit karena kamu jadikan bantal tangan semalaman." Mendengar itu, Rasya langsung membuka mata dan bangkit bertumpu pada sikunya. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran besar. "Sakit ya? Maaf, aku cuma nggak mau kamu pergi." Ia menatap Lara intens, lalu tanpa aba-aba, ia mengecup singkat bibir Lara sebuah kecupan ringan yang terasa sangat domestik dan akrab. "Jadi," Rasya duduk di tepi ranjang, meregangkan otot-ototnya hingga tulang punggungnya berbunyi, lalu menoleh ke arah Lara dengan binar mata yang berbeda dari kemarin-kemarin. "Apa agenda kita hari ini, Ra?" Lara ikut duduk, merapikan rambutnya yang kusut masai sambil tersenyum lebar. "Mungkin mulai dengan sarapan yang benar? Dan berhenti bersikap seolah kita masih harus menjaga jarak satu meter setiap kali bicara." Rasya tertawa, tawa lepas yang terdengar sangat lega. Ia berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Lara. "Setuju. Tapi jangan harap aku bakal bersikap biasa lagi di depan umum nanti. Aku punya banyak waktu yang harus diganti karena terlalu lama memendam ini." Rasya menarik tangan Lara hingga istrinya itu berdiri tepat di hadapannya. Tanpa ragu, ia melingkarkan lengannya di pinggang Lara, menariknya masuk ke dalam pelukan yang erat dan hangat. Suasana pagi itu terasa begitu ringan, seolah beban berat yang selama ini mereka pikul telah menguap bersama embun. s "Aku akan buatkan sarapan. Kamu duduk saja, oke?" ujar Rasya sambil mengecup puncak kepala Lara. Lara menggeleng, menyandarkan dagunya di d**a Rasya. "Nggak mau. Aku mau bantu. Lagipula, aku belum yakin kamu bisa membedakan mana garam dan gula kalau sedang gagal fokus begini." Rasya tertawa renyah, sebuah suara yang kini menjadi musik favorit Lara. Mereka melangkah ke dapur kecil di apartemen itu dengan tangan yang tetap saling bertautan. Di sana, aktivitas sederhana seperti memecahkan telur dan menyeduh kopi berubah menjadi momen yang penuh dengan sentuhan-sentuhan kecil, senggolan bahu yang disengaja, atau pelukan singkat dari belakang saat Lara sedang menunggu roti panggang matang. "Sya, makan. Kenapa lihatin aku terus?" "Makanan ini jadi nggak ada rasanya, setelah melihat kamu yang begitu manis. Sampai aku ingin mencicipi mu lagi," ucap Rasya pelan. "Mau seperti semalam atau lebih dari itu?" "Lebih dari itu, dan aku nggak akan berhenti di tengah jalan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN