Penjelasan panjang

1477 Kata
Pukul sembilan tempat. Arya telah bangun sedari tadi. Badanya sudah enakkan, obat yang diberikan Abah kemarin sangat manjur. Tubuhnya sekarang merasa baikkan, walau tidak semua namun kebam di sekujur tubuhnya sudah mulai sembuh. Ia beranikan mandi setelah kemarin ia tidak pernah menyentuh air. “Bagaimana, Kak. Mendingan?” Tanya Nana. “Lumayan, herbal yang Abah berikan kemarin sangat manjur,” Terang Arya. Ia menyeruput teh hangat duduk di samping Nana, mereka berdua berbincang seperti biasa di ruang tamu. Tak lama Rosyid juga bergabung ke ruang tamu. Dengan segera Arya menghampiri Rosyid, menyalamknya “Terima kasih kawan, Terima kasih telah menyelamatkanku kemarin,” ucap Arya, ia bahkan sampai memeluknya. Rosyid menerima hal itu, sudah sewajarnya Arya berterima kasih kepada Rosyid. Seandainya bagi Nana hal itu mudah dilakukan, mungkin ia lebih dulu berterima kasih. Kemudian mereka bertiga berkumpul di ruang tamu berbincang ringan. Arya menanyakan sedikit banyak tentang Perguruan yang dianutnya. “Tapak Suci adalah Perguruan hebat. Walau di banyak daerah banyak juga Perguruan lain, namun bagiku tapak suci adalah Perguruan tanpa balas dendam, dan tanpa permusuhan. Bukan berarti aku mengatakan bahwa yang lain balas dendam, namun itu semua kembali kepada perorangan penganutnya bukan salah perguruannya. Memandang kelakuan Preman Tobe memang begitu, selalu saja membuat onar. “Tidak ada kapok-kapoknya mereka. Semoga perayaan besok berjalan semestinya, mentang-mentang mereka mengikuti Perguruan Percaya Diri bisa dengan mudah mempermainkan orang lain,” terang Rosyid. Jika mengenai maslahat atau kepentingan, Rosyid lebih suka membahasnya, lebih suka menyampaikan aspirasinya, membuka suara. Namun jika membahas yang tidak penting ia lebih baik bungkam, tidak mengerti apa-apa. “Sebenarnya siapa mereka?” Tanya Arya penasaran. Nana diam mendengarkan mereka berdua berbincang. Paras cantiknya terlihat memesona, ia mengenakan baju gantinya yang kemarin. “Ketua preman itu namanya adalah Tobe, dengan begitu kelompok preman itu dinamai dengan preman Tobe, mereka hanya beranggotakan lima orang, memang hanya tadi mereka berulah, sebelumnya sangat jarang. Mereka bisa melakukan apa saja tanpa menanggung malu karena Tobe adalah anak ke tiga ketua desa. Mangkanya ia berani melakukannya semua itu kemarin di toko Bibi Sati, namun tetap saja mereka memiliki batasan, beli harus bayar, berbuat onar juga harus menerima akibatnya jika tidak mau berhenti. Ia menggunakan nama ayahnya sebagai tameng, Orang-orang jengkel dengannya, namun hanya bisa menggunjingnya di belakang, tidak ada perlawanan. Mereka juga takut berurusan dengan Perguruan Percaya Diri itu karena para preman itu juga anggotanya,” terang Rosyid. Jadi seberapa nekat Rosyid dengan mudah memukuli preman itu jika risikonya lebih besar? Apalagi apa akan berimbas kepada pertentangan kedua belah pihak bela diri? Toh kan mereka yang memulai, siapa suruh. Arya juga mengalaminya, ia juga anak pertama ketua desa. Tapi setahunya tidak ada peraturan dalam kebebasan seenaknya kepada penduduk baik jabatan kepala desa itu sendiri apalagi anaknya, semua setara tidak ada yang berbeda, bahkan menjadi anak ketua desa tidak ada spesial sedikitpun, komunikasi di dunia luar semakin kecil menurutnya, entah karena faktor banyak yang tidak suka atau apalah itu, yang jelas menjadi anak dari ketua desa tidaklah enak seperti kebanyakan orang pikirkan. --- Rosyid menerangkan panjang lebar tentang Perguruannya dan status Tobe. Kedua kakak beradik itu baru paham kenapa ulah mereka sembrono dan sementang mentang. Jika tidak ditindak lanjuti mungkin mereka akan terus berbuat onar, dari kejadian kemarin semoga mereka sedikit kapok. Suasana kembali lenggang, tidak ada percakapan. Tak lama Nana membuka suara, ia penasaran dengan statusnya dengan keluarga Abah ini. “Eh, rumahmu di mana? Dan orang tuamu, apakah mereka sehat?” Tanya Nana polos. Ia membuka topik percakapan. Seketika tatapan Rosyid tajam ke arah Nana. Dengan nada dalam ia berbicara, “Apa kau menghinaku?” Seketika seolah waktu berhenti berjalan, angin dingin berembus pelan menggetarkan hati. Jantung Nana seketika berdegup lebih kencang, takut-takut menatap pandangan Rosyid. Rosyid mengela nafas panjang, sebentar memejamkan mata, ia memaklumi bahwa Nana adalah pendatang baru. Tidak perlu dimasukkan di hati soal tadi. Agar suasana lebih rileks, Rosyid menjelaskan, “Orang tuaku sudah lama meninggal saat aku masih duduk di sekolah dasar. Abah adalah teman dekat ayahku, mereka menjalin persahabatan yang erat, hingga ayahku berwasiat sebelum meninggalnya menitipkan aku yang merupakan anak satu-satunya. Abah tidak keberatan soal itu, dan sampai sekarang aku besar di rumah ini, jika kalian masih disini berarti itu tandanya malam nanti aku akan tidur di sofa ini. Tapi tidak perlu khawatir, Abah mengajarkan bahwa terhadap tamu harus di muliakan, jadi anggap saja ini seperti rumah kalian, dan itu berarti kebersihan rumah ini juga tanggung jawab kita bersama.” Kalimat terakhir Rosyid menenangkan, ia pandai bersilat kata, yang tadi Arya bingung mau ngapain, sekarang ia tenang dan tahu status Rosyid. Namun tidak bagi perasaan perempuan seperti Nana, ia tertunduk, ia sedang menggigit bibir, dalam benaknya memang ia sangat tidak berguna, kenapa coba ia menanyakan hal konyol itu kepada Rosyid, tentu ia akan marah jika bersangkutan dengan masalah keluarga, bahkan ia sendiri tidak kuat jika mengenang masa Lallana yang robek menganga kembali terbuka, teringat semua kejadian mengerikan itu. Sungguh Nana sangat paham perasaan Rosyid saat ini, apa yang harus ia lakukan saat ini? Meminta maaf? Bahkan untuk mengucapkan Terima kasih saja sangat sulit, apalagi dengan hati yang kacau balau saat ini. Tak lama ia sedikit terisak, ia masih tertunduk, ia mengutuk dirinya sendiri, kedua tangannya saling meremas, kemudian dengan selirih kata “Maaf” ia berlari menuju kamar dan menutupnya rapat-rapat. Entah maaf tadi ia aturkan kepada siapa, yang jelas, maaf itu harus untuk dirinya sendiri karena telah malu menanyakan hal konyol tiba-tiba itu. Arya bingung ingin berbuat apa. Tak lama menyusul Nana ke kamar menenangkan adiknya dahulu adalah keputusan yang tepat. Rosyid masih duduk diam di sofa, sambil menghela napas panjang. --- Seolah waktu berjalan melambat, detik demi detik seolah tak berjalan. Hati Nana sakit sekali, entah apa yang dirasakannya saat ini, melihatnya berbaring di atas kasur sangat menyedihkan, tak lama Arya masuk ke kamar menenangkan hati kecil Nana yang sedang gelisah. “Jangan dimasukkan dalam hati. Semua itu hanya respon saja, kau berhak bertanya soal itu, agar semua jelas maksudnya, kau tidak bersalah, Dik.” Arya mengelus-elus kepala Nana, berusaha menenangkan. Tangis Nana tak mau berhenti, apalah jadi jika hati seorang perempuan terpukul seperti itu sangat dalam sekali. Hatinya seolah ditikam bagai jarum yang menusuk beribu kali lebih tajam. Sakit sekali. Arya malah bingung, ia berusaha memutar otaknya agar bisa menenangkan Nana. Tapi nihil tidak ada pengaruh apapun. Tak lama terlihat istri Abah di daun pintu, ia mendekati mereka berdua, dari keributan tadi istri Abah langsung ingin tahu apa yang terjadi, Arya menjelaskan kronologinya, istri Abah cepat mengerti keadaan, dan sebaiknya begitu, urusan perempuan diselesaikan dengan perempuan juga. Lebih saling mengerti perasaan mereka satu sama lain. “Nak, sudahlah!” kata istri Abah menenangkan. Nana tahu istri Abah sedang di dekatnya, perlahan ia mengurangi isaknya. “Duduklah, Nak. Coba tatap wajah Bibi sebentar saja.” Pinta Bibi, Nana menuruti kata Bibi, ia duduk sembari mengusap wajahnya yang sembab. “Kakakmu sudah cerita semuanya, dan itu bukan sepenuhnya kesalahanmu, Nak. Memang kenyataannya yang di katakan Rosyid memang benar, ia besar di rumah ini, dan kasur inilah tempat tidurnya setiap malam, berhubung kalian datang, Rosyid lah yang memberi keputusan bahwa ia rela tempat tidurnya yang setiap hari ia tak lupa bersihkan dipakai orang lain. Ia sangat beruntung memiliki teman sepertimu, kakakmu. Bisa menemani hari-harinya agar ia tidak kesepian lagi. Memang watak Rosyid demikian, ia petarung, Nak. Abah mendidiknya demikian, wataknya keras, dan selalu menolong orang yang kesusahan. “Jika engkau mau mengerti, Nak, Rosyid sangat suka engkau disini, dulu teman bermainnya adalah anak Bibi namun semenjak ia sudah beranjak dewasa sudah tidak ada lagi yang bisa ia ajak berbincang, ia ingin mempunyai teman perempuan seperti dulu lagi, yang bisa memberi perhatian kepadanya. Ia bahkan rela tidur di sofa demi tamunya bahagia. Hiraukan saja itu, Nak, karena ia yang inginkan semua itu, Pura-pura lah tidak tahu hal ini, agar Rosyid juga tidak sakit hati. Bukankah engkau ingin bilang Terima kasih kepadanya kan?” seolah istri Abah tahu isi pikiran Nana. Nana mendengarkan penjelasan istri Abah dengan seksama, tangisnya berhenti. “Ia suka makan sama seperti mu, Nak. Tapi kelemahan terbesarnya adalah ia tidak bisa memasak, dulu anak Bibi pernah mengajarinya namun ia menyerah, bilang bahwa Rosyid tidak bisa diajari memasak, ia hanya tahu cara bertarung dan makan. Tapi kamu adalah perempuan, Nak. Cobalah bilang Terima kasih dengan cara yang lain, atau bahkan engkau yang akan mendengar ucapan itu dari Rosyid, yaitu dengan cara engkau membuatkan Rosyid makanan kesukaannya dengan tanganmu sendiri. Bibi akan mengajarimu, bagaimana?” Nana sedikit tersenyum, apalagi mendengar soal memasak, namun ia tidak pernah memasak, memegang pisau saja takut. Tapi istri Abah menawarkan langsung, mungkin apa yang dikatakan istri Abah ada benarnya, ia bisa berterima kasih lewat cara lain, tidak harus mengatakannya secara langsung. Ia sekali lagi mengusap wajahnya yang sembab dan kembali bersemangat lagi, wajah cantiknya kembali terlihat, Arya juga lega adiknya bisa ditenangkan. Ternyata suami dan istri memiliki keahlian yang berbeda. Abah bisa mengobati luka fisik, sedangkan istrinya bisa mengobati luka batin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN