Siang terik, matahari mulai menyingsing naik ke atas cakrawala. Langit berwarna biru tanpa ada awan sedikit pun bergelantungan di atas langit. Suasana siang memang kadang membuat orang bisa mengenang masa lalu lebih baik lagi.
Kedua adik kakak itu memiliki rencana. Arya berjanji akan membantu Nana belajar memasak dengan istri Abah. Arya mengajak bicara Rosyid di teras sembari menikmati udara siang, ia lagi senggang tidak ada salahnya berbincang sebentar. Sedangkan Nana dan istri Abah mulai meracik bumbu, mereka menyiapkan makan siang.
“Jadi makanan kesukaan Rosyid adalah apa yang kamu makan dulu itu. Yaitu pepes ikan. Jadi begini cara membuatnya.” Nana memperhatikan apa yang dilakukan istri Abah. Tangannya lincah mengambil bumbu-bumbu dan meraciknya kemudian diaduk di satu layah. Nana masih memperhatikan dengan saksama. Selanjutnya istri Abah mengambil bahan utama yaitu ikan pindang. Kemudian mencampurkan dengan bumbu yang telah siap. Langkah selanjutnya adalah membungkus dengan daun pisang yang telah dibersihkan, Nana meniru cara yang dilakukan istri Abah, namun hasilnya sangat buruk, lipatan daun pisang itu banyak yang rusak tidak teratur. Nana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, istri Abah tersenyum melihat hasil dari Nana.
“Jadi caranya begini, Nak.” Dengan sabar istri Abah mencontohkan yang kedua kalinya. “Lipat dengan tangan kananmu daunnya seperti ini, setelah semua masuk maka tinggal kasih kayu kecil ini biar tidak terkelupas ketika direbus,” Terang istri Abah.
Nana sedikit bayak paham tentang pembuatan pepes ikan ini, kemudian istri Abah menyuruh Nana untuk meracik lagi bumbunya apa yang dicontohkan tadi. Nana mengingat ingat dengan saksama bahan apa saja yang diperlukan. Ia sedikit ragu ragu hendak mengambil bahannya, sebentar melirik ke istri Abah meminta keyakinan, istri Abah tersenyum kemudian mengingatkan kembali bumbu apa saja yang harus dimasukkan, dengan tanah dan penuh kesabaran istri Abah mengajarinya seperti anak sendiri.
Sepuluh menit berlalu mereka berdua masih sibuk berkutat di dapur, sedari tadi hanya tiga bungkus yang telah dibuat, itu pun yang satunya rusak buatan Nana. Takut-takut Nana melemaskan bumbu di layah, ini pertama kali buatnya.
Setelah sekian lama melumat bumbu, akhirnya Nana berhasil ditahap awal entah apa rasanya nanti yang terpenting Nana mendapatkan pengalaman tentang itu. Nana yakin bahwa buatannya akan sangat enak, itu adalah pikiran positif yang akan ter gambarkan di benak seorang perempuan, sebaliknya, di benak lelaki itu adalah racun yang membunuh jika seorang lelaki menjadi kelinci percobaan mencicipi makanan bagi perempuan yang baru pertama kali memasak.
Terus saja istri Abah meyakinkan dalam hati Nana bahwa ini adalah baru tahap awal kamu memasak, bilang bahwa masih banyak lagi tahap yang harus dilalui bagi perempuan untuk pandai memasak. Tidak putus asa Nana terus mengasah kemampuan memasaknya, tangannya lincah melumat lagi daging ikan yang bercampur bumbu. Sesekali mencicipinya, bilang ke istri Abah apa sudah cukup. Istri Abah mengangguk pelan sambil tetap terus tersenyum. Nana mulai percaya diri, ia meneruskan apa yang ia lakukan.
Tinggal proses merebus, setelah semua usai, bumbu-bumbu siap dan bungkusan pepes sudah di bungkus. Istri Abah mengambil dandang berukuran sedang, memasukkan air secukupnya kemudian memasukkan bungkusan pepes itu ke dalam dandang. Tinggal menunggu matang.
Arya dan Rosyid masih saling berbincang. Mereka membahas tentang status Arya, ia bercerita bagaimana saat di desanya dan bertemu banyak orang, tentang pemandangan desa Arya dan wisatanya. Rosyid mengangguk takzim senang memperhatikan Arya bercerita, kadang juga Rosyid bisa jadi pendengar yang baik. Ia adalah teman mengobrol yang baik. Paham apa alir dan arah pembicaraan orang.
---