Kelinci percobaan

829 Kata
Selayaknya teman lama. Arya dan Rosyid tambah memperdalam arah pembicaraan. Sambil menunggu makan siang jadi, mereka lebih baik lebih saling mengenal. Lima belas menit berlalu, akhirnya dandang mengepul asap tinggi, tanda bahwa pepes siap diangkat. Tidak hanya pepes istri Abah mengajari Nana membuat sup sayur yang enak. Kedua masakan itu sudah siap di hidangkan. Istri Abah memanggil Arya dan Rosyid untuk bergabung di meja makan, setelah semua bergabung dan saling mengambil nasi sendiri-sendiri. Tinggal sup dan pepes yang siap dihidangkan. Perasaan Arya sangat tidak karuan, ia tahu awal pertama kali ia memasak adalah waktu kuliah dulu dan yang menjadi korban dalam percobaan makanannya adalah teman satu kosnya sendiri, sejak saat itu temannya mules tiga hari keluar masuk kamar mandi. Sejak saat itu pula teman satu kosnya tobat tidak mau mencicipi makanan lagi bagi yang baru pemula belajar memasak. Saat ini pula, ketika pepes dihidangkan di atas meja makan, yang entah itu apa warna daunnya, dibilang hitam tidak, dibilang merah tidak juga. Sejenak Arya memandang ke arah Nana sambil menelan ludah, Nana yang di lihat malah tersenyum dengan polosnya, seolah senyumnya menandakan bahwa, ‘rasakan racun buatanku kakak, kalian yang akan menjadi kelinci percobaanku yang pertama, dan kalian akan berterima kasih sekaligus minta maaf kepadaku karena telah membuat hidangan ini juga telah mengusir lapar kalian siang ini.” Namun bagi Rosyid ia baik-baik saja, seolah pepes entah apa warnanya itu menjadi hal biasa baginya dan sup itu apa itu racun? Sekejap nafsu makan Arya menurun ia tidak lagi berselera makan. Nafsu makannya hilang. Rosyid mengambil pepes itu satu wajahnya mengembang senyum karena ini makanan favoritnya. Baru pertama kali ini Arya melihat Rosyid tersenyum terlihat wajahnya lebih bersahabat. Nana duduk di samping istri Abah, ia juga sama mengambil nasi dan pepes. Arya bermain aman, ia menunggu Rosyid mencobanya jika lidahnya menolak berarti itu petanda buruk. Dan jika ia tersenyum maka itu tandanya pepes yang dibuat Nana layak dimakan. Arya menunggu momen itu. Ketika pepes dibuka keadaan isinya masih sama dengan buatan istri Abah tempo lalu, Nana dan istri Abah sudah mulai makan dengan lahap. Ia masih menunggu momen Rosyid mencicipi pepes dan sup itu. Begitu tangan Rosyid perlahan menyantap pepes itu, seketika wajah Rosyid kembali tersenyum ia melanjutkan makannya. Jika tandanya begitu berarti aman sudah pepes dan sup itu. Arya baru mengambil pepes dan menuangkan sup secukupnya di atas piring yang ia sudah sediakan nasi. Ia juga lapar, setelah melihat Rosyid nafsu makannya mulai menambah, dalam pikiran Arya hebat juga Nana pandai memasak walau ini kali ia pertama memegang panci atau menyalakan kompor. Arya mulai mengaduk menjadikan satu dengan nasi dan sup. Mulai menyantapnya dengan senang, hatinya masih bahagia karena adik tercintanya sudah pandai memasak. Ketika Arya ingin memasukkan nasi yang bercampur cup serta pepes ikan, untuk pertama kalinya dalam mulut Arya, masakan yang dibuat Nana pertama kali, seolah bagaikan memakan keju dengan kopi, seketika itu entah apa yang dirasakan oleh lidah Arya, seperti lidahnya tidak berfungsi lagi. Jika ia memuntahkannya makan seisi meja makan akan merasa jijik tentunya. Dengan muka sangat masam ia mengunyah perlahan dan semakin dikunyah entah seperti apa keadaan lidahnya sekarang semua rasa tercampur menjadi satu, asam, pahit, manis, pedas, entah mana rasa ikan pindang yang asli tidak terasa sama sekali, seolah dalam pepes ini hanya ada merica dan laos. Arya masih memakannya pura-pura biasa saja, sedangkan Rosyid dan yang lainnya merasa biasa saja, seolah makanan yang sedang mereka makan sekarang ini adalah makanan terlezat yang pernah mereka makan. Arya masih kuat tiga suapan sedangkan di piringnya masih banyak nasi dan lauk. Ia tidak ingin menyakiti lagi hati kecil Nana, ia sudah agak mendingan sekarang ini mau makan bersama dengan Rosyid, tapi pikirannya mulai pusing, entah apa yang ia makan sekarang ini. Perutnya mulai mual tak karuan, melihat tingkah aneh Arya istri Abah segera mengambilkan air putih ia lupa soal itu, ketika istri Abah mengambil air di dekat kompor, sejenak istri Abah melirik ke arah piring putih kosong di dekat kompor, kemudian membawa air dan gelas kembali ke meja makan. Sebentar istri Abah melirik ke Nana dan bertanya, “Nak, bungkusan pepes yang kamu buat tidak jadi dibatas piring kosong samping kompor di mana?” tanya istri Abah. “Aku masukkan sekaligus yang itu, dijadikan satu sama yang lain di dandang,” Jawab Nana polos. “Itu kan yang kamu buat awal tidak jadi, Nak. Seharusnya kamu pisahkan itu, buat tidak tercampur dengan yang lain,” ujar istri Abah. Seketika mendengar fakta itu, jadi ternyata yang ia makan sekarang adalah pepes tidak jadi yang dibuat oleh Nana. Entah semua ini s**l atau apalah itu, yang jelas demi mendengar kenyataannya perut Arya berbunyi, ia ingin izin ke kamar mandi namun tidak sempat tubuhnya seketika limbung ke kiri, wajahnya pucat pasi, untung di kiri duduk Rosyid, ia dengan respek menyangga tubuh Arya yang ingin jatuh. Seketika melihat itu Nana dan istri Abah panik, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Seketika tubuh Arya diangkat ke atas kasur, wajahnya masih pucat pasi, sedangkan Nana tidak tahu apa yang terjadi panik sejadi-jadinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN