Permintaan maaf dan ucapan terimakasih

867 Kata
Sepuluh menit berlalu Arya masih belum tersadarkan, wajahnya masih pucat. Nana masih bingung mau ngapain, istri Abah tahu kenapa Arya tidak sadarkan diri, ia telah memakan pepes yang tidak jadi itu, pantas saja perutnya langsung mual. Dengan cekatan Rosyid mengambil air putih, Arya didudukkan dan dipaksa minum hingga air itu habis. Kemudian kembali tubuhnya dibaringkan, Nana khawatir dengan kondisi kakaknya, ia malah meracuni kakaknya sendiri. Lihatnya wajah Arya sekarang, pucat pasi seperti mayat. Demi melihat wajah panik Nana yang ingin menangis, segera Rosyid menenangkan. “Jangan khawatir. Dia baik-baik saja, hanya butuh waktu untuk menetralkan agar lambungnya menyesuaikan. Perutnya tidak terbiasa dengan makanan yang baru ia makan.” Tak lama Rosyid melangkah keluar kamar, “Mau ke mana kamu?” Tanya Nana penasaran. Rosyid menghentikan langkahnya, “Mencari kelapa hijau,” jawab Rosyid singkat. “Aku ikut!”. “Terserah” kata Rosyid. Tak lama Nana menyusul langkah Rosyid yang punggungnya sudah hilang dari daun pintu. Rosyid berjalan menuju dapur ia sedang menjadi belati panjang, Nana masih mengikuti langkah Rosyid. Ia tidak banyak bertanya. Rosyid dan Nana melangkah ke belakang rumah Abah disana tumbuh tiga pohon kelapa. Yang dua pohon kelapa biasa, dan yang satu pohon kelapa hijau. Ada beberapa buah menggelantung disana, pohonnya tidak terlalu tinggi. Rosyid mengambil tangga dan memberi isyarat ke arah Nana untuk memegangi tangga dari bawah, Nana paham soal itu ia melaksanakan tugas. Rosyid mulai menaiki anak tangga dengan hati-hati, Nana memperhatikan Rosyid dari bawah mendongak ke atas. Tak lama Rosyid mulai mencacah tangkai kelapa, satu kelapa jatuh, ia mencacah lagi, tak lama dua kelapa jatuh berdebum di tanah. Segera Rosyid turun. Pemuda itu cepat dalam mengambil keputusan seperti Abah. Tepat dan cepat. Ia sekarang sedang mencacah buah kelapa muda dengan belati yang tadi dapat dari dapur. Kemudian menyerahkannya kepada Nana bilang bahwa kakaknya harus segera minum air kelapa ini dengan segera. Nana segera membawa kelapa hijau itu ke Arya. --- Siang hari yang nyaman. Di belakang rumah Abah segar dan dingin, pohon bambu tumbuh banyak merapat di setiap batangnya. Banyak sekali. Membuat udara segar dan sinar matahari tembus melalui celah dedaunan yang rapat membuat suasana semakin tenang. Angin berembus menggerakkan pucuk-pucuk bambu, bergoyang pelan menimbulkan suara bergeretak merdu. Arya belum tersadarkan, namun ia sudah meminum air kelapa muda. Hanya butuh waktu sampai tubuhnya benar-benar beradaptasi dan menetralkan makanan itu. Nana duduk di samping kakaknya yang berbaring lagi, kemarin tubuhnya lebam karena dipukuli sekarang harus makan tidak enak dan akibatnya pingsan dan belum sadarkan diri. Wajah Nana kembali redup, memikirkan banyak hal tentang kesalahannya, tak lama ada suara yang mencegah ia berpikir seperti itu. “Sudahlah jangan terlalu dipikirkan.” Rosyid menimpali, ia sedang berdiri di ambang pintu, demi melihat wajah gadis itu terus redup ia tidak tega melihatnya. Rosyid melangkah ke dalam menyeret kursi, ia juga ikut menunggu Arya sampai sadarkan diri. “Itu bukan seratus persen kesalahanmu. Tidak mengapa menyalahkan diri sendiri, dan sepatutnya begitu. Namun itu tidak berlaku selamanya, Nana,” Kata Rosyid. Baru pertama kali ini Rosyid menyebut nama Nana, seketika hati Nana sedikit berdesir. Tetap mendengarkan Rasyid bicara. “Abah pernah mengajariku satu hal, jika ada manusia tanpa adanya masalah maka masalah terbesarnya adalah ia tidak mengetahui apa masalahnya. Kamu adalah orang yang memang diberi kelebihan, Nana. Allah langsung memberitahukan apa masalahmu, dan tinggal solusinya saja yang belum terpecahkan, kamu harus mencari sendiri solusinya. Jika kamu berbuat salah kepada orang lain, jalan keluar terbaik dan paling utama adalah meminta maaf, dan jika kamu diberi oleh orang lain jalan keluar terbaik adalah berterima kasih.” Sebenarnya Nana tahu soal itu, ia ingin sekali berterima kasih, dan mudah sekali meminta maaf kepada Arya karena ia kakaknya sendiri, orang yang ia kenal. “Dan untuk makanan tadi, walau rasanya sedikit berbeda dengan yang dibuat oleh istri Abah, tapi rasanya tetap enak, kamu berbakat memasak, Na. Hanya sekejap langsung paham dan buatanmu tidak buruk-buruk amat,” Komentar Rosyid. Nana seketika tersenyum. Pipinya sedikit memerah. “Dan terima kasih dengan semua itu, serta maafkan aku soal tadi, bukannya aku marah kepadamu, itu bukan salahmu, Na. Aku saja yang menanggapinya terlalu berlebihan, kami berhak bertanya soal itu, tolong jangan minder dan sakit hati soal tadi, sekali lagi maafkan aku.” Tidak Nana duga, ia mendengar kata “terima kasih” sekaligus “minta maaf” langsung dari Rose padahal ia yang ingin berterima kasih dan meminta maaf namun seolah pemuda itu tahu isi dalamnya hati wanita, ia mengutarakan itu sebelum wanita sempat dan bahkan malu mengungkapkannya. Akhirnya permasalahan yang runyam telah terselesaikan dengan salah satu pihak mau mengalah, dan itulah kuncinya, karena Rosyid lebih berpengalaman, ia mengawalinya dengan menyalahkan diri sendiri dan meminta maaf. Selesai sudah permasalahan yang rumit. Kadang kita juga harus perlu meminta maaf terlebih dahulu, menyalahkan diri sendiri agar permasalahan selesai dengan cepat. Kadang juga terkait soal perselisihan tidak melulu kita yang harus berkorban, karena pelaku harus ditemukan dan itu tabiat yang memang harus ada. Sesuatu yang biasanya menurut kita sepele, namun bagi orang lain itu adalah hal yang besar dan berpengaruh terhadap hatinya, dengan begitu andai kata kita hanya berbicara suka rela ceplas-ceplos begitu kepada orang lain, kita tidak tahu apa kau ada dalam kalimat kita uang menyinggung perasaan bahkan menyakiti hati orang lain, baik lelaki maupun perempuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN