SASA & SOSRO
KACA DI KOTAK LACI !
Rumah penuh kaca itu dibangun dekat dengan pegunungan. Seraya menghormati pemandangan di sana dengan kesejukan alam. Kaca-kaca bening jendela membuat cahaya mentari mudah menyinari.
Semua serba kaca, bahkan perabotan makan hampir semua terbuat darinya. Jika ada tamu yang berkunjung, maka pandangan pertama kali adalah melihat interior ruang tamu. Bagaimana tidak, semua terbuat dari kaca. Mulai dari patung miniatur, lemari, meja, kursi. Seseorang memiliki daya tarik khusus tentang asal dari air menjadi kristal ini.
Untung saja yang memilikinya bukan orang yang memiliki sifat sedingin kaca. Bukan siang hari ia bangun, melainkan pagi sekali ia sudah beranjak dari tempat tidur setelah merapikannya. Bangunnya mendahului alarm yang diaturnya sendiri, karna ini hari libur, mungkin itu salah satu alasan ia bangun pagi sekali.
Ia membuka korden untuk melihat pemandangan pagi pegunungan. Tangannya menjulur ke atas melakukan perenggangan, setelah itu melakukan tarikan nafas panjang dan mengeluarkannya.
Baik, jika kalian penasaran siapa dia maka dia sebenarnya adalah sicantik tabiat susah dilirik. Begitu teman sekampusnya memberikan julukan. Benar, jika engkau melihat paras cantiknya akan terpesona, lelaki mana yang tidak? Tapi hatinya susah untuk dipungkiri kau bisa menebaknya. Memang benar kata pepatah, dalamnya laut bisa diketahui, tapi dalamnya hati siapa tahu. Tentang masalah cinta dalam perasaan.
Gadis itu masih berdiri didepan kaca memuaskan matanya menangkap apa pun yang dilihatnya. Dibawah sana terdapat hutan lebat dari sisi pegunungan sebelah timur. Masih diselimuti kabut. Jam masih menunjukkan sangat pagi ia bangun, bahkan bintang masih terlihat dilangit. Belum memunculkan warna jingga kuning di sebelah ufuk timur petanda matahari terbit.
Ruangan kamarnya masih redup. Ia juga masih memakai piama. Tenggorokannya ingin menyantap sesuatu yang hangat, apa lagi jika bukan secangkir teh. Pandangannya ia urungkan dan beranjak dari tempatnya berdiri tadi menuju dapur. Menyeduh secangkir teh dan duduk menikmati kedatangan sunrise akan menjadi tema menarik hari ini, pikirnya.
Ia menuju dapur dengan langkah terjinjit-jinjit. Tidak ingin membangunkan saudaranya yang masih tidur, apalagi neneknya yang sudah tua.
Benar, gadis itu tidak hidup sendirian dirumah kacanya. Melainkan bersama dua anggota lain, satu berperan sebagai kakak perempuannya, sebenarnya ada kakaknya laki-laki tapi dia pergi bekerja jauh. Dan satu lagi usianya sudah sepuh, yaitu neneknya.
Setelah membuat tehnya sendiri, gadis itu kembali ke kamarnya dan memasang kursi nyaman. Pandangannya masih kembali pada kebiasaan melihat pemandangan pegunungan ditemani teh hangat. Lampu kamar yang redup memberi efek sunyi pagi itu, hanya sebuah kesunyian.
Sesekali ia meniup uap kepul dari gelasnya. Menyeruputnya sedikit-sedikit. Bukan saja ia merasakan manisnya ketika sudah menyatu dengan lidah, akan tetapi juga aromanya yang sedap. Pandangannya berpaling ke arah gelasnya. Mata biru itu terus memandangi sesuatu di dalam tehnya, dan berpikir. Siapa yang membuat racikan terhebat ini? Yang dapat menemani manusia dalam kedinginan dan kesendirian!
---
“KRINGG” bunyi panjang itu terus melayun memenuhi ruangan yang lebarnya 6 kali 7 meter itu. Menggema di langit-langit, seakan-akan kaca bergetar ribut minta di sudahi.
Tapi wanita itu malah menarik selimutnya. Bergaya senyaman mungkin demi kembali tidurnya yang nyenyak, tak puas malam sudah berakhir. Menenggelamkan kepalanya dalam bantal membiarkan alarm bernyanyi nyaring dari tadi.
Demi mendengar alarm terus bernyanyi dan tidak ada siapa yang memedulikannya. Akhirnya seorang wanita turun tangan, mencari asal suara dan menghampirinya dengan langkah kesal.
Akhirnya ia menemukan seorang perempuan masih tertidur nyaman sambil menutupi kepalanya erat-erat dengan bantal. Demi melihatnya ia geleng-geleng sambil berkacak pinggang.
Selintas otaknya memikirkan ide paling cemerlang. Wajahnya berubah sinis dan licik. Ia tak tahan lagi dengan suara alarm yang ngilu di telinganya, berharap rumah kacanya tidak pecah karenanya. Ia matikan sejenak alarm itu, kemudian beranjak pada wanita yang masih terlelap tidur.
Sejurus kemudian hentakan cukup keras mengenai tubuh sang putri tidur bersamaan suara melengking panjang memekakkan telinga.
“Kak bangun kak! dah siang nih. Lakukan kewajiban dulu, ayok!!!” jerit gadis itu sambil menggoyang-goyang tubuh kakaknya.
Demi sentakan tadi, tubuh kakaknya sedikit terlonjak karena kaget. Rambutnya masih acak-acakan.
“Aduh...ada apa sih Sari? Kakak tuh capek, biarlah kasih tambahan istirahat sebentar!” cakap sang kakak kesal, kesadarannya belum sepenuhnya pulih.
Gadis yang mengaku sebagai adik dan sekarang berada di samping kakaknya adalah gadis muda bertalenta, yang bernama Sari Gaisha. Setelah lulus kuliah dan wisuda ia berniat liburan sebentar sebelum benar-benar mencari pekerjaan yang mutlak.
Kedua saudara itu memiliki umur tidak jauh berbeda. Kecantikannya pun serupa, yang membedakannya hanyalah bentuk rambutnya saja. Sang adik lebih suka bergaya rambut dengan berponi depan dikucir rambut bagian belakang.
Kalau sang kakak lebih tidak memedulikan gaya rambutnya. Boleh jadi gaya rambutnya hanya biasa saja seperti kebanyakan wanita pada umumnya.
Terdapat keheningan disana. Sari membuka suara agar tidak sunyi dan kembalinya kantuk kakaknya.
“Kak?, sore kemarin katanya kakak mau janjian sama orang hari ini? Jadi apa tidak, kak?” kata Sari teringat sesuatu.
Sepersekian detik setelah mendengar perkataan sang adik. Tiba-tiba kantuknya hilang , mata yang dari tadi terkejap-kejap digantikan dengan terbuka sempurna. Seakan terjadi sesuatu yang serius.
Mulutnya terbuka lebar, menyempatkan melihat adiknya sebentar. Kemudian secepat kilat meninggalkan kasur menuju kamar mandi sekalian membasuh diri dan ambil air suci.
Sari melihat tingkah takjub kakaknya sambil menggeleng-geleng sendirian, tersenyum dan bangga dilahirkan bersama seorang perempuan yang menjadi teman hidupnya selama kepergian kedua orang tua mereka.
---
Jam telah menandakan pukul tujuh, waktu seharusnya mis Vita Gaisha sudah berangkat melaksanakan miting perusahaan. Ya, kakak kandung Sari Gaisha. Beliau diberi amanah langsung dari mendiang ayah mereka untuk berkewajiban memenuhi kebutuhan sang adik, sekaligus mengurus nenek tercinta mereka.
Sungguh berat memang, tugas seperti itu seharusnya dilakukan oleh kakak tertua mereka. Tapi apa boleh buat, wasiat tetaplah wasiat. Apalagi kakaknya sudah berkeluarga dan terlalu sibuk untuk mengurus kedua adiknya, pikirnya mereka sudah dewasa semua, sudah sepatutnya menjaga diri masing-masing.
Tidak pernah luput dari ingatan seorang kakak yang masih memiliki saudara kandung. Seberapa besar kasih sayangnya pastilah ingat dengan saudaranya sendiri. Kadang kala sang kakak tertua memberikan pasokan secukupnya untuk kebutuhan adik-adiknya. Bahkan yang membantu Vita dalam melamar pekerjaan juga kakak laki-lakinya.
“Lho kak? Jam tujuh kok belum berangkat juga?” tanya Sari sambil tangannya membawa semangkuk bubur nasi.
Tatapan mata Vita masih lurus melihat layar tablet, tidak menghiraukan pertanyaan Sari. Kemudian ia mengambil posisi duduk setelah berbaring di sofa empuk.
“oh ya! Jadwal miting di undur sampai waktu dhuhur nanti” jawab Vita seadanya. Tatapannya masih fokus ke layar.
“Ooo” timpal Sari sambil beranjak menuju kamar neneknya. “Baiknya kak Vita siap-siap dahulu sebelum benar-benar berangakat, apa sekiranya yang penting untuk dibawa!” tambah Sari mengiringi langkahnya.
Tidak ada jawaban dari kakaknya, sesibuk itukah pikirnya. Sampai langkahnya benar-benar terhentikan.
“Sari!” teriak Vita dari sofa ruang tamu. Dengan cepat Sari menoleh ke kakaknya. Mengangkat alisnya.
“Nenek sudah makan?” tanya kak Vita sesikit berteriak kepada Sari.
Demi melihat mangkuk yang berada di tangan Sari, Vita sudah bisa mengartikannya sendiri. Makan pagi untuk nenek berada di tangannya.
“Ini mau makan, nenek!” Jawab Sari. “Sekiranya kakak masih lapar, habiskan aja lauk dalam tudung saji!” kata Sari menambahi.
Vita hanya mengangguk cepat, kembali pada keseruan bermain tablet. Tak lama dari itu ia mendengus kesal, membaringkan tubuhnya ke sofa. Sari melirik sebentar kelakuan kakaknya sebelum benar-benar menutup pintu kamar nenek, tersenyum lagi menggeleng- geleng kepalanya. Berpikir apa yang sedang dimainkan perempuan itu, sepatutnya ia kalah bermain game sesuatu, sepertinya!
---
Selarik cahaya matahari sudah memanas, membuat rumah kaca saudara kembar tak seiras itu terasa meleleh. Dibuat dingin dengan pendingin ruangan yang sengaja di pasang untuk fenomena pemanasan global.
Jam dua belas tepat. Setelah melakukan kewajibannya, Vita bersiap-siap pergi miting dengan cepat. Hampir ia melupakan kebutuhannya makan siang. Vita menyuruh adiknya untuk membuat bontot makan siang saja, karena tidak sempat makan di rumah.
“Ini kak, bontotnya!” kata Sari sambil menjulurkan kotak makan kepada kakaknya yang sangat terburu-buru.
Vita menerimanya dan langsung menuju mobil. Sari pun ikut melangkahkan kaki mengantar kakaknya sampai depan rumah.
Sampai digarasi Vita tertegun, alangkah bodohnya menyetir tanpa sebuah kunci. Ia membalikkan badan berniat mengambil kunci mobil yang lupa tertinggal.
Vita memperhentikan langkahnya, terdapat Sari dihadapanya. Sejurus kemudian sebuah kunci berada di tangan Sari, dengan cepat gadis itu memberikannya. “kak Vita lupa menaruh kunci mobil di sofa, lagi!” kata Sari.
Kali ini Vita angkat bicara. “ terima kasih, Sari. Adik yang baik” timpal Vita menyempatkan mengacak puncak kepala Sari, rambut poninya pun bergoyang. Setelah berpamitan dan salam, Vita menancap gas kemudian hilang di kelokan.
Senyum Sari mengembang, jarang saja kakaknya melakukan hal semacam itu, sangat manis.
---
Salah satu waktu tenang Sari adalah ketika siang hari. Di mana tidak ada lagi pekerjaan rumah yang mengganggunya. Waktu itu ia memilih memutar siaran TV, memilah milih stasiun TV yang menayangkan sinetron anak muda pada zamannya.
Berhasil ia dapatkan. Menonton sambil ditemani teh hangat, lagi. Seharusnya menurut kebanyakan orang yang berpendapat sama, bukankah siang panas-panas alangkah nyaman jika yang menemani sesuatu yang segar dan dingin. Bukan malah sebaliknya!.
Dari sinilah tabiat gadis ini tidak banyak yang mengetahuinya. Hanya aku, kau, dan dia.
Pesonanya terhadap secangkir teh membuatnya menelusuri filosofinya secara mendalam. Mungkin semenjak kesadarannya terbentuk ketika pagi tadi. Ia lebih mencintai racikan teh hangat dari pada yougurth atau pun minuman lainya. Menyeduhnya kapan pun itu. Beginilah jika seseorang mencintai apa yang ia cintai, selama ia rela berkorban atasnya, apa pun itu!.
Sari melihat sinetron di layar TV cukup lama, hingga sponsor pun tiba. Ia dapat membayangkan di luar sana terdapat lelaki yang sangat mencintainya, tanpa perjuangan keras Sari dan lelaki itu dapat hidup sejahtera selamanya hingga sampai di surga bersama-sama. Tanpa pengalaman cinta sedikit pun, akhirnya gadis sepolos Sari sampai berpikiran demikian.
Sampai sesuatu membuyarkan lamunannya. Suara berdering itu berasal dari handphone Sari. Notifikasinya tertulis nama “Vita” disana. “kenapa kakak menelepon?” pikir Sari.
Telunjuknya sudah setengah jalan menggeser tombol hijau dilayar, tapi ia urungkan. Dan Sari semakin gelisah. “apakah kakak akan memarahiku karena barusan aku memikirkan hal yang enggak-enggak?” tanya Sari kepada dirinya sendiri. Ia dibuat gelisah kenapa kakaknya menelepon.
Sari tidak ingin berlama-lama. Ia putuskan untuk mengangkatnya saja. Siapa tahu lebih penting dari perasaannya saja.
“halo kak!?” kata Sari canggung.
“Oh Sari, minta tolong! Ambilkan kotak kaca di laci lemari ruang tamu bagian kanan sendiri. Kakak perjalanan pulang tolong siapkan segera, ya!? Salam” kata Vita dengan nada jelas dan padat. Tanpa memberi celah untuk Sari membalas, sudah diputus duluan oleh kakaknya.
Sari menghela nafas berat. “Hah, kan ada yang ketinggalan! Dia rajin tapi suka malasan. Untung adiknya sabar” ucap Sari sambil beranjak dari nyamannya sofa. Mematikan TV, kemudian memulai mencari benda yang dimaksud kakaknya.
Setelah sekian lama detektif Sari mencari benda yang dimaksud. Akhirnya ketemu! Benda itu sekarang berada di tangan Sari. Memang agak berdebu, tapi tidak bisa menyembunyikan ke elokkannya. Ukiran yang rumit itu petanda kotak itu benda antik.
Debu yang mengganggu di hilangkan Sari dengan tisu basah. Tampaklah sekarang seperti baru lagi sebuah benda kaurisik yang cantik. Sari tersenyum sendiri melihat benda berkilau di tangannya, sesekali ia memainkan benda itu. Melihat sisi kanan dan kirinya.
Tak lama senyum Sari pudar, digantikan raut muka penasaran. Di ujung Sari memainkan benda itu, Sari melihat sebuah garis sangat kecil melintas sisi-sisi kotak tersebut. Sari mengotak-atiknya, menggulingkan berharap sesuatu yang jatuh darinya, dan terakhir menekan.
Sari hampir terlonjak setelah tidak sengaja menekan kotak yang di pegangnya. Sebuah gerakan memicu mekanisme alat itu, dan tidak sengaja Sari akhirnya, membukanya!.
Mata Sari terbuka lebar, tidak percaya apa yang dilihatnya. Apakah ini sungguhan atau sekedar main-main saja. Tidak disangka! Alat sesimpel ini bisa menyimpan rahasia sebesar ini, ditemukan dalam keadaan tidak sengaja, sangat heroik!.
Dari sanalah hati Sari mulai berdebar tak karuhan karena gelisah. Rasanya ingin sekali menangis. Tapi ia urungkan.
Sebuah mobil silver berhenti di depan rumah. Seorang gadis keluar darinya sedikit mempercepat langkah dan memanggil nama Sari. Siapa lagi jika bukan Vita dari keturunan Gaisha.
Demi mendapati panggilan itu, Sari beranjak dari sofa setelah sekian lama merenung dan berpikir. Memasang raut muka terbaik, dan berusaha tidak menangis di depan kakaknya.
“Sari, kau menemukannya?” kata Vita dengan cepat setelah menemukan Sari di ambang pintu. Sari pun memberikan kotak itu, sambil memaksakan senyuman paling baik.
“Syukurlah kau menemukannya, makasih ya...!” ucap Vita kepada adiknya, yang di mana padahal ia tidak tahu keadaan hati Sari saat ini. Lagi! Ia menyempatkan mengacak-acak puncak rambut Sari sebelum beranjak meninggalkannya untuk kembali melaksanakan miting.
Tak lama mobil silver itu kembali menghilang di kelokan jalan. Meninggalkan dua insan manusia di rumah kaca. Sari dan neneknya. Melihat Vita sebagai tulang punggung keluarga, rasanya Sari juga ikut bersalah tidak membantu kakaknya bekerja sendirian. Sampai kakaknya rela melebihi batas seorang perempuan.
Masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya tadi. Tempat sesimpel itu bisa menyimpan tes..., Sari dengan cepat membuang pikiran macam-macam. Tidak ingin menambahi beban pikirannya.
Dalam kesendirian Sari menangis sendu. Menuangkan semua air mata yang sudah tidak bisa lagi di bendung. Dalam sofa ia mendekap kedua kakinya. Pikirannya hanya mengarah ke satu orang, kakaknya. Semua yang rela ia kerjakan.
Tangisnya melama terkendali, terbesit dalam pikirnya bukan begini cara menyudahi semua permasalahan. Menangis tidak ada hasilnya jika hanya menangis. Tidak karena kotak kaca itu membuat hatinya semakin gundah, berbeda dengan keindahannya.
Sari kuatkan tekat, dan dia sangat bahagia telah melancarkan senyuman kepada kakaknya terakhir kali tadi. Dan berkata “kak! Jangan lupa jaga kesehatan!”.
Semua terpaku pada kecantikan luar, jarang sekali melihat dari dalamnya. Itulah tabiat manusia yang susah untuk hilang.