Tumbuhnya Rasa

1165 Kata
Ketika seseorang pernah singgah dihati, walau itu sejenak saja, itu akan terasa hingga mati. Karena seseorang yang menurut kita spesial, belum tentu menurutnya juga spesial buat kita. Namun keduanya memiliki persamaan yaitu kedua belah pihak saling membenci dan mencintai, serta semua itu dalam lingkup batasan. Tidak mencintai secara berlebihan juga tidak membenci secara berlebihan. Hari ini cerah. Awan menggelantung di angkasa membuat bagaikan gelombang lautan luas yang sedang tertiup angin. Burung-burung berkicau merdu saling bersahutan, membuat pagi itu semakin berirama. Nana bangun lebih awal, malam tadi ia tidur nyenyak menemani di samping Arya. Kakaknya masih terlelap, namun ia sudah shalat subuh tak lama tubuhnya limbung masih sakit semua. Kamar itu berukuran cukup luas. Ada satu dipan disana dengan berbagai perabotan lain layaknya kebanyakan kamar. Lemari dan meja tertata rapi. Mungkin kamar ini bekas tempat anaknya dulu, namun tetap rapi dan bersih. Jam dinding berdetik pelan, kadang ke atas dan kadang ke bawah. Nana melangkah ke ruang tamu, di sana lenggang tidak ada aktivitas. Abah pergi semenjak tadi pagi, dengan mengenakan capil dan arit hendak ke sawah. Istri Abah membawa nampan berisi teh hangat. Berjalan pelan menuju meja ruang tamu. Disana duduk Nana sambil menikmati pagi. “Kakakmu belum bangun?” Tanya istri Abah. Ia duduk di samping Nana, ia sedang mengenakan pakaian biasa. “Belum, Bi. Masih tertidur tapi ia sudah bangun tadi untuk sholat,” Jelas Nana. Istri Abah memaklumi hal itu. Bengkak di sekujur tubuhnya mungkin akan hilang satu hari ke depan. Tapi melihat kondisinya saat ini luka memar di tubuhnya cukup cepat dalam proses pemulihan. “Kalau boleh tanya, Bi. Abah itu bisa ilmu kedokteran ya?” tanya Nana polos. Semenjak ia bertemu dengan Abah waktu pertama kali, melihat langsung wajahnya yang bijaksana seolah semua itu menandakan bahwa Abah adalah tipe orang yang bisa menguasai banyak ilmu. Murid-muridnya juga banyak. Istri Abah tersenyum sejenak. Kemudian menjelaskan, “Memang ia pandai dalam pengobatan, baik pengobatan fisik maupun batin, Nak. Karena ilmu yang di kandung dalam Tapak Suci ia pelajari betul-betul. Kadang ilmu yang menurut kita tidak masuk akal, tapi pada kenyataannya ilmu itu ada, bukan berarti tidak ada karena kita tidak bisa melihat. Ilmu tradisional sudah turun temurun di patenkan ke setiap generasi. Ilmu itu ada yang menggunakannya dengan bijak juga ada yang menggunakannya dengan sembarang. “Banyak yang telah ia jalani dalam masa fase latihan. Kecintaan kepada perguruan melebihi apa pun, Nak. Tapi Bibi paham soal itu, kasih sayang terhadap bibi juga tidak berkurang.” Seperti orang tua kebanyakan. Sepasang kekasih tua ini juga memiliki cerita yang panjang, tidak peduli seberapa kuat pasangannya, tidak peduli apa pun bentuk pekerjaan pasangannya. Yang jelas dibutuhkan di sebuah rumah tangga adalah sebuah balutan cinta sesama, saling menyayangi. Sungguh alasan kenapa orang tua adalah sosok yang terkenal lemah lembut, yaitu karena ia lebih dari ahli masalah dari berbagai macam masalah. Sudah banyak peristiwa yang mereka hadapi, itulah yang membuat orang tua adalah pahlawan dan harus di jadikan contoh. Pagi itu semakin cerah, cahaya matahari menembus daun pintu dan jendela. Setelah istri Abah kembali ke dapur, Nana melangkah menuju teras, ia ingin menghirup udara lebih segar lagi. Pagi seperti ini adalah sesuatu yang langka walau esok hati terulang kembali. --- Terdengar suara pukulan, bertalu-talu. Sebentar berhenti cukup lama kemudian suara itu kembali terdengar. Nana menyisir sekitar, di teras tidak ada siapapun, hanya ia sendirian. Suara itu kembali terdengar, Nana penasaran apa ada orang berkelahi sepagi ini? Ia berlari ke samping rumah Abah mengikuti arah suara. Di sana ada Rosyid, ternyata suara pukulan itu darinya. Ia sedang latihan memukul pohon pisang yang besar, tidak berbuah mungkin sudah pernah berbuah. Tangannya dibalut kain, ada bekas pukulan di batang pohon pisang, di sampingnya dua pohon pisang roboh bekas pukulan Rosyid. Jika untuk pukulan Rosyid bisa menumbangkan pohon pisang, bagaimana jika pukulan itu terkena wajah manusia? Rosyid tahu di belakangnya seperti ada yang mengawasi, ia hentikan memukul pohon pisang, sebentar menoleh ke belakang. Benar saja, Nana sedang memperhatikannya. Ini adalah kesempatan untuk Rosyid, mumpung keadaan lagi sepi, ia mengambil inisiatif. “Boleh aku minta ambilkan air minum?” teriak Rosyid dari tempatnya berdiri. Eh? Air minum? Aku? Nana berpikir sejenak, ia bukan kesal karena di suruh Rosyid namun ini terlalu tiba-tiba. Seketika entah ada perangai apa wajahnya memerah. Tak lama menimpali Rosyid bilang “sebentar.” Ia bergegas menuju dapur membawa air mineral untuk Rosyid. --- Pagi hati yang sejuk. Mereka duduk di teras rumah Abah, Rosyid meminum tegukan terakhir air di gelas. Ia kelelahan, peluh membasahi dahinya. Nana sejenak memperhatikan Rosyid, ia juga meminum segelas air, menghabiskannya. Baru pertama kali ini ia mau berdua dengan orang lain, walau sesama Sakinah pun Nana tak sudi, sebab juga Rosyid yang telah menyelamatkannya, seburuk apa pun sifat Nana tidak suka kepada orang lain, namun jika orang itu yang telah berjasa kepadanya demi Terima kasih. “Apa lihat-lihat!” Tukas Rosyid. Tak lama Nana tersadarkan. Ia segera memalingkan muka. Nana sebentar memperhatikan Rosyid kemudian berpaling tersadarkan. Ia salah tingkah sendiri, malu. Wajahnya memerah ia malu sejadi-jadinya. “Eh ndak apa-apa. Gede rasa, aku lihat pohon itu kok.” Nana mengarang alasan. Dan alasan yang tak masuk akal. Suasana saat itu sangat canggung. Rosyid tersenyum sebentar kemudian berdiri hendak melanjutkan latihan. Bagi Nana kesempatan besar telah sirna, ia ingin sekali bilang “terima kasih” kepada Rosyid. Tapi seolah mulutnya terbungkam oleh rasa malunya, namun hatinya sedikit demi sedikit berdesir. Entah perangai apa yang membuat hatinya terasa nyaman, Rosyid adalah lelaki yang menyelamatkan tempo hari lalu dari preman yang menggebuki kakaknya, ia adalah tipe lelaki yang pendiam, cukup tampan, tapi menurutnya bukan semua itu yang membuatnya kagum, melainkan cara yang Rosyid lakukan, entah mengapa Nana merasa bahwa Rosyid adalah lelaki yang cuek terdapat banyak hal yang tidak bermanfaat. Namun selalu tanggap dalam segala situasi. Kesempatannya hangus, Rosyid sudah berpaling dahulu darinya. Melanjutkan latihannya. Udara terasa sejuk matahari mulai menyingsing perlahan mulai naik. Suara pukulan kembali terdengar, Rosyid mulai kembali pada latihannya. Pohon pisang mulai roboh, perlahan tumbang. Rosyid terengah-engah mengatur napasnya, ia sedikit kelelahan ternyata memukul pohon pisang tidak semudah yang di bayangkan. Nana melihat dari pelataran rumah, sembari ia menikmati udara sejuk pagi. Tiga pohon pisang telah tumbang. Rosyid kembali ke teras lagi dan meneguk gelas yang ia isi lagi penuh dengan air putih. Kemudian masuk ke dalam rumah. Nana belum mengerti status Rosyid dengan keluarga Abah. Apa ia anaknya? Keponakannya? Atau apalah yang berhubungan dengan Abah. Semestinya begitu sebab dilihat dari perilakunya ia dengan mudah masuk dan keluar dari rumah Abah, seolah menganggapnya sebagai rumah sendiri, namun Nana tidak mendapati ia ketika malam hari, jika memang ada hubungan keluarga setidaknya ia bisa menginap malam tadi di rumah ini. --- “Tidak peduli seberapa kuat engkau melawan, jika nafsu masih tertancap dalam di d**a, apalah arti perjuangan melawan yang lebih kuat selama ini. Justru melawan nafsulah adalah sesuatu yang utama bagi petarung sejati.” “timbulnya rasa adalah kunci utama dari cinta yang akan bersemi di d**a. Tidak peduli engkau diperhatikan orang atau tidak, yang jelas dirimulah yang mengubah dirimu bukan orang lain.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN