Episode 20.1 (Bonus)

3443 Kata
SAHABAT KETUPAT Namaku Hamzah. Biasanya teman-temanku memanggil lathif. Entah apa yang membuat mereka lebih suka memanggilku lathif. Hanya sebagian orang saja yang memangil Hamzah. Tapi, sekarang ku putuskan agar teman-temanku bahkan adikku sendiri memanggil Hamzah. Aku lucu, tubuhku kecil, jenis kulitku kemerahan, pipiku agak tembam. Makanan kesukaanku ayam goreng. Tapi itu semua tidak lah terlalu penting, yang lebih penting dari semuanya adalah aku kesepian. Walau ada banyak yang ingin perhatianku. Aku hanya memberikanya sebentar saja. Walau terbilang aku suka bercengkrama, apalagi bertukar cerita kepada teman-temanku. Namun kesenangan itu hanya bersifat sementara. Seperti ada yang kurang dari aku bersosialisasi. Apa mungkin jauhnya orang tua terhadap ku. Tapi itu tak masalah. Aku harus mencari solusinya sendiri. Sekolahku cukup bagus dan sepesial. Didaerah kota maju. Dimana tak semua anak dapat masuk kesana. Tak terbilang sekolah favorit, namun ini favorit menurut pilihan ayahku. Sepesialnya!?- aku bisa belajar berbagai bahasa daerah disana. Bagaimana tidak, murid-muridnya dari berbagai penjuru Nusantara. Ada beberapa daerah yang tidak termasuk. Sekolahnya cukup bagus dibandingkan sekolah dasarku dulu yang masih beratapkan jerami, berpilar bambu, bertembok anyaman. Sekolah yang kutempati sekarang ini mungkin sudah masyhur ditelinga. Pondok pesantren persatuan agama Islam. Terletak di kota santri. Kisahnya cukup panjang perjalanan ku dari desa sampai dimana aku memutuskan bersama keluargaku untuk memilih menyekolahkanku sekolah menengah di pesantren. Mengingat desaku kekurangan pendakwah, dan juga amanah ku untuk pastinya meneruskan kepemimpinan ayahku sebagai kepala desa. Cara belajar langsung dari sumbernya adalah yang terbaik. Aku sangat bersyukur sekali. Walau tak bertemu teman-temanku di desa, tapi aku yakin akan kembali untuk mereka. Baiklah, akan kucertakan lidahku yang berbeda dengan lainya. Tapi sebelum itu, hargai perkataan sahabatmu yang memiliki sahabat. Dan yang belum mempunyai carilah sampai dapat. Pembangunan pagi hari ini sangat berbeda. Kalau biasanya penjaga malam membangunkan seluruh santri pukul setengah empat. Tapi pada hari ini alarm sudah berbunyi pada pukul setengah tiga. Mataku masih kabur melihat sekitar. Mengetahui teman sekamarku masih tertidur lelap. Padahal sinar lampu membasahi mereka. Sampai terdengar alaram kedua berbunyi. Suaranya kali ini lebih keras. Membuat telinga yang mendengarnya terasa samit. Bagaimana tidak, bunyi alaram seperti sirine ambulan atau polisi dilantangkan. Pengumuman dari penjaga malam terdengar. Itu yang membuatku tak merasakan ngantuk lagi. Jika kalau boleh. Aku berteriak-teriak, meloncat kesana kemari karena kegirangan. Aku hanya tersenyum lebar diwajahnya menyambut hari ini telah tiba. Sambutan untuk hari ini sangat berbeda. Seperti menyambut hari menjelang bolehnya semua santri untuk pulang berlibur pada bulan Ramadhan. Seluruh santri mempersiapkan tugas mereka masing-masing terkhusus santri senior yang sudah memegang jabatan sebagai sie(semacam OSIS). Aku suka melihat mereka berpakaian serasi dan rapi. Memakai baju putih semacam kemeja ditumpuk jas hitam memperbagus penampilan mereka. Mengenakan sepatu pantofel hitam pekat berjalan dengan percaya diri. Semua itu untuk menyambut hari ini. Hari dimana aku dinyatakannya lulus dan berhak menduduki sekolah menengah kelas 3(kls 10). Bahkan untuk seluruh santri dari kelas 1-5 dinyatakannya lulus dan berhak pula menempati tingkatan selanjutnya. Tapi ada lagi yang lebih seru. Aku akan menjadi kakak kelas untuk dua kelas dibawahku. Penyambutan penerimaan santri baru untuk tahun sebelumnya juga begini. Makanya aku suka ini hari terulang kembali. Apalagi berkenalan dengan adik kelas yang baru dari berbagai daerah. Kalau biasanya asrama kosong memerlukan sie pendidikan menggedor-gedor gerbang asrama. Semua santri sudah mempersiapkan dirinya masing-masing untuk hari ini. Bisa dilihat dari kedisiplinan pagi hari sebelum tepat setengah tujuh. Tak ada yang telat keluar dari asrama. Begitu juga aku, kalau biasa aku duduk sambil menikmati membaca majalah. Namun kali ini ku habiskan pagi dengan berdiam dijendela. Setengah tubuhku masuk ke jendela. Mengamati mobil-mobil berbanjar rapi diparkiran depan, sangat ramai. Kurelakan tubuhku disorot mentari pagi yang begitu terik. Tapi itu tak masalah. Senyum lebar masih terpancar di wajahku kegirangan. Teman-teman sekelas membicarakan saudaranya ang ingin masuk ke pondok. Walau tak semua membicarakannya. Duduk tenang sambil menulis. Entah apa yang ia pikirkan. Kesenangannya selalu begitu. Wajar kalau dia termasuk santri yang cerdas tapi apa itu tidak membuatnya bidan?. Kupikir hidupnya selalu monoton dengan pensil dan kertas. Aku juga suka membaca. Tapi tak sesering dia. Pandangan ku teralihkan sekejap kemudian. Mendekati temanku yang bernama Deny berusaha mewawancarainya. “Den, apa sih yang selalu kau tulis?, Cobalah untuk menghibur hatimu seperti teman-temanmu”, sambil duduk di kursi kosong sampingnya menyamai tinggi badan. “Aku juga pernah bersenang-senang . Bahkan bergembira bersama. Tapi kesenangan bersifat sementara ketika kesepian mulai timbul. Semua itu hampir menyiksaku. Tapi, dengan ini ku bisa membuat surat agar dunia tahu perjuanganku melawan kesepian digantikan kegembiraan yang diiringi dengan syukur. Kau juga pernah mengalaminya kan?. Memang hampir semua santri disini memiliki faktor berbeda setiap masing-masing. Apalagi jauh dari orang tua, adaptasi yang kurang. Kalau itu bisa dihilangkan dengan kesenangan hobi, kenapa tidak dilakukan saja. Atau bahkan melatih potensi sampai mahir dibidangnya. Baiklah, selamat bersenang untuk hari ini, aku mau kebawah dulu. Assalamualaikum!!”. Walau ekspresi wajahnya agak pucat. Tapi aku senang dia menjabarkan dengan senyum tipis diwajahnya. Ternyata dibalik bertapanya ada sesuatu yang masuk akal.aku tak mau memutus pembicaraanya yang serius dengan argumenku. Sampai aku bergumam pelan menjawab salamnya sesudah ku memikirkan sesuatu dari perkataannya tadi. Pikiranku buntu sejenak kemudian. Mungkin Karana dinginnya tubuhku, sinar mentari tak menyoroti ku lagi. Disana ku memikirkan sesuatu. Apa yang ia tulis tadi. Tak sengaja k****a melirik tulisan di kertas memakai huruf kapital semua. Susunan kata membentuk bacaan “SAHABAT”. Hening dibangku disertai cahaya matahari masuk di celah-celah jendela kelas atas. Tenggelam bisingnya pembicaraan temanku dicampur klakson mobil lalu lalang dijalan depan. Aku tahu seseorang berusaha mengejutkanku. Tepukan tangan cukup keras mendarat di bahu kiriku. Sampai hampir memekik pelan. Menoleh mencari asal tepukan itu dikerumunan santri yang lalu lalang didepan kantor pengurus, karena sekejap hilang. Mengetahui senyum lebar hingga membentuk lesung pipi, disertai kelihatan gigi gingsul miliknya. Memicingkan mata seperti tak punya salah sama sekali . Tak usah menyebutkan namanya. Karena otakku merespon pasti dia, Walau pun banyak santri disana. Otakku kali ini penuh dengan pertanyaan yang ingin kulontarkan. Mengingat aku punya urusan lain. Beberapa kalimat cukup untuknya. “ada apa, bay?”, tanyaku sambil mengerutkan kening. Menyodorkan satu tangan , bermaksud meminta penjelasan menepuk bahuku. “Hehehe, nak kemana kau zah?. Kulihat kau tadi melamun dikelas, tak lama pergi meninggalkannya. Tak seharusnya kau berekspresi begini untuk hari ini, wajahmu juga agak pucat. Emangnya ada masalah karena?”, tanyanya sambil mengikuti langkahku menuju Mading pengumuman. Suara khas Bandung itu diucapakan. Membuat exspresiku berubah mengundang tawa.memang Bayu mahir membuat humor lelucon. Melihat penampilannya saja orang pasti tertawa karena keunikannya. “Tak ada lah!, aku hanya ingin melihat daftar santri baru”, jawabku sambil menuju mading pengumuman. “Oo gitu, mungkin juga kau kalo kecapekan”, timbal Bayu oerhatian. “Eh eh zah, lihat. Daftar nama santri baru menunjukkan asal daerah Sumatra. Jauh kali ya, lha wong orang Jawa ae tak banyak masuk sini. Kan padahal pondok ini juga dijawa kan”, cakap Bayu. Membuatku mengalihkan perhatian yang sebelumnya melihat daftar santri daerah Surabaya. Kalau santri dari luar Jawa masuk kesini. Berarti itu bukan orang biasa. Keluarganya mungkin dari kalangan berkebutuhan cukup tinggi. Transportasi biyayane yang diperlukan cukup mahal. Karena juga aku pernah melakukan perjalanan sampai ke negeri Borneo. Belum juga naik turun kapal, kereta asap, Dokar memperlengkap perjalanan. Sepertinya seru bercengkrama dengan orang luar jawa. Sejak saat itu keinginanku timbul untuk memperkenalkan diriku untuk pertama kali kepada santri baru ini. Dilihat dari namanya saja, cukup mengesankan dan unuk. Kebanyakan orang Sumatra yang ku tahu dalam nama lengkapnya ada sebutan cut atau lainya. Tapi ini beda, bertuliskan tinta cetakan kantor mesin ketik dulu berbanjar disana. “zainuddin rahimakumullah”, bersama kota asalnya tertulis disana. Ini sudah hari kelima dari dari sesudahnya penerimaan santri baru. Jadi besok sudah diaktifkan kembali belajar mengajar. Pengamatan ku akhir-akhir ini cukup memuaskan. Dari sekian banyak pelatihan masuk sini dari hari-hari sebelumnya, kesimpulan yang ku dapat cukup hebat untuk menguatkan pendapatku. Zainuddin Rahimakumullah namannya. Dia anak yang baik, mungkin dari keturunan ternama. Walau aku belum sempat berjabat tangan. Tapi itu tidak masalah. Karena aku lebih sering bertemu dengannya. Kabar baiknya adalah santri baru ini masuk pesantren bukan dari kelas satu sekolah menengah. Melainkan meloncat langsung kelas tiga bersamaan satu kelas denganku. Rambutnya rapi hitam pekat seperti rambutku. Wajahnya tak asing keturunan campur bangsa timur dan India. Tapi kulitnya agak sedikit gelap. Entah kenapa semenjak itu hasrat ingin bertemu dengannya selalu. Tak tahu apa hati ini merespon. Seperti kita pernah bertemu sebelum itu. Hubungan naluri hati seperti sangat dekat. Mungkin perasaan ku saja yang terlalu berlebihan menjual Zainuddin cukup sepesial dikalangan para santri baru. Baik dari segala sisi. Tapi pasti manusia memiliki kekurangan siapapun itu, bahkan banyak. Ternyata pembelajaran kelas tiga lebih banyak dari kelas bawah lainya. Kupikir hanya materinya saja yang penjabarannya luas. Hari pertama kenaikan santri, wali kelas sengaja hanya memberikan spoiler pembelajaran kelas tiga kedepannya. Dan juga memperkenalkan satu murid yang baru masuk kekelas tiga. Hari itu bertepatan pada hari Senin. Pagi yang tak begitu cerah. Mentari disembunyikan oleh awan tipis diufuk timur. Jadilah kontras cahaya tak begitu tertera menerangi lelaki yang maju didepan kami semua sedang memperkenalkan dirinya. Walau cahaya tak melewati celah jendela lagi. Tapi aku yakin, ia bisa membuka semua kesepian didalam hatiku menjadi sinar putih yang terang. Hingga dibiaskan serta diuraikan menjadi warna-warni serupa dengan warna pelangi. Hari-hari yang ku lalui. Selalu senang setiap detik mendatang. Semenjak perkenalkan ku pertama kali dikelas waktu itu. Hatiku merasa lebih sejuk daripada musim semi berkelanjutan. Telah ku temukan potongan puzzle yang hilang selama ini. Penyempurna dari ketulusanku bersosialisasi. Ia selalu ada dipikirannya segala inspirasi dan motivasi untukku jika ku salah melangkah dalam keseharian. Sejak saat itu. Kami resmi menjadi sahabat. Dari sekian lama kata sahabat selalu terngiang di pikiranku dari tulisan di kertas Deny waktu itu. Aku banyak mengetahui makna dari sahabat ketika kutanyakan kepada Deny dan juga pengalaman ku pengetahuan di perpustakaan. Semua itu terlunasi pertemanan ku kepada Zainuddin. Suka suka kami lalui bersama. Walau ada cek-cok diantara kita, tapi selalu tetap optimis mempersembahkan tema yang baru untuk dibahas. Apalagi membahas rencana perpulangan untuk liburan idul adha. Panggilannya Zainuddin, lebih banyak santri mengikuti pangilan. Yang ku panggil sebagai Ra. Lebih singkat, padat, nan jelas. Ia pun suka dengan panggilan itu. Aku lebih tenang dengannya. Cocok untuk mencurhatkan semua yang ganjil dianganku. Sahabat sebagai pegangan bukan karena sesuatu negatif. Yakni kecocokan akan dia dihati itu nyaman dan selalu tukar perhatian. ~~~ Mading itu sudah dipenuhi kertas-kertas baru lagi. Setelah kosong semenjak pekan Minggu lalu. Bisa dipastikan dari santri-santri menyerbu bergerombol menyelimuti Mading yang hanya berukuran sedang. Langkahku tersendat bersamaan Ra ingin kekelas setelah dari masjid. Mengetahui lorong penghubung gerbang depan sampai dalam pesantren penuh dengan santri. Saling berdesakan berharap mengetahui apa yang baru dimading. Kami hanya menatap keheranan. Sampai terlihat lambaian tangan Bayu menyambut kami. “itu ada pengumuman baru apa lagi sih, Bay?, Tanyaku sambil menyipitkan mata. Bayu belum menjawab. Sampai ia mengajak kami duduk disalah satu kursi panjang. “Kalian tidak tahu?, Itu tuh pengumuman tentang liburan idul adha, kan sebentar lagi!”, jawab Bayu ketus. Ia menambahkan sebelum suaraku mendahuluinya. “ Oh ya, emang kalian punya rencana liburan ka?”, tanya Bayu untuk kedua kalinya. Aku dan Ra saling bertatapan seperti memikirkan sesuatu. “ndak tahu sih!. Maunya Ra ingin ku ajak ke kampung nenekku!!”, jawabku. “Itu ide yang bagus!, Lagian pulang pergi keluar Jawa kan perlu banyak biyaya. Oh ya, maaf untukku ya zah!. Kalau kemaren ku kerumahmu, aku nantinya Ndak bisa. Soalnya, ada urusan keluarga yang mendadak”, kata Bayu. Walau keterdekatanku dengan Ra, Bayu tak memiliki rasa iri sama sekali. Karena ia teman juga. Dan seharusnya begitu, karena semua teman. Tidak ada olokan untuk kami. Walau keterdekatan kami sehari-hari. Tapi tujuan kami bersahabat tak untuk hal negatif. Bayu berpamitan setelah itu. Meninggalkan kami sedang bingung memutuskan rencana liburan. Sampai pendapat Ra kuterima. Bahwa ia setuju akan berkunjung kerumah nenekku untuk kesempatan liburan idul adha nantinya. ~~~ Ini seperti upacara. Berbeda cerita ketika dipondok. Sering termaktub sebagai sebutan Apel. Aku sengaja menggunakan jaket, karena pagi itu sangat dingin. Apalagi dilapangkan cukup lama hanya menanti ustadz untuk mengisi pengumuman bolehnya hari ini untuk berlibur sampai hari yang ditentukan. Hanya menanti keterlambatan ustadz saja. Hingga semua santri rela berdiri dilapangkan dilelap dingin menusuk-nusuk. Mungkin Ra tak kuasa melihat tubuhku menggigil hebat. Ia rela menyelimuti setengah badanku dengan selimut miliknya semacam jarik. Sampai aku mengetahui penjelasanya kenapa dirinya baik-baik saja. Itu karena cuaca di Sumatra juga demikian. Bahkan bisa lebih dingin dibanding dengan Jawa. Aku tersenyum padanya, mengucap suatu kata santun berterimakasih padanya. Aku mengecek kantong sakuku. Memastikan tiket kereta api baik-baik saja. Keberangkatan kereta api lebih awa. Menanti pembicaraan ustadz didepan barisan kami semua memakan waktu cukup lama. Ternyata bukan hanya kedatanganya saja yang lama, pidatonya pun juga. Tapi ustadz berhasil mencairkan suasana menjadi semangat yang menggebu-gebu. Sesudah beku dinginnya cuaca pagi itu. Seluruh santri bersorak bersama. Mengepalkan tangan dan menjunjungnya tinggi sambil bergema mengucapakan takbir. Aku mengerti ustadz mengakhiri pidatonya. Mempersilahkan santri bubar dari barisan mereka nan menikmati liburan idul adha kali ini. ~~~ Tak ada waktu lagi berpikir lama. Kereta sudah siap berangkat menuju Tuban tempat nenekku. Aku hampir sempoyongan menggendong beban di punggung. Terpaksa Ra membawakan ransel milikku. Sudah kelihatan stasiun didepan mata. Sedangkan kami masih mengejar keterlambatan kami. Pada akhirnya aku memutuskan untuk menyerah. Ku akui Ra hebat dalam angkat mengangkat. Sampai salah seorang petugas stasiun meringankan beban kami. Aku lega mengambil nafas panjang. Tersenyum kearah Ra bisa menikmati perjalanan dengan mulus. Seruan kedua suara kereta api menandakan kecepatan kelakuan akan semakin bertambah. Dan kami selamat masih sempat menaiki, menikmati suasana alam indahnya Jawa. Tak kalah indah rawa yang menyertainya. Tas terakhir kumasukkan ketempat tas diatas. Punggung ku sakit seperti telah menerima pukulan serius. Kubaringkan duduk nyaman dekat jendela. Aku selalu menjawab sekian banyak pertanyaan Ra mengenai tentang Jawa. Dalam kapsul gerbang ketiga itu, kami menghabiskan kesenangan bersama. Walau tak habis-habisnya bercerita, bercengkrama, tertawa bersama, sambil bercanda. Indahnya alam selau tetap menjadi tolak ukur yang sangat menarik. Sandarannya mengenai bahuku. Aku mengaturnya kepala antar kepala dengan perlahan-lahan. Mungkin ia juga kecapekan. Tak kuasa ku membangunkannya di lelap tidur. Hingga kami saling berbentura. Kepala. Kalau Ra samping kanannya jalan kecil untuk lalu-lalang penumpang, maka wajar jikalau ia bersandar kearah ku. Sampai kuputuskan melelapkan pandangan ku, memejamkan mata. Panggilan bahwa kereta sudah sampai di Tuban terdengar lagi. Sampai kami dekejutkan petugas kereta api untuk segera turunan sekarang juga. Bergegaslah kami mengambil barang bawaan kami. “Indah ya Jawa!!!”, kata Ra setelah keluar dari kereta. Mengetahui banyak orang lalu-lalang. Pedagang asongan dan lainya menyelimuti stasiun waktu itu. Mencari delman pada siang hari cukup sulit ditambah pada hari libur. Aku menyipitkan mata, berusaha memperjelas penglihatan ku. Kuda hitam perkucir putih dengan motif kereta yang tak asing. Berlarian kecil mendekat berusaha menyakinkan bahwa orang itu tidak asing. Ternyata pak Haris tetangga sebelah nenekku. Perjumpaan ku dengannya waktu itu, mengundang banyak pertanyaan pak Haris. Hingga akhirnya beliau berkenan mengantarkan kami kerumah nenek, setelah mengetahui alasanku mencari sebuah kendaraan untuk ditunggangi. ~~~ Tugu bertuliskan selamat datang sudah terlihat. Menandakan sebentar lagi rumah nenekku akan kelihatan. Aku banyak menceritakan pengalaman ku semuanya didaerah sini kepada Ra. Disampingnya jalan selalu berbanjar dihiasi pohon kepala tinggi-tinggi. Tak kalah indah juga pohon Siwalan yang menyertai. Bisa dilihat dari jalanan. Bahwa orang-orang sibuk dengan pekerjaannya. Ada yang membuat dodol, mengaduk legen, memecah kelapa, dan lainya. Anak-anak pulang dari sekolah menaiki menaiki sepedah pancal dijalan setapak. Menyapa pak delman yaitu pak Haris itu sendiri dengan senyum lebar diwajah mereka. Kami juga turut memberi salam. Suara sepatu kuda dijalan membentuk nada berirama. Sampai pandangan ku benar-benar teralihkan. Sambutan lambaian tangan itu membuat mataku membuka lebar. Semua orang termasuk nenekku berkumpul didepan didepan rumah mengerjakan sesuatu. Kami turun dari dokar dibantu kakek beserta pak Haris membawa barang bawaan kedalam rumah. Nenekku menyalami Ra memperlakukan seperti cucunya sendiri. Hingga aku menjelaskan biografi Ra semuanya. Tak lupa keniatannya berlibur disini. Melihat orang mengerjakan sesuatu dibelakang nenek. Membuatku menanyakan sesuatu. “nek tuh tetangga kumpul-kumpul didepan rumah nenek, ngapain sih?”, tanyaku melihat orang-orang memegang daun kelapa. “Oh itu, Bu Kartina dan lainya sedang membuat ketupat untuk dimuat beras nantinya. Ayo kesana lihat lainya buat ketupat!”, ajak nenek kepada kami. Aku mempersilahkan Ra untuk bergabung bersamanya mereka terlebih dahulu. Aku akan menyusul setelah membuat hidangan sekaligus makan siang. Ra sudah berlalu dihadapan ku. Mengingat aku akan menjamu mereka, maka aku dan kakek menuju rumah mempersiapkan semuanya. Sekaligus kakek meminta untuk pak Haris bergabung dalam acara makan siang kali ini. Sebuah tumpukan rantang berisikan nasi lengkap didalamnya lauk-pauk ku antarkan ke Kerobokan mereka. Hari itu matahari membalut daerah tempat duduk orang-orang sedang membuat ketupat. Melewati celah-celah dedaunan kelapa diatas sana. Aku datang menyambut sambil menjamu meraka yang pastinya sudah keroncongan perut karena lapar. Sibuk mengerjakan anyaman dari daun kelapa itu membuat menjadi ikatan hingga jadilah ketupat yang indah. Sambil menyapa Ra dan menanyakan bahwa sudah berapa ketupat yang ia buat. Ia meringis kecil dan aku menolongnya dari lilitan daun kelapa ditangannya. Mungkin ini pertama kalinya Ra membuat anyaman seperti ini. Aku dan Ra membiarkan nenek dan lainya menyantap makanan dahulu. Sembari aku mengajarkan Ra cara membuat ketupat. Dua daun kelapa sudah cukup. Diletakkan kedua tangan. Ikatan masuk dan satunya keluar, begitu terus sampai yang terakhir penarikan ujungnya. Irama dan melodi menyertai. Ditumpuk sini, diikatkan sana, serta tak bolehnya lepas pada kedua daun kelapa. Jadilah ketupat yang indah dan serasi. Ketupat yang kuajarkan masih dasar sekali, walau nantinya ada berbagai macam variasi ketupat yang lain. Ra hanya memperhatikan sekali dua kali ia cepat memahami seluk beluk ikatan untuk melakukanya. Semenjak saat itu. Aku memikirkan hal yang begitu besar. Pendapat Ra mengagumkan, bahwa dua yang saling mengikat dan tak pernah ada yang bisa memutuskannya. Walaupun pada akhirnya dibelah, tapi tetap memberikan selera yang sangat berbeda. Dalam rangka ikatan menjadi bentuk sempurna. Cukup dengan dua daun kelapa. Bisa menjadi hal yang begitu istimewa. Banyak makna yang dapat dipelajari dari ketupat sendiri, jalan pembuatan hingga sampai jalan penggunaan. Atau bahkan arti dari pohon kelapa itu sendiri. Waktu itulah diskusi kami beraksi, Pernyataan bahwa sebagai lambang kesetiaan dan sudah dalam keselubung ikatan yang pasti. Kami setuju, persahabatan kami dikategorikan bukan lagi seperti sahabat kepompong. Akan tetapi lebih hebat lagi, sahabat yang penuh dengan manfaat dan bebas mengutarakan pendapat. Yakni “SAHABAT KETUPAT”. ~~~ Senja telah muncul (musubi). Bertanda warna jingga terlihat diufuk barat. Hari semakin larut. Burung-burung memberi tanda sebentar lagi malam akan datang. Suasana desa Tuban diiringi kelapa-kelapa mulai remah tak kelihatan, menyisakan bayangan nya saja. Sampai hilang Mega merah. Sunyi hanya suara ribut binatang liar. Untungnya jendela dan pintu segera ditutup. Istirahat kami dimulai. Menanti esok pagi akan datang. Aku masih bisa membuka kedua mataku berkat sahabat ketupat. Sebaliknya, aku masih ragu itu juga terjadi terhadap Ra. Tapi ia masih gembira dari mata pemberiannya. Aku selalu mewarisi penglihatan cakrawala milik Ra. Kami gembira bersama. Sampai aku kalah dan memutuskan yang berhak menduduki kursi kapten adalah Ra. Aku wakilnya. Ra sah menjadi kapten bajak harta(Abdurrahman bin auf). Kami lupakan kejadian itu, sungguh tragis. Ku Menahan tangis terisak-isak. Melainkan Ra hanya tersenyum menyambutku telah kembali ke dunia, dan bangga melihatku telah sadarkan diri. Hebatnya persahabatan. Namaku Hamzah Abdul lathif, dan sahabatku ingin memejamkan mata. Jangan usik kesenangan kami. Kuberusaha menggenggam erat tak lepas kendali.mencarinya sangat susah, dan melepaskannya begitu mudah. ~~~ Kutemukan buku lusuh berdebu diperpustakaan, berjudul “mutiara filsafat”. Menyangkut didalamnya tentang lika-liku seluk-beluk tentang persahabatan. Beberapa hikmah tentang persahabatan: 1. Persahabatan adalah satu-satunya pintu kemerdekaan kita. Banyak perkara yang tak dapat kita nyatakan kepada istri kita sendiri sekalipun, tetapi dapat dinyatakan kepada sahabat. Persahabatan yang jujur adalah salah satu tangga kenaikan. 2. Supaya beroleh sahabat, hendaklah diri sendiri cakap buat sahabat orang. 3. Sahabatmu suka kepadamu, tetapi tidaklah tiap-tiap orang suka kepadamu sahabatmu. 4. Kesenangan hidupmu memperbanyak teman, tetapi arti persahabatan yang setia ialah diwaktu menempuh kesukaran. 5. Jangan semulia-mulia kewajiban bersahabat ialah mengetahu kehendak dan kemauan sahabatmu sebelum dikatakannya, dan perkenankan permintaanya sebelum dimintanya. 6. Kalau jadi sahabat orang bersama, tidak boleh jadi sahabat orang seorang. 7. Kalau sahabatmu teyawa, hendaklah dikatakannya apa sebab dia senang; kalau sahabatmu menangis, engkau mesti periksa apa sebab dia susah. 8. Jika engkau memberi sesuatu kepada sahabatmu, berarti memberikan kepada dirimu sendiri. 9. Pengobat jerih manusia adalah dua keutamaan, pertama; iman kepada Allah, kedua; percaya kepada sahabat. 10. Bila orang telah merasa dirinya benar, dia lupa akan salahnya. Hanya sahabat yang setia yang sanggup membukakan matanya. 11. Temanmu kalau banyak selidiknya kepada engkau, bukanlah buat diampuninya. 12. Teman yang “berudang dibalik batu”, adalah seumpama anjing ditepi jalan, yang tujuannya hanyalah tulang yang akan dilempar kepadanya, bukan tangan yang melemparkan tulang itu. 13. Cemburu perempuan kepada perempuan, memutuskan tali persahabatan. 14. Bila seorang perempuan telah sudi mengulurkan tangan persahabatan kepadamu, alamat umurmu telah lepas dari zaman b******a.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN