Episode 31.2 (Waktu)

1051 Kata
Waktu adalah makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa meliputi kehidupan kita dimanapun kita berada. Sejak pertama kali kita hidup di dunia, hingga nanti akhirnya kita berpindah, menuju kehidupan yang abadi di akhirat. Tidak ada satu pun kegiatan kita yang dapat dipisahkan oleh waktu. Ia ibarat air samudera yang begitu luas, dan kita umpama ikan yang hidup di dalamnya. Ia senantiasa mengalir, dan kita pun tidak bisa tidak bersamanya. Demikianlah Allah menentukan waktu untuk terus mengalir meliputi kehidupan hamba-hamba-Nya. Dari waktu pula, kita memahami, bahwa Zat yang Tiada Serupa dengan Hamba itu, tidak terikat dengan waktu. Karena Dia sendiri, tidak lain dan tidak bukan adalah pencipta waktu dan segala yang mengalir di dalamnya. Mengenai keutamaan waktu, cukuplah sumpah-sumpah Allah dengannya sebagai dalil bahwasannya waktu merupakan perkara penting yang wajib kita perhatikan. “Demi Waktu” (Al-‘Ashr: 1) Tak perlu kita bahas panjang lebar soal penafsiran ayat tersebut. Cukup untuk kita ketahui, bahwa perkara-perkara yang Allah ambil untuk bersumpah dengannya, bukanlah sembarang perkara. Allah berkehendak agar kita mengambil perhatian terhadap perkara tersebut. Tidak meremehkannya, tidak mengentengkannya, serta bersikap benar terhadap perkara-perkara itu. Memuliakan waktu artinya memperhatikan waktu. Memanfaatkannya dengan seoptimal mungkin agar apa-apa yang kita lakukan selalu memberikan kesan positif pada diri kita. Tambah pahala, tambah manfaat, ataupun tambah pemasukan ke dalam kantong. Adapun penyebab seringnya kita lalai terhadap waktu, adalah karena kurang memahami hakikat-hakikat tersembunyi yang ada pada waktu tersebut. Sehingga, kita pun menganggap enteng perkara ini, hingga kurang bijak dalam menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.   Sifat Waktu DR Yusuf Al-Qaradhawi menerangkan, kiranya ada 3 sifat waktu yang sangat perlu untuk kita perhatikan guna meningkatkan kesadaran dan perhatian kita terhadap waktu itu sendiri. Sayangnya, sifat-sifat ini barangkali banyak luput dari perhatian kita tanpa kita sadari. ~ Cepat Berlalu Kerap hadir dalam perasaan kita, “Mengapa hari kesenangan pergi begitu cepat, sedangkan hari kekecawaan justru berlarut amat lambat?”, ketahuilah itu hanyalah perasaan kita saja. Pada hakikatnya, waktu terus mengalir tanpa peduli apa yang terjadi. Hakikat cepatnya waktu tidak kita rasakan terhadap peristiwa yang terjadi pagi tadi. Tapi, cobalahtengok 10 tahun yang lalu. Segala peristiwa pun terasa seolah itu terjadi kemarin lusa. Jika ingin lebih ingin paham bagaimana waktu berlari begitu kencang, tanyakan para orang tua, ia akan mengatakan, “Seolah masa kanak-kanakku baru lewat beberapa hari yang lalu.” Sepanjang-panjangnya usia seseorang di dunia, pada hakikatnya, segalanya adalah singkat manakala kematian telah mendekat. Berkata seorang penyair, “Apabila akhir daripada umur adalah kematian, panjang pendeknya umur adalah sama.” Demikianlah hakikat dari singkatnya perjalanan seseorang di dunia, yakni perjalanan akan terasa singkat jika telah sampai penghujungnya. Demikian pula waktu. Ia berlalu begitu saja dengan cepatnya, tiba-tiba, usailah cerita. Hidup ribuan tahun pun, ketika sudah saatnya berpindah ke kehidupan yang lebih luas dan panjang, seolah terasa baru tinggal kemarin sore. “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu (hari kiamat), mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. (An-Nazi’at: 46)   ~ Tak Kembali, Tak Terganti Kenyataan ini adalah hal yang memilukan. Lebih pilu dibandingkan perginya sang pujaan hati. Karena hati masih dapat mencari pengganti, namun waktu hanya datang sekali dan bergegas pergi. Ia hanya mengenal satu jalan lurus, tanpa kelok, dan tanpa arah kembali. Berkata Imam Hasan Al-Bashri dalam satu ungkapan yang begitu indah, menggambarkan sifat waktu yang tak kenal kata kembali. “Tidaklah fajar hari ini terbit, kecuali ia akan memanggil “Hai anak Adam! Aku adalah ciptaan yang baru dan aku akan menjadi saksi atas pekerjaanmu, maka carilah bekal dariku, karena aku tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat, jika aku sudah berlalu. Demikian pula, salah satu sya’ir Arab yang begitu populer menyebutkan, “Duh, seandainya masa muda itu dapat kembali, akan kuberi tahu apa yang telah dikerjakan masa tua padaku!” Kenyataan memilukan ini memaksa kita untuk benar-benar memanfaatkan waktu yang kita miliki. Karena jika lalai, yang ada hanya ratapan penyesalan nanti, di hari penghitungan. Ingatlah, bahwasannya perihal waktu-waktu yang kita lalui, akan ada soalan mengenai hal ini. “Tidak akan tergelincir kaki seorang hamba, hingga ia ditanya mengenai 4 hal tentang umurnya untuk apa ia gunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan serta ilmunya untuk apa ia perbuat dengannya.” (HR Thabrani)   ~ Aset Berharga Waktu bukanlah (senilai) uang sebagaimana yang dikatakan orang-orang Barat yang (kebanyakan dari mereka) materialistis. Ia jauh lebih berharga dari sekedar uang, bahkan emas. Waktu adalah kehidupan! “Waktu adalah kehidupan!”, demikian Imam Hasan Al-Banna mendefinisikannya. Dan memang benar, bukankah kehidupan kita ini terisi dari waktu-waktu yang telah kita gunakan? Kiranya, ini merupakan satu ungkapan lain atau penafsiran dari pendahulu beliau yang juga telah mendefinisikan waktu dengan begitu indah, Imam Hasan Al-Bashri. Beliau berkata, “Wahai anak Adam! Sesungguhnya kamu tidak lain dan tidak bukan adalah kumpulan hari-hari . Manakala satu hari telah berlalu, maka berlalu pula sebagian dari hidupmu!”   Pelajaran Kelalaian seseorang dari memperhatikan nilai waktu, hanya akan menghadirkan penyesalan yang tidak berguna bagi dirinya. Setidaknya, sebagaimana yang diterangkan di dalam Al-Qur’an, penyesalan yang disebabkan meremehkan waktu akan terjadi pada 2 kondisi. Kondisi ketika seseorang dalam keadaan sekarat dan ketika ia berada di neraka. Al-Qur’an mengingatkan agar kita tidak termasuk dari orang-orang yang proses menjelang kematiannya (sakaratul maut) diliputi dengan perasaan menyesal lantaran tidak memanfaatkan kesempatan selama hidupnya untuk amal. Dan sedekahkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu lalu ia berkata “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang sebentar saja, sehingga aku bisa bersedekah dan aku termasuk dari orang-orang shaleh?” (QS Al-Munafiqun: 10) Penyesalan semacam ini tidak akan diterima Allah sedikitpun. Jadilah harapan dan permohonan itu hanya harapan kosong belaka.   Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Munafiqun: 11) Pada rangkaian ayat yang lain, Al-Qur’an menggambarkan bagaimana penyesalan orang-orang kafir yang telah menyia-nyiakan waktunya di dunia hanya untuk kesenangan semata. Menyesal, karena tidak menggunakan waktunya untuk ketaatan kepada Allah maupun membantu dakwah para Nabi dan Rasul yang telah diutus kepada mereka. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih, tidak seperti (keburukan) yang telah kami kerjakan dahulu.” QS Fathir : 37
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN