Keputusan 1

519 Kata
Orang-orang pada berlalu lalang di jalanan dekat dengan tugu padepokan ucapan selamat datang di Desa Bakung. Disana ada lapangan yang cukup luas, lapangan itu dipakai dalam acara memperingati hari pahlawan. Di sana digelar panggung besar untuk pementasan drama, dan banyak kios yang berdiri di samping lapangan berjualan apa saja dan beraneka ragam. Hanya saja tidak semua orang bisa merayakan hari itu, termasuk Arya, jika perutnya masih sakit besok terpaksa ia dan Nana hanya bisa melihat di teras depan rumah parade di jalanan. Tidak bisa ikut serta dalam andil berpartisipasi. “Bagaimana besok?” kata istri Abah, ia sedang duduk di samping Nana, Arya masih rebahan di kasur, perutnya sudah enakkan tapi harus tetap istirahat total. “Mau bagaimana lagi, Bi. Terpaksa kita harus melihat dari teras saja keramaian di jalan,” kata Arya sambil terus memegangi perutnya yang sedikit masih mules. Yah mau bagaimana lagi, lebih baik menemani kakaknya dari pada harus melihat acara itu. Tidak terlalu ada faidahnya. Yang terpenting kakaknya sehat dan bisa melanjutkan data hingga selesai setelah itu bisa pulang balik ke kampung halamannya. Sudah satu bulan mereka disini, sambil liburan kurun waktu itu cukup lama, mungkin beberapa minggu lagi mereka akan selesai dan bisa kembali ke desa Ngelanggeran. “Bagaimana kalau Nana pergi saja Rosyid, ia bisa menjaga Nana. Mumpung kita disini dan bisa sedikit menambahkan acara ini dalam data list kita untuk desa Bakung ini. Kamu yang mengamatinya, Dik. Bagaimana?” Kata Arya memberi usul. Nana mendengar usul itu sejenak terdiam. Pergi bersama Rosyid? Orang yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu? Yang benar saja. Pertama kali bertemu dengan Sakinah saja ia merasa tidak nyaman apalagi dengan Rosyid, namun boleh jadi keberadaan Sakinah karena Nana cemburu Arya akan dimiliki orang lain, namun ketika dengan Rosyid bahwa dalam hati Nana takut Arya akan cemburu, tapi justru tidak demikian. Kakaknya itu justru inginkan Nana lebih dekat dengan Rosyid dan dalam jiwa seorang perempuan tidak mengapa hal wajar itu terjadi, Nana sedang merasakan gelora cinta dan mulai memahami serta masuk dalam dunia anak remaja. Arya menginginkan hal itu, bukan pacaran, namun Nana bisa lebih membuka dirinya sendiri agar lebih mandiri, serta menemukan tujuan hidupnya agar tidak selalu bergantung pada orang lain. Istri Abah langsung setuju dengan hal itu, Rosyid menginginkan teman perempuan ia tidak mungkin berani bermacan-macam dengan Nana, adanya hanya siapa yang berani bermacan-macam dengan Nana dalam pengawasan Rosyid. Saran itu bisa di terima, masalah kondisi Arya istri Abah bisa merawatnya. Tinggal dari Nana sendiri mau tidak dengan saran itu. Pandangan Arya tertuju ke arah Nana, Arya melihat wajah cantik Nana yang berseri, tatapan itu memiliki arti, Nana bisa menerjemahnya. Seolah bilang, siapa yang mau kehilangan adik terbaik sepertimu, aku tahu bahwa orang lain baginya hannyalah sedakar tahu tidak saling mengenal, karena masa lalu itu sangat kejam jika terulang kembali. Hati Nana aslinya baik, namun ia terlalu baik hingga tidak mau mengenal orang lain dengan alasan takut mereka membenci dan malah jadi beban bagi mereka. Nana masih termangu, ia memikirkan keputusan, sebenarnya mudah saja bilang “ya” atau “tidak”. Tapi untuk jawaban itu sekali lagi ia tidak mau merepotkan orang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN