Pagi telah tiba. Burung-burung berkicau berirama, saling bersahutan. Pagi yang indah, cocok untuk mendaki. Rencana Haikal mendaki ke puncak gunung purba akan terlaksana hari ini, bersama gadis cantik yang bernama Azza, namun itu hanya bonus saja, tujuan utama mereka adalah membuat data tentang gunung itu.
Ransel sudah siap, perlengkapan telah Akyas siapkan menjadi satu di tas yang nanti akan ia bawa. Om Alan akan ikut menemani mereka, mobil sudah siap. Kabar baiknya adalah jalan menuju ke sana tidak terlalu curam, hanya saja perjalanan kakinya saja yang terlalu betlika liku.
Semenjak pagi tadi Azza sudah mengabari bahwa dirinya sehat, dan akan bersiap siap, rutenya tetap sama, kelompok Haikal menjemput Azza, Diki ikut serta Afiqa juga tetap berada di samping Azza, menemaninya.
---
Sedikit tentang gunung api purba, gunung itu adalah termasuk gunung tertua di Nusantara. Ketinggiannya mencapai 700 mdpl. Gunung api purba adalah sebutan yang biasa diberikan pada fosil gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi atau telah mati.
Dulunya, gunung api purba juga aktif seperti gunung berapi yang kita kenal masih aktif saat ini. Nah, gunung yang masih aktif sampai sekarang misalnya gunung merapi yang ada di Jawa Tengah, teman-teman.
Karena suatu proses tertentu, gunung berapi dapat mati. Saat gunung berapi mati, magma yang ada di diatrema atau saluran magma utama kehilangan daya dorong yang dapat melontarkan magma ke permukaan.
Biasanya hal itu terjadi karena saluran ke dapur magma terputus.
Nah, seiring waktu berlalu, sisa magma yang ada biasanya menjadi beku.
Gunung api purba benar-benar telah mati dan sangat kecil kemungkinannya untuk dapat aktif kembali.
Jadi, ini berbeda, ya, dengan gunung berapi tidur. Gunung berapi tidur adalah gunung berapi yang untuk sementara tidak aktif.
Namun, suatu saat nanti dipercaya masih dapat aktif atau bahkan meletus.
Indonesia memiliki beberapa gunung berapi purba.
Salah satu gunung api purba yang terkenal dan telah menjadi tempat wisata adalah Gunung Api Purba Nglanggeran.
Gunung Api Purba Nglanggeran terletak di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Selain itu, ada pula Gunung Toba yang juga merupakan gunung api purba dan Gunung Bromo Purba.
Menurut penelitian yang pernah dilakukan, gunung api purba ini aktif sekitar 60 juta tahun yang lalu, lo. Wah, sudah lama sekali ya, teman-teman.
Nah, ada fakta menarik lain tentang Gunung Api Purba Nglanggeran.
Ternyata dulunya gunung api ini berasal dari gunung api yang ada di dasar laut. Oleh karena proses tertentu, gunung api tersebut terangkat dan kemudian menjadi daratan. Prosesnya tentu terjadi sudah jutaan tahun yang lalu, teman-teman.
Bentuk Gunung Api Purba Nglanggeran sekarang seperti bebatuan besar. Tingginya sekitar 700 mdpl (meter di atas permukaan laut).
Namun kini, Gunung Api Purba Nglanggeran sudah dijadikan tempat pendakian. Jadi, bisa saja mendaki sampai ke puncak kalau suatu saat nanti sedang berwisata ke sana.
---
Gunung Merapi diperkirakan berusia ratusan ribu tahun, sehingga gunung ini termasuk dalam golongan gunung berapi purba.
Ada dua buku yang membahas sejarah Gunung Merapi ini. Yang pertama adalah Geologic Map of Merapi Volcano Central Java (1989) dan yang kedua adalah Volcanological Study of Merapi (Central Java): Tephrostratigraphic and Chronology-Eruptive Products (1990).
Kedua buku tersebut menyebut bahwa Gunung Merapi telah terbentuk lebih dari 400 ribu tahun yang lalu. Saat itu, gunung ini belum bernama Gunung Merapi, melainkan Gunung Bibi.
Barulah ketika hancur, Gunung Bibi melahirkan anak yang baru diberi nama Gunung Merapi tersebut. Bisa diibaratkan itu seperti Anak Krakatau yang lahir setelah letusan Gunung Krakatau.
Dalam penjabaran proses terbentuknya Gunung Merapi, kedua buku membagi fase perkembangannya berbeda. Geologic Map of Merapi Volcano Central Java membaginya dalam dua fase, yaitu fase Merapi Muda dan fase Merapi Tua.
Sedangkan pada buku Volcanological Study of Merapi (Central Java): Tephrostratigraphic and Chronology-Eruptive Products, fasenya terdapat empat babak: fase pra-Merapi, fase Merapi Tua atau purba, fase Merapi Pertengahan, dan fase Merapi Baru.
Seperti yang telah diketahui, di Yogyakarta terdapat banyak temuan prasasti dan candi. Salah satunya adalah Candi Sambisari. Candi yang ditemukan pada 1966 ini terletak 23 kilometer dari selatan Merapi dan sempat menghilang karena terpendam lahar dingin Merapi.
Riset Menelusuri Kebenaran Letusan Gunung Merapi 1006 memperkirakan erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada 1006 Masehi menjadi penyebab hilangnya keberadaan Candi Sambisari. Sebenarnya tak hanya Candi Sambisari saja yang diperkirakan menjadi keganasan gunung berapi aktif tersebut. Ada banyak pula candi yang terkena imbas, namun kondisinya telah hancur sehingga tak bisa lagi diselamatkan.
Jika letusan pada 2010 tergolong dahsyat, itu bukanlah kekuatan sesungguhnya dari Gunung Merapi. Menurut para peneliti, dalam proses perubahan Gunung Merapi purba menjadi Gunung Merapi yang sekarang, terdapat beberapa kali ledakan yang sangat eksplosif sampai mengubah geologi sekitar. Penggambaran yang sering diutarakan adalah ledakan Gunung Merapi sampai memporak-porandakan Kerajaan Hindu di Jawa Tengah.
Para ahli berpendapat bukan tidak mungkin Gunung Merapi akan mengeluarkan letusan dahsyat lagi yang punya daya rusak super besar. Malahan bisa jadi ledakan itu akan menyerupai ledakan Gunung Vesuvius yang terjadi pada 79 Masehi atau Gunung Krakatau pada 1883.
Selain dampak kerusakan, letusan Gunung Merapi sebenarnya selalu mengubah area sekitarnya. Catatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) akan erupsi Merapi pada 2010 menunjukkan adanya kemunculan kawah baru di area gunung itu. Kawah tersebut punya lebar 423 meter, panjang 374 meter dan kedalaman 140 meter.
Dilansir situs Volcano Discovery, ada beberapa ledakan Gunung Merapi yang tercatat mengubah geologi. Catatan pertama adalah letusan yang terjadi 1967. Sesaat sebelum meledak, muncul sebuah kubah yang cukup besar pada April. Lalu pada 2001, ada kubah lava besar yang terbentuk di sana, lalu runtuh dan lavanya mengenai Sungai Bebeng dan Senowo.
Untuk perubahan morfologi Gunung Merapi sendiri, tercatat yang paling berubah terjadi pada periode 1822-1823 (kawah 600 meter), 1846-1848 (kawah 200 meter), 1849 (kawah 250 – 400 meter), 1865-1871 (kawah 250 meter), 1872-1873 (kawah 480 – 600 meter), 1930 dan 1961.
Panorama yang disuguhkan di lokasi ini meliputi pesona matahari terbit seperti sunrise dan juga matahari tenggelam atau sunset. Jutaan bintang yang bersinar di langit sangat bisa dinikmati saat malam hari.
Gunung Api Purba ini sangat cocok digunakan untuk panjat tebing atau rock climbing. Keindahan alam yang terlihat dari gunung Api Purba ini menjadi bagian obat mata yang baik karena pegunungan dan perkampungan penduduk yang berbaris melengkapi.
Gunung Api ini memiliki beberapa macam gunung yang mana memiliki sejarah tinggi. Pertama adalah Gunung Kelir. Gunung Kelir berbentuk menyeruapi kelir dan diakini adalah tempat tinggal dari Ongo Wijoyo dan Punakawan.
Selanjutnya ada Sumber Air Comberan. Sumber air ini kabarnya tidak pernah surut meski musim kemarau lho. Di lokasi ini juga ada tempat pemujaan dan pertapaan yang digunakan oleh orang terdahulu.
Berikutnya adalah Gunung Gedhe. Gunung Gedhe menjadi gunung terbesar di antara pegunnungan lainnya yang ada di Gunung Api Purba ini. Para pendaki yang menyusuri tempat ini banyak menggunakannya untuk lokasi camping ground. Keindahan yang ditawarkan di lokasi ini menjadi kawasan yang dipilih para pendaki untuk mendirikan tenda dan menikmati malam.
Gunung Bongos, adalah gunung yang berwarna hitam seperti arang dan digunakan sebagai tempat meletakkan blencong. Gunung Blencong merupakan gunung yang dipakai untuk lampu dan penerangan Kyai Ongko Wijoyo saat bersama dengan Punakawan.
Selain itu, ada Gunung Buchu yang berbentuk lancip. Gunung ini berasal dari puncak Gunung Merapi yang dipindah oleh Punakawan. Gunung tersebut dibawa ke desa Kemadang yang dipikul menggunakan kayu jarak. Berhubung di lokasi tersebut ada sumber air yang memiliki besar seperti dandnag makan gunung tersebut ditanam dan diberi nama Sedandang. Bentuk Gunungnya lancip dan biasa digunakan untuk panjat tebing.
Tologo Wungi. Di gunung Api Purba ini juga terdapat Tlogo Wungu. Keberadaan Tlogo ini hanya bisa dilihat oleh orang yang benar-benar bersih dan prihatin yang akan mengetahui keberadaan Tlogo ini di timur Gunung Nglanggeran. Konon, Tlogo ini merupakan pemandian dari bidadari, yang jika berhasil melihat tlogo ini akan mendapat canthing emas atau tlundak emas.
Tlogo Mardhido merupakan tlogo yang disebut sebagai pemadian Kuda Sembrani tunggangan bidadari. Konon di lokasi tersebut ada bekas tapak kuda Sembrani yang membekas di batu. Sementara itu Talang Kencono merupakan talang air dari Tlogo Mardhito yang mana hingga ke Jimatan Kota Gedhe Yogyakarta.
Terakhir adalah Pamean Gadhung. Mitosnya ada pohon gadhung yang ujungnya hingga ke Gunung Merapi. Kawasan ini kini banyak dihuni oleh monyet, kelelawar dan juga ular.
---
Di tanah Jawa ini telah banyak gunung api yang masih aktif maupun sudah mati. Di Yogyakarta misalnya selain bisa melihat merapi, adalah Gunung Api Purba yang bisa dijadikan lokasi wisata maupun pendakian.
Gunung Api Purba merupakan gunung berapi yang pernah aktif di jutaan tahun lalu di kisaran tahun 60 hingga 70 juta tahun silam. Gunung ini sudah dinyatakan tidak aktif lagi. Sebuah Gunung yang bisa terlihat kini berbentuk bongkahan batu andesit raksanan yang membentang sejauh 800 meter dengan tinggi hingga 300 meter.
Kawasan ini menjadi bagian ketertarikan para wisatawan. Tidak sedikit yang berkunjung menaiki Gunung Api Purba ini untuk berfoto atau bermalam di tenda. Di setiap titik istirahat sudah ada pendopo yang biasa digunakan untuk beristirahat dan memandang alam bebas dari ketinggian.
Panorama yang disuguhkan di lokasi ini meliputi pesona matahari terbit seperti sunrise dan juga matahari tenggelam atau sunset. Jutaan bintang yang bersinar di langit sangat bisa dinikmati saat malam hari.
Gunung Api Purba ini sangat cocok digunakan untuk panjat tebing atau rock climbing. Keindahan alam yang terlihat dari gunung Api Purba ini menjadi bagian obat mata yang baik karena pegunungan dan perkampungan penduduk yang berbaris melengkapi.
Gunung Api ini memiliki beberapa macam gunung yang mana memiliki sejarah tinggi. Pertama adalah Gunung Kelir. Gunung Kelir berbentuk menyeruapi kelir dan diakini adalah tempat tinggal dari Ongo Wijoyo dan Punakawan.
Selanjutnya ada Sumber Air Comberan. Sumber air ini kabarnya tidak pernah surut meski musim kemarau lho. Di lokasi ini juga ada tempat pemujaan dan pertapaan yang digunakan oleh orang terdahulu.
Berikutnya adalah Gunung Gedhe. Gunung Gedhe menjadi gunung terbesar di antara pegunnungan lainnya yang ada di Gunung Api Purba ini. Para pendaki yang menyusuri tempat ini banyak menggunakannya untuk lokasi camping ground. Keindahan yang ditawarkan di lokasi ini menjadi kawasan yang dipilih para pendaki untuk mendirikan tenda dan menikmati malam.
Gunung Bongos, adalah gunung yang berwarna hitam seperti arang dan digunakan sebagai tempat meletakkan blencong. Gunung Blencong merupakan gunung yang dipakai untuk lampu dan penerangan Kyai Ongko Wijoyo saat bersama dengan Punakawan.
Selain itu, ada Gunung Buchu yang berbentuk lancip. Gunung ini berasal dari puncak Gunung Merapi yang dipindah oleh Punakawan. Gunung tersebut dibawa ke desa Kemadang yang dipikul menggunakan kayu jarak. Berhubung di lokasi tersebut ada sumber air yang memiliki besar seperti dandnag makan gunung tersebut ditanam dan diberi nama Sedandang. Bentuk Gunungnya lancip dan biasa digunakan untuk panjat tebing.
Tologo Wungi. Di gunung Api Purba ini juga terdapat Tlogo Wungu. Keberadaan Tlogo ini hanya bisa dilihat oleh orang yang benar-benar bersih dan prihatin yang akan mengetahui keberadaan Tlogo ini di timur Gunung Nglanggeran. Konon, Tlogo ini merupakan pemandian dari bidadari, yang jika berhasil melihat tlogo ini akan mendapat canthing emas atau tlundak emas.
Tlogo Mardhido merupakan tlogo yang disebut sebagai pemadian Kuda Sembrani tunggangan bidadari. Konon di lokasi tersebut ada bekas tapak kuda Sembrani yang membekas di batu. Sementara itu Talang Kencono merupakan talang air dari Tlogo Mardhito yang mana hingga ke Jimatan Kota Gedhe Yogyakarta.
Terakhir adalah Pamean Gadhung. Mitosnya ada pohon gadhung yang ujungnya hingga ke Gunung Merapi. Kawasan ini kini banyak dihuni oleh monyet, kelelawar dan juga ular.
Harga tiket masuk ke Gunung Api Purba Nglanggeran ini sebersar Rp. 7.000 untuk sore hari dan Rp. 9.000 untuk malam hari. Fasilitas yang ada di Gunung Api Purba Nglanggeran ini ada Posko Kesehatan, Pusat Informasi, Pusat Kuliner, Balai Pertemuan, Toilet, Home Stay, Jalur Pendakian, tempat ibadah, dan camping.
---
Kawasan Gunungkidul sudah terkenal akan keindahan pantainya yang memanjang. Dengan kata lain, keindahan bawah laut kawasan ini juga sudah dikenal luas.
Lalu, bagaimana bila Anda pecinta wisata alam? Tak perlu khawatir, Gunung Kidul juga memiliki objek wisata alam yang tak kalah indahnya dengan bawah laut. Salah satunya objek wisata Gunung Api Purba Nglanggeran.
Sejarahnya, gunung yang terletak di desa Nglanggeran kecamatan Patuk kabupaten Gunungkidul ini pernah aktif 30-60 juta tahun yang lalu. Berada di kawasan Baturagung dengan ketinggian antara 200-700 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 23-27 derajat celcius.
Terletak 20 kilometer dari pusat kota Yogyakarta Anda cukup berkendara dengan mobil selama satu jam untuk sampai ke kawasan ini. Jalur yang menanjak namun sudah beraspal mulus ini cocok untuk dijadikan wisata petualangan.
Untuk sampai ke puncak gunung ini Anda harus mendaki selama 1-1.5 jam dengan rute mendaki cukup ekstrem. Kemiringan sudut 30-45 derajat bisa Anda tempuh disini. Namun bila sudah mencapai puncak, Anda bisa menikmati keindahan sunset diantara ladang persawahan atau suasana kota Gunungkidul pada malam hari serta kota Jogja yang mengecil dengan lampu kuning warna-warni bak kunang-kunang. Sungguh keindahan yang tiada tara.
Hal unik yang ada di kawasan ini adalah misteri 7 kepala keluarga yang mendiami wilayah puncak gunung tersebut. Menurut Mursidi selaku Ketua Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran, kawasan tersebut hanya boleh dihuni oleh 7 kepala keluarga, tak lebih maupun kurang.
Kepercayaan tersebut sudah turun temurun dan harus ditaati sesuai dengan pesan sesepuh pepunden dari dusun Tlogo yaitu Eyang Iro Dikromo. Jika kepala keluarga yang tinggal di dusun ini kurang atau lebih maka akan terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Hal ini bisa dilihat dengan keberadaan makam di Puncak Nglanggeran. Oleh karena itu, jika anak-anak mereka sudah berkeluarga maka keluarga baru tersebut harus meninggalkan Dusun Tlogo Mardhido.
Gunung Nglanggeran litologinya tersusun oleh fragmen material vulkanik tua ini memiliki dua puncak yakni puncak barat dan puncak timur, serta sebuah kaldera ditengahnya. Saat ini Gunung Nglanggeran berupa deretan gunung batu raksasa dengan pemandangan eksotik serta bentuk dan nama yang unik dengan beragam cerita rakyat sebagai pengiringnya. Gunung-gunung tersebut biasanya dinamakan sesuai dengan bentuknya, seperti Gunung 5 Jari, Gunung Kelir, dan Gunung Wayang.
Untuk masuk ke objek wisata ini Anda akan dikenakan biaya sebesar Rp 7000 pada siang hari, Rp 9000 untuk malam hari dan Rp 15 ribu untuk wisatawan asing. Objek wisata ini terbuka 24 jam dan sudah dilengkapi dengan homestay bergaya internasional yang memudahkan wisatawan untuk menginap di dalamnya.