Malam Pengetahuan

1143 Kata
Pada malam yang sama. Azza sedang memasak air panas, ia ingin membuatkan ayahnya teh. Uap kepulauan terlihat dari cerobong kecil teko, tak lama terdengar suara berdecit nyaring tanda air sudah panas. Azza lincah menyedihkan teh, dan mengantarkan ke ruang tamu, ayahnya sedang membaca kitab dengan kaca mata kecil yang ia kenakan. “Ayah ingin bicara?” Kata Azza. Sebenarnya kebiasaan mereka sudah bisa di lihat biasanya yang membuatkan minuman adalah pembantu, tapi jika yang membuatkan itu Azza berarti ayahnya ingin bicara. Ayahnya ingin berbicara tentang jodoh. Melaksanakan pernikahan itu merupakan impian bagi sebagian besar orang. Ada yang mempersiapkan hari besar itu jauh-jauh hari dengan persiapan yang matang. Namun ada juga pernikahan yang dilaksanakan dengan persiapan waktu yang singkat karena berbagai alasan. Kalau pernikahan dilakukan dengan persiapan Cuma 2 bulan itu mungkin masuk dalam kategori persiapan pernikahan yang singkat. Mulai dari ketemu jodoh sampai ke pernikahan adalah yang tidak mudah untuk di tempuh. Kadang yang membuat kendala dalam suatu pernikahan adalah soal jodohnya, karena syarat utama pernikahan adalah mempelai pria dan wanita. Menemukan jodoh di umur yang terbilang matang, 29 tahun. Padahal sejak kecil bercita-cita menikah di usia muda setidaknya 22 tahun sudah menikah. Namun bagaimana lagi sudah kesana-kemari mencari jodoh tapi tak kunjung bertemu sampai pernah curhat sambil bercanda sama teman kalau ada wedding organizer yang sekalian menyediakan mempelai pria saya mau pakai wedding organizer tersebut. Pasangan kekasih yang saling menemani dan memberikan semangat dari titik terendah kerap banjir pujian. Tak sedikit orang yang membagikan cerita kebersamaan bareng kekasih yang sudah bersama-sama sejak keduanya berjuang untuk sukses. Saat menjalin hubungan, setiap pasangan pasti punya rencana masing-masing sebelum dan sesudah menikah. Tak sedikit pasangan yang akan berupaya untuk mempersiapkan segala kebutuhan primer sebelum menikah, salah satunya adalah rumah atau tempat tinggal. Pernikahan tidak selalu diwarnai dengan keindahan. Hampir setiap pasangan menjumpai berbagai masalah atau hambatan setelah mengucapkan janji suci. Kehidupan rumah tangga pun tidak selalu tampak seperti akhir cerita dari dongeng-dongeng yang happy ending, tapi juga dihadapkan pada segala tantangan. Ketika hidup bersama, kedua sejoli harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, serta mencurahkan segala waktu, emosi, tenaga, dan uang demi keberlangsungan rumah tangga.Terdapat beberapa kata-kata bijak mengenai kehidupan rumah tangga yang cocok bagi pasangan suami-istri. Kata-kata bijak tersebut dapat berfungsi sebagai penyemangat dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan warna. --- “Ayah memilki kisah yang hebat, ini ayah dapat dari teman ayah waktu kecil.” Ia menutup buku dan kembali bercerita. "Kamu mau nggak nikah sama aku?" “Saat itu Ayah masih duduk di bangku kuliah semester 5, hanya bisa menganga dibuatnya. Teman Ayah memang telah menjalin hubungan selama kurang lebih 5 tahun, tapi untuk ukuran gadis yang masih duduk di bangku kuliah, ajakan menikah pastinya merupakan hal yang sangat besar dan cukup menakutkan. Ia hanya tak bisa menjawabnya. Ia butuh waktu. Lalu, hari demi hari pun berlalu. “Hubungan mereka memang putus-nyambung, bukan hanya setelah ajakan menikah, bahkan sebelum ajakan untuk menikah dilontarkan. Ia yang hanya bisa pasrah karena hampir selalu diabaikan oleh lelaki ini, mulai menemukan titik lelah. Tanpa penjelasan mengenai hubungan kami, dia melalang buana dari satu perempuan ke perempuan lainnya. Hubungan kami memang bisa dikatakan berakhir, namun rasanya tak pernah seperti benar-benar berakhir. Kupikir ikatan batin dan ikatan keluarga yang sudah sangat kuat, menjadikan kami terus kembali ke satu sama lain. --- “Ia tahu, sebenarnya memang lelaki itu tak cukup baik untukku. He doesn't worth my time. Tapi, cinta memang buta, kan? Terlebih lagi, keluarga besarnya sangat menyayangiku. Itu pula yang menjadi pertimbangan. Tapi, karena terlampau lelah dengan keadaan seperti itu, aku mulai mencoba membuka hati pada lelaki lain. Lelaki yang jauh lebih baik dari segi aspek apa pun. Sayangnya, kami berbeda agama. Tak ada masa depan untuk kami berdua. “Oh, bukannya aku tak sayang dan menaruh hati pada pasanganku sekarang. Tapi, agaknya ikatan antara aku dengan sang mantan masih nyata terasa. Hingga suatu hari di November 2020, aku iseng reply i********: story ibu dari mantanku ini. Dari situ, mulai ada komunikasi yang terjalin kembali antara aku, sang mantan, dan sang ibundanya. Kami memang sudah hampir tidak pernah berkomunikasi lagi sebelumnya, tapi itu tadi.. karena merasa 'ikatan', tak sulit untuk kami merasa connect satu sama lain dengan cepat. Hingga ajakan untuk menikah itu kembali terlontar dari mulutnya. Kali ini lebih serius, karena kami telah sama-sama berada di umur yang cukup matang. Namun, lagi-lagi, aku meragukannya. Melihat histori panjang perjalanan cintaku dengan mas mantan yang berkali-kali selingkuh dan ghosting, membuatku berpikir berkali-kali lipat. Apalagi, saat itu aku juga masih memiliki kekasih. "Aku tunggu sampai kamu putus dengan pacarmu." "What... apa iya dia seserius itu?" batinku. Aku tak pernah tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya. Karena ketika mengajak serius, ia berkali-kali mention bahwa ia didesak oleh keluarganya untuk segera menikah. Lagi-lagi, bertambah hal yang membuatku makin ragu. Aku tak bisa serta merta menerima atau menolaknya. Kubilang, aku butuh waktu. Berselang sekitar dua minggu setelah mengajak ku serius, aku mulai dighosting (lagi). Di titik itulah aku mencoba sholat istikharah, meminta petunjuk pada Tuhan tentang langkah apa yang harus kupilih. Menikah itu ibadah yang berat, bukan main-main. Aku tak mau sembarang melangkah. Setelah sholat, Tuhan langsung menjawab pertanyaanku detik itu juga tanpa ba bi bu. Aku melihatnya memposting foto di i********: bersama perempuan baru, dengan kata-kata seperti orang kasmaran. Kaget dan marah rasanya. Aku mulai blokir semua akunnya, mulai dari i********: hingga nomor telepon. Aku marah sekali dan merasa dipermainkan. Doa yang kupanjatkan tiap harinya tak pernah lepas dari kutukan agar ia mendapat balasan atas apa yang telah ia perbuat. Berbulan-bulan berlalu, aku masih merasa galau, sedih, dan kecewa. Tapi hal itu tidak serta merta memutus komunikasi antara aku dengan ibunya. Ibunya sangat menyayangiku, begitu juga denganku yang menyayangi beliau. Lagi-lagi, aku merasa ikatan itu masih ada. Aku merasa sejauh apavpun ia pergi, ia akan kembali padaku. Nahas, hanya aku yang merasakannya. Menjalin hubungan selama 5 tahun dengan kondisi keluarga yang sudah sangat dekat, tak membuat kami yakin satu sama lain. Tak sengaja kulihat profil instagramnya yang sudah lama kublokir, ternyata ia telah menikah dengan gadis tersebut. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, aku kaget dan badanku gemetar. Iya, lelaki yang beberapa bulan lalu mengajakku menikah, telah menikah dengan perempuan lain. Aku menangis sejadi-jadinya. Inikah penutupan dari semua cerita ini? Tak lama aku menghubungi ibunya, menyiratkan pamit dari kehidupannya, meminta maaf, dan tak lupa mendoakannya semua hal yang baik. Bagi sebagian orang, pernikahan memang suatu hal yang membahagiakan. Namun bagi sebagiannya yang lain, bisa jadi sebuah duka yang amat mendalam. Bila pernikahanmu baik, bersyukurlah karena banyak orang-orang yang kurang beruntung dalam percintaan dan kehidupan pernikahannya. Yah, mungkin akan susah membangun kepercayaan lagi untuk menjalin hubungan yang serius. Tapi aku percaya, apa pun yang terjadi maupun yang tidak terjadi, sudah pasti yang paling baik. Akan ada masanya menemukan jodoh yang paling baik yang telah dipilihkan oleh Tuhan. Akan ada masanya. Yang terpenting, kita mampu menerima dan mencintai diri kita terlebih dahulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN