Sudah lima bulan Akira memimpin perusahaan Marco yang menjadi miliknya sekarang. Dia menikmati posisi barunya ini, meski tidak mudah. Karena kadang, dia harus menghadapi klien yang licik, kadang juga jahil suka menatap dirinya dengan pandangan tidak senonoh. Untungnya ada Marcel dan Dewi yang membantunya. Beberapa kali, dia sempat melihat Tristan di sebuah cafe. Tapi, mungkin saja lelaki itu tidak melihatnya. Baguslah, pikir Akira saat itu. Hari ini, Akira ingin pulang lebih cepat agar menghabiskan waktunya bersama dengan anaknya. Biasa, memang Sabtu dan Minggu dia tidak bekerja, sedangkan Jumat kadang pulang cepat. Jadi, dia kali ini pun akan pulang lebih dulu karena tidak ada keperluan penting yang mendesak. Karena menurut Akira, anaknya lebih penting dari apa pun. Ah, memikirkan Reyhan

