Marco turun dari mobilnya, ia sama sekali tak menjawab pertanyaan Marsel. Bukan tak mengindahkan, hanya saja dia ingin memikirkan rencana yang tepat untuk sesuatu yang ada di kepala Marsel tentang masa lalu Akira. Tok… tok… Tok… tok… Ada sedikit rasa takut di dalam hati, ada sedikit rasa malu karena mungkin terlalu berlebihan dalam bersikap kepada Akira, namun ia tak bisa berbuat banyak. Bukan tak pernah melawan keinginan diri untuk peduli terhadap Akira, namun bagaimanapun ia berusaha untuk tetap tidak peduli kepada Akira, semuanya selalu sia-sia yang berujung menjadi suatu beban pikiran bagi dirinya. Pintu terbuka, betapa terkejutnya Marco saat melihat Akira tengah berdiri di hadapannya. Bukan tanpa alasan, ia melihat Akira sangat lemas bahkan seolah tak mampu untuk berdiri, ia juga

