Mata Devan membulat sempurna, ia berharap apa yang di katakan mamanya tidak salah. Ia langsung meraih lengan mamanya seolah Yanti adalah mamanya, lalu ia menatapnya sambil tersenyum. “Di mana mama melihat wanita ini?” tanya Devan. “Itulah yang mama tidak ingat, mama sama sekali tidak mengingatnya tapi sepertinya mama pernah melihatnya. Dan saat melihatnya, mama juga berpikir kalau mama pernah melihatnya yaitu di ponsel kamu” kata Yanti. “Coba mama ingat-ingat lagi, siapa tahu dia benar-benar wanita yang Devan cari” ucap Devan sedikit mendesak Yanti. Pletak… Yanti segera menoyor anaknya itu, ia bahkan merasa sedikit sakit di bagian lengannya. Hal itu tak luput dari pandangan seseorang yang kini tengah berdiri di ambang pintu yang bahkan tak mengetuk pintu terlebih dahulu. “Sepertinya

