Rinto berjalan mendahului mereka lalu di ikuti oleh Riana. Tak ada yang bisa berkutik setelah mendengarkan apa yang Rinto katakan, lalu Rian dan yang lainnya menyusul mereka. Bagai di sambar petir di siang bolong, Renny menatap Tristan yang kini tengah pucat pasi, ia bahkan tak mampu untuk melangkahkan kakinya. Sekuat tenaga Renny lakukan untuk bisa bekerja sama dengan kedua kakinya, dengan perlahan ia mencoba melangkah dan menarik tangan Tristan yang kini telah menjadi dingin karena rasa takut, lalu ia berlari menghampiri Rinto yang kini akan memasuki mobil. Renny bersujud di kaki Rinto sambil menarik tangan Tristan hingga Tristan juga ikut bersimpuh di kaki pria paruh baya itu, pria baik hati yang kini menjadi sangat kejam karena hati putri angkatnya yang kini menjadi putri satu-satun

