Akira mencoba untuk tetap tegar, mencoba untuk mengiklaskan Marco meski pada kenyataannya ia tak mampu. Sama halnya seperti seorang istri, Akira seolah kehilangan suaminya saat kehilangan Marco. Dengan isak tanggis, ia memeluk batu nisan Marco, lagi-lagi ia merasa sekujur tubuhnya melemah hingga hampir sajam membuat dirinya tak sadarkan diri, beruntung dengan cepat Rian mendekatinya dan langsung memberikannya sandaran layaknya seorang kakak. “Kau tau, aku bahkan tak bisa untuk berkata apa-apa lagi. kau adalah orang yang paling baik sekaligus orang yang paling jahat yang pernah aku temui. Kau sangat tega meninggalkan aku seperti ini, tapi aku harus berusaha ikhlas supaya kamu tenang di alas sana, hiks… hiks. Aku berterima kasih, kau selalu mengatakan kalau kau akan memberikan baju ini kep

