Apa yang di tunggu-tunggu tak kunjung ia dapatkan, dan bahkan apa yang di harapkan tak bisa ia dapatkan. Akira tak bisa menahan tangis saat mendengar kalau Marco kini telah tiada. Hancur sudah hati Akira, ia bahkan tak bisa berbicara dengan Marco untuk terakhir kalinya, ia bahkan tak bisa menunjukkan betapa bahagianya dirinya setelah kehadiran putranya. “Ra, kamu yang sabar ya, sayang” ucap Rinto sambil mengusap puncak kepala putrinya itu. “Sabar? Apa maksud papa? Akira tidak mengerti apa yang papa bicarakan” kata Akira. “Marco…” bahkan untuk mengatakannnya, Rinto tak mampu. “Marco? Ada apa dengan Marco? Apa yang terjadi dengannya?” tanya Akira, sementara si Mbok sudah menangis terisak. “Ada apa ini? kenapa si Mbok menangis? Kenapa kalian seperti ini?” tanya Akira lagi. “Yang sabar ya

