Aku menggeliat, membuka mata hanya untuk mendapatkan suguhan mata hitam yang mampu membuat aku ingin berbalik karena malu. Tapi lengan kokohnya memerangkap tubuhku, dan yang bisa aku lakukan hanya bersembunyi dalam d**a telanjang miliknya. Menikmati aroma tubuhnya yang beraroma maskulin. Ini aroma sabun miliknya. Aku mendongak langsung menatap dia yang tersenyum. Dan aku tahu kenapa aroma itu menyeruak di dalam dirinya. "Kau sudah mandi?" Tanyaku dengan bodoh. Tentu saja dia sudah mandi. Lihat saja bagaimana kesegaran itu ada di wajahnya yang di hiasi dengan senyum bahagia tertahan. "Dan tidak mengajakku," lanjutku. Tidak membiarkan dia menjawab pertanyaan awalku. Andre menunduk, menyatukan dahi kami berdua hingga aku bisa merasakan deru nafasnya saat setiap kata keluar dari bibirnya.

