"Bi, cabenya tambah lagi, ya. Nanti gak pedes," instruksiku pada Bu Inah yang sedang membuatkanku rujak pesananku tadi pagi. Tadi, aku bangun ketika adzan Dzuhur berkumandang, dan dengan posisi yang sama. Aku yang bergelung di dalam pelukan hangat milik Mas Sam. Aku bangun tanpa mengusik Mas Sam, karena dilihat dari wajahnya ia sangat lelah, kantung matanya nampak hitam di bagian bawah. Mungkin memang benar, tiga hari ini ia sangat sibuk. Dan salah satunya sibuk kencan dengan perempuan seksi itu. Ah, sudahlah. Lupakan! Lebih baik aku sholat dan ke dapur. Dan sekarang di sinilah aku. Merecoki Bi Inah yang sedang membuatkanku rujak seperti yang aku pesan tadi. Dan untuk somai, jangan ditanya lagi. Semuanya sudah lenyap di dalam perutku, haha. Dasar perut karet! "Tapi tadi sudah Bibi ka

