SaD–33

1087 Kata

"Bundaaaa," aku langsung berhambur ke pelukan Bunda ketika Bunda membuka pintu depan. Aku sangat-sangat merindukan Bunda. "Ya Allah, anak Bunda. Adek kenapa gak bilang pulangnya?" Aku tidak kuasa menjawab, aku sudah sesenggukan dipelukan Bunda. "Loh, kok malah nangis? Udah dong, anak gadis Bunda jangan ciwek." Bunda mengurai pelukanku dan menghapus air mataku yang sudah menganak sungai. "Ayo masuk, dulu. Bunda masak enak sore ini." Bunda menuntunku masuk ke dalam rumah yang sudah tiga bulan ini aku tinggalkan. Semula tidak berubah, masih tetap sama. Nyaman dan aman. Aku belum berkata-kata lagi, aku hanya mengikuti instruksi dari Bunda. Rasanya lidahku kelu untuk berbicara, apalagi rasa bersalah terhadap Bunda yang menggerogotiku. Aku takut kalau Bunda marah dan kecewa. Apalagi kalau

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN