SCANDAL DENGAN NYONYA
[Episode 4 ~ Suami Impoten]
Setelah semuanya bersih, Bianca kembali ke kamar Tuan Zen yang katanya tadi mencari nya tapi pada saat Bianca sudah berada di dalam kamar, Tuan Zen ternyata sudah tertidur dan Bianca membentulkan selimut Tuan Zen dan segera tidur di kursi yang ada di samping ranjang dengan kepala yang berada di sebelah Tuan Zen dan tangan saling menggenggam.
Bisa saja Bianca tidur di sebelah Tuan Zen karena bagiamana pun mereka adalah suami istri tapi sepertinya, Bianca enggan melakukan itu dan memilih untuk tidur di kursi dan Bianca yakin kalau besok pagi pinggang nya akan terasa pegal karena tidur dengan posisi menunduk tapi bagi Bianca itu tidak masalah karena setelah merasakan kenikmatan dan kegiatan... ero...tis bersama dengan Max beberapa jam lalu membuat Bianca merasakan @$@_@.
Bianca juga berhak bahagia karena selama pernikahan dengan Tuan Zen terlalu banyak beban dari Aliyyah, istri pertama Tuan Zen.
-
" Hei, udah bangun Bi? Kenapa tidur di kursi nggak tidur di samping aku aja tadi aku nyuruh Max yang mindahin kamu buat baring di ranjang. " Ucap Tuan Zen saat melihat Bianca membuka matanya dan menjelaskan apa telah terjadi karena tidak mungkin kalau Tuan Zen yang mengangkat Bianca ke ranjang.
Bukannya segera membalas apa yang dikatakan Tuan Zen, Bianca malah terpaku dengan kata-kata... Tadi Max mindahin kamu.
Benarkan?
Kenapa tadi aku nggak terbangun.
Bianca merasakan bunga-bunga yang begitu indah di pikirannya dan sebuah kegiatan ero...tis.
" BI? " panggil Tuan Zen lagi hingga Bianca tersadar dan segera menjawab.
" Eh iya, maaf. " Ucap Bianca segera memeluk Tuan Zen yang duduk di samping Bianca dan saat Bianca memeluk Tuan Zen tiba-tiba saja ada Max yang berdiri di belakang Tuan Zen dengan wajah datarnya.
Ya ampun!
" Padahal semalam sampai merem melek tapi sekarang lihat aku datar aja. " Ucap Bianca dalam hati dan segera melepaskan pelukannya kepada Tuan Zen dan setelah itu suara Max terdengar...
" Selamat pagi Nyonya. " Ucap Max dengan senyuman tipis tapi lebih terlihat sinis.
" Hm, pagi. " Ucap Bianca lagi.
" Eh ini ada apa? Pagi-pagi Max kok udah ada di sini? " tanya Bianca yang mengira kalau ini masih pagi tapi ternyata tidak.
" Ini udah jam sebelas siang sayang... " ucap Tuan Zen menyadarkan Bianca.
Benarkan?
" Sudah siang ternyata? Aku mandi dulu deh! Nanti kita jadi ke Dokter kan? " tanya Bianca lagi pada Tuan Zen.
" Jadi, tapi kamu aja di anterin Max makanya dia udah kesini daritadi nunggu kamu bangun tidur. " Ucap Tuan Zen yang membuat Bianca meringis seketika.
" Yaudah deh aku mandi dulu, tunggu ya Max. " Ucap Bianca yang segera ngacir ke kamar mandi dan melihat Max dengan tatapan @$@&@ yang Hany bisa Bianca saja mengerti dan juga Max.
" Aku harus pake apa ya? " tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Kenapa Bianca jadi heboh seperti ini? Padahal hanya ke dokter saja?
" Pake yang kancingnya di depan. " Ucap Bianca dengan senyuman m***m.
-
" Aku berangkat dulu ya, bye-bye... " ucap Bianca yang sudah selesai mandi dan memaki bh dengan kancing depan dan kemeja kancing depan juga.
Setelah mengatakan itu, mobil yang berisi Bianca dan juga Max langsung pergi menuju rumah sakit tapi Bianca sedari tadi tidak fokus karena masih sibuk dengan sabuk pengaman yang sulit untuk di pasang.
" Eh kok berhenti? " tanya Bianca dengan wajah polos karena tiba-tiba saja mobil yang di kendarai Max berhenti.
" Gimana nggak berhenti, kamu daritadi nggak bisa masang Bi. " Ucap Max yang sudah condong ke arah Bianca yang membuat Bianca terdiam seketika.
" Ya ampun aromanya. " Ucap Bianca dalam hati yang merasakan aroma Max yang begitu memabukkan.
" Bernafas dulu Bi. " Ucap Max sambil tersenyum karena sedari bangun tidur tadi Bianca selalu melihat ke arah Max dengan senyuman minat dan ero...tis.
" Eh, iya?! " ucap Bianca yang kaget karena ketahuan memandangi Max.
Bolehkah Bianca malu?
" Udah nggak usah malu. " Ucap Max sambil mengelus gemas rambut Bianca yang membuat Bianca malu.
_
" Semuanya baik-baik saja. " Ucap Dokter itu.
" Suaminya mau di periksa juga? " tanya Dokter itu kepada Max yang di kira suami Bianca.
" Oh boleh... " ucap Max yang membuat Bianca kaget bukan main.
Bianca kira Max akan mengatakan yang seharusnya dikatakannya tapi saat di tawari periksa juga Max tidak menolak.
" Suaminya juga baik-baik saja, dari usia kalian... Kalian masih muda untuk seorang pria yang akan memiliki anak dan juga seorang wanita yang akan memiliki anak, sekarang jadwal ber...cinta harus ditingkatkan dan nikmati saja saat-saat berdua dam selama itu semoga akan ada buah hati di antara kalian. " Ucap Dokter yang membuat Bianca merona seketika apalagi tangan Max yang berada di bawah meja sangat dekat di area sensitif karena saat bergerak terasa area sensitif nya menegang.
Hm...
" Oh gitu ya Dok, untuk makanan gimana? " tanya Max yang siang ini menikmati peran sebagai suami pura-pura.
" Eh kamu tuh! " ucap Bianca sebal karena kelakuan Max tadi.
" Nggak apa-apa Bi, dokternya juga nggak lihat kok. " Ucap Max santai dan segera pulang ke rumah.
" Langsung pulang ya Bi, karena tidak mungkin aku bawa kamu keluar lebih lama, Tuan Zen pasti ingin melihat hasil pemeriksaan hari ini. " Ucap Max yang seolah tau apa yang sedang berada di pikiran Bianca yang sedari tadi memikirkan hal ero...tis bersama dengan Max sejak detik pertama bangun tidur.
" Iya. " Ucap Bianca dengan wajah cemberut.
" Jelek ih, cemberut gitu. " Ucap Max sambil mengacak-acak rambut Bianca tapi sepertinya Bianca tidak peduli dengan rambutnya dan lebih memilih mengatakan...
" Aku boleh cium kamu kan? " tanya Bianca lagi yang membuat Max kaget.
" Cium gimana? Kita masih di dalam mobil ya. " Ucap memperingati Bianca karena semenjak pertama kali bercinta dengan Max, Bianca selalu saja melihat Max dengan pandangan ingin menelanjangi Max tapi Max okeh aja! Biasa darah muda, seorang istri yang tidak di beri kebutuhan batin.
" Cium gini doang. " Ucap Bianca yang sudah melepaskan sabuk pengaman nya dan segera memeluk Max dari arah samping dan mengecup dagu Max yang seksi, uh dagu yang menggesek bagian merah jambu nya terlihat sangat seksi.
" Jangan ke bawah juga Bi, kalau aku ere...ksi gimana? Ini kita mau pulang ke rumah. " Ucap Max memperingati dan seperti Bianca tidak peduli karena Bianca tetap mengecupi dagu dan juga telinga Max yang membuat Max mengerang seketika.
" Shhh, shhhh, shhhh. " Ucap Max yang harus menahan desahan dan juga laju mobilnya karena kelakian nya sudah berada di dalam mulut Bianca yang hangat.
Hm...
" Uh Bi. " Ucap Max yang merasakan enak dan juga memperlambat laju mobilnya karena ingin menikmati sensasi ini.
" Uh, uh, udah Bi. " Ucap Max lagi yang tidak tahan karena sudah berada di puncak kenikmatannya.
" Huh! Kau nakal sekali Bi. " Ucap Max tapi Bianca hanya menggigit bibir bawahnya dan melihat ke arah Max seolah-olah mengatakan...
" Puaska aku Max!! "
Dan tanpa pikir panjang, Max mencumbu Bianca di dalam mobil di pinggir jalan itu.
Mereka ber...ciuman dengan sangat bahkan tangan Max sudah meraba kancing kemeja Bianca dan meremas d**a Bianca sesekali.
Bercumbu seperti itu sudah membuat Bianca ba...sah di bawah sana.
Ya ampun!
Bianca merasakan blingsatan karena Max sudah membuka seluruh kancing depan, tuh kan! Rencana Bianca untuk memakai kancing depan sangat berguna karena tidak perlu sibuk mencari tepian baju hanya tinggal melepaskan kancingnya saja.
Sekarang Max mengecupi d**a Bianca apalagi pucuk d**a yang berwarna pink selalu membuat Max gemas.
" Menggunakan jari tidak masalah kan? " tanya Max karena setelah itu langsung tangan nya masuk ke dalam rok pendek yang di gunakan Bianca dan mencari lipatan merah muda yang pasti sudah basah.
Bianca tidak mendengar apa yang di ucapkan Max karena Bianca terlalu sibuk dengan apa yang sedang terjadi.
Sebuah kenikmatan.
Move!
Please, Move!!
_
To be continued