Deretan pria berjas berdiri sejajar di sepanjang gang kumuh kecil itu. Wajah mereka terlihat tegas tanpa senyum, datar tanpa ekspresi bagaikan patung di etalase. Atika yang menarik gerobak ke arah gang rumahnya menghentikan tarikannya. Dia melihat banyak sekali pria berjas hitam di depan gang. Seakan mereka sedang mengawal presiden yang sedang berkunjung ke perumahan kumuh mereka. Kania di belakang gerobak yang melihat sang adik berhenti menarik gerobak melihat ke arah depan gang. Dia menjatuhkan rahang bawahnya ketika dia melihat betapa banyaknya orang yang berdiri di depan gang. Yang lebih membuatnya terkejut lagi, ada pria yang sudah satu ini membawakan sarapan pagi untuknya. "Mas Surya," Surya hanya menatap ke arah Kania tanpa senyum, dia tidak sedang dalam situasi libur. Jadi tak

