Bab 9 Tidak Lagi Berteman

1841 Kata
Arash meraih tangan Celine, diremas lembut sambil menatap si nona dengan raut wajah menyelidik. Apa si nona sudah mengetahui dia lah Sandiya Lewis? Namun itu tidak mungkin karena Sandiya Lewis tidak pernah diketahui seperti apa sosoknya. Apakah ganteng, atau buruk rupa? Si nona pun tidak tahu kalau dia berperan sebagai Arash Lewis saat mengerjakan tugas-tugas Sandiya Lewis di Lewis Company. Pria ini sejak meninggalnya Diana sang mantan istri, menutup diri dari dunia. Mengapa dilakukan itu karena tidak mau terus dipertanyakan mengenai meninggalnya sang mantan, meski sudah dijelaskan kepolisian bahwa perempuan itu murni mengalami kecelakaan mobil. Diana istri Arash berselingkuh karena merasa diabaikan pria itu yang disibukan pekerjaan mengelola Lewis Company. Dengan sengaja membuat sang suami melihat perselingkuhan tersebut, lantas dicerai. Setelah bercerai dia menjalin cinta sana-sini, hingga klik dengan Latief Al Mahmud billionaire asal Timur Tengah. Sayang hubungan itu terendus wartawan, sehingga terus dikejar untuk diliput, sekaligus mempertanyakan apakah karena itu dia dicerai Sandiya Lewis? Pengejaran itu membuat mobil yang ditumpangi dia dan sang kekasih menabrak keras dinding under pass di Singapura. Dia dan kekasih meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit Hang Dzu Hospital. “Kamu tidak mau kita berteman lagi?” Arash bertanya sambil memandang Celine, “Apa calon suami kamu melarang kita berteman?” Celine melepas tangan sang presdir, “Dia tidak ada melarangku berteman dengan siapa pun,” sahutnya menghela napas, “Aku kesadaran sendiri, menghargai calon suamiku.” Arash menghela napas merasa akhlak nona ini bagus. Sang gadis menghargai perasaan pria yang akan dinikahi. “Ara,” Celine menegur Arash, “Maafkan Aku,” dipandang sang presdir dengan pilu, “Sampai di sini saja kita berteman ya.” “Sebenarnya,” tuan muda membalas tatapan itu, “Kamu memutuskan pertemanan karena mau menikah, atau sebab Aku agresif ke kamu?” entah kenapa dia memberikan pertanyaan tersebut. Apa dia menyadari sedari mereka bertemu, dia slengean dan agresif. Presiden ini mengakui kepicut sosok Celine si mungil, lantas jatuh mencinta saat mengetahui si nona berusaha keras mendapatkan dana operasi untuk Giovan ayah sang gadis. Di mata dia, tuan putri berakhlak mulia sebab berbakti ke orang tua. Celine menghela napas diberi pertanyaan tersebut. Sejujurnya dia tidak masalah dengan sikap agresif sang presdir karena masih dalam batas kesopanan. Namun saat dia memutuskan untuk menikah sama Sandiya Lewis, merasa harus menghentikan pertemanan dia dan tuan muda itu. Dia sadar Sandiya Lewis pria berkuasa, pasti tidak terima jika dia masih berteman dengan sang presdir. “Arash,” si nona bersuara, “Semua pria atau wanita, saat memutuskan menikah, pasti harus memutuskan pertemanan dekat dengan pria kah, atau wanita kah.” Arash menghela napas, yang dikatakan sang gadis ada benarnya, tapi ada tidak benar juga. Menikah bukan berarti memutuskan silaturahmi, hanya membatasi pertemanan yang ada. “Siapa calon suami kamu itu?” dia memberi pertanyaan ke Celine. Celine terkesiap, harus kah memberi jawaban? Ditukasnya cepat. “Kamu tidak perlu tahu siapa calon suamiku.” “Apa kamu mencintai dia?” Si nona terhenyak dengan pertanyaan itu. Mencintai Sandiya Lewis? Seperti apa sosok presiden misterius itu saja dia tidak tahu. Indira dan Alika juga tidak tahu karena setelah James menyetujui penawaran ibu tiri Celine, tidak ada mengirimkan foto dan biodata Sandiya Lewis. Si kakek menunda memperlihatkan sosok Sandiya Lewis agar Alika tidak kepicut rupa tampan cucunya itu. Dia tahu karakter Alika buruk seperti Indira, tidak sudi sang cucu memperistri perempuan itu. “Lin, tolong dijawab pertanyaanku itu.” Arash meraih tangan si nona, diremas lembut sambil menatap penuh harapan. Harapan si nona mengatakan mencintai calon suami misterius itu. Namun harapan itu tidak akan mungkin sebab sang gadis tidak pernah bertemu dan mengenal Sandiya Lewis. Nona hanya bertemu dan mengenal Arash Lewis yang juga misterius. Tuan presdir belum memperkenalkan diri lebih jauh ke gadis itu. Bisa dimaklum karena mereka baru saling mengenal. “Sudah Ara,” si nona tidak mau memberi jawaban, “Yang jelas, please kamu tidak lagi menemuiku. Aku tidak mau keberadaanmu diketahui calon suamiku, yang bisa membuatmu celaka. Kamu pria baik, Aku mau Kamu tetap selamat di dunia ini.” “Apa Kamu menyukaiku?” Si nona terhenyak dengan pertanyaan ini, “Maksud Kamu apa?” “Kamu mengatakan itu apa karena menyukaiku? Kamu cemaskan Aku kan?” Tuing, si nona menghela napas, mengapa Arash jadi salah mengartikan perkataan dia? Dilepas genggaman tangan sang presdir, lantas mengeplak gemas lengan pria ini. “Kamu tu ya?” ditatap dengan gregetan, “Aku bukan kamu, Ara. Aku tidak bisa semudah itu menyukai lawan jenis yang baru kukenal!” “Mengapa tidak bisa, hmm? Apa Aku buruk rupa seperti Beast di film Beauty And The Beast?” Arash memamerkan wajah ganteng baby face ke Celine dengan gaya khas para aktor Hollywood. Si nona menjadi bertambah gemas, kembali di keplak lengan pria itu. “Sudah ah jangan kepedean kenapa!” rengek dia kesal, “Pokoknya aku belum menyukaimu karena kita baru kenal.” “Belum menyukaiku?” Arash langsung mengutip perkataan si nona, “Berarti di hati kamu ada rasa suka ke Aku.” Celine menepuk kening, pusing dia menghadapi pria ini yang dirasa tidak waras. Salah si nona mengapa mengatakan belum menyukai, dan mencemaskan, jadi dirasa sang presdir, dia ada hati ke pria itu. Arash pria yang mencermati setiap kata dalam rangkaian kalimat, selain gerakan lawan bicaranya. Ilmu itu didapat dari James. Jadi setiap kata dari perkataan si nona dicermati dan dinilai. Si nona lantas merentakan bahu sambil menghela napas, “Udah ah ngomong sama Kamu bikin Aku lieur,” ujarnya tidak tahu harus mengatakan apa untuk ke tidak warasan sang presdir, “Udah kamu sana maksi sendiri!” diusir pula tuan muda ini sambil berdiri, “Pokoknya hari ini kamu tidak boleh menemuiku lagi!” tukasnya galak. “Berarti esok hari,” Arash bersuara sambil menatap nona mungil ini, “Aku boleh menemuimu? Kan Kamu bilang hari ini Aku tidak boleh menemuimu, maka besok bisa menemui kamu kan?” Celine terhenyak mendengar ini, satu tangannya dikepal kuat sambil diangkat ke atas, ingin dipukulkan ke tuan muda tersebut. “Ugh!” seru dia tidak tega memukul sang presdir, “Au ah, cape deh!” dia segera membalikan badan, lantas bergegas jalan menuju ke dalam rumah. Namun karena sedang kesal tidak melihat kalau daun pintu setengah tertutup, membuat dia menabrak pintu tersebut, “Aduh!” pekiknya terjatuh setelah menabrak. “Astaga!” Arash kaget bukan main segera menolong gadis malang yang ceroboh ini, “Mana yang kena pintu, sayang?” dia menopang tubuh mungil ini yang baru terpental jatuh, “Mana yang kamu rasakan sakit?” terus bertanya dengan kedua manik menyisiri tubuh depan nona tersebut. Celine mengeplak lengan sang presdir, “Kenapa sih Kamu ngga bilang kalau pintu itu,” dia malah bicara ke hal lain sambil menunjuk pintu tak berdosa yang ditabraknya, “Tidak terbuka lebar?” disalahkan pria ini mengapa tidak memberinya peringatan sebelum menabrak pintu. Sang presdir melihat ke pintu itu, lantas sedikit tersenyum geli karena si nona menyalahkan dia yang tidak mengawasi sekitar sang gadis. Celine melihat senyum itu kembali mengeplak lengan si tuan muda, “Ish, kok malah senyum sih? Sakit tauk keningku ngebentur tu pintu!” dia merengek sambil mengusap kening yang duluan menabrak pintu. “Tu lihat!” serunya menunjuk kening itu dengan wajah mewek, “Merah kan?” disuruh Arash melihat ke sana. Arash sedikit tersenyum geli karena si nona seperti dia yang slengean, membuat hatinya bertambah jatuh cinta ke sang gadis. Sedangkan Giovan dan Martin yang ternyata sedari tadi menguping dari balik jendela, tersenyum geli melihat semua ini. Sang presdir segera mengarahkan mata ke kening itu sebelum Celine bertambah merengek karena tidak ditanggapin. Pelan dia usap-usap kening tersebut sambil sesekali ditiup lembut, berharap kekesalan sang gadis berangsur surut. Si nona mengarahkan pandangan ke sang presdir yang dengan tulus menerima dipersalahkan dan mengobati rasa kesalnya. Diamati sejenak, merasa baru kali ini ada pria baik seperti tuan muda tersebut. Selama ini semua pria yang dikenalnya hanya tergoda aura sensual tubuh mungil dia yang dihias dua melon bulat bagus. Arash tersadar diamati gadis ini menurunkan wajah, lantas bertubruk pandang dengan si nona. Dibenak dia saat ini melihat bidadadari cantik dari surga. Pelan dia tergerak mencium sejenak kening sang gadis sambil meresapi dihati perasaan indah jatuh cinta. Giovan dan Martin yang masih menguping saling berpandangan. “Tuan,” Martin bicara pelan, “Tuan Arash pria baik, jadi Anda bisa tenang.” Ujarnya tahu ada rasa cemas si atasan melihat Arash mencium kening Celine. “Ha eh!” desah Giovan pelan, “Just wait and see, Martin.” Kembali ke teras, Arash melepas ciumannya, ditatap sang gadis yang melongo karena dicium dia. “Gimana sayang?” dia bersuara, “Apa rasa sakit di kening kamu sudah berkurang?” ditanya perasaan si nona mengenai sakit di kening, padahal dia ingin mengatakan dia jatuh cinta ke sang gadis. “Kenapa kamu cium kening Aku?” Celine malah memberi pertanyaan sambil memandang sang presdir, “Kamu pria belang-belang kah? Kita baru kenal, Kamu mencium keningku.” Arash terkesiap mendengar ini, lantas tampak mentertawakan diri, hatinya menjadi tidak karuan karena si nona mempertanyakan mengapa dia mencium kening malang itu. Dia lantas bersuara. “Kita memang baru kenal, tapi Aku perduli ke kamu. Kamu mengeluh keningmu sakit kena pintu, maka aku cium kening itu agar rasa sakit tersebut hilang.” “Lain kali ngobatin keningku pakai salep memar aja ya,” si nona menolak penjelasan tuan muda ini, “Aku masih gadis soalnya.” Imbuh dia memberi isyarat agar sang presdir mengendalikan diri, “Dari kening bisa ke yang lain.” Arash terhenyak mendengar ini, lantas kembali mentertawakan diri, si nona menyadari dia tengah dilanda cinta yang menggolak hasrat. Dijawil sayang hidung sang gadis. “Iya, sayang,” sahut sang presdir, “Jadi besok Aku kemari lagi ya. Bawakan salep memar untuk keningmu.” Dikembalikan tema pembicaraan ke persoalan Celine meminta dia tidak lagi menemui si nona. “Aku bisa beli sendiri salep itu,” tukas sang gadis gemas karena tuan muda kembali bernegosiasi, “Udah sana kamu kembali ke tempat kerjamu.” Diusir lagi sang presdir sambil berdiri, bergegas ke depan pintu, dikeplak kesal daun pintu sambil dimarahin, “Lain kali kasih aku peringatan kalau kamu masih setengah menutup!” lantas menarik si pintu agar terbuka lebar, dan tergesa masuk sambil kembali menarik pintu malang tersebut agar menutup rapat. Arash mendengar ini tersenyum geli tahu kalau omelan itu untuk dia. “Sayang!” serunya lantang ke Celine, “Nanti Aku kemari lagi ya membawakanmu salep memar dan makanan!” “Aku ngga perlu itu!” sahut si nona polos dari dalam dengan suara lantang pula, “Udah Kamu tidak usah repot membujukku! Pokoknya kita putus!” serunya asalan. “Aku menolak putus dari Kamu!” sang presdir membalas seruan itu dengan wajah tersenyum geli karena seolah mereka sudah berpacaran. “Ara, Aku mau menikah!” “Masa bodo, Aku tidak perduli itu! Aku akan bersaing sama calon suamimu itu!” “Kamu ngalah kenapa, sudah jelas dia yang menang!” “Aku belum kalah, Lin!” Sahut-sahutan ini di dengar Giovan dan Martin yang bersembunyi di balik korden. Keduanya saling memandang, apa maksud Celine dengan mau menikah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN